
Akhir-akhir menyebarnya kabar tidak mengenakan dikerajaan. Yaitu sebuah isu perdagangan anak dibawah umur untuk dijadikan pekerja ilegall.
Isu itu merambat sampai terdengar oleh petinggi kerajaan hingga akhirnya raja Genoveva yaitu Phillip Auctoric akhirnya menyuruh mentrinya untuk mengusut tentang isu perdagangan anak dibawah umur itu.
Dan akhirnya mentri kerajaan menurunkan surat perintah untuk polisi kerajaan untuk menyeledikinya.
Dan Theron yang seorang pembina murid kepolisian juga turut andil dalam melaksanakan tugas itu.
Hari, Minggu, hingga bulan berlalu, namun penyelidikan tidak menemukan titik terang. Karena minimnya informasi dan kebanyakan orang saat dimintai keterangan hanya mendengar isu itu dari orang sekitar, tidak ada yang melihat kegiatan maupun barang bukti yang dapat memperkuat penyelidikan.
Dan itu terus berputar-putar, sehingga pada akhirnya pihak kepolisian berencana menutup kasus itu, karena dianggap itu hanyalah sebuah isu belaka.
Tetapi sebelum itu, salah satu anggota kepolisian mendengar info kalau kegiatan jual beli anak itu dilakukan disebuah bar yang terdapat ditempat terpencil, dan hanya para anggota bar yang dapat masuk kesana.
Dan lagi, terdapat sebuah kata kunci jika ingin masuk kedalam bar itu, yaitu. “Pueri.”
Polisi akhirnya memperluas penyelidikan hingga ke kota-kota sekitar kerajaan, tetapi hasilnya tetap saja nihil. Dan akhirnya kasus itu di tutup tanpa bukti.
***
*Tap*
Kakek itu kemudian menyodorkan segelas jus alpukat pesanan Theron. “Ini pesanannya.” Ucap Kakek itu sambil menaruh jus itu didepan Theron.
“Ah, terimakasih kek.”
Tanpa membuang waktu lagi, Theron langsung meminum jus alpukat itu lewat sedotan plastik hitam diatas gelas.
“Ngomong-ngomong jenis minuman anggur seperti apa yang dijual kek?” Tanya Theron.
Mendengar itu, kakek terdiam untuk beberapa saat. “Hmmm… kalau tidak salah.”
“Pueri.”
Theronpun langusng tersentak mendengar jawaban kakek.
“P-Pue-ri?” Ucap Theron dengan bibir gemetar.
“Iya.” Kakek tampak bingung dengan Theron yang tiba-tiba menjadi sedikit aneh. “Kamu tidak apa-apa nak?” Tanya si kakek.
*Brek*
Theron langsung berdiri dari kursinya dengan cepat. “Kakek apa aku boleh ke Gudang belakang?” Tanya Theron balik.
Kakek itu sangat terkejut. “E-eh, kurasa itu tidak bi-sa.” Jawab si kakek dengan sedikit terbata.
“Ka-rena aku sendiri dilarang oleh anakku untuk masuk kedalam Gudang, dia bilang kalau disana terdapat rahasia bisnis anggurnya.”
*BRAK*
Sebuah hentakan seperti benda tumpul menghantam tembok bar hingga meninggalkan sebuah retakan yang menjalar cukup panjang.
“SUDAH KUBILANG JANGAN BERISIK!!!” Ucap salah satu dari tiga penjaga di pintu bar yang masuk kedalam menghampiri Theron.
*Grip*
*BRUK*
Theron ditarik dan dilempar keluar bar dengan sangat kuat oleh orang yang sama yang tadi mendorongnya, tenaganya sangat kuat membuat Theron sampai tersungkur ke tanah yang sedikit basah karena lembabnya daerah itu.
“PERGI KAU, DASAR PENGGANGGU!” Teriak salah satu pengawal itu.
Baju Theron kini menjadi lebih kotor dari sebelumnya, namun dia tidak terlalu mempedulikan itu, karena dia mempunyai tugas yang lebih penting.
“Sial, sepertinya pencarian muridku akan sedikit tertunda.” Ucapnya.
***
Malampun tiba, Theron tetap berada di sekitaran kawasan itu, dia bersembunyi di sebuah penginapan.
Theron menduga kalau aktivitas akan dilakukan pada malam hari, dan benar saat malam hari banyak orang datang ke kedai Tristy Bar.
Orang-orang itu mengenakan jubah hitam panjang yang menutupi seluruh tubuhnya.
Ketiga penjaga Tristy Bar juga masih berada didepan pintu masuk, tetapi dia tidak mengenakan jubah hitam seperti yang lainnya.
Orang-orang berjubah hitam itu berjalan menuju gudang belakang bar.
“Baiklah, ini waktunya.” Ucap Theron yang berada diatas atap sebuah kedai yang berada disebrang cukup jauh dari Tristy Bar.
*Set*
“Hup.”
Theron melompat turun dari atap kedai, walau kedai itu cukup tinggi dan berat tubuh Theron yang mencapai 80 kg, Theron melompat tanpa menghasilkan suara sedikitpun.
