The Great Sorcerer

The Great Sorcerer
Karael #5



Di dalam ruang hampa, sebuah kehangatan merambat perlahan menyusuri seluruh tubuh Adam, dan semakin lama, kehangatan itu membuat tubuh Adam terasa nyaman, seakan memaksa Adam untuk tetap berada dalam kehangatan itu.


“Adam… Adam…”


Samar-samar terdengar suara yang memanggilnya, dan itu sedikit mengganggu Adam, tetapi Adam tidak menghiraukannya dan tetap menikmati kehangatan itu.


“ADAAM! ADAAM!”


Suara itu semakin keras dan kini terasa seperti ada sesuatu yang menyentuhnya.


*PLAK!*


Tiba-tiba Adam merasa sesuatu menampar pipinya, dan seketika Adam terbangun.


Dan langsung melihat wajah kusam Antonio yang tepat berada didepan matanya.


“HUA!” Adam sedikit terkejut, dan langsung berusaha bangun dan menjauhkna wajah Antonio dari hadapannya.


Adam melihat sekitar, melihat Amalia dan Clara yang juga berada disampingnya, begitupun dengan Marco dan Tristian yang sedang berdiri dibelakang Amalia dan Clara dengan wajah sedikit cemas.


Adam sedikit bingung, kenapa banyak orang yang mengitarinya, padahal belum lama mereka terbaring tak sadarkan diri.


Dan Adam sadar kalau dirinya baru saja mati, dengan sebuah lubang pada dadanya.


Adam kemudian meraba-raba tubuhnya, terutama pada bagian dada. Namun tidak ditemukan luka ataupun bercak darah sama sekali pada tubuh maupun bajunya.


Sebaliknya, Adam merasa sehat seperti sediakala berkat sihir penyembuh dari Amalia dan Clara.


“Adam, kau kenapa?” Tanya Antonio yang dari tadi melihat gelagap aneh dari temannya itu.


“Apa yang terjadi?” Tanya Adam balik.


“Aku juga tidak tau. Tetapi sepertinya ujian telah selesai.” Balas Antonio sambal melirik Pharsa yang masih berlutut lemas ditanah bersama kakaknya Lewis yang berdiri membelakanginya.


Adam kemudian melirik ke arah Pharsa, dan berusaha untuk menatap matanya, namun Pharsa seakan berusaha untuk mengindari tatapan mata Adam dengan menundukkan kepalanya.


*Tap Tap Tap*


Lewis kemudian berjalan menghampiri Adam. “Adam, apa kau tidak apa-apa?”


“I-Iya aku tidak apa-apa” Jawab Adam dengan sedikit terbata-bata.


“Baiklah kalau begitu, kita harus kembali hari sudah sore.” Lanjut Lewis.


***


Adam dan yang lainnya kembali ke akademi umum Roraima menggunakan sihir teleportasi Lewis.


“Huh. Sepertinya aku sudah mulai terbiasa dengan sihir teleportasi itu.” Celetuk Marco.


“Baiklah, untuk pengumuman hasil ujian, akan diberitahu lewat surat yang akan dikirimkan ke rumah kalian dalam waktu seminggu kedepan.” Ucap Lewis.


Pharsa yang awalnya banyak merendehkan Adam dan yang lain, kini terlihat diam dan kaku sejak tadi.


“Heh, sepertinya seranganku tadi dapat membuatmu terdiam seperti ini.” Celetuk Antonio.


Mendengar itu, Pharsa merasa kesal dan ingin menghajar Antonio yang digambarkan lewat wajahnya, tetapi Pharsa tidak berani karena dari tadi Adam menatapnya.


“Tetapi sungguh, itu adalah serangan bola api terbesar yang pernah aku lihat.” Ucap Tristian.


Dengan mimik wajah meledek. “Antonio, apa kau masih menyembunyikan kekuatanmu?” Sambung Marco.


Mendengar pujian dari teman-temannya membuat Antonio sedikit malu dan senang. “Yaah… Aku juga baru pertamakali membuat bola api sebesar itu.” Balas Antonio dengan senyuman canggungnya.


Adam sebenarnya ingin menanyakan sesuatu kepada Pharsa, karena Adam ingat terakhir kali adalah kalau Pharsa telah membunuhnya dan tiba-tiba terbangun dengan keadaan seperti ini. Tetapi Pharsa masih tetap berusaha mengindari Adam, sehingga Adam tidak bisa bertanya kepada Pharsa.


“Aku hanya bisa mengantar kalian sampai sini, sampai bertemu lagi.” Lewis menggunakan sihir teleportasinya kembali, dan pergi bersama dengan Pharsa meninggalkan Adam dan yang lainnya didepan pintu gerbang akademi Roraima.


“Sepertinya kita juga harus kembali.” Ucap Amalia.


“Iya, hari sudah mulai gelap.” Sambung Clara.


Adam, Amalia, dan Antonio pulang bersama, sementara Clara pulang ditemani oleh Marco dan Tristian, Tristian tinggal didesa yang bersebrangan dengan Marco dan akan berpisah ditengah jalan.


***


Antonio berjalan sambil meregangkan tangannya. “Hari ini sangat melelahkan.”


“Iya, banyak hal yang terjadi hari ini.” Balas Amalia.


“Tetapi sungguh, aku masih tidak percaya dapat membuat bola api sebesar itu. Sepertinya mimpiku menjadi ahli sihir selangkah lebih dekat.” Lanjut Antonio.


Sementara itu, Adam dengan banyak pertanyaan yang masih terngiang-ngiang dikepalanya dan mencoba untuk mengingat seluruh kejadian yang terjadi, Adam berjalan sambil sedikit menundukan kepalanya tanpa mengeluarkan sedikitpun kata, membuat perjalanan sedikit canggung.


Antonio yang memerhatikan dari tadi, teringat kalau dia hampir membunuh Adam, dan berasumsi kalau Adam dari tadi memikirkan hal itu.


“A-dam.” Panggil Antonio. “Ehhh... Aku minta maaf tentang kejadian tadi.”


Amalia sedikit mengkhawatirkan Adam, karena baru kali ini Adam terlihat berpikir sekeras itu. “Adam.” Ucap Amalia dengan pelan.


Merasa dihiraukan, Antonio menjadi kesal.


*Plak*


Antonio memukul kepala Adam.


“Aduh!” Adam menjadi tersadar dari lamunannya.


“Kau ini kenapa? Dari tadi ku perhatikan kau sedang memikirkan sesuatu.” Tegur Antonio.


Adam sedikit terkejut dengan teguran itu. “Aah… Tidak, aku tidak apa-apa.” Balas Adam.


Namun jawaban Adam itu sama sekali tidak meyakinkan Antonio, dan merasa kalau pasti ada ‘apa-apa’ pada Adam.


Tetapi Antonio memilih untuk diam dan tidak mempertanyakan lagi dan melanjutkan perjalanan yang canggung itu.


Sesampainya didesa, Adam langsung berpisah dengan Antonio dan Amalia. “Antonio, Amalia… Aku duluan ya.” Pamit Adam dan langsung pergi menuju rumahnya.


“Antonio, Ada apa dengan Adam ya?” Tanya Amalia yang sejak tadi mengkhawatirkan Adam.


“Mungkin dia habis melihat hantu.” Jawab Antonio. “Dia kan kalau bertemu dengan hantu langsung diam seperti itu.” Lanjutnya.


“Antonio! Aku serius!” Teriak Amalia dengan kesal.


“Tidak tau, aku juga baru pertama kali melihatnya seperti itu.”


Ketika sampai dirumah, Adam langsung disambut oleh ibunya yang dari tadi menunggunya dengan gelisah di ruang tengah.


Dengan wajah penuh harapan, Irene langsung menghampiri Adam. “Gimana hasil ujiannya nak?”


“Belum tahu bu, pengumumannya minggu depan.” Balas Adam dengan singkat.


Setelah itu Adam langsung menuju kamarnya tanpa berbincang dengan ibunya.


Melihat itu, Irene menduga kalau ujiannya tidak berjalan dengan lancar, terlebih untuk masuk ke akademi khusus adalah orang-orang yang memiliki tingkat kekuatan sihir yang tinggi.


Irene kemudian membiarkan Adam yang pergi meninggalkannya, dan memberikan Adam waktu untuk beristirahat, mengingat betapa kerasnya Adam mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian ini.


Sementara itu didalam Kamar, Adam berbaring ditempat tidurnya sambil terus mengingat apa yang sebenarnya terjadi.


Hal terakhir yang diingat Adam adalah pingsan akibat serangan bola api Antonio, kemudian tersadar karena cekikan Pharsa dan melihat teman-temannya sudah terkapar tak sadarkan diri ditanah. Setelah itu Pharsa menyerang dada hingga menumbusnya.


Dan setelah itu Adam kembali terbangun tetapi dia melihat kalau semua temannya dalam kondisi baik-baik saja.


Semakin Adam mengingatnya, kepala Adam menjdai pusing, pandangannya menjadi kabur dan berputar-putar, pada akhirnya Adam tertidur dikasurnya.


***


Sebuah kobaran api yang menyala-nyala hebat, membakar semua yang ada didepannya.


Pada kobaran itu, terlihat sesosok bayangan hitam legam dan besar. Bayangan itu seperti tubuh manusia, namun terdapat seperti tanduk hewan dikepalanya.


“GRRRR!” Tiba-tiba bayangan itu menggeram, terdengar seperti hewan namun suara itu menggelegar keras keseluruh arah.


Dan pada tangan mahluk itu terdapat sebuah batu kristal berwarna hijau menyala terang yang terlihat seperti tidak asing.


Tiba-tiba mahluk itu memakan batu itu. Seketika kobaran api menjadi lebih hebat, suara-suara teriakan histeris seperti manusia mulai terdengar.


Suara rintihan, tangisan terdengar dimana-mana.


Sosok bayangan hitam itu menjadi lebih besar, dan muncul cahaya merah pada dahinya, kemudian matanya yang merah menyala. terlihat sebuah pantulan bayangan.


Ternyata itu adalah bayangan Adam sendiri.


“HUAAAA” Adam sangat terkejut melihat pantulan tubuhnya pada mata mahluk itu.


Adampun terbangun dari tidurnya, dan terlihat Ibunya yang sedang memeras sapu tangan basah disampingnya.


“I-Ibu…”


Tiba-tiba air mata Irene menetes kepipi. “A-dam…” Ucap ibunya dengan suara sedikit tergagap.


Adam sangat bingung dengan ekpresi ibunya itu.


“Ibu kena-”


*Grab*


Irene kemudian langsung memeluk Adam dengan sangat erat dan menangis. “Adaaaaaam!!!”


“Bu, Ibu kenapa? Aku hanya bangun tidur.” Adam berusaha melepaskan pelukan ibunya yang sangat kuat itu.


Namun pelukan Irene tidak bisa dilepas dan tangisan menjadi histeris. “Kamu sudah tidur 3 hari.”