
Tiba-tiba seorang laki-laki dengan jubah dan kupluk hitam yang menutupi seluruh tubuhnya datang ke tenda Henry.
“Permisi pak, apa kau punya daging potong ayam?” Tanya laki-laki itu.
Henry sempat tersentak dengan kedatangan laki-laki itu yang datang secara tiba-tiba. “O-oh, Tunggu sebentar tuan.”
Sembari Henry mengambil daging potong ayam, Adam merasa kalau dirinya sedang diperhatikan, Adampun melirik kearah laki-laki itu, dan mata mereka bertemu.
Seorang laki-laki yang terlihat hampir 30 tahunan dengan janggut tipis, menatap Adam dengan tajam dan sinis.
Adampun panik dan langsung membuang pandangannya dari laki-laki itu.
Tak lama Henry kembali. “Ah… ini daging ayamnya tuan.” Henry memberikan sekantung daging ayam yang sudah dipotong-potong menjadi 8 bagian.
*Set*
Laki-laki itu mengambil daging ayamnya dan memberikan sekeping koin emas untuk bayaran daging ayamnya. “Ini pak. Ambil saja kembaliannya.” Lanjut laki-laki itu.
“HAH? SERIUSAN TUAN?” Henry sangat terkejut dengan bayaran yang didapat. “TE-TERIMAKASIH TUAN!” Ucap Henry dengan gembira.
Kemudian laki-laki itu langsung pergi dan meninggalkan pasar.
Adampun langsung menjadi lega, kiranya kalau laki-laki itu mencurigai Adam, Tetapi dipikir-pikir ini adalah kali pertama Adam melihat laki-laki itu.
“Kakek, apa dia sering datang kesini?” Tanya Adam kepada Henry.
Henry yang sedang mengamati keaslian koin emasnya, kemudian menoleh ke Adam dan menggeleng pelan. “Tidak, aku juga baru pertama kali melihatnya.”
“Yah, pasar adalah tempat yang bebas untuk didatangi oleh siapa saja. Baik itu bangsawan, rakyat biasa, pejabat, bahkan orang misterius seperti tadi.” Lanjut Henry.
Wajah Henry tiba-tiba mendekat dan berbisik kepada Adam dan Amalia. “Mungkin saja dia adalah buronan yang kabur dari penjara.” Ucap Henry.
Amalia sedikit terkejut. “Ta-Tapi paman, bagaimana kalau uangnya adalah hasil dari curian?” Celetuk Amalia dengan sedikit terbata.
Henry menyeringai. “Heh! Aku tidak peduli, selama dia membeli daganganku dan membayarnya, itu bukan jadi urusanku.” Balas Henry sambil melempar-lempar koin emas ditangannya.
Henry memang sejak Adam masih kecil, sering menakuti-nakutinya dengan candaan seperti itu. Dan melihat reaksi Amalia yang ketakutan itu membuat Adam sedikit bernostalgia, dan membuat senyuman tipis diwajahnya.
***
Setalah membeli sayuran yang diperintahkan Irene, Adam kemudian langsung berjalan pulang, begitu juga dengan Amalia yang berjalan disamping Adam.
Ketika mereka sampai didepan desa, mereka bertemu dengan Antonio dengan pakaian yang cukup rapih menggunakan kemeja putih lengan panjang serta celana kanvas coklat dilengkapi ransel dipunggungnya.
“Antonio!” Panggil Adam.
Mendengar Namanya disahut, Antonio kemudian melirik, melihat Adam dan Amalia yang berjalan bersama, seketika Antonio merasa iri melihatnya.
“Kenapa selalu Adam yang selalu mendapat kesempatan ber 2an dengan Amalia? Dan Amalia terlihat senang.” Pikirnya.
Namun Antonio tetap percaya jika dirinya masih memiliki kesempatan, lagi pula mereka masih remaja dan perjalanan masih panjang, Antonio berpikir untuk membiarkan Adam untuk bersama Amalia untuk sementara waktu. “Oh Adam, Amalia.” Balas Antonio.
“Kau mau kemana Antonio?” Tanya Amalia dengan suara lembutnya.
