The Great Sorcerer

The Great Sorcerer
Pencarian Murid #1



*Tap Tap Tap*


Theron berjalan mengelilingi pasar, sembari mencari informasi untuk calon muridnya.


Namun tiba-tiba.


*Set*


Theron melihat seorang anak laki-laki berambut gimbal yang lewat didepannya. Anak laki-laki itu jalan sambil memikul 2 karung gandum giling di bahunya.


Theron cukup terkesima dengan kekuatan anak berambut gimbal itu, anak itu terlihat berumur 16 tahun. Tetapi otot-otot yang dilapisi kulit coklatnya bersinar akibat keringat yang memantulkan cahaya matahari, membuat Theron sedikit penasaran dengannya.


*Ting*


Theron mengaktifkan sihir. “Magic of eye – Seer of Magic.” Yang dimana, mata Theron muncul sebuah lingkaran sihir berwarna hijau.


Kekuatan Seer of Magic adalah sebuah kemampuan unik yang dimiliki Theron untuk melihat tingkat kekuatan sihir dari suatu objek yang ditargetkan oleh mata Theron.


Namun pada anak itu, hanya memperlihatkan sebuah aura berwarna putih yang hampir transparan, menandakan kalau anak itu tidak memiliki kekuatan sihir sama sekali.


Tetapi, tiba-tiba sebuah aura berwarna hijau pekat terlihat dari kejauhan oleh mata Theron, yang dimana, itu adalah sihir tipe angin dan kepekatan aura itu menandakan seberapa besar kekuatan sihir yang ada padanya.


Tanpa pikir panjang, Theron langsung menuju aura sihir hijau itu.


Saat Theron mendekati aura sihir itu, tanpa disadari Theron berada disebuah gang sempit dan gelap, bahkan tidak ada orang disana, yang ada hanyalah tumpukan sampah limbah sampah dari pasar itu.


Theron merasa sedikit ragu dengan keberadaan aura sihir itu, kemudian mangaktifkan kembali “Magic of eye – Seer of Magic.” Miliknya, dan benar aura sihir itu berada didalam gang itu, sampai-sampai kepekatan aura sihir itu memenuhi gang sempit dan gelap itu menjadi hijau.


Rasa penasaran Theron membawa dirinya masuk kedalam gang itu tanpa pikir panjang, bau tidak sedap dari tumpukan sampah yang menusuk hidung itupun bahkan sama sekali tidak dapat menghentikan rasa penasaran Theron.


Dengan perlahan, Theron memasuki gang itu, sesekali, Theron memperlihatkan arah langkah kakinya agar sepatu yang digunakannya tidak menginjak sampah, terutama sampah yang akan meninggalkan noda pada sepatu yang digunakannya.


Theron adalah orang yang malas, menurutnya mencuci adalah hal sangat merepotkan, karena dia harus membersihkan sesuatu yang sudah pasti akan kotor kembali. Dan untuk menghindari itu, dia selalu berhati-hati dalam menjaga kebersihan pakaian yang digunakannya.


Dan tak lama, akhirnya pusat dari aura sihir itu terlihat dari balik tong sampah.


Theron kemudian mencoba mengintip apa yang ada dibalik tong sampah itu, yang ternyata adalah seorang anak berbadan kurus kering, dengan rambut hitam semrawut dan kasar, sedang menghitung tumpukan uang koin perunggu disana.


“S-Satu…Dua…Tiga…”


Anak itu menghitung uang koinnya satu persatu dengan sangat perlahan, seperti dia mencoba untuk mengingat-ngingat angka setelah angka yang dia sebut tadi.


Theron kembali merasa ragu dengan kemampuan sihirnya, karena pusat dari aura sihir itu berasal dari seoarang anak tunawisma. “Apakah karena aku kebanyakan tidur.” Pikirnya.


Tiba-tiba anak itu tersentak saat merasakan hawa keberadaan dari Theron yang ada di belakangnya.


“HUAA!” Teriak anak itu sambil membalikan badannya.


Theron juga sedikit terkejut, melihat anak itu yang tiba-tiba berbalik arah dan berteriak kencang didepannya.


“Si-Siapa… Kamu?” Ucap anak itu dengan sedikit terbata-bata.


Theron kemudia mencoba untuk menenangkan diri terlebih dahulu. “Hai, saya Theron.” Balas Theron.


Anak itu memperhatikan Theron dari ujung kepala hingga kakinya, dan terkejut saat dia melihat sebuah liontin anggota kerajaan yang terpasang di jubahnya.


*Kring*


Anak itu dengan cepat mengumpulkan kepingan uang koinnya dan menadahnya dengan kaos hitam oblongnya, diapun kemudian berlari masuk kedalam gang.


“Hey, tunggu!” Ucap Theron untuk mencoba menghentikan anak itu.


Namun keberadaan anak itu sudah tidak terlihat lagi, karena gelapnya gang serta kecepatan lari anak itu.


“Ah sial!” Gerutu Theron.


Dia bisa saja pergi meninggalkan anak itu dan melupakannya, tetapi karena dia butuh calon murid untuk akademinya, mau tidak mau Theron harus mengejarnya setelah melihat potensi yang dimiliki anak itu.


*Tap Tap Tap*


Theronpun berlari berusaha untuk mengejar anak itu.


*Crat*


Tetapi baru beberapa langkah Theron berlari untuk mengejar anak itu, Theron sudah menginjak sebuah tomat busuk yang tergeletak didepannya.


Theron diam membatu saat melihat itu. “Kau yang akan membayar ini.” Ucap Theron dengan kesal.


*TAP TAP TAP*


Lari Theron bertambah semakin kencang, dan mulai terlihat sebuah cahaya dari ujung gang itu.


Yang ternyata itu adalah jalur yang menghubungkan sisi pusat pembelanjaan dengan sisi yang lainnya.


Theron kemudian menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri untuk mencari keberadaan anak tadi.


Namun keberadaanya tidak dapat ditemukan, karena tubuhnya yang kecil dan kerumunan orang yang berada dipusat pembelanjaan, membuat Theron benar-benar kehilangan jejaknya.


Bahkan kemampuan “Magic of eye-Seer of Magic.” Tidak dapat mendetekasi keberedaan aura sihir dari anak itu, seperti lenyap begitu saja.


Tetapi, Theron tersadar kalau anak tadi membawa uang koin. Theron kemudian mulai memperhatikan jalan, dan tak lama dia menemukan koin perunggu yang tidak jauh darinya.


Theron menduga kalau uang koin itu menunjukan arah lari dari anak itu. Theron pun mulai berjalan sambil memperhatikan jalan untuk menemukan uang koin yang menjadi penunjuk jalannya.


Pencarian itu tidaklah mudah, karena orang-orang kerap mendorong Theron karena berjalan sangat lambat, dan juga banyak orang yang menabrak Theron. Walau Theron sudah menggunakan atirbut yang menunjukan kalau dirinya anggota kerajaan, orang-orang tidak mempedulikan itu.


Setelah 20 menit mengikuti jejak uang koin, akhirnya Theron sampai pada kawasan pinggiran pasar, yang dimana itu adalah tempat yang biasa para pedagang beristirahat, terutama pedagang yang dari luar.


Kawasan itu dilengkapi dengan penginapan, penitipan barang, kedai minum dan restoran, hingga tempat hiburan berkumpul disana.


Terlihat banyak pedang yang dari luar yang sedang beristirahat di kawasan itu, namun suasananya sangatlah sunyi, tidak ada satu orangpun yang berbicara satu sama lain.


Mereka hanya fokus melakukan kepentingannya sendiri.


Tetapi terdapat satu tempat yang sedikit mengganggu Theron, sebuah kedai minum yang cukup rapuh bernama “Tristy Bar”


Tristy Bar terlihat seperti bar minum biasa dengan pintu bergaya kobi yang terbuat dari kayu jati, tetapi terdapat 3 orang laki-laki berbadan tinggi kekar dengan beberapa tindikan di sekitaran wajah mereka berdiri didepan menjaga pintu bar itu.


Dan setiap orang yang masuk, ke 3 orang itu seperti mengecek dari kepala hingga kaki mereka, yang kemudian salah satu dari 3 orang penjega itu berjalan menuju belakang bar.


Theron sedikit penasaran dengan mereka. Namun sebelum itu, Theron menyembunyikan liontin kerajaan miliknya didalam saku, dan baru Theron mencoba untuk masuk kedalam bar.


Saat didepan pintu, Theron pun langsung diperiksa oleh 2 orang itu dari kepala hingga ke kaki.


*Dap Dap Dap*


Terdengar suara langkah kaki yang cukup keras, yang ternyata itu adalah salah satu penjaga yang baru saja mengantar seseorang ke belekang tadi.


“Siapa ini!?” Ucap orang itu dengan suara tinggi.


*Sret*


Orang itu menarik kerah baju Theron dengan kasar, dan memerhatikan wajah Theron dengan detail, yang terlihat dari bola matanya yang bergerak ke kanan dan kiri.


Tak lama. “Masuk!” Ucap orang itu sambil mendorong Theron hingga menabrak bilik pintu kedai.


Bilik pintu cukup berdebu, sehingga meninggalkan noda pada bajunya, yang dimana baju itu seharusnya bisa dia pakai selama satu minggu jika tidak kotor.


Seketika rasa kesal dan amarah Theron seketika memuncak dengan cepat, tubuhnya bergetar dan tangannya sudah siap untuk memotong tangan orang yang mendorongnya tadi dengan sihir air miliknya. “Sialan kau.” Ucap Theron dengan mata melotot tajam kepada orang itu.


Menyadari seseorang sedang memerhatikannya, orang itu melirik kedalam bar.


*Tep Tep Tep*


Tetapi, tiba-tiba seorang laki-laki tua menepuk-nepuk debu pada baju Theron dengan tangannya yang keriput.


“Ka-u tidak apa-apa nak?” Ucap kakek itu dengan lemah lembut namun sedikit terbata-bata.


Dan dengan hanya beberapa tepukan dari kakek itu, baju Theron kembali bersih seperti semula dan amarahnya pun juga menghilang bersamaan dengan debu itu.


“Tidak apa-apa kok kek.” Balas Theron dengan mengangguk.


Kakek itu tersenyum kepada Theron. “Mau pesan minum?” Tanya kakek itu lagi.


Theron sebenarnya tidak memiliki waktu untuk minum dan bersantai karena harus mencari calon muridnya, tetapi saat melihat tadi, membuat Theron menyempatkan sedikit waktunya untuk minum dikedai itu.


“Jus alpukat ada kek?” Ucap Theron.


***


Theron duduk dimeja depan yang berhadapan langsung dengan kekek tua itu yang sedang membuat pesanan Theron. Kakek itu mengambil sebuah pisau dan 1 buah alpukat utuh dari dalam kabinet lemari kedainya.


Sambil menunggu minumannya dibuat, Theron sedikit berbincang dengan kakek itu, yang ternyata dia adalah sang pemilik kedai “Tristy Bar”.


Merasa dirinya sudah sedikit akrab, Theron pun menanyakan ke 3 orang yang berjaga didepan itu. “Kek, kalau boleh tau, mereka itu siapa?” Ucap Theron sambil sedikit berbisik.


“Oh mereka… mereka itu temannya anak kakek.” Balas kakek itu sambil memotong-motong alpukat.


“Anak kakek?”


“Kakek sebenernya dibantu oleh anak kakek, namun karena ada urusan, jadi dia meminta temannya untuk menjaga kedai untuk membantu kakek.” Balas si kakek.


Mendengar jawaban itu, Theron merasa sedikit janggal dan mulai sedikit curiga. “Jadi, mereka itu semacam pengawal bagitu kek?” Tanya Theron kembali.


kakek itu seketika tersenyum kepada Theron. “Apakah kamu tahu, anak kakek itu adalah seorang pedagang terkenal, terkadang banyak orang bangsawan yang datang kesini untuk bernegosiasi dengan dia.”


Kakek itu kemudian memasukan potongan alpukat kedalam blender, dan mencampurkannya dengan air, es batu, dan sedikit gula kedalam blender.


*Sreeeeng*


Blender itu menghancurkan potongan alpukat dan esbatu hanya dalam kedipan mata.


“Memangnya anak kakek dagang apa?” Tanya Theron kembali.


“Oh, dia menjual minuman anggur yang tersimpan di gudang belakang.” Jawab si kakek.


Mendengar jawaban kakek, rasa curiga Theron seketika menghilang. “Oh, anggur!” Ucap Theron dengan cukup keras, hingga terdengar oleh ke 3 orang itu.


*BRAK*


Orang yang mendorong Theron tadi mendobrak bilik pintu dengan sangat keras.


“HEY BERISIK!” Teriaknya.


Theron sangat terkejut dengan teriakan itu, membuat dirinya hampir terjatuh dari kursi. “Tenanglah bung.” Ucap Theron.


Kakek itu merasa tidak enak dengan sikap pengawalnya kepada pelanggannya. “Aahhh… maafkan dia ya.” Ucap kakek.


“Hahaha… tidak apa-apa kek.”


*Tap*


Kakek itu kemudian menyodorkan segelas jus alpukat pesanan Theron. “Ini pesanannya.” Ucap Kakek itu sambil menaruh jus itu didepan Theron.


“Ah, terimakasih kek.”


Tanpa membuang waktu lagi, Theron langsung meminum jus alpukat itu lewat sedotan plastik hitam diatas gelas.


“Ngomong-ngomong jenis minuman anggur seperti apa yang dijual kek?” Tanya Theron.


Mendengar itu, kakek terdiam untuk beberapa saat. “Hmmm… kalau tidak salah.”


“Pueri.”


Theronpun langusng tersentak mendengar jawaban kakek.