The Great Sorcerer

The Great Sorcerer
Ujian #6



Tetapi Adam tidak menyerah, dia tetap ingin menjadi seorang ahli sihir. Adam kemudian membaca banyak buku sihir dan mempelajari setiap keunggulan dan kelemahan pada setiap sihir.


Pagi, siang, malam Adam habiskan, dan terkadang Adam suka melihat teman-temannya yang sedang berlatih dan menganalisa setiap sihirnya.


Rasa percaya diri Adam kini kembali, Adam mulai berfikir dan menyadari sesuatu tentang kelemahan dari sihir Pharsa.


"Antonio, Tristian. Aku ada rencana." Ucap Adam.


Adam, Antonio, dan Tristian berdiskusi merencanakan sesuatu.


"Apa yang mereka lakukan?" Ucap Marco.


"Sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu." Balas Clara.


sementara itu, ketika Adam dan yang lainnya sedang berdiskusi. "Apa kau yakin akan berhasil?" Tanya Tristian dengan sedikit ragu.


Adam mengangguk. "Ya! Hanya dengan ini kita dapat mengalahkannya."


"Walau itu terdengar gila, tapi apa boleh buat. Aku serahkan semuanya kepadamu." Balas Antonio.


Adam sedikit menyeringai. "Baiklah ayo kita lakukan." Jawabnya.


Dan tidak disangka Pharsa menuggu mereka yang sedang membuat rencana. "Apa kalian sudah selesai berdiskusinya?"


Adam, Antonio, dan Tristian berjalan dan menempati posisi masing-masing yang sudah direncanakan.


(Mereka membentuk formasi segitiga terbalik Antonio berada di belakang Adam dan Tristian, dan Adam berada di sayap kanan sedangkan tristian di sayap kiri)


"Aku sangat berterimakasih, karena kau telah memberi waktu kepada kami." Ucap Adam.


"Yah walau hasilnya akan sama saja, tetapi aku ingin melihat kemampuan kailan yang sebenarnya." Balas Pharsa.


Adam dan yang lainnya bersiap untuk melancarkan serangan yang sudah direncankan.


*Zwung*


Suasan menjadi sedikit tegang, aura sihir Antonio dan Tristian mulai mengebu-ngebu.


Marco, Clara, Dan Amalia merasakan aura sihir yang sangat kuat dari mereka ber 2 "Aku belum pernah merasakan aura sihir Antonio sebesar ini sebelumnya." Ucap Clara.


"Terlebih lagi Tristian, dia anak yang sangat pendiam tetapi aura sihirnya dapat menandingi Antonio." Balas Marco.


Namun perhatian Marco tiba-tiba berubah ketika melihat Adam yang tidak mengeluarkan aura sihir sama sekali.


"Andai Adam memiliki kekuatan sihir seperti Antonio dan Tristian, itu akan sangat hebat." Ucap Marco.


"Tetapi aku bingung, kenapa Adam yang hanya bisa menggunakan sihir lumpur dapat ikut ujian ini." Sambung Clara.


"Walau sihirku kalah dari Antonio dan Tristian, tetapi jika dibanding dengan Adam, sihirku jauh diatasnya." Lanjutnya


"Kau benar." Balas Marco.


"Tidak, kau salah." Sela Amalia.


"?" Ucap Marco dan Clara menoleh ke Amalia secara bersamaan.


"Mungkin tidak ada yang menyadarinya, bahkan Adam sendiri." Jelas Amalia.


"Aura sihir Adam saat ini bisa dikatakan sedang membara seperti yang lainnya, tetapi hanya saja tidak ada yang bisa melihatnya."


"Lalu bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Clara.


"Apa kau melihatnya?" Timpa Marco.


"Tidak, aku tidak bisa melihatnya." Balas Amalia.


"Tetapi aku dapat merasakannya."


Mendengar itu, Lewis melirik ke Amalia, dia menjadi sedikit terkesima dengannya. Karena bukan dia saja yang dapat merasakan itu.


"Ternyata kau berbakat juga" Ucap Lewis dalam hatinya.