Theron mengendap-ngendap mendekati Tristy Bar. Saat mendekat, orang-orang yang lewat tetap dicek oleh ketiga penjaga itu dan sebelum masuk, mereka mengucapkan kata “Pueri.”.
Walau Theron tahu kata kuncinya, tetpai dia sudah terlanjur menunjukan wajahnya tadi siang, mencoba untuk mencari jalan lain.
Tetapi saat mengambil jalur diseblah kiri, itu hanyalah sebuah jalan buntu yang dihalangi tembok bar.
“Sial, jalan buntu.” Keluh Theron.
Tembok itu cukup tinggi, dan lagi genteng di atap terlihat sedikit rapuh, walau Theron dapat mengendap tanpa suara, tetapi genteng itu sepertinya tidak akan kuat menahan berat tubuh Theron dan pasti akan langsung pecah. Theron kemudian melihat sekitar, terdapat sebuah jendela yang sedikit terbuka di dinding itu.
Melihat itu, Theron sedikit tersenyum. “Sepertinya keberuntungan berada dipihak ku.”
*Set*
Theron mengambil ancang-ancang untuk melompat.
“Hup.”
Dan berhasil meraih Sponneng (Tempat perletakan/melekatnya daun jendela.) jendela itu yang tingginya hampir 2 meter.
“Hap.”
Dan masuk kedalam jendela itu.
*Whomp*
Saat masuk kedalam jendela, Theron disambut dengan debu yang beterbangan karena pijakan kakinya.
“Uhuk…Uhuk… Banyak sekali debunya, ini sih lebih parah dari kamarku.” Ucap Theron.
Theron merasa sedikit bangga dengan dirinya, walau dia malas untuk bersih-bersih, setidaknya debu di kamar dia tidak pernah setebal ini. Jika debu dikamarnya sudah tebal dan cuciannya sudah menumpuk, Theron pasti akan menyuruh asistennya untuk merapihkan kamar serta pakaiannya.
“Hoy!”
Theron sedikit terkejut dengan suara yang begitu keras, kemudian dia menuju sumber suara yang berasal dari salah satu jendela lainnya.
“Bisa-bisanya kau terlambat. Sudah banyak orang menunggu didalam.” Ucap salah satu penjaga disana.
“Hehehe maaf… aku terlalu larut dalam kehangatan para wanita ini. Hahaha.” Ucap seorang laki-laki yang menggunakan jas hitam dan kemeja putih, bersama dengan 2 orang wanita muda dengan busana minim yang sangat menempel padanya.
Penjaga itu terlihat sangat kesal. “Kau menyuruh kami menjaga kakek tua bangka itu, sedangkan kau malah bersenag-senang dengan mereka.” Ucapnya.
“Hmmm?” Laki-laki itu mengangkat dagunya.
Dia kemudian meraih saku yang berada dibalik jasnya. “Ini.” Ucap laki-laki itu sambil menyodorkan sekantong yang penuh dengan koin emas.
“Waaah.” Para wanita itu terkesima saat melihat uang yang berada ditangan laki-laki itu.
“Sayang, aku juga mau.” Ucap salah satu wanita dengan rambut pendek bergaun merah.
“Aaah… aku juga mau.” Ucap wanita lainnya dengan sedikit membelai pipi laki-laki itu.
“Hehehe, tenanglah. Bagian kalian sudah aku siapkan.” Ucapnya sambil sedikit menggoda mereka.
Melihat dirinya yang diperlakukan seperti itu, membuat salah penjaga itu kesal dan menampar tangan laki-laki berjas itu dengan keras.
*Kring Kring*
Seluruh uang koin emaspun berjatuhan ketanah.
“Aduuuh…” “Aaaah… uangnya jatuh.” Ucap kedua wanita itu.
“Aku tidak butuh uangmu.” Ucap salah satu penjaga itu. “AKU INGIN MENAGIH JANJIMU!” Teriaknya.
Tamparan dari penjaga itu cukup keras, membuat tangan laki-laki itu sedikit gemetar dan merah.
“Haaah… Kau ini tidak sabaran sekali ya.”
Laki-laki itu kemudian membuka kancing jasnya dan sedikit melonggarkan kerahnya. “Aku tidak suka dengan orang yang tidak sabaran.”
Tiba-tiba tubuhnya membesar, matanya manjadi merah, rahang mulutnyapun menjadi maju. Tangannya pun keluar bulu-bulu kasar serta kukunya memanjang dan tajam.
Laki-laki itu membuka mulutnya lebar-lebar hingga seluruh kepala dari salah satu penjaga itu masuk sangat mudah.
Mulut dengan penuh gigi tajam dan bergerigi, menghancurkan kepala salah satu penjaga itu dengan sangat cepat.
*CRAT*
“KAKAAAK!” Teriak kedua penjaga lainnya.
“KYAAA!!!” Begitu juga dengan para wanita penghibur yang teriak panik ketakutan.
Laki-laki itu kemudian menyerang kedua penjaga lainnya, dan juga para wanita yang ikut bersamanya tadi.
Dia merobek wajah, perut serta memakan isi kepala mereka.
Theron yang mengintip dari balik jendela sangat terkejut dengan apa yang dia lihat barusan.
“Apa itu barusan?”