The Great Sorcerer

The Great Sorcerer
Perjalanan Ke Kota Mertur #2



Jasonpun menjawab jabat tangan Rio, yang kemudian Rio memperkenalkan laki-laki tua yang berada disampingnya. “Dan ini adalah tuan Hugo Belwick, dia kepala keluarga sekaligus gubernur perdagangan kota Mertur.”


Mendengar nama dan jabatan yang baru saja diucapkan Rio tadi, membuat Jason sangat terkejut.


“APA...GUBERNUR KOTA MERTUR?!?!” Ucap Jason dengan cukup keras dan membuat Rio yang ikut terkejut juga.


Mendengar Jason yang teriak kencang, Rio, Hugo serta para pengawal ikut terkejut mendengar suara Jason itu. “I-iyaa…” Balas Rio.


“Ke-kenapa… Kenapa orang sepenting anda datang kepasar, dan naik kereta kuda reyot, bukankah lebih nyaman menggunakan kereta kuda mewah?”


“Hehehe…” Tiba-tiba Hugo tertawa lepas. “Memangnya saya tidak boleh kalau naik kereta kuda reyot?” Hugo bertanya balik kepada Jason.


“Eeehh… Sa-ya tidak bermaksud…” Jawab Jason.


Hugo sedikit tersenyum. “Sebenarnya, saya ini tidak terlalu suka dengan barang mewah… Sebagai pemimpin, saya harus mencerminkan kesederhanaan kepada rakyatku, untuk menggambarkan kalau mereka memiliki pemimpin yang tidak hanya memikirkan uang.” Jawab Hugo dengan sangat santai dan lemah lembut. “Lagi pula ini bukan perjalanan resmi, aku hanya sedikit bersantai menikmati saat-saat terakhirku menjadi seorang gubernur.” Lanjutnya.


Jason sedikit terkesima dengan kepribadian Hugo. “Ya te-tapi, andakan orang penting, pasti banyak orang yang mengincar keselamatan anda.” Balas Jason dengan sedikit khawatir.


“Kalau masalah itu, aku serahkan kepada ke 3 pengawalku ini.” Ucap Hugo sambil menepuk pundak salah satu pengawalnya. “Mereka adalah pengawal kelas atas yang sudah berpengalaman sebagai pengawal selama 10 tahun.” Lanjut Hugo.


Kemudian Hugo memperkenalkan para pengawalnya dimulai dari yang berada disebelahnya. “Dia adalah Gren, lalu Owen, dan yang terakhir, pengawal terkuatku Deorsa.”


Jason sempat terkagum dengan tubuh fisik Deorsa yang besar sama seperti dirinya, namun dipunggungnya terdapat sebilah kapak sebesar lengannya dan gagangnya yang hampir menyentuh tanah. dan juga Jason sedikit penasaran jika dirinya dan Deorsa beradu panco sipakah yang akan menang.


Sementara Gren adalah seorang pemanah dan dia tidak memakai baju zirah besi seperti Deorsa dan Owen, karena menurutnya baju zirah itu hanya akan memperlambat laju geraknya dalam pertarungan.


Dan Owen adalah seorang ksatria pedang, tubuhnya tidak sebesar Deorsa, tetapi dia memliki proporsi tubuh yang sempurna, terlebih dengan zirah besi yang dikenakannya sangatlah lengkap menutupi ujung kepala sampai ujung kakinya.


Para pengawal itu kemudian sedikit membungkukan tubuh mereka. “Salam kenal tuan.” Ucap ke 3 pengawal itu dengan serentak.


Jason kembali terkejut, karena baru kali ini ada orang yang membungkukan badannya didepannya selain bandit yang meminta ampun kepadanya. “Ha-hallo, salam kenal… Hehe” Jawab Jason dengan membungkukkan badannya lebih rendah dengan sedikit canggung.


