
“HUAAAA!!!” Adam sangat terkejut melihat pantulan tubuhnya pada mata mahluk itu.
Adampun terbangun dari tidurnya, dan terlihat Ibunya yang sedang memeras sapu tangan basah disampingnya.
“I-Ibu…”
Tiba-tiba air mata Irene membasahi pipinya. “A-dam…” Ucap ibunya dengan suara sedikit tergagap.
Adam sangat bingung dengan ekpresi ibunya itu.
“Ibu kena-”
*Grip*
Irene kemudian langsung memeluk Adam dengan sangat erat dan menangis. “Adaaaaaam!!!”
“Bu, Ibu kenapa? Aku hanya bangun tidur.” Adam berusaha melepaskan pelukan ibunya yang sangat kuat itu.
Namun pelukan Irene tidak bisa dilepas dan tangisan menjadi histeris. “Kamu sudah tidur 3 hari.”
Mata Adam langsung membeliak lebar, pupilnya membesar. “Ti-Tiga hari? A-ku tertidur selama 3 hari?” Ucap Adam dengan terbata-bata.
Tubuh Adam bergetar mendengar itu, begitu juga dengan rasa sakit kepalanya yang tiba-tiba muncul membuat pandangannya kembali menjadi sedikit kabur.
“Akh…” Adam sedikit merintih namun masih dapat menahan rasa sakit itu.
Irene yang sudah merasa mendingan, kemudian menjelaskan semua yang terjadi. “Selama kamu tidur juga, kamu sering mengigau aneh seperti meminta tolong. Dan menyebut sesekali menyebetkan nama…” Mata Irene tiba-tiba menatap tajam ke Adam. Suaranya pun juga menjadi sangat berat dan serak. “Karael…Karael…Karael…”
Adam yang berada disamping Irene, langsung ketakutan dan perlahan mulai merangkak menjauhi Irene yang bersikap aneh, tubuhnya pun langsung bergetar hebat. “I…-I-bbbu…”
Mata Irene tiba-tiba mengeluarkan pecrikan kembang api, yang semakin lama semakin membesar dan akhirnya membakar bola mata Irene.
Suara Irene menjadi keras dan menggelegar.
“HAHAHAHAAA…” Irene kemudian tertawa persis dengan mahluk pada mimpi Adam.
Tulang pelipis Irene tiba-tiba menonjol keluar, disertai dengan kobaran api yang kini mulai membakar seluruh tubuh Irene, dan kemudian membakar seluruh Kamar Adam.
Tubuh Irene menjadi membesar disertai dengan tanduk dikepalanya yang dan bola mata yang merah menyala.
Dan tiba-tiba Irene melirik. “ADAM!” Ucap Irene.
“HUAAAA!!!” Adam sangat terkejut hingga membuatnya terbangun kembali dari tidurnya.
Nafas Adam menjadi terengah-engah dengan keringat yang sudah membanjiri tubuhnya.
“MIMPI!?” Ucapnya.
Dan berkat mimpi itu, Adam dapat mengingat semua yang terjadi, bersama dengan Karael, Batu Setan, dan kehidupannya kembali setelah dibunuh oleh Pharsa kemarin.
Dalam hitungan detik, semua ingatan itu seperti terputar kembali didalam kepalanya.
*Tok Tok Tok*
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya.
“Adam, Bangun sarapan sudah siap.” Terdengar suara seperti ‘Ibu’ nya.
Adam mengalami banyak hal dalam satu hari penuh, sehingga membuat Adam menjadi sangat bingung. “Apakah ini mimpi lagi?” Ucapnya dalam hati.
*Tok Tok Tok*
‘Ibunya’ kembali mengetuk pintu kamar Adam kembali. “Adam, cepat bangun!” Dan nada suaranya kini menjadi sedikit lebih tinggi.
Adam tetap tidak menjawab panggilan ‘ibu’ nya itu.
*Tok! Tok! Tok!*
Suara ketukan itu semakin menjadi, dan kini ‘ibunya’ berteriak keras. “ADAM CEPAT BANGUN!”
Suara ketukan itu membuat Adam terkejut. “Apa aku masih bermimpi?” Kemudian Adam meringkukan tubuhnya dikasur dan menyumbat telinganya dengan bantal sambil memejamkan matanya dengan erat.
“Semoga ini mimpi! semoga ini mimpi! semoga ini mimpi!” Ucap Adam yang seperti sedang berdoa.
*BRAAAK*
Pintu kamar Adam didobrak kuat sampai kunci pintu kamar Adam menjadi jebol. “ADAAAM!” Teriak Irene.