Mendengar Amalia yang penasaran dengannya, membuat Antonio menjadi senang membuat dirinya percaya kalau masih punya kesempatan. “Oh… aku ingin ke guild Polous.” Jawab Antonio dengan sedikit tersenyum.
(Guild adalah serikat saudagar yang berisikan polisi keamanan yang dibawah perintah kerajaan langsung. Guild sendiri dibentuk untuk memantau kegiatan usaha bisnis rakyat desa, maupun kota sekitaran Guild.)
“Tetapi, bukankah biasanya paman Kenrick yang kesana?” Tanya Adam.
“Ayahku sedang ada urusan lain dengan kepala desa Lascus.” Balas Antonio. “Tidak biasanya guild menyuruh untuk datang dengan segera terlebih terdapat tulisan ‘Panggilan Penting.’ Apa maksudnya itu!?” Lanjut Antonio dengan nada sedikit kesal.
Adam paham dengan kekesalan Antonio, karena perjalanan dari desa Verals ke guild Polous adalah 1 hari dengan mengendarai kuda, tetapi karena kudanya digunakan oleh Kenrick, mau tidak mau Antonio harus berjalan kaki, dan itu akan memakan waktu selama 2 hari.
“Kenapa kau tidak memakai sihirmu untuk pergi kesana?” Tanya Adam.
Antonio mengangkat telapak tangan kirinya yang kemudian mengeluarkan api dengan sihirnya. “Sejujurnya akhir-akhir ini sihir ku terasa sedikit berbeda.”
“Entah kenapa aku merasa mana ku menjadi cepat habis dari biasannya ketika menggunakan sihir.” Lanjut Antonio sambil mengepal dan mematikan api di tangannya.
“Sepertinya kamu masih belum pulih sepenuhnya pasca ujian kemarin.” Ucap Amalia.
Mendengar itu, Antonio merasa semakin yakin kalau Amalia memang ditakdirkan untuknya. “Apakah dewa telah membukakan hati Amalia untukku?” Pikir Antonio.
Antonio dengan cepat menghampiri Amalia, kemudian berlutut dan langsung menggenggam kedua tangannya. “Kalau begitu, maukah kamu menyembuhkan diriku ini?” Ucap Antonio dengan wajah penuh harapan.
Dengan wajah datar Adam hanya diam dan menyaksikan kelakuan Antonio. “Keluar sudah sifat aslinya.” Ucap Adam dalam hati.
Tetapi Amalia malah merasa takut dengan Antonio yang seperti itu, dan mencoba untuk menjauh, tetapi tangannya dipegang oleh Antonio. Amalia kemudian melirik ke Adam dengan mimik wajah memelas meminta tolong.
Antonio sedikit terkejut dengan Adam yang tiba-tiba melepaskan genggaman tangannya, tetapi seketika Antonio tersadar kalau perbuatannya membuat Amalia tidak nyaman.
Antonio merasa telah membuat kesalahan, dan itu akan membuat dirinya semakin jauh dengan Amalia. “Maaf, sepertinya aku sudah kelewatan.” Ucap Antonio.
Amalia manjadi merasa tidak enak. Amalia sebenarnya memang ingin membantu Antonio, tetapi kelakuan Antonio tadi membuatnya sangat terkejut.
Suasana pun menjadi sedikit canggung. “Ka-Kalau gitu aku langsung jalan saja.” Ucap Antonio sedikit terbata-bata.
“Uh-uhm, hati-hati.” Balas Amalia dengan sedikit mengangguk.
“Adam. Aku titip desa.” Ucap Antonio.
“Jangan terlalu lama. Ayahku juga belum kembali.” Balas Adam.
Antonio langsung pergi menuju guild Polous dengan berjalan kaki. Sedangkan Adam dan Amalia, mereka berpisah pulang kerumah masing-masing.
Antonio masih sedikit bertanya-tanya kenapa guild tiba-tiba menyuruhnya untuk segera kesana, padahal beberapa minggu yang lalu ayahnya baru saja menyerahkan berkas kependudukan disana. “Apa berkas kemarin kurang lengkap?” Pikirnya.
Tetapi perjalanan 2 hari itu tidaklah sebentar. “Perjalan 2 hari, berarti untuk pulang pergi memerlukan 4 hari, belum lagi menyelesaikan urusan disana, katakan membutuhkan waktu 1 haru.”
Antonio tiba-tiba memberhentikan langkah kakinya. “T-tunggu. Berarti aku pergi selama 5 hari?” Antonio tiba-tiba teringat kalau Adam baru saja pergi kepasar bersama Amalia.
Antonio berpikir apa jadinnya jika dia benar-benar pergi selama 5 hari tanpa bertemu dengan Amalia dan meninggalkannya bersama Adam, bisa-bisa mereka…
Antoniopun merasa kesal dengan pikirannya sendiri. “AAAKKH!!! Tidak akan kubiarkan itu terjadi!”
*Wung*
Antonio memasang kuda-kuda yang kemudian sebuah lingkaran sihir merah muncul pada tanah yang dipijak Antonio.
“Magic of Flame – Fire Step”
*WUSH!*
Dengan bantuan sihirnya, setiap langkahnya membuat Antonio melesat sangat cepat menyusuri jalan menuju guild Polous.
*Hachu*
Ketika Adam ingin menyerahkan keranjang sayur kepada Ibunya, entah kenapa dia tiba-tiba bersin cukup keras.
“Kamu flu?” Tanya Irene.
“Tidak kok bu, hidungku hanya gatal.” Balas Adam sambil mengusap hidungnya.
Setelah memberikan keranjang sayur, Adam kemudian masuk kedalam kamar, dan melihat buku-buku di dalam rak. Adam kemudian mengambil salah satu buku yang sebelumnya dia pinjam dari akademi.
“Benar juga, aku harus mengembalikan buku-buku yang aku pinjam dari perpusatakaan akademi.” Ucap Adam dalam hati.
Adampun memisahkan semua buku-buku yang dipinjam dengan buku miliknya di rak, kemudian menyimpannya kedalam tas dan berniat untuk mengembalikannya besok pagi.
Tetapi Adam sedikit menyesal dengan banyaknya buku yang dia pinjam, bahkan ada beberapa buku yang belum masuk kedalam tasnya lantaran tidak muat.
“Seharusnya setelah kubaca langsung ku kembalikan.” Pikirnya.
Adam kemudian merapihkan buku-buku yang tidak muat kedalam tasnya, dan berencana untuk mengembalikannya di hari berikutnya.
Tetapi perhatian Adam tiba-tiba terpaku pada sebuah buku yang terlihat sedikit tidak asing, buku itu terselip diantara buku-buku miliknya.
Adampun langsung meraih buku itu. “Rahasia Surga dan Neraka.” Judul buku itu terpampang menggunkan huruf kapital pada halaman sampul buku.
Dan tulisan judul itu menggunakan tinta yang berbeda, tinta Biru untuk tulisan ‘Surga” dan tinta merah utnuk tulisan “Neraka”
Adam kemudain mengingat-ngingat kapan dia meminjam buku itu sambil membuka-buka halaman buku yang cukup tipis itu.
Adam terus membuka-buka halamannya sambil membacanya sekilas, dan sampailah pada halaman terakhir buku itu.
“Halaman 133.” Namun Adam samasekali tidak mengingat kapan dia meminjam buku itu.
Dalam buku itupun tidak ada catatan tanggal peminjaman dari perpustakaan akademi, dan tidak ada stempel logo akademi Roraima didalam buku itu.
Adam kemudian mengira kalau dia membeli buku itu, tetapi sejak kapan Adam membeli buku dengan sampul yang sedikit norak.
Tiba-tiba Adam teringat dengan mahluk pada mimpinya, dan sekilas Adam melihat ilustrasi pada buku itu, terdapat sesosok yang cukup mirip dengannya.
Adam kemudian menarik bangku, dan mulai membaca buku itu untuk mencari tahu tentang mimpinya dan siapa tahu terdapat informasi mengenai “Batu Setan.” Pikirnya.