Setelah itu mereka mengobrol-ngobrol santai, dan dilanjut dengan makan malam hewan hasil burun para pengawal Hugo, dan sambil makan malampun, mereka tetap ngobrol-ngobrol menceritakan latar belakang kehidupan mereka satu sama lain.


Dan ternyata Hugo memeliki satu cucu yang seumuran dengan Adam, dia bernama Leon Belwick. Leon ini tidak terlalu mahir dalam menggunakan sihir, tetapi dia sangat ahli dalam ilmu pedangnya. Bahkan diumur yang masih sangat muda ilmu pedangnya sudah setara dengan level orang dewasa.


Setelah makan malam, akhirnya meraka memutuskan untuk beristirahat agar perjalnan esok hari tidak terlalu siang. Hugo tidur diatas terpal bersama Rio sementara para pengawalnya nanti akan berjaga malam secara bergantian dan Jason tidur di kereta kudanya sembari menjaga kereta kudanya agar.


***


Malam semakin larut, udara dingin mulai berhembus kencang menusuk ke tubuh, dan api unggun yang awalnya mengehangatkan, kini telah berubah menjadi abu. Rio dan Hugo sudah tertidur dengan pulas dan sementara ke 3 pengawal berjaga bergilir dengan rentan waktu 1 jam sekali.


“Hey bangun, sekarang giliran kau yang berjaga.” Ucap Owen kepada satu rekannya yang sedang tertidur yaitu Gren.


Dan tak butuh waktu lama, Gren langsung terbangun. “Hmm... Oh iya.” Ucap Gren dengan sedikit mengantuk.


“Huaaaaaaaaaaammm….!!” Gren menguap lebar dan merenggangkan tubuhnya.


“Cepat gentian, aku juga sangat lelah.” Ucap Owen.


“Kakek tua gila, bisa-bisanya dia menyuruh kita untuk mengawalnya ditengah hutan seperti ini.” Keluh Owen.


“Kalau bukan karena bayaran yang tinggi, mana sudi aku tidur diatas tanah beralas terpal kotor ini.” Lanjutnya.


Gren yang masih setengah sadar, sebanarnya sangat malas untuk merespon keluhan Owen, tetapi di perjalanan seblumnya Owen memang suka mengeluh kepada Gren saat semua sudah tertidur.


Dan Gren memang sudah mulai terbiasa mendengarnya, dan selalu menjawab dengan jawaban yang sama. “Sudahlah, jangan kau pikirkan.” Balas Gren sambil menggarukan kepalanya.


“Kau itu sudah disumpah untuk melayaninya, jadi mau tidak mau kau harus nurut kepadanya.” Lanjut Gren.


Owen kemudian melepaskan helm dan baju zirahnya dan bersiap untuk tidur. “Cih! Aku tidak peduli dengan itu, yang aku pedulikan adalah uang.”


“Lalu apa-apaan sigendut ini, dia tidur dengan sangat nyenyak sementara kita harus berjaga malam.”


Mendengar ucapan Owen, Gren menjadi sangat terkejut. “Hush! Hati-hati kalau bicara, kalau dia dengar bagaimana?” Ucap Gren sambil memberi isyarat untuk memelankan suara Owen.


“Hehe… tenanglah, jangan khawatir. Selama si ketua gendut ini tidur, dia tidak akan terbangun.” Balas Owen dengan senyuman percaya dirinya.


“Bahkan jika terjadi gempa, aku yakin dia tetap tidak akan bangun.” Kemudian Omen dengan sengaja menendang perut Deorsa yang kembang kempis itu.


Dan benar dengan apa yang Owen katakan, Deorsa sama sekali tidak terbangun, dan malah suara dengkurannya menjadi lebih keras.


“Hey Gren, jangan sampai tertidur kau ya!” Ucap Owen.


“Hoooaaaam… Iyaa, iyaaa” Balas Gren yang sebenarnya juga masih sangat ngantuk.