Adam yang masih meringkuk dikasur mempercepat doanya. “Semogainimimpi Semogainimimpi”
Irene kemudian menarik kuat tubuh Adam. “ADAM CEPAT BANGUN!!!”
“Semogainimim-HAAAA” Adam kembali terkejut.
“KAMU ITU mau tid-” Suara Irene yang menggeleger namun cempreng itu, seketika menjadi pelan, melihat wajah Adam yang sangat pucat dan keringat yang membasahi kaos bahkan sprei kasur Adam.
Dengan nafas yang terengah-engah dan tenggorokan yang kering, Adam mencoba memastikan kalau saat ini dia tidak sedang bermimpi. “I-Ib-u” Ucap Adam dengan terbata-bata.
Dengan mimik wajah yang sedikit panik, Irene kemudian langsung menghampiri Adam. “Adam, kamu kenapa nak?” Tanya Irene dengan panik.
Irene kemudian menyentuh kening Adam dengan telapak tangannya. “Kamu sakit? Kamu mau kedokter?”
Mendengar suara cempreng, dan merasakan tangan halus namun dingin yang sangat khas dari ibunya, membuat Adam yakin kalau ini bukanlah mimpi.
“Kamu kenapa nak?” Tanya Irene.
Adampun tersadar. “Hah? Oh… tidak bu, aku hanya mimpi buruk saja.” Adam mencoba menenangkan dirinya kembali.
***
“Nak, apa kamu yakin baik-baik saja?” Tanya Irene yang juga duduk disebrang meja makan.
Adam mengangguk sambil menggigit roti panggangnya. “Iya bu, aku baik-baik saja.” Balas Adam. “Mungkin aku kecapean sehabis ujian kemarin.”
Mendengar penjelasan Adam, Irene masih meragukan kondisi anaknya yang ‘baik-baik saja’ itu.
Tetapi Irene tidak mau banyak bertanya untuk sekarang ini, karena menurutnya itu hanya akan menambah beban pikiran anaknya. Irene kemudian menyeruput secangkir teh miliknya.
Sementara Adam tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, apa lagi malaikat Karael yang ada dalam dirinya. Adam takut kalau ini akan menarik banyak perhatian orang, terlebih dengan orang-orang yang menganggap Karael adalah sebuah malapetaka. Dan penduduk desa Verals menganggap malaikat Karael demikian.
Adam dan Irene kemudian melanjutkan sarapan pagi dengan saling diam dan hanya fokus menghabiskan hidangan yang ada dihadapan mereka.
Namun ditengah sarapan pagi yang canggung itu, Adam tersadar sesuatu. “Ibu, Ayah belum pulang?” Tanya Adam.
“Belum, sepertinya akan butuh beberapa hari lagi.” Jawab Irene.
Walau perjalanan Jason sudah diperkirakan, namun tidak ada yang tahu kendala apa saja yang akan terjadi dalam perjalanan, entah cuaca, jalan rusak, bahkan para bandit yang mengganggu perjalan para kurir barang seperti Jason.
Tetapi Adam tidak terlalu mengkhawatirkan hal itu, karena hal ini memang sudah sering terjadi pada ayahnya, terutama untuk para bandit, mereka pasti akan kabur duluan ketika melihat betapa besarnya tubuh Jason. Untuk kepulangan Jason biasanya dia paling lambat pulang satu minggu dari hari yang diperkirakan.
*Gluk Gluk Gluk*
Adam menghabisakan roti dan susu hangatnya.
“Adam, lalu bagaimana dengan akademimu? Apakah kamu libur?” Tanya Irene sembari mencuci piring bekas sarapan pagi.
“Iya bu, aku libur sampai pengumuman ujian akhir. Sepertinya sekitar 1 minggu.” Jawab Adam yang masih duduk santai di meja makan.
Irene yang sudah selesai dengan mencuci piring, kemudian mengambil kain untuk mengelap tangannya yang basah itu. “Kalau begitu, apa kamu bisa bantu ibu?”
Didalam sebuah rak tempat piring dan perlengkapan dapur, Irene kemudian mengambil sebuah keranjang yang terbuat dari rotan. “Bisakah kamu membeli beberapa sayuran dipasar?” Ucap irene sambil menyodorkan keranjang rotan itu.
Biasanya Irene pergi ke pasar bersama Jason dan sering mendapat potongan harga, karena orang-orang pasar banyak membantu orang-orang pasar dari para bandit yang suka meminta ‘pajak keamanan’ yang sebenarnya mereka hanya memalak para pedagang pasar.
Adam sebenarnya masih ingin bermalas-malasan dirumah, tetapi karena hanya ada dirinya dirumah, mau tidak mau Adam menuruti perintah ibunya itu.
Adam kemudian pergi menuju pasar yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Ditengah perjalanan, Adam melihat punggung gadis remaja yang sangat dia kenali.
“Amalia!” Teriak Adam.
“Adam?” Balas Amalia sambil menoleh ke Adam.
Adam kemudian menghampiri Amalia yang juga membawa Keranjang rotan sepertinya.
“Mau kepasar juga?” Tanya Adam.
“Iya, ibuku menyuruhku untuk membeli sayuran.”
“Kalau begitu sama, mau berangkat bareng?”
Adam dan Amalia berangkat ke pasar bersama dan sesampainya didepan pasar, banyak orang yang lalu-lalang mencari keperluan sehari-hari mereka dan para pedagang menawarkan barang dagangannya dengan lantang.
Suara tawar menawar antar pedagang dan pembeli terdengar dengan jelas, begitu juga dengan anak-anak yang berkumpul melihat mainan tradisional disana, mereka terlihat sangat asyik melihat sang pedagang yang memeragakan mainan bola karet dengan sangat lihai.
“Adam kamu mau beli apa?” Tanya Amalia.
Adam kemudian mengambil sebuah selembar kertas yang diberikan oleh ibunya sebelum berangkat tadi. “Hmmm… Wortel, kubis, dan tomat” Jawab Adam sembari membaca kertas itu. “Kamu?” Lanjut Adam.
“Kalau aku, tomat dan jamur tiram.” Balas Amalia.
Adam kemudian menawarkan usulan untuk belanja bersama, karena dia tahu tempat yang tepat untuk membeli sayur dan jamur, Amaliapun menyetujui usulan Adam.
Adam kemudian langsung menuju pedagang tempat langganannya membeli jamur.
Dari kejauhan tampak sebuah tenda yang terbuat dari bambu beratap Jerami kering, terdapat juga sebuah meja kayu yang lengkap dengan sayur-mayur diatasnya.
Sayur hijau lengkap dengan bumbu rempah yang digantung diatas meja. “Kakek Henry!” Teriak Adam.
Seorang pria tua yang sedang menata sayur-mayurnya terlihat senang dengan kedatangan Adam. “Oooh Adam!” Balas Henry. “Sudah lama kamu tidak dating kepasar.”
Begitu dengan Adam yang juga senang melihat Henry. “Iya kek, banyak hal yang dilakukan dirumah. Hehe…”
“Kamu sekarang sudah besar ya, terakhir kamu main kesini kalau tidak salah kamu masih segini.” Balas Henry sambil mengukur tinggi Adam yang dimana sedikit lebih tinggi dari meja sayurnya.
Henry memerhatikan tubuh Adam dari ujung kaki hingga kepala. “Lihat kamu sekarang sudah hampir setinggi tenda ku.”
Mendengar itu, Adam tersipu malu. “Haha… tidak kok kek.” Jawab Adam dengan canggung.
Ditengah reuni hangat itu, Henry sedikit terpesona dengan seorang gadis yang dari tadi berada disamping Adam. “Pacarmu?”
Adam seketika sangat terkejut pertanyaan itu, mukanya langsung memerah. “HAH? Bu-Bukan… D-D-D-ia t-t-teman k-ku” Jawab dengan gelagap.
Begitu juga dengan Amalia yang langsung tertunduk malu, dan mengangguk-ngangguk menyetujui pernyataan Adam itu.
Gelagat polos Adam memang dari dulu tidak pernah berubah, dan itu yang membuat Henry suka kepada Adam.
“Hahahahaaa… kukira kau datang untuk memperkenalkan pacarmu kepadaku.”
Tiba-tiba seorang laki-laki dengan jubah dan kupluk hitam yang menutupi seluruh tubuhnya datang ke tenda Henry.
“Permisi pak, apa kau punya daging potong ayam?” Tanya laki-laki itu.
Henry sempat tersentak dengan kedatangan laki-laki itu yang datang secara tiba-tiba. “O-oh, sebentar.”
Sembari Henry mencari daging potong ayam, Adam merasa kalau dirinya sedang diperhatikan, Adampun melirik kearah laki-laki itu, dan mata mereka bertemu.
Seorang laki-laki paruh baya yang terlihat hampir 30 tahunan, menatap Adam dengan tajam.