
Lewis kemudian mengangkat tangannya, dan muncul lah sebuah lingkaran sihir berwarna biru gelap yang melebar keseluruh langit-langit aula akademi.
Seluruh siswa dan para guru akademi terkesima melihat lingkaran sihir itu.
Lingkaran sihir biru yang bersinar sedikit terang, dengan butiran mana yang berjatuhan, membuat ruangan terasa sedikit dingin.
“Apa-apaan ini.” Ucap Adam.
Mata Adam terbuka sangat lebar karena begitu takjub melihat lingkaran sihir itu.
Lingkaran sihir ini sangat berbeda dengan milik Antonio. Adam merasa kalau lingkaran sihir itu membuatnya merasa tenang, seperti arus air yang membawa dirinya masuk ke dalam dunia lain.
Berbeda dengan Antonio, dimana lingkaran sihirnya terasa sangat kasar dan membara, seperti siap melahap apapun yang ada di depannya dengan kekuatan api miliknya.
“Magic of Path: Teleportation.” Ucap Lewis.
*CRIIING*
Cahaya lingkaran sihir itu semakin terang, dan menyilaukan mata. Semua orang didalam aula yang tadinya ingin menatap lingkaran sihir itu, sekarang mereka enggan untuk melihatnya lagi, cahaya yang dihasilkan sangatlah terang.
“Aaaaakhh.” Ucap para murid dan guru yang tidak tahan dengan silaunya cahaya itu.
Dan tidak lama, cahaya itu redup dengan sangat cepat, dan hilang total.
Kemudian para murid dan guru membuka mata mereka perlahan-lahan.
“Ap-a yang terjadi?” Para murid mulai bertanya-tanya, dan melihat sekeliling mereka.
***
“Aaaaakhhh!” Rintih Adam yang menahan rasa sakit.
Dan ketika merasa cahaya itu sudah redup, Adam membuka matanya perlahan-lahan.
Dan Adam dibuat terkejut, “Tidak mungkin.” Ucap Adam.
Adam melihat Antonio dan Amalia yang berada didepannya yang sama merintih dan menghalangi pandangan mereka dari cahaya itu. Tetapi terdengar juga suara rintihan orang lain didekatnya.
Mereka adalah Marco Pyst, Tristian Alfonso dan Clara Krenka. Marco dan Clara adalah teman sekelas Adam, sedangkan Tristian berasal dari kelas 3-2.
“Aaakh sial, silau sekali.” Keluh Marco. (Marco Pyst adalah teman sekelas Adam. Dia memeiliki rambut hitam berponi, serta tinggi 170cm. Marco mengusai elemen listrik.)
“Hey Marco, kita dimana?” Ucap Clara yang bingung dengan tempat dia berada saat ini. (Clara Krenka adalah teman sekelas Adam lainnya. Memiliki rambut coklat bergelombang, serta tinggi 157 cm. Clara mengusai elemen air.)
Sementara itu, Tristian yang merupakan murid satu-satunya yang berpindah ke hutan ini, dia mendekati Antonio. “Anotnio. Kita dimana?” (Tristian Alfonso adalah satu-satunya murid dari kelas 3-2 yang berpindah bersama dengan Adam yang lainnya. dia memiliki tinggi 173 cm. Tristian mengusai elemen tanah dan dia adalah salah satu siswa terbaik akademi Roraima.)
Antonio juga tidak menyangka kalau Tristian juga ikut bersamanya. “Tristian, Aku juga tidak tau.” Jawab Antonio.
“Hey Marco, Clara.” Panggil Adam.
Mereka berdua kemudian menoleh. “Adam.” Ucap Marco.
Adam kemudian menghampiri Marco dan Clara.
“Adam, kita dimana?” Tanya Clara.
“Adam, tadi itu apa?” Tanya Marco.
Adam kemudian menatap Clara dengan wajah sedikit ragu.
“Sepertinya itu adalah kemampuan unik, dan sekarang kita berada ke dalam hutan Gainara.” Balas Adam.
“Gainara?” “Kemampuan unik?” Ucap Marco dan Clara yang sedikit tidak mengerti.
“Iya,” Adam menganggukkan kepalanya. “Kemampuan unik bisa dibilang kemampuan tingkat tinggi dari setiap elemen sihir. Dan setiap elemen mempunyai kemampuan uniknya tersendiri.” Jelas Adam.
“Tidak salah lagi, kita telah benar-benar berteleportasi ke hutan Gainara.” Lanjut Adam.
Semua murid terkejut mendengar penjelasan Adam. “Adam apa kau yakin?” Ucap Antonio yang menguping pembicaraan Adam dan teman sekelasnya. “Jadi maksudmu kita berteleportasi ke hutan ini.”
Nafas Adam menjadi sedikit berat dan tenggorokannya kering, dia tidak percaya dengan apa yang terjadi. “Iya.”
Tubuh Marco menjadi gemetar. “Para bangsawan sungguh mengerikan.”
“Kenapa kalian sangat terkejut?” Lewis tiba-tiba muncul dari bayang-bayang pepohonan, tidak jauh dari Adam dan yang lainnya.
“Pak Lewis.” Ucap Adam.
*Tap Tap Tap*
Lewis berjalan mendekati mereka.
Ketika Lewis berjalan mendekat mendekat, dengan tanpa sadar, kaki mereka perlahan melangkah mundur menjauhi Lewis. Bahkan Antonio juga ikut melangkah mundur, sedangkan Amalia bersembunyi dibelakang Adam.