Dan tak butuh waktu lama Owen akhirnya tertidur lelap dan hanya menyisakan Gren yang terjaga seorang diri.


Namun, tiba-tiba. “Aduuh… sepertinya aku minum terlalu banyak tadi.” Gumam Gren.


Gren akhirnya pergi masuk kedalam hutan untuk mencari spot untuk buang air kecil.


Dia pun pergi ke balik semak-semak yang tak jauh darinya. Setelah dia menyelesaikan urusannya, dia berjalan balik menuju ke tempat yang lainnya bermalam.


“Hooaaam…” Gren kembali menguap. “Sepertinya aku pergi tidur saja, lagipula sepertinya aman-aman saja.” Gumam Gren dalam perjalanannya kemabali.


*CKSS* *CKSS*


Tepat Gren bergumam seperti itu, tiba-tiba terdengar sesuatu gemersik dibalik semak-semak. Grenpun langsung menoleh ke sumber suara gemersik itu dan mengamati daerah sekitarnya.


Setelah beberapa saat mengamati, suara gemersik itu menghilang. Walau Gren adalah seorang pengawal, tetapi dia adalah orang yang takut dengan hantu, mendengar suara gemercik tadi dan tiba-tiba menghilang sudah cukup untuk membuat bulu kuduknya berdiri. “Ah paling induk rusa yang mencari anaknya setelah aku buru tadi.” Ucapnya untuk sedikit menenangkannya. Grenpun langsung berjalan cepat menuju perkemahannya dan berencana untuk ikut tidur bersama dengan yang lainnya.


*CKSS* *CKSS*


Tiba-tiba suara gemercik itu datang kembali. Tetapi kini Gren memberhentikan langkah kakinya dan menjadi sedikit penasaran dengan si pembuat suara itu.


*CKSS* *CKSS*


Dan secara kebetulan, suara itu muncul kembali, dan lokasinya tidak jauh dengan Gren.


Gren kemudian memberanikan diri. Dengan kaki yang sedikit bergetar, Gren mencoba untuk mendekati sumber suara itu dibalik semak-semak sambil berjalan jongkok.


Walau udara didalam hutan sangat dingin, tetapi keringat mulai membasahi tubuh Gren, dan nafasnya kini menjadi berat dan sedikit terengah-engah.


*Set*


Gren meraih ranting dari semak-semak tempat sumber suara gemercik itu. “Sniif…Huuuuh…” Gren menghela nafas panjang untuk menenangkan jantungnya yang sedang berdegup kencang.


Setelah merasa sedikit tenang, dengan perlahan Gren mulai menyingkirkan ranting semak-semak dan melihat apa yang ada dibaliknya, yang dimana ternyata itu hanyalah seekor musang.


Melihat itu, Gren langsung menghela nafas lega, jantungnya kembali berdegup normal, dan keringatnya berhenti mengalir.


“Fyuhhh… Ternyata hanya musang.” Ucap Gren dengan lega.


Dan seketika musang itu langsung lari terbirit-birit melihat Gren yang ada didepannya. “Eh!” Gren sedikit terkejut.


“Apa aku sejelek itu sampai membuatnya lari seperti itu?” Ucap Gren. “Sudah seperti melihat monster saja.” Lanjut Gren.


“Padahal dikota, banyak wanita yang tergila-gila kepadaku.” Ucapnya dengan sangat percaya diri terhadap wajahnya yang sudah mulai keriput. Dan ‘wanita’ yang dia maksud sebenarnya adalah wanita penghibur.


Gren sebenarnya sedikit menyesal, karena rasa penasarannya itu ternyata adalah seeokor musang. Dia berharap yang dia lihat adalah sesosok hantu atau hewan buas.


*SNIF*


Dan tiba-tiba, ketika Gren inign berdiri dari jongkoknya, dia merasakan sebuah hembusan angin hangat yang menerpa seluruh punggunggnya.