The Great Sorcerer

The Great Sorcerer
Hari Penentuan #1



Hari sudah berganti dengan malam, setelah mendengar semua cerita dari Antonio. Adam menjaga ayahnya (Jason) sepanjang hari berasama dengan ibunya (Irene).


Irene dan Adam saling berbagi tugas, mulai dari menyiapkan makan, mengganti pakaian dan mengganti perban luka Jason secara rutin.


Berkat bantuan sihir Holy Healing milik Amalia, luka Jason sudah tidak menngeluarkan darah lagi, tetapi lukanya masih terasa sakit dan nyeri, serta rasa gatal yang tak tertahankan.


Belakangan ini, Amalia datang kerumah Adam setiap pagi karena hanya Amalia yang memiliki sihir penyembuh yang dapat mengobati luka Jason.


4 hari setelah itu, Jason sudah merasa baikkan, rasa nyeri dan gata di bahu kanannya sudah sangat berkurang.


*Wung*


Lingkatan sihir biru terang menyelimuti bahu kanan Jason.


“Terimakasih nak Amalia.” Ucap Jason. “Berkatmu, luka paman sudah mendingan.” Lanjutnya.


Amaliapun tersenyum mendengar itu. “Tidak apa-apa paman, aku malah senang bisa membantu.” Jawab Amalia.


*Tap Tap Tap*


Adampun datang menghampiri Jason dan Amalia di ruang tengah sambil membawa perban putih baru.


“Ayah, ini perban barunya.” Ucap Adam.


“Adam juga, terimakasih sudah merawat ayah.” Ucap Jason sambil tersenyum.


Adam sedikit curiga, karena tidak biasanya ayahnya berbicara seperti itu kepadanya. “Ada apa yah? Tumben sekali kamu berbicara seperti itu?”


“Tidak apa-apa, hanya saja ayah merasa sangat senang jika sudah tuan anti, ada yang bisa merawatnya kelak.”


“Kamu ini bicara apa yah, sudah pasti aku akan merawatmu yah.” Adam kemudian melirik ke Amalia.


“Benarkan Amalia?”


Amalia sedikit terkejut. “Uhhm.” Jawab Amalia sambil mengangguk pelan. “Akupun juga dengan senang hati akan membantu.” Lanjutnya dengan suara pelan.


Jason yang berada disampingnya langsung terdiam mendengar ucapan Amalia itu.


“Whoaah, terimakasih Amalia. Kamu memang teman yang terbaik.” Balas Adam sambil mengacungkan ibu jari ke Amalia.


Mendengar itu, Amalia langsung tertunduk kecewa.


Jason kemudian menoleh kearah anaknnya, dia tidak percaya dengan sifat Adam yang terlihat seperti anak kecil, yang dimana seharusnya orang seumurannya pasti mengerti dengan maksud perkataan Amalia tadi.


“Hmm?” Adam kemudian menoleh ke Jason. “Kenapa yah?” Tanya Adam.


“Ti-tidaaak, tidak apa-apa.” Balas Jason.


Keesokan harinya, sebelum matahari terbit, Adam kembali ke akadame Roraima unutk mengembalikan sisa buku-buku yang sebelum dia kembalikan.


Dan tentu saja ketika dia bertemu dengan Rose, Adam langsung dimarahi olehnya.


Tetapi setelah Adam menceritakan alasannya karena ayahnya yang terluka parah, emosi ibu Rose seketika langsung mereda.


“Walapun begitu, kau harus tetap mengembalikan buku tepat pada waktunya. Karena itu adalah kewajibanmu.”


“Aku sampai harus menunda pengiriman form laporan perpustakaan kepada akademi.” Lanjut Rose.


Adam mengangguk nurut. “Baik bu.” Ucap Adam.


Setelah urusan selesai, Adam pergi meninggalkan perpustakaan. Adam menyelusuri lorong akademi menuju pintu gerbang keluar.


Namun tepat didepan gerbang, dia berpapasan dengan pak Justin (Guru sekaligus wali kelas Adam.)


“Pak Justin? Selamat pagi.” Salam Adam terlebih dahulu.


“Adam? Pagi.” Balas Justin. “Bagaimana dengan kabarmu?” Lanjutnya.


