
(Pada awalnya, Malaikat dan Iblis adalah mahluk yang melayani Dewa-dewa yang tinggal di alam Urania. Dan diantara Malaikat dan Iblis terdapat Malaikat inti dan Iblis Inti.
Malaikat yang dipimpin oleh Gabriel, dilanjut dengan Mikhael, Rafael, Uriel, Sealtiel, Dan Karael. Sementara Iblis yang dipimpin oleh Diablo, kemudian Beelzebub, Leviathan, Amon, Belphegor, Leviathan, Asmodeus. Namun diantara Malaikat dan Iblis memiliki perbedaan.
Malaikat terbuat yang dari cahaya ditempatkan di surga, sementara Iblis terbuat dari api dan ditempatkan di neraka, tetapi walau mereka berbeda tempat tinggal, Malaikat dan Iblis dapat bebas keluar masuk neraka dan surga. Selain unsur pencitaan yang berbeda, sifat mereka juga sedikit berbeda. Malaikat sendiri tidak dapat beranak dan tidak memiliki nafsu, sementara Iblis dapat beranak dan memiliki nafsu.
Pada suatu ketika, Dewa mulai menciptakan manusia, yang dimana manusia memiliki nafsu seperti Iblis tetapi tidak memiliki tugas untuk melayani Dewa, seperti halnya para Malaikat dan Iblis.
Dan dari sini mulai muncul rasa iri yang dimiliki oleh Iblis. Melihat manusia yang hidup enak disurga dan tidak memiliki tugas, Iblis sedikit demi sedikit mulai mengusik kehidupan manusia, sampai akhirnya manusia mengadu kepada Dewa yang kemudian Dewa mengutus malaikat untuk melarang Iblis untuk masuk kedalam surga.
Iblis yang awalnya sangat patuh kepada Dewa, tetapi diperlakukan seperti itu, membuat Iblis merasa telah dikhianati, terutama Diablo.
Diablo kemudian mengutus salah satu bawahannya yaitu Leviathan untuk menyelinap masuk kedalam surga untuk menyebarkan fitnah kepada manusia yang ada disurga.
Leviathan menyamar menjadi ular dan kemudian mulai menghasut manusia disana untuk mengambil sebuah batu yang Bernama Kreato, yang adalah inti dari sebuah penciptaan, dan siapapun dilarang untuk menyentuhnya kecuali Dewa.
Manusia yang memiliki sifat nafsu seperti Iblis, dengan sedikit kata-kata manis dari Leviathan, manusia mulai terhasut dan berani untuk mencuri batu itu. Dewa yang mengetahui batu Kreato dicuri oleh manusia, langsung murka dan melempar para manusia dari surga kealam manusia yaitu Bumi. Dan memerintahkan manusia jika ingin kembali ke surga mereka diharuskan untuk menjalankan perintahnya, jika tidak mereka akan dilempar kedalam neraka.
Tetapi itu tidaklah mudah, karena Iblis sendiri juga mengincar batu itu untuk menguasai surga, Iblispun kembali mulai menghasut para manusia untuk bekerja sama dengannya untuk menguasai surga bersama dengan Iblis.)
"Wow." Satu kalimat kata yang hanya dapat terucap dari mulut Adam.
Adam tidak mengira kalau selama ini dia seharusnya tinggal di surga jika saja para manusia tidak terhasut oleh iblis.
Adam terdiam dan berpikir sejenak. "Tetapi jika manusia tidak terhasut pada saat itu, apakah manusia akan tetap tinggal disurga atau akan tetap dipindahkan ke bumi?"
"Dan jika manusia tetap dipindahkan ke bumi, berarti ini Namanya takdir. Apakah manusia memang ditakdirkan untuk tinggal dibumi?" Pikiran Adam semakin lama semakin liar.
Dan pertanyaan-pertanyaan baru mulai bermunculan dikepalanya.
*Tok Tok Tok*
Terdengar suara ketukan pintu kamarnya.
"Adam, kamu sedang apa?" Tanya Irene sambil membuka pintu kamar secara perlahan.
"Makan malam sudah siap." Lanjut Irene.
Tak terasa hari sudah gelap. "Oh, iya bu. Adam kesana." Sahut Adam yang kemudian menurh bukunya ke rak dan lekas menuju meja makan untuk menyantap makan malam bersama Irene.
Setelah makan malam, Adam kembali kekamarnya dan kemudian langsung tidur cepat agar dapat ke akademi Roraima untuk mengembalikan buku-buku yang dia pinjam.
***
Sebelum fajar terbit dari ufuk timur, Adam sudah bersiap untuk berangkat ke akademi Roraima.
Walau jalan sedikit gelap, Adam berjalan menyusuri desa dengan tas dipunggungnya yang penuh dengan buku-buku dia pinjam.
Dan sesekali, Adam memberhentikan langkahnya untuk membenarkan posisi tasnya yang kadang jika membawa barang berat, tali tasnya akan mengendur dengan sendirinya.
"Ukh. Berat juga." Celetuk Adam dalam hati.
Sekitar 20 menit berjalan, mulai terlihat gerbang akademinya dan terlihat seorang laki-laki tua yang sedang menyapu daun-daun kering dengan sapu lidi disana.
Adam sengaja datang lebih awal untuk menghindari keramaian adik tingkatnya yang masih datang untuk belajar diakademi.
