
Theron tinggal disebuah mansion sihir akademi khusus aspek keamanan yang bernama Panthera, tempat dia membina para anak didiknya untuk menjadi pengguna sihir tingkat lanjutan, bahkan tingkat atas. Dan saat ini Theron telah meluluskan seluruh muridnya, yang dimana ini adalah hari yang dinanti-nantikan Theron untuk tidur panjang.
“Ngroook…Ngroook.”
Suara dengkuran memenuhi seluruh kamar, tempat Theron beristirahat setelah menjalani hari-harinya.
Theron tidur disebuah kasur berselimut kain putih yang tampak lusuh, seperti kain yang sudah tidak dibersihkan beberapa minggu, tetapi Theron masih merasa cukup nyaman dengannya.
*Ngiiing*
Seekor nyamuk berterbangan mengelilingi sekitaran wajah Theron dengan mulutnya yang sedikit terbuka, seperti sedang mencari tempat yang cocok untuk mendaratkan dirinya.
*Ngiiing*
*Set*
Dan nyamuk itupun hinggap pada pipi Theron, dan langsung menancapkan selang penghisap pada mulutnya pada kulit pipi Theron yang sedikit tertutup oleh brewok tipisnya.
*Srot* *Srot*
Nyamuk itu mengisap darah Theron dengan lahapnya, namun akibat dari tancapan dan hisapan dari jarum nyamuk itu, membuat pipi Theron menjadi gatal.
Dan.
*PLAK*
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Theron.
Theron sedikit terbangun dengan tamparan tangannya sendiri, yang kemudian melihat telapak tangannya untuk mengetahui apa yang membuat pipinya terasa gatal.
*Ngiiing*
Tetapi nyamuk itu berhasil mengindar dan pergi terbang meninggal Theron setelah mendapat cukup darah darinya.
“Nyamuk sialan.” Ucap Theron kesal karena nyamuk itu telah mengganggu tidurnya.
Theron sebenarnya mau saja membiarkan nyamuk itu menghisap sedikit darahnya, tetapi rasa gatal yang diakibatkan dari nyamuk itu sama sekali tidak bisa dibiarkan.
Akibat tamparan itu juga, membuat rasa kantuk Theron seketika hilang. “Jam berapa ini?” Ucap Theron yang masih setengah sadar.
Theron kemudian duduk beberapa saat di kasurnya, kemudian beranjak dan membuka gorden jendela kamarnya.
Yang dimana matahari sudah memancarkan sinarnya menembus kaca jendela kamarnya.
*Tap Tap Tap*
Theron kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh mukanya di westafel.
Setelah selesai membasuh muka dengan air, Theron kemudian melihat pantulan dirinya pada kaca yang berada tepat didepannya.
Theron merasa kalau brewoknya sudah panjang, dan dia merasa tidak nyaman dengan itu.
Theron kemudian mengambil pisau cukurnya, dan langsung mencukur brewoknya dengan menyisakan sedikit pada bagian kumis dan janggut.
Setelah persiapan pagi dia selesai, Theron kemudian berjalan menuju dapur untuk membuat sarapan pagi sebelum menjalan aktifitas.
*Tok Tok Tok*
Tiba-tiba suara ketukan dari pintu luar terdengar.
Suara ketukan itu cukup keras hingga Theron yang berada didapurpun dapat mendengar suara ketukan itu dengan jelas.
Tanpa piker panjang, Theron kemudian menuju pintu luar dan membukakan pintu itu.
*Krieeet*
Tetapi ketika dibuka tidak ada siapa-siapa disana, hanya pemandangan hutan belantara hijau, dengan rumput liar yang menutupi jalan dan halaman mansion sihirnya.
Tetapi saat Theron ingin kembali masuk kedalam, Theron melihat sebuah surat yang tergeletak di tanah depan pintunya.
Theronpun langsung mengambil surat itu, karena dia tahu kalau itu adalah surat dari dewan akademi Genoveva, terlihat dari lambang lingkaran sihir di bagian depan surat itu.
*Brak*
Theron kembali masuk kedalam, dan langsung membuka surat itu dan langsung membaca isi surat itu.
Yang dimana tertulis kalau seminggu kedepan akan diadakan pengenalan seluruh murid akademi khusus dari segala aspek bidang kepada rakyat kerajaan Genoveva.
Dan itu akan dilaksanakan di istana kerajaan secara langsung.
Wajah Theron seketika langsung membeku tanpa reaksi setelah membaca surat itu, mengingat dia sama sekali belum menemukan calon murid di akademinya.
Dan Theron tambah terkejut lagi kalau sudah sebulan ini dia hanya tidur di dalam mansionnya.
*Sat Set*
Theron langsung bergerak cepat, yang awalnya dia ingin membuat daging asap dan telur, Theron hanya mengambil sebuah pisang di meja makan, kemudian meminum segelas air putih yang sudah dia siapkan sebelumnya tadi.
Theron dengan cepat berlari mengambil jubah sihirnya dan keluar mansion untuk mulai mencari para calon muridnya, jika dia tidak, bisa jadi posisinya sebagai pembina akademi khusus akan digantikan oleh orang lain.
Menjadi pembina akademi khusus adalah sebuah jabatan yang banyak diminati oleh orang yang memiliki tingkatan sihir atas seperti Theron.
