
"Ka-Kar-Karael-" Adam terbata-bata karena bibirnya bergetar. "Ka-u bercanda-kan?"
"Tidak." Balas gimo. "Dia adalah Karael sang malaikat maut." Sambung Gimo.
"Dan kita berada dalam alam Karael."
Adam terbangun didalam alam yang Karael ciptakan sendiri. Dia semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
"Tunggu, Apa-apaan ini..." Ucapnya dalam hati. "Pertama aku terbangun ditempat antah berantah ini, kemudian seorang pria (Geronimo atau Gimo) muncul, dan sekarang malaikat Karael." Adam mulai merasa takut dan perlahan berjalan mundur.
Keringat dingin mulai keluar pada keningnya. "Apakah ini akhirat? Atau hanya mimpi?" Lanjutnya.
Gimo kemudian perlahan berjalan mendekati Adam. "Adam tenangla-"
"DIAM!" Teriak Adam.
Gimo sedikit terkejut dan menghentikan langkahnya.
"Ma-Mau apa kalian?" Tanya Adam.
"Gimo, apa kau yakin dia orangnya?" Tanya Karael.
Sembari melirik kearah Adam. "Iya. Tidak mungkin aku salah mengenali keturunanku sendiri." Balas Gimo dengan senyuman percaya dirinya.
Mendengar itu Adam tidak terkejut, wajahnya terlihat bingung. "Tunggu apa?"
Gimo tiba-tiba menatap tajam mata Adam, Mimik wajahnya juga menjadi serius.
"Adam, dengarkan baik-baik." Suasana menjadi tegang.
Gimo kemudian menceritakan masa lalunya. Gimo adalah salah satu jendral sihir yang memimpin pasukan kerajaan Genoveva, dia memimpin sekitar 20.000 pasukan bergerak menuju hutan Skoogar, untuk memburu batu setan yang telah diperbutkan antar kerajaan seluruh negeri selama 1 dekade penuh.
Gimo ditemani 3 orang pemimpin pasukan yang bernama Leon Triada, Dryas Manew, dan Pista West. Mereka bertempur melawan pasukan dari kerajaan Pierre, dan berhasil memenangkannya dalam waktu seminggu.
Setelah itu, mereka bergerak masuk menuju hutan Skoogar, tepat berada didepan goa Kannal yang dikatakan tempat batu setan itu berada.
Mulut goa Kannal sangat besar, diperkirakan panjang ujung sisi mulut goa itu dengan sisi lainnya sekitar 20 orang dewasa, dan goa itu menyemburkan aroma busuk dan amis dari bekas pertempuran-pertempuran sebelumnya, terdapat bangkai mayat para tentara kerajaan tergeletak disana.
Dan tak lama Gimo dan pasukannya, bertemu dengan pasukan kerajaan Pierre yang sebelumnya telah dia kalahkan.
Ternyata kelompok pasukan pertama tadi hanyalah sebuah akal-akalan saja, dan mereka mengikuti pasukan Gimo unuk menuju goa Kannal.
Gimo dengan pasukan yang hanya tersisa setengah dari jumlah sebelumnya, berhadapan dengan pasukan yang lebih banyak dari sebelumnya.
Pasukan Gimo sendiri sudah sangat lelah, persediaan pangan sudah menipis, membuat para pasukan Gimo pasrah dengan keadaan ini.
"Jendral, bagaimana ini." Ucap Leon yang terlihat panik.
Dan kejadian itu Gimo menggunkan kekuatan Karael untuk melawan pasukan Pierre.
Zirah besi Gimo yang sebelumnya berlumur darah dan hancur pada beberapa bagian, seketika menjadi putih bersih tanpa adanya kerusakan atau goresan sedikitpun.
tiba-tiba pedang Gimo berubah menjadi sedikit lebih besar dan terdapat batu kristal merah darah pada gagang pedangnya. dari punggung zirah itu muncul cahaya dan membentuk sepasang sayap yang dilengkapi dengan halo diatas kepala Gimo.
Semua orang terkesima dengan wujud Gimo saat itu, apa lagi para pasukannya sendiri.