"Kakek Hasan, selamat pagi!" Sahut Adam sambil melambaikan tangannya ke kakek Hasan salah satu staff kebersihan akademi Roraima.
"Waah… ter-nyata ada nak A-dam." Jawab kakek Rio dengan bibirnya yang sedikit bergetar.
Adampun menghampiri kakek Rio, walau dia sudah tua dengan kaki yang gemetar, tetapi kakek Rio masih kuat untuk menyapu halaman akademi yang cukup luas itu.
"Ada per-lu apa nak A-dam kema-ri?" Tanya Kakek Hasan.
"Oh ini kek, aku ingin mengembalikan buku yang ku pinjam." Jawab Adam dengan senyuman ramahnya kepada kakek Hasan.
Kakek Hasan sedikit terkejut dengan tas Adam yang penuh dengan berbagai macam buku itu.
Adam tidak bisa menjawab ucapan kakek Hasan itu dan menjadi malu, wajahnya sedikit memerah. "Hehe…" Balas Adam dengan senyuman canggung.
Setelah bersapa hangat dengan kakek Hasan, Adam kemudian langsung menuju perpustakaan.
Adam menyelusuri tiap lorong akademi yang sedikit gelap, Adam berjalan sedikit cepat untuk mengejar waktu agar tidak bertemu dengan murid lain, walau Adam adalah murid di akademi Roraima, tetapi menurutnya terasa aneh datang dengan tidak mengenakan jubah akademi, terlebih jika bertemu dengan salah satu gurunya.
Setelah sampai, Adam langsung masuki perpustakaan akademi dan bertemu dengan resepsionis perpustakaan.
"Permisi bu, saya ingin mengembalika buku yang saya pinjam." Ucap Adam kepada seorang wanita 40an yang sedang duduk dan mengisi formular di meja resepsionis.
Dia adalah ibu Rose, sang kepala perpustakaan akademi Roraima. Dia terkenal dengan ke jutekannya dan mulutnya yang pedas kepada murid yang suka berisik diperpustakaan.
Rose itu tidak sedikitpun menoleh kearah Adam, dan tetap fokus mengisi formular itu. "Ya, taruh saja bukunya disini." Balas Rose sambil menunjuk sebelah sisi meja resepsionis.
Tetapi Adam tidak terlalu memikirkannya, dan langsung saja Adam mengeluarkan dan menata buku-bukunya disamping meja resepsionis.
Ketika Adam sedang Menyusun buku, Adam sesekali melirik ke Rose, dia tampak sangat serius dengan kacamata bulatnya yang terlihat sedikit berdebu itu.
Menyadari dirinya sedang diamati, Rose sempat melirikan matanya ke Adam. "Ada apa?" Tanyanya dengan nada sedikit kesal.
Adam sedikit terkejut, dan langsung melanjutkan pekerjaannya. "Ti-tidak bu." Balas Adam.
Setelah selesai menata buku-bukunya, Adam kemudian menghampiri kembali ibu Rose dan mengambil sebuah buku cetak bertuliskan *Daftar Pengembalian Buku* di meja resepsionis untuk membuat laporan pengembalian buku.
"Apakah sudah semuanya?" Tanya Rose tanpa melirik ke Adam.
"Eeh… sebenarnya belum semua bu, besok akan aku kembalikan semua." Jawab Adam.
Mendengar itu, tiba-tiba tangan Rose berhenti bergerak dan matanya terangkat menatap mata Adam. "Benar besok?" Tanya Rose dengan sedikit sinis.
Rose sebenarnya sangat kenal dengan Adam, namun juga dia tidak suka kepada Adam karena dia suka meminjam buku tetapi selalu telat untuk mengembalikan buku-bukunya.
Sehingga membuat formular laporan peminjaman buku akademi sedikit terhambat, sama dengan formular yang Rose isi saat ini.
Adam mengangguk pelan. "I-iya bu, besok saya kembalikan semuanya." Balas Adam.
Setelah mengisi buku laporan, Adam kemudian langsung pulang. "Ibu Rose tidak pernah berubah ya." Gumam Adam.
Ketika dalam perjalanan pulang, Adam sempat berpapasan dengan adik kelasnya yang sudah mulai terlihat menuju akademi Roraima.
Adampun merasa sedikit bernostalgia mengingat pertama kali dirinya berangkat bersama dengan Antonio dan Amalia ke akademi.
Mengingat itu, Adam sedikit tersenyum. "Tidak terasa sudah 3 tahun…" Gumam Adam kembali didalam hatinya dan kembali melanjutkan perjalanan pulang.
Namun sesampainya didesa, Adam melihat kerumunan orang-orang, dan itu adalh didepan rumahnnya.
Adampun penasaran dengan apa yang terjadi sehingga banyak orang yang berkumpul didepan rumahnya.
Adam perlahan berusaha menyelinap masuk diantara kerumunan orang-orang.
"Jason kenapa?"
Samar-samar Adam mendengar seseorang menyebut nama ayahnya.
"Dia kenapa?"
"Tidak tahu."
Dan semakin lama, semakin banyak orang yang mempertanyakan ayahnya itu.
Rasa penasaran Adam kemudian langsung berubah, Adam menjadi panik dan mulai menerobos kerumunan orang-orang.
Dan tepat didepan rumahnya, dengan pintu rumah yang terbuka lebar, terdapat Antonio dan ibunya yang sedang menangis kejar melihat keadaan Jason yang terluka parah serta tangan kanannya yang sudah tidak ada.