“Baik pak.” Jawab Adam dengan singkat.


“Mungkin ini sedikit terlambat, tetapi bagaimana ujiannya kemarin?”


Mendengar pertanyaan itu, Adam seketika langsung terdiam mengingatnya.


Beberapa saat kemudian. “Adam.” Panggil Justin melihat Adam yang tiba-tiba melamun.


Adam sedikit terkejut, dan suasana menjadi sedikit canggung. Adam mencoba untuk mencari alas an untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi.


“Eeh… itu…” Gumam Adam. “Yah susah pak, bapak tau sendiri kalau sihir saya ini lemah. Hahaha.” Jawab Adam sambil sedikit begurau.


Justin seketika merasa tidak enak dan bersalah kepada Adam, menurutnya dia telah menanyakan sesuatu yang sedikit sensitif kepada salah satu muridnya.


“Oh… maaf ya, sepertinya itu membuatmu tidak enak.” Ucap Justin dengan wajah menyesal.


“Ti-Tidak kok pak, aku baik-baik saja.” Balas Adam.


“Tapi bapak yakin, suatu saat kamu pasti akan menjadi orang hebat.” Lanjut Justin.


Justin menepuk Pundak Adam dengan pelan.


“Ingatlah, kerja kerasmu tidak akan mengkhianatimu.”


Justin yang menjadi wali kelas Adam memang sudah tahu dengan kebiasaan Adam yang suka membaca buku, karena sering mendapat laporan dari Rose kalau Adam belum mengembalikan buku perpustakaan, dan juga sesekali melihat Adam berlatih sihir di halaman belakang akademi bersama dengan Antonio.


Mendengar motivasi dari gurunya, membuat Adam menjadi sedikit bersemangat. “Terima kasih pak.” Jawab Adam dengan senyuman lebar yang terukir diwajahnya.


***


Setelah kembali dari akademi Roraima, Adam bertemu dengan Antonio didepan gerbang desa dan sedang mengobrol dengan seorang laki-laki pengantar surat.


Terlihat dari pakaiannya yang memiliki logo selembar surat dengan sayap putih yang terbuka lebar yang memperjelas kalau dia adalah pengantar surat.


Adam kemudain menghampiri Antonio, dan tak lama sang pengatar surat pergi meninggalkan Adam dan Antonio dengan sepedanya.


Adam melihat terdapat 2 amplop surat ditangannya. “Surat untuk ayahmu?” Tanya Adam.


Anotnio menoleh. “Adam. Kebetulan sekali.” Antonio kemudian memberikan salah surat di tangannya.


Adam salah mengira, dan Adam sedikit bingung karena tumben sekali dia mendapat surat. “Surat untukku? Dari siapa?”


“Siapa lagi. Lewis.” Jawab Anotnio.


Adam tersentak mendengar jawaban Antonio. “Lewis?” Adam kemudian melihat amplop surat itu. Amplop yang yang dibuat khusus dari serat benang emas, dan disegel menggunakan lilin cair dan terdapat logo bercetak lingkaran sihir.


“Berarti ini-”


“-Ya. Hasil ujian akademi khusus kita.” Sambung Antonio.


*Sreet*


Tanpa piker panjang, Adam langusng merobek amplopnya dan kemudian membaca isi suratnya.


~


PEMERINTAH RESMI KERAJAAN GENOVEVA


DEWAN PEMERINTAHAN AKADEMI KERAJAAN GENOVEVA


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Perihal : Pernyataan Hasil kelulusan Ujian Masuk Akademi Khusus


Dengan hormat,


Sehubungan telah dilaksanakannya ujian seleksi akademi khusus, dengan surat ini kami anggota dewan pemerintahan akademi khusus Genoveva menyatakan Adam Gritz LULUS dalam seleksi masuk akademi khusus kerajaan Genoveva. Dan mengundang Adam untuk hadir pada :


Hari/Jam: Besok/07.00


Tempat : Akademi Roraima


Demikianlah surat undangan ini dibuat. Atas perhatian dan waktunya kami ucapkan terimakasih.


~


“SERIUSAN?” Teriak Adam. “INI SERIUSAN? AKU LULUS?” teriaknya lagi.


Antonio terkejut mendengar berita itu. “Apa?” