The Great Sorcerer

The Great Sorcerer
Perjalanan Ke Kota Mertur #4



Dan begitu juga dengan Jason yang sedang bersembunyi didalam kereta kudanya sambil mengharapkan keselamatannya.


Tubuh Jason bergetar hebat, membuat kereta kudanya juga ikut bergetar karena tubuh besarnya itu. “Dewa, kumohon, selamatkan hamba.” Doa Jason dalam hati.


*Duar Duar*


Suara dentuman dari serangan sihir Owen ditambah serangan ke dua Hell Hound yang saling bersahutan mengisi kekosongan suasana hutan.


Owen berusaha untuk mengambil pedangnya, namun kedua Hell Hound tidak mau melepaskannya begitu saja.


Mereka saling membalas serangan, namun tidak ada yang berhasil unutk melukai mereka bertiga.


Owen yang dapat menghindari seragan mereka dan serangan Owen yang dapat ditangkis dengan sangat mudah.


Tetapi semakin lama, mana milik Owen semakin terkuras dan stamina juga menurun. “Ck!! Siaal!!” Ucapnya Owen dengan kesal.


Dan sementara itu, pergerakan Hell Hound menjadi semakin cepat dan serangannya menjadi lebih kuat dari sebelumnya. “GRRR!!!” Geru mahluk itu.


“Haah… Haaah…” Nafas Owen mulai terengah-engah.


“Jika begini terus, bisa-bisa aku yang mati.” Ucap Owen.


Owen kemudian mencoba menyusun rencana didalam kepalanya. Tetapi i Hell Hound seperti tidak memberikannya waktu untuk berpikir, dan terus melancarkan serangan ke Owen.


Owen kemudian mencoba untuk mengubah gaya bertarungnya, yang awalnya dia bertarung dengan jarak dekat, kini dia mencoba untuk menyerang dari jarak jauh.


Owen kemudian membuat segel tangan berbentuk segitiga dengan ujung ibu jari dan telunjuknnya menempel satu sama lain.


Dan seketika sebuah lingkaran sihir hijau muncul pada lambang segitiga yang dia buat dengan jarinya itu.


“Magic of Wind-Hurricane.”


*Wung*


Lingkaran sihir itu mengeluarkan cahaya hijau terang yang kemudian keluarlah sebauh pusaran angin topan yang dimana melesat dengan kecepatan tinggi kearah Hell Hound itu.


*WUUZZHH*


Dan serangan itu berhasil mengenai Hell Hound disana.


Angin topan itu seperti menyedot Hell Hound dan kemudian langsung menghempaskannya ke dalam hutan.


*BRAK*


Hell Hound itu menabrak sebuah pohon besar, dan langsung membuat pohon itu runtuh ketanah.


Namun tubuh Owen sudah tidak kuat lagi, sudah terlalu banyak mana yang dia gunakan dalam pertarungan itu.


*Bruk*


Owenpun berlutut diatas ditanah, dan nafasnya sudah tidak beraturan.


Melihat kedua Hell Hound itu terhempas jauh kedalam hutan, membuat Owen sedikit bangga. “B-Berhasil.”


Namun itu tidak bertahan lama, kebanggaannya langsung sirna ketika melihat kedua Hell Hound itu melompat kearahnya dengan mulut terbuka lebar dan siap menerkamnya.


Owen sangat terkejut dan dia tidak sempat untuk bergerak, karena baru saja menggunakan mana yang cukup banyak.


Tetapi.


*BRAAAK*


Kedua Hell Hound itu kembali terhempas oleh Deorsa yang menabraknya dengan tubuh besarnya itu.


“Siapa yang berani mengganggu tidur ku!? HAA!?” Teriaknya dengan sangat kesal.


“Ketua?” Ucap Owen.


Owen memang sangat kesal dengan sifat ketuanya Deorsa, yang selalu menyuruh-nyuruh bawahannya sementara dia bersantai menghabiskan waktunya sendiri.


Tetapi disisi lain, Owen mengakui dengan kekuatan Deorsa yang memang diatas rata-rata.


Deorsa kemudian melirik kearah Owen yang masih terbungkuk ditanah. “Mana temanmu itu?” Ucap Deorsa sambil melempar pedang milik Owen.


*Prang*


Owen kemudian langsung meraih pedang miliknya, dan langsung mengeluarkannya dari sarung pelindungnya. “Dia sudah tidak ada.” Jawab Owen dengan singkat.


“Hmmm… Begitu ya.” Balas Deorsa.


Dan tak butuh lama, ke dua Hell Hound itu muncul kembali, dan kini mereka seperti benar-benar marah.


Terlihat dari matanya yang menjadi sangat tajam, dan nafasnya mengeluarkan hembusan asap putih serta garis merah pada bibirnya yang menyala terang.


***


Sementara itu, Rio dan Hugo menyelinap masuk kedalam kereta kuda Jason dan berusaha untuk menyelamatkan diri.


Jason yang juga berada didalam kereta kuda itu sedikit terkejut.


“Ja-Jason, ayo kita pergi dari sini.” Ucap Rio.


Jason menatap mata Rio yang sudah diselimuti oleh rasa takut dan panik itu.


Deorsa menerjang maju kearah Hell Hound itu, kemudian meraih sebilah kapak yang tersimpan dipunggungnya.


“HEAAAGH!” Deorsa mengayunkan kapaknya.


*BGOM*


Namun serangannya hanya mengenai tanah, dan tanah itu meninggalkan bekas retakan besar akibat serangan Deorsa itu.


Kedua Hell Hound menghindar, yang kemdian kini giliran mereka yang maju untuk menyerang.


“Groaaar”


Alih-alih untuk balik menyerang, sebuah kepalan raksasa mendarat di wajah salah satu Hell Hound, membuatnya terhempas ketanah dengan darah yang muncrat dari matanya.


Dan Hell Hound yang lainnya mendapat serangan bilah kapak yang membelahnya menjadi dua bagian.


Owen yang sedang mengisi mananya kembali dengan bantuan pedangnya itu, langsung dibuat tercengang.


Begitu juga dengan Rio, Hugo dan Jason yang menyakiskan pertarungan Deorsa dari dalam kereta kudanya.


Mereka juga ikut tercengang melihat kekuatan Deorsa yang begitu besar.


Deorsa berhasil membunuh kedua Hell Hound itu dengan tangannya sendiri tanpa menggunkan sihir sama sekali.


“Cuih!” Deorsa meludahi jasad Hell Houn itu. “Tidak ada yang boleh mengganggu waktu tidurku, walau Hell Hound sekalipun.” Ucap Deorsa dengan sangat kesal.


Melihat itu, Owen teringat yang sebelumnya berusaha untuk membangunkan Deorsa dengan kakinya.


Dia membayangkan apa jadinya jika saat itu Deorsa benar-benar terbangun saat itu dan langsung mengamuki dirinya.


Owen tidak dapat berkata-kata apapun, dan hanya bisa menelan ludahnya sendiri.


Deorsa kemudian berbalik arah ke Owen. Owenpun terkejut dan mulai panik, mengira kalau sebenarnya Deorsa sadar kalau tadi dirinya juga ikut mengganggu tidurnya.


“Tidak! Tidak! Maafkan aku” Owen merangkak mundur menjauhi Deorsa. aku tidak bermak-”


“Dimana jasadnya?” Tanya Deorsa.


Owenpun langsung terdiam mendengar itu. “Oh itu…”


Owen kemudian menunjuk sumber suara teriakan Gren sebelumnya. “terakhir, aku mendengarnya dari arah sana.” Jawab Owen.


Deorsa kemudian menoleh kearah yang dimaksud oleh Owen, dan langsung berjalan kesana.


“Sepertinya sudah aman.” Ucap Jason.


Rio dan Hugo menghela nafas lega. “Deorsa memang sangat dapat diandalkan.” Ucap Rio.


Hugopun mengangguk setuju.


*Tap Tap Tap*


Deorsa berjalan masuk kedalam hutan, yang kemudian Owen mengikutinya dari belakang.


Dan benar saja terdapat bercak darah segar disekitar semak-semak dan batang pohon, begitu juga potongan baju Gren. Tetapi jasadnya tidak ditemukan yang berarti dia sudah dimakan oleh kedua Hell Hound tersebut.


Air mata Owen kini mulai mengalir membasahi pipinya.


Owen mengenal Gren sejak pertama kali bergabung dengan kelompok pengawal gubernur kota Mertur, walau sifat Gren yang malas dan sedikit nyeleneh, tetapi dia sudah dianggap sebagai saudaranya sendiri.


Deorsa kemudian berdiri tegap, dan melakukan penghormatan terakhir untuk bawahannya Gren yang telah gugur.


Owen kemudian mengusap air matanya dan memberi penghormatan terakhirnya.


Setelah itu, Deorsa berjalan kembali menuju gubernur Hugo, yang menjadi orang yang harus dia lindungi.


Tetapi sebelum itu, Deorsa ingin membawa salah satu jasad Hell Hound itu, karena ini juga adalah pertama kalinya dia melihat Hell Hound berukuran sebesar itu.


Dan dapat menangkis serangan sihir Owen, terlebih ketika Deorsa memukul salah satu Hell Hound tadi, dia merasakan sebuah energi sihir mengalir kuat didalamnya.


Dan berniat untuk memberikannya ke Guild untuk diteliti lebih mendalam mengenai Hell Hound.


Tetapi saat Deorsa ingin mengambil jasad Hell Hound, tiba-tiba kedua jasad Hell Hound yang tergeletak ditanah itu sudah tidak ada.


Deorsa dan Hugo menjadi terkejut dan penasaran. “Bukankah tadi jasadnya ada disini?” Tanya Owen.


Deorsa dan Owen mencoba untuk memerhatikan sekitar.


*Prok Prok Prok*


Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan dari balik hutan.


*Tap Tap Tap*


Suara langkah kaki yang berjalan mendekat kearah Deorsa dan Owen, yang ternyata adalah seorang laki-laki dengan jubah hitam muncul dari balik hutan.


“Waaah, kau hebat dapat mengalahkan kedua peliharaanku dengan cepat.” Ucap laki-laki itu.


Laki-laki itu menggunkan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya, tetapi dia tidak memakai kupluk jubahnya, seakan dia sengaja untuk memamerkan bekas luka bakar pada wajahnya.


“Siapa ka-” Deorsa tiba-tiba tersentak, begitu juga dengan Owen yang merasakan sebuah aura negatif yang sangat besar dari laki-laki misterius itu.