Gimo kemudian langsung menerjang dan melawan para pasukan itu sendirian. Walau pedangnya terlihat lebih besar dari sebelumnnya, tetapi ayunan pedang Gimo justru lebih cepat dari sebelumnya, dan pergerakannya sangat susah untuk di imbangi oleh pasukan lawan.
Gimo bergerak sangat lincah, seperti tidak ada beban pada tubuhnya. Melihat Gimo yang bertarung sendirian membuat semangat para pasukannya sedikit demi sedikit kembali.
mereka merasa kalau masih mempunyai harapan untuk memenangkan pertempuran ini.
Dan satu persatu pasukan Gimo mulai bergerak maju, dan pada akhirnya mereka semua ikut bertarung membantu Gimo.
Pertarungan terjadi sangat sengit, tetapi dengan kekuatan Gimo dan Karael mereka dapat mengalahkan pasukan lawan dalam waktu 3 hari.
Setelah memenangkan pertempuran, tanpa pikir panjang Gimo langsung memasuki goa Kannal dan mencari Batu setan itu.
Goa yang gelap bercabang, membuat Gimo memecah pasukan dan menyebarkannya untuk mencari batu setan.
Setelah beberapa jam mencari, Gimo yang ditemani oleh Leon dan 3 orang tentaranya berhasil menemukan batu setan itu.
Batu itu terlihat seperti batu emerald biasa, tetapi didalamnya menyimpan kekuatan yang sangat besar.
Kerajaan Gonoveva memerintahkan untuk menghancurkan batu itu sesegera mungkin.
Namun Gimo dikhianati oleh Leon dan pasukannya sendiri. Gimo ditikam dari belakang oleh Leon hingga menembus baju zirahnya.
"HAHAHA... BATU ITU MILIK KU!!!." Ucap Leon sembari menakan kuat pedangnya pada punggung Gimo yang telah menembuh ke dadanya.
Tetapi dengan bantuan Karael, Gimo menendang kuat Leon hingga terpental ke dinding goa.
3 orang lainnya kemudian menyerang Gimo dengan tombak, Gimo berusaha untuk menghindar dan menyerang balik. Namun karena pedang Leon yang masih menancap padanya, membuat pergerakan Gimo menjadi lambat, dan salah satu tombak tentaranya, berhasil menembus perutnya.
Gimo dengan sisa kekuatannya berusaha untuk bertahan, Gimo kemudian melempar pisau belati yang dia simpan pada pinggangnya. Belati itu berhasil menancap pada kepala tentara itu.
Setelah mengalahkan para pengkhianat itu, Gimo langsung berbalik arah dan berusaha meraih batu setan itu dan ingin segera menghancurkannya dengan kekuatannya yang tersisa.
Dengan terpincang-pincanng gimo berjalan, darah mulai mengalir membanjiri tanah goa, Gimo menutup luka pada perutnya dengan tangan kirinya. Perlahan namun pasti akhirnya Gimo dapat meraih batu setan itu.
"KARAAEEEEL!" Teriak Gimo sambil menggenggam kuat batu setan itu dengan tangan kanannya.
Cahaya itu seakan masuk dan mengisi batu setan, dan tak lama.
*Krak*
Retakan mulai muncul kemudian mengeluarkan cahayaputih tadi dari sela-sela retakannya.
"HEAAAGHHH!" Gimo merintih dan menggunakna seluruh tenaganya untuk menghancurkan batu setan itu.
Tiba-tiba.
*JLEB*
Sebuah belati kini menusuk dadanya, dan belati itu berhasil menusuk jantungnya.
"Tidak akan ku biarkan kau melakukannya!" Teriak Leon.
Namun Gimo tidak mempedulikan itu, dia tetap fokus dengan apa yang harus dia lakukan.
Retakan semakin menjalar keseluruh permukaan batu, dan akhirnya.
*PRANG*
Batu itu pecah menjadi serpihan-serpihan kecil.
*DUAAAAR*
Dan pada saat itu juga ledakan hebat terjadi, membuat seisi goa Kannal hancur lebur bersama dengan Gimo dan yang lainnya.)