Tetapi Adam tidak, walau tubuhnya bergetar dia teteap berdiri ditempat. “Bagaimana tidak.” Jawab Adam. “Ini pertamakalinya kami melihat sihir setingkat jendral sihir.” Lanjutnya.
“Hmph” Lewis sedikit tersenyum.
“Jadi, 6 orang?” Ucap Lewis.
Semua orang terdiam, mereka menjadi takut kepada Lewis.
Amalia yang bersembunyi dibalik Adam, mencoba memberanikan diri untuk bertanya. “Pa-k Lewis.” Ucapnya dengan sedikit terbata-bata. “Kenapa kita dibawa kesini? Bukankah kita seharusnya mengikuti tahap awal ujian?” Ucap Amalia.
Lewis kemudian menoleh. Amalia yang ketakutan kembali bersembunyi dibelakang Adam.
Adam merasa sedikit tidak nyaman “Amalia, jangan sembunyi dibelakangku” Ucap Adam sambil mencoba menjauh dari Amalia.
Tetapi Amalia malah menarik baju Adam dan membuatnya tidak bisa bergerak.
“Tahap pertama sudah kita lakukan.” Balas Lewis.
“Apa?” Ucap semua orang dengan serentak.
“Dan kalian semua yang ada disini adalah siswa yang telah lolos seleksi tahap awal.” Lanjut Lewis.
“Bagaimana bisa kami lulus?” Tanya Antonio.
Lewis membuka telapak tangannya, *Cring* Dan mengeluarkan lingkaran sihirnya, tetapi dengan ukuran yang kecil (Setelapak tangan).
“Sihir Magic of Path ku sudah kuberi semacam penyaring sihir. Jadi hanya murid yang memiliki sihir dengan kemampuan tinggi yang dapat ikut bertelportasi bersamaku.” Balas Lewis.
Kemudian Lewis sedikit tersenyum kembali. “Dan tidak ku sangka yang lolos seleksi awal akan sebanyak ini.” Lanjutnya.
Adam dan yang lainnya saling menatap satu sama lain.
“Apa kau serius?” Tanya Marco.
“Kau sedang tidak bercanda kan?” Tanya Clara.
Lewis kemudian mengangkat tangannya sebahu, dan membuka telapaktangannya mengarah kepada mereka (sebagai tanda dia benar-benar serius). “Aku serius.” Balas Lewis.
“Hah.” Wajah Clara yang ketakutan, mulai tersenyum. Begitu juga dengan Marco yang sudah melompat kegirangan mendengar dia sudah lulus tahap awal.
Tristian menyilangkan tangannya, seolah dia sudah tahu kalau dia akan lulus seleksi tahap awal. “Sudah kuduga, aku akan lulus dengan mudah.” Ucapnya dalam hati.
Antonio juga ikut senang, ditambah sahabatnya juga ikut lulus seleksi bersamanya, dan ingin mengucapkan selamat kepada Adam. “Adam. Tidak kusangka kau juga lulus.” Ucap Antonio.
“Aku bukan pecundang sepertimu, yang takut dengan orang yang mengusai sihir tingkat atas.” Ledek Adam yang melihat Antonio ketakutan tadi.
Mendengar itu, rasa senang Antonio langsung hilang, dan dia menjadi sangat kesal. “Apa kau bilang!?”
“Kau mau mengelak? Banyak saksi yang melihat tadi kau ketakutan.” Adam semakin memanas-manasi Antonio.
*Grip*
Antonio menarik baju Adam. “Kau ini!” dan siap memukul Adam.
Ketika yang lain senang dengan lulus seleksi awal, Amalia justru sedih, karena dia tidak ingin mengikuti seleksi akademi khusus. “Ba-gaimana ini” Ucap Amalia dalam hatinya.
Adam dan Antonio sering bertikai dari kecil, dan disaat mereka akan berkelahi, Amalia selalu ada untuk melerai dan memarahi mereka berdua. Tetapi kali ini Amalia tidak melerainya.
Merasa ada sesuatu yang aneh, Adam dan Antonio, menoleh ke Amalia. Dan melihat Amalia seperti orang yang bingung.
“Amalia, kau kenapa?” Tanya Antonio.
“Apa ini artinya aku juga lulus?” Tanya Amalia.
Antonio kemudian melepaskan kepalan tangannya. Dia teringat kalau Amalia tidak ingin melanjutkan ke akademi khusus.
Anotio menyentuh Pundak Amalia. “Amalia. Tidak apa-apa, ini kesempatan untukmu. Orangtua mu pasti akan mengerti.” Ucap Antonio.
“Tapi…” Ucap Amalia dengan ragu.
Adam kemudian menghampiri Amalia, menarik tubuhnya dengan sedikit kasar, membuat Amalia bertatapan langsung dengan matanya. “Amalia!”
Amalia terkejut. “Kya!”
Dan menarik seluruh perhatian orang-orang.
“Amalia dengarkan aku.” Ucap Adam dengan lantang. “Aku tau tujuanmu baik, membantu orangtua mu. Tetapi pikirkanlah lagi. Kesempatan seperti ini tidak akan datang 2 kali. Jadi tolonglah, jangan lewatkan kesempatan ini.”
Mendengar ucapan Adam dengan wajah yang begitu serius, membuat pilihan Amalia sedikit goyah.
Amalia kemudian memikirkan kembali pilihannya. Amalia
berpikir cukup lama, dan mempertimbangkan kemungkinan yang akan terjadi jika lolos dan masuk akademi khusus.
Dan tiba-tiba wajah Amalia tersenyum. “Maaf Adam. Aku tidak bisa”