"Tidak ku sangka ada banyak orang berbakat dari desa terpencil ini, Antonio, Tristian yang sudah memeliki sihir tingkat menengah dan dapat bersaing dengan para bangsawan, kemudian Amalia yang memeliki insting yang tajam."


"Kemudian Clara dan Marco, walau sihir mereka tidak sehebat Antonio dan Tristian, tetapi mereka memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan lagi."


"Dan kau, Adam. Sepanjang hidupku menjadi anggota dewan dan jendral sihir kerajaan, aku tidak pernah melihat aura sihir seperti itu."


Dengan kemampuan spesialnya (Magic of Nelment-Eyes of Insight), Lewis dapat melihat Aura sihir yang sama sekali tidak berwarna (bening) yang membara sangat besar dalam diri Adam, bahkan menurutnya Aura itu dapat mengalahkan aura sihir Antonio dan Tristian yang digabungkan.


***


Beberapa saat kemudian.


"Mulai!" Teriak Adam.


Kemudain langsung mengeluarkan 4 lingkaran sihir bola api sekaligus. "Magic of Flame-Fire Ball." Ucap Antonio.


Salah satu lingkaran sihir Antonio seketika mengeluarkan bola api yang cukup besar dan melesat dengan cepat, tetapi hanya satu yang mengarah ke Pharsa.


Pharsa kemudian menyeringai kembali. "Heh. Dari awal seranganmu itu samasekali tidak berpengarung kepadaku."


Sebuah kilatan petir mencul di kakinya.


*ZWOOSH*


Pharsa berhasil menghindari salah satu serangan bola api Antonio dengan sangat mudah.


*DUAAARRR*


Sihir bola api Antonio meledak dan mengeluarkan hembusan hawa panas yang sagat besar, yang dimana sihir bola apinya telah diperkuat dari yang sebelumnya.


"Kenapa Dia menggunakannya satu-persatu, tidak sekaligus." Ucap Marco.


"Mungkin ini bagian dari rencana Adam." Jawab Amalia.


"Magic of Flame-Fire Ball." Lanjut Antonio.


Dilanjut salah satu lingkaran sihirnya yang mengeluarkan bola api.


Namun ketika Pharsa ingin mengindari bola api yang lainnya.


"Magic of Earth-Primal Wall" Tristian langsung menggunakna sihirnya.


*DRRRR*


Tiba-tiba muncul sebuah dinding tanah besar yang menghalangi pergerakan Pharsa dari serangan bola api Antonio.


Pharsa sangat terkejut degnan kemunculan dinding tanah itu. "APA!"


*BRAK*


Pharsa menabrak dinding itu dengan sangat keras, dan membuat retakan yang cukup besar pada tanah itu.


tetapi tidak berhenti disitu, serangan bola api Antonio sudah tepat berada dihadapannya. "SIAL." Gerutu Pharsa.


*DUAAARRR*


Bola api Antonio kembali meledak, dan meluluhlantakkan dinding tanah Tristian secara bersamaan.


"Apakah berhasil?" Ucap Tristian.


( "Antonio, Tristian. sisa energi kalian tinggal berapa?" Tanya Adam.


"Aku hanya bisa menggunakan 3 kali teknik sihir lagi." Balas Tristian.


"Karena aku sudah menggukan sihir diawal, dan menggunakna sihir regenerasi 2 kali, aku hanya bisa 1 teknik sihir lagi." Balas Antonio.


"Bisa saja, tetapi itu berarti daya serangnya akan semakin kecil." Balas Antonio.


"Tidak apa-apa, kita tidak perlu satu serangan yang kuat, asalkan dia terkena telak, mungkin itu dapat nilai pertimbangan untuk dapat masuk keakademi khusus." Lanjut Adam.


"Tetapi bagaimana cara untuk mengenainya, dia sangat cepat. Bola apiku sama sekali tidak dapat mengejar kecepatannya."


"Tristian, dia yang akan mengunci pergerakan Pharsa, dan dengan sihir lumpurku, aku akan membantu untuk memperlambat kecepatannya."


Tristian sedikit terkejut dengan itu. "Aku? Bagaimana mungkin, aku saja langsung dibuat tidak berdaya dengan satu pukulan saja."