"Tunggu. Bukankah kau sudah berhasil menghancurkannya?" Sela Adam.
"Tidak. Batu setan itu harus dihancurkan tak bersisa, walau hanya dengan serpihan kecilnya saja. kau masih dapat menggunakan kekuatan batu setan itu." Balas Gimo.
Adam sedikit tersentak mendengar itu.
Gimo kemudian menghampiri Adam.
"Adam, aku minta tolong kepadamu." Kemudia menepuk pelan bahunya.
"Tolong lanjutkan tugasku, sampai tidak ada lagi serpihan batu setan yang tersisa."
Adam sangat terkejut mendengarnya. "Ke-napa aku?"
"Aku menunjukmu bukan tanpa alasan." Gimo kemudian mengarahkan jari telunjuknya ke dada Adam.
"Hatimu, aku melihat kau memiliki hati yang bersih, kau memang suka bersaing tetapi kau tidak serakah dalam bersaing."
"Dan batu setan sangat sulit untuk merasuki orang seperti dirimu."
"Tetapi, bagaimana cara aku menghancurkannya."
"Tenang saja, Karael akan membantumu."
Wujud Karael tiba-tiba berubah menjadi seorang pria dengan rambut putih panjang, serta tubuh tinggi dengan kulit sawo matang dengan otot yang terbalut oleh kain putih bersih.
Tubuh Adam sedikit bergetar melihat wujud Karael itu.
Karael berdiri tepat didepan Adam, kemudian dia membukukkan badannya dan menatap mata Adam dengan mata birunya. Tak lama Karael mengangkat tubuhnya kembali. "Kau ini yang benar saja. memberikan tugas itu ke bocah ingusan ini." Ucapnya yang tampak kesal dengan keputusan Gimo.
Mata Karael tiba-tiba mengeluarkan cahaya namun sedikit redup. "Bahkan mana yang dimiliki bocah ini sangat sedikit. Bahkan hampir tidak ada!"
Gimo kemudian tersenyum untuk mencairkan suasana, tetapi Senyuman terlihat sedikit terpaksa. "Hahaha... seiring berjalannya waktu dia akan menjadi kuat, lagi pula dia masih remaja."
Adam merasa sedikit kesal, menurutnya dia sedang jadi bahan candaan kedua orang ini.
*Ngeek*
Tiba-tiba sesuatu seperti melilit lehernya, Adam merasakan sakit pada lehernya membuatnya hampir tidak bisa bernafas.
Adam tertunduk lemas. dan berusaha melepaskan sesuatu pada lehernya yang sebenarnya tidak ada apa-apa. "Ohok-Oohok" Adam batuk dengan sangat keras seperti sedang tercekik oleh sesuatu.
Gimo meraih Adam dan menarik tubuhnya. "Adam kau tidak apa-apa." Sambil memeriksa leher Adam.
Dengan tatapan masih sedikit kesal, Karael menegakan tubuhnya. "Sepertinya sedang terjadi sesuatu disana." Ucap Karael sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
Gimo seperti tersadar kalau Adam memang sedang sekarat didunianya.
Gimo kemudian menatap mata Adam dengan tajam. "Baiklah Adam, sepertinya ini perpisahan kita, ingat dengan dengan apa yang baru saja kujelaskan." Gimo membaringkan tubuh Adam dibawah.
Adam sebenarnya ingin menolak tugas itu, tetapi dia masih merasakan cekikan dilehernya, sehingga tidak dapat mengeluarkan kata sedikitpun.
Rasa sakit pada lehernya semakin menjadi, keringat Adam mulai bercucuran deras, tubuhnya bergetar menahan rasa sakit itu. Tetapi Adam melihat Gimo dan Karael yang hanya berdiri didepannya.
Dan semakin lama, pandangannya menjadi kabur dan semuanya seolah sedang berputar-putar, kepalanya kembali merasa pusing.
Lambat laun pusing Adam hilang, dan seketika Adam tersadar dalam cekikan tangan Pharsa sambil mengangkat tubuhnya.
Dan terlihat Antonio, Tristian, Marco, Amalia, Clara sudah terkapar tidak sadarkan diri.