The Great Sorcerer

The Great Sorcerer
Hari Penentuan #3



Adam kemudian maraih tangan Jason, dan menggenggamnya kuat-kuat. "Ayah, jika kamu ingin aku hidup damai, maka kamu harus membiarkan aku untuk lanjut ke akademi khusus dan menggapai apa yang aku inginkan." Ucap Adam dengan wajah serius.


"Aku berjanji, jika aku telah berhasil menjadi ahli sihir nanti, aku akan kembali dan hidup bersama dengan ayah dan ibu disini." Jelas Adam. "Aku tidak akan pergi kemana-mana lagi."


"Tetapi, bagaimana jika ada orang yang ingin mencelakakanmu?" Tanya Jason.


Adampun tersenyum. "mencelakakan ku? Memangnya aku ngapain samapi ada orang yang ingin mencelakakan ku? Aku pergi ke akademi khusus hanya untuk belajar." Jawab Adam.


Mendengar itu, pikiran Jason perlahan-lahan mulai berubah. "Apa kamu janji kamu hanya ingin belajar disana?" Tanya Jason untuk memeperjelas janji Adam.


"Iya yah, aku hanya ingin belajar." Jawab Adam.


Jason mengusap air matanya dengan tangan kirinya. "Baiklah kalau begitu." Balas Jason dengan senyuman tipis diwajahnya.


Jason kemudian memeluk Adam, dan Adam membalas pelukan ayahnya itu.


Namun semakin lama pelukan Jason semakin erat, membuat Adam sedikit sesak. "Eeeh… Ayah."


*Grip*


Cengkaraman pelukan Jason menjadi kuat, membuat Adam benar-benar tidak bisa bernafas. "Huaaa!!! Aku tidak akan membiarkanmu pergi!!!" Teriak Jason yang kini dengan air mata yang mengalir deras.


"A-Ay-ah Aku tidak bisa ber-nafas." Ucap Adam dengan tergagap.


*Kriiiet*


"Ayah, Adam, makan malam sudah siap." Ucap Irene yang tiba-tiba menongolkan kepalanya dari balik pintu luar rumah.


Setalah makan malam, Adam bergegas langsung menyiapkan pakaian terbaik untuk upacara kelulusan besok. Adam membuka lemari bajunya kemudian mengeluarkan semua baju-bajunya dan memilah-milah baju apa yang terbaik unutk dikenakan saat upacara kelulusan nanti.


"Ini? Atau ini ya?" Gumam Adam sambil membandingkan baju-bajunya.


Kemudian perhatiannya tertuju kepada kemeja putih lengan panjang, yang dimana Adam belum pernah memakainya.


Adam kemudian mencoba kemeja itu, dan menggabungkannya dengan jubah akademinya.


"Wah, sepertinya ini bagus." Ucap Adam sambil bergaya dengan seragamnya itu.


Malam semakin larut, Adam brusaha untuk tidur, namun matanya sama sekali tidak ingin menutup.


Rasa semangat dan tidak sabar Adam sangat mengebu-ngebu, seakan itu adalah obat yang membuatnya terjaga semalaman.


Adam kemudian mengambil surat pemberitahuan kelulusannya, dan membaca isi surat itu sekali lagi. Adam sebenarnya sadar kalau yang membuatnya lulus adalah berkat dari kekuatan Karael yang ada didalam dirinya.


Dan kemudian tujuan Adam yang sebelumnya adalah menjadi ahli sihir, kini berubah. Kini Adam ingin mencari tahu lebih tentang batu setan yang menjadi target utama Karael, serta mencari orang yang memahami perihal ini.


*Bruk*


Adam membaringkan tubuhnya dikasur. "Hmm… Kalau dibaca lagi, berarti besok langsung berangkat ke akademi khusus ya?" Gumam Adam.


Adam mengangkat tanganya ke langit-langit kamar dan membuka telapak tangannya lebar-lebar. "Karael…"


***


*Cit Cit Cit*


Terdengar suara burung bersiul, disusul dengan cahaya yang muncul dari ufuk timur, menandakan hari kelulusan Adam telah tiba.


"Adam bangun nanti kamu tel-" Irene yang baru membuka kamar Adam dibuat terkejut dengan Adam yang sudah rapih dengan kemeja yang dia coba semalam dengan jubah akademinya.


"Bagaimana penampilanku bu?" Tanya Adam sambil sedikit bergaya memamerkan penampilannya.


Irene pun tersenyum melihat Adam yang begitu semangat. Irene sedikit terharu melihat anaknya (Adam) sudah tumbuh besar. Namun tetap saja, sifat teledor Adam yang tidak akan berubah dimata Irene ketika melihat kerah bajunya yang tidak rapih.


Irene menghampiri Adam. "Adam, kerah bajumu." Ucap Irene yang langsung merapihkannya untuk Adam.


"Kamu sudah besar ya nak." Ucap Irene.


Mendengar itu, Adam seketika tersenyum lebar. "Hehe."


Setelah sarapan pagi, Adam langsung menuju pintu depan rumah diantar oleh Irene dan Jason, dan berpamitan kepadanya.


Seperti orang tua pada umumnya, Irene memberikan pesan kepada Adam sebelum berangkat. "Adam, disana kamu jangan macam-macam ya, kamu belajar saja, jangan buat yang aneh-aneh, karena mungkin kamu akan jauh dari kami. Kemudian tidur jangan sampai telat, agar kamu tidak kesiangan, sebisa mungkin perbanyaklah teman disana." Pesan Irene.


Adam mengangguk. "Iyaa bu. Adam akan ingat itu." Ucap Adam.


"Adam, dengarkan apa kata ibumu ya, dan jangan lupakan janjimu kepada ayah ya." Pesan Jason.


Adam kembali mengangguk. "Iya yah." Ucap Adam.


Dirasa sudah memberikan pesan yang cukup kepada Adam, Irene dan Jason memberi pelukan terakhir mereka sebelum Adam berangkat. "Baiklah, aku berangkat."


"Hati-Hati dijalan." Ucap Jason dan Irene sambil melambaikan tangan kepada Adam. "Jangan lupa kirimkan surat untuk kami." Ucap ayahnnya.


Adam melanjutkan perjalanannya menuju gerbang desa dan siap untuk menghadiri acara kelulusan serta akan berangkat menuju akademi khususnya.


Diperjalanan, Adam bertemu dengan Antonio, dan tak lama Amalia juga muncul. Mereka akhirnya berangkat bersama menuju akademi Roraima.


Sesaat sampainya mereka disana, sudah banyak murid


tingkat akhir yang berkumpul didepan gerbang akademi, begitu juga dengan Clara, Marco dan Tristian.


Wajah Marco sedikit kesal, karena dia sudah dari tadi menuggu kedatangan Adam dan Antonio. "Hey Adam! kau ini dari mana saja? Sini cepat!" Ucap Marco sambil melambaikan tangannya.


Adam yang melihat seseorang melambaikan tangan kepadanya, kemudian langsung membalasnya. "Marco! Iyaa aku kesana." Balas Adam dan langsung menghampirinya.


"Sudah pada kumpul ya?" Tanya Adam.


"Amalia!" Teriak Clara saat melihat Amalia.


"Oh. Clara, lama tidak jumpa." Sapa Amalia.


"Kenapa kalian lama sekali datangnya?" Tanya Marco balik.


"Hahaha… Maaf maaf." Jawab Adam.


"Adam, apa kau sudah baik-baik saja?" Tanya Tristian yang masih mengkhawatirkan kondisi Adam sehabis ujian minggu lalu.


Adam mengangguk. "Aku sudah tidak apa-apa." Jawab Adam, yang kemudian menoleh kearah Clara dan Amalia.


"Oh ya, Antonio mana?" Tanya Marco.


"KYAAAA!!!" "ANTONIOOO!!!"


Terdengar teriakan histeris para siswi yang sedang berkerumun di depan gerbang akademi.


"Antonio, sudah lama kami tidak bertemu."


"Tidak aku akan berpisah denganmu."


Antonio sangat kesulitan untuk bergerak karena kerumunan siswi akademi yang langsung menghampirinya.


"Antonio bagaimana ujian mu kemarin?


"Apa kamu lulus?"


"Kamu masuk ke akademi khusus?"


Pertanyaan-pertanyaan dari kerumunan perempuan mulai bergemuruh, tetapi Anotonio sama sekali tidak bisa menjawabnya satu persatu.


"Oh disana." Jawab Marco atas pertanyaannya sendiri.


*Ding Dong*


Suara bel akademi berbunyi, yang kemudian disusul oleh suara kepala akademi melalui radio pengumuman.


"Diharapkan, untuk murid tingkat akhir untuk segera menuju ke aula. Karena upacara kelulusan akan segera dimulai."


Seluruh murid tingkat akhirpun langsung menuju aula akademi,yang dimana sepanjang lorong akademi sudah diisi dengan barisan adik kelas yang memberikan selamat murid kepada tingkat akhir yang melewati lorong.


Ini adalah tradisi akademi umum Roraima, yang juga dilakukan oleh murid tingkat dua dan tiga yang memberikan ucapan selamat datang saat mereka kedatangan murid akademi baru.


Sesampainya murid tingkat akhir di aula, upacara kelulusanpun dimulai. Pertama mereka disuruh berbaris per kelas masing-masing, dilanjutkan dengan pidato dari kepala akademi, yang dimana beliau mengucapkan selamat kepada seluruh murid yang telah lulus 100%.


"Dan dengan bangga, bapak akan mengumumkan murid yang berhasil masuk keakademi khusus."


Seluruh murid pun langsung tersentak mendengar itu.


"Wah?"


"Apa? Lulus masuk ke akademi khusus?"


Seluruh murid kemudian saling bertanya kepada teman disebelahnya.


Melihat para murid yang mulai tidak kondusif. "Para murid harap tenang!" Perintah kepala akademi disusul dengan para murid yang langsung kembali kondusif.


"Namun sebelum itu, bapak ingin memperkenalkan seseorang kepada kalian."


*Tap Tap Tap*


Yang kemudian terlihat 2 orang yang menaiki podium pidato kepala akademi. "Mereka adalah Lewis River dan Theron Brontes."


Adam sangat terkejut melihat laki-laki yang berada disamping Lewis, karena itu adalah laki-laki berjubah hitam yang dia lihat dipasar waktu itu.