"Ya, dan dia tidak menggunakan sihirnya bukan." Balas Adam.


"Dasar dari elemen petir adalah kecepatan, api itu kekuatan, tanah itu pertahanan, air untuk penyembuhan, dan angin adalah ketepatan. Masing-masing dari tiap elemen memiliki musuh alami tersendiri, dan musuh dari elemen petir adalah elemen tanah."


"Itulah mengapa ketika kau menggukan teknik tangan batu, dia tidak menggukan teknik sihirnya, hanya menggunakan beladiri tangan kosong." Lanjut Adam.


Mendengar itu membuat Tristian sedikit kesal.


Ketika Adam sudah menjelaskan semuanya, Antonio dan Tristian terdiam beberapa saat, apa yang diucapkan Adam memang benar tetapi mereka sedikit ragu dengan rencananya itu."


"Adam apa kau yakin ini akan berhasil, apa yang kau katakan memang benar, tetapi dia memiliki pengalaman lebih dan dia adalah siswi akadmi khusus."


"Bukankah tadi kau yang menyuruhku untuk membuat rencana ini."


Antonio dan Tristian kembali terdiam sejenak.


"Apa kau yakin akan berhasil?" Tanya Tristian dengan sedikit ragu.


Adam mengangguk. "Ya! Hanya dengan ini kita dapat mengalahkannya."


"Walau itu terdengar gila, tapi apa boleh buat. Aku serahkan semuanya kepadamu." Balas Antonio.)


Melihat itu, Marco dan yang lainnya sedikit kegirangan. "Kena!" Teriak Marco.


Antonio sedikit melirik ke Adam. "Tidak kusangka, rencana Adam benar-benar berhasil." Ucap Antonio dalam hati.


*ZWOOSH*


Namun tiba-tiba Pharsa melesat keluar dari kebulan asap itu. dan pada saat itu juga bola api ke 3 milik Antonio menerjang dihadapan Pharsa.


"Antonio!" teriak Adam.


"FIRE BALL!" Balas Antonio.


Serangan bola api kembali dilesatkan.


Dengan raut wajah sangat kesal, Pharsa kemudian mengambil ancang-ancang untuk melompat.


*ZWOOSH*


Pharsa melompat menghindari bola api Antonio dan menghindari dinding tanah Tristian yang akan menghalangi pergerakannya.


Serangan bola api ke 2 tadi cukup melukai Pharsa cukup, dengan meninggalkan sedikit luka bakar pada wajah dan lengannya yang sempat menahan serangan itu dengan kedua tangannya.


"Sialan. dinding itu sangat keras." Ucap Pharsa Sembari memegangi bahu kirinya yang sedikit lebam karena menabrak dinding tanah Tristian dengan sangat keras.


"Dari atas sini dinding bocah itu tidak akan menghalangi pergerakan ku."


Pharsa kemudian melirik ke Antonio dengan lingkaran sihirnya yang tersisa 1 lagi.


"Dan jika bocah albino itu mulai menyerang, aku hanya tinggal melesat tajam kearahnya dan membuat serangan kejutan seperti tadi."


Dan dengan raut wajah sangat kesal. "Tetapi kenapa dia bisa pulih begitu cepat." Lanjut Pharsa.


"Tristian sekarang!" Teriak Adam.


Tristian kembali menepakan kedua telapak tangannya, dan muncul lingkaran sihir yang menyelimuti tangannya.


kemudian lingkaran sihir itu bergerak dan berkumpul pada satu titik di telapak tangannya.


*PAK*


Tristian menepakan kedua tangannya ke tanah. "Magic of Earth-Spike Primal Wall" Teriak Tristian dengan sekuat tenaga.


Kemudian muncul jeruji tanah yang menjalar ke tempat Pharsa melompat tadi, dan setelah itu muncul dinding tanah yang melejit sangat tinggi kelangit, sehingga kaki Pharsa dapat menepak pada dinding tanah itu.


Pharsa pun bingung dengan serangan itu.


Dan dilanjutkan Adam memasang kuda-kuda dan mengeluarkan lingkaran sihirnya yang berwarna coklat gelap, kemudian diarahkan ke dinding tanah milik Tristian. "Magic of Earth-Mud." Teriak Adam.


Seketika pijakan Pharsa menjadi lembek, dan kemudian dinding tanah itu melebur menjadi lumpur sehingga membuat Pharsa jatuh ketanah.


Pharsa jatuh tepat ditengah lumpur Adam. "SIALAN! BERANINYA KAU?!" Ucap Pharsa.


Antonio sudah siap dengan serangan terakhirnya, Lingkaran sihir Antonio sudah sangat menyala terang, asap panas pun bocor keluar dari sana, seperti sudah tidak bisa membendung tekanan sihir didalamnya.


*Krak*


Tanpa disadari, tiba-tiba lingkaran sihir itu retak tanpa disadari oleh Antonio dan yang lainnya.


Sementara Pharsa yang adalah siswi akademi khusus, dia tahu kalau sihir itu bukan sihir biasa, dan dapat melukainya. Pharsa sedikit terkejut dengan itu, dan merasa kalau dia harus segera menghindari serangan itu.


Dengan wajah sedikit panik. "Tidak, Aku harus lari." Ucapnya dalam hati.


Kemudian Pharsa ingin menggunakan kemapuan sihirnya untuk menghindar, dan keluarlah pecrikan kilat.


Adam yang menyusun rencana juga tidak akan mengira kalau Pharsa masih bisa menggunakan sihirnya setelah tubuhnya dipenuhi oleh lumpur miliknya.


Dan itu bisa menggagalkan semuanya, karena Adam tahu kalau mana teman-temannya sudah habis terpakai karena rencana miliknya.


Dan dia merasa sangat bersalah jika teman-temannya gagal masuk ke akademi khusus.


dan tanpa pikir panjang dia berlari kearah Pharsa dan langsung memukul wajah Pharsa, sehingga membuatnya terjatuh kembali dalam lumpur.


Tristian yang berada disampingnya terkejut. "ADAM APA YANG KAULAKUKAN?" Teriak tristian.


Antonio yang sangat bersusah payah untuk menahan serangannya sudah mencapai batasnya. Dan retakan pada lingkaran sihir itu sudah melebar kesegala arah.


"ADAM!" Teriak Antonio.


Pharsa yang tersungkur kelumpur juga terkejut dengan aksi Adam. "HEY! APA YANG KAU LAKUKAN." Teriak Pharsa dengan kesal.


Adam menyeringai. "Sudah kubilang jangan remehkan kami." Balas Adam.


*KRAK*


Lingkaran sihir Antonio kemudian pecah.


*WOOOOZZZHHH*


Sebuah bola api yang 3 kali lebih besar keluar dari lingkaran sihirnya, dan melesat sangat cepat ke arah Pharsa dan Adam.


Pharsa tidak memiliki kesempatan untuk lari menghindar hanya bisa terdiam dan menerima serangan itu, sementara Adam pasrah karena memang tidak ada yang bisa dia lakukan, kemampuan sihirnya hanya untuk mengubah tanah menjadi lumpur.


Adam kemudian Melirik ke arah 2 temannya disana, Antonio tertunduk lemas karena sudah tidak kuat membendung sihirnya dan terkejut kalau Adam berada sangat dekat dengan Pharsa, sementara Tristian yang berlari sambil mengulurkan tangannya, berharap bisa menarik Adam dari radius serangan itu.


Dan...


*DUUUAAARRR*


Sebuah Ledakan dahsyat terjadi. Membuat tanah disekitar area ledakan berhamburan hancur berkeping-keping, tanahpun berguncang hebat dalam beberapa saat. Dilanjut dengan hawa panas yang ditimbulkan sanggup membakar pohon-pohon disekitar ledakan, dan para hewan lari ketakutan karena ledakan itu.


Kejadian itu sangat cepat, ketika bola api Antonio meledak, area tersebut langsung tertutup kebulan asap hitam pekat dan langsung disusul hawa panas yang membakar sekitar.


"ADAAAM!!!" Teriak Amalia, Marco dan Clara.