Selain memiliki gaji yang besar, dan mendapat mansion untuk tempat tinggal, banyak lagi keuntungan yang diberikan oleh kerajaan kepada pembina akademi khusus.
Seperti biaya pengobatan yang ditanggung oleh kerajaan, bebas dari bayar pajak, dan dapat keluar masuk istana kerajaan tanpa harus melalui pemeriksaan ketat karena sudah dianggap menjadi anggota kerajaan.
***
Theron berjalan disekitaran pusat pembelajaan ibu kota kerajaan Geoveva. Yang dimana dipusat pembelajaan itu dapat terlihat sangat jelas bangunan istana kerjaan Genoveva yang begitu megah.
Bangunan istana itu berwarna putih dengan atap biru yang mengerucut tinggi ke langit.
Perhatian Theron tiba-tiba terpanah setelah mencium aroma sedap dari salah satu kedai penjual sosis bakar dekat tempat dia berdiri.
“Oh Theron, lama tidak bertemu.” Ucap laki-laki bertubuh kekar dengan kepala botak penjaga kedai sosis bakar itu.
“Haha, yah begitulah aku sedikit sibuk.” Balas Theron dengan sedikit canggung.
“Sibuk ngapain? Tidur?” Ucap penjaga kedai dengan sedikit mengejek Theron.
Mendengar itu, Theron tidak bisa membuat alasan lagi, dirinya memang sudah banyak dikenal oleh orang-orang di pusat pembelanjaan sebagai tukang tidur.
Sebelum menjadi seorang pembina akademi khusus, Theron adalah seorang pelayan di sebuah tempat makan di pusat pembelanjaan itu, namun tempat itu sudah tutup lentaran sang pemilik yang sudah terlalu tua dan balik kembali ke desa asalnya.
“Sosis panggangnya 2 tolong.” Ucap Theron sambil menunjuk sosis yang sedang dipanggang didepannya.
“Oke!” Ucap laki-laki penjaga kedai dengan semangat.
Laki-laki penjaga kedai itu kemudian mengambil kedua sosis yang ditunjuk Theron tadi, dan memotongnya cukup besar dengan sangat cepat, yang kemudian di taruh disebuah wadah plastik.
“Pedas?” Ucap laki-laki itu.
Theron pun mengangguk. “iya.” Balasnya.
*Set*
Laki-laki itu kemudian mengambil sebuah botol berwarna merah, dan memencet botol itu dengan cukup kuat.
Setelah menuangkan saus pada sosis milik Theron, laki-laki itu memberikan sebuah garpu plastik yang ditancapkan pada sosis yang sudah dipotong-potong itu kepada Theron. “Oke silahkan.” Ucapnya.
Theron kemudian meraih sosis pesanannya, dan meraih saku celananya untuk mengambil sekeping koine mas untuk membayar pesanannya.
“Ini.” Ucap Theron singkat.
Laki-laki penjaga kedai itu cukup terkejut dengan bayaran yang dia dapat dari Theron. “Hey, aku baru buka kedai, jadi belum ada kembaliannya.” Ucapnya.
Tetapi Theron tidak terlalu mempedulikan itu, dan langsung melahap potongan sosis itu kedalam mulutnya. “Ambil saja kembaliannya.” Balas Theron.
Laki-laki penjaga kedai itu langsung tersenyum lebar mendengar ucapan Theron itu. “Hahaha. Terimakasih.” Ucapnya.
“Oh ya, aku sedang mencari calon murid untuk akademi ku, apa kau tau tempat untuk mencari anak yang berbakat?” Ucap Theron sambil memakan potongan sosisnya kembali.
“Hmmmmm…” Laki-laki penjaga kedai mencoba berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan Theron, dan tak lama. “…Kalau tidak salah di kota Lucerna ada beberapa anak bangsawan yang cukup berbakat disan. Aku pernah lewat dekat akademi sihir disana, aku lihat para muridnya sangat mahir dalam memainkan sihir.” Ucapnya.
“Bang-sawan?” Ucap Theron sambil mengunyah.
“Kenapa memangnya? Bukannya akademi khusus untuk para bangsawan?” Tanya laki-laki penjaga kedai balik.
Theron menelan makanannya dan kemudian menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tertarik kepada bangsawan, mereka memang ahli dalam menggunakna sihir. Tetapi saat mereka menjalan tugas setelah lulus, mereka melakukannya dengan semena-mena.” Jelas Theron.
“Apakah didesamu tidak ada yang berbakat menggunkan sihir? Minimal bisa menggunkan sihir saja sudah cukup.” Lanjut Theron.
Pusat pembelanjaan ibu kota, mayoritas berisi para pedaganh dari luar kerajaan dan kebanyakan dari mereka adalah orang desa yang berdagang disana.
“Maaf Theron, didesaku sama sekali tidak ada yang bisa menggunakan sihir.” Balasnya.
Wajah Theron seketika menjadi seikit kecewa. “Sepertinya ini akan menjadi hari yang panjang.” Ucap Theron.
“Hahaha. Jangan begitu, in ikan memang sudah menjadi tugasmu.” Balas laki-laki penjaga kedai sambil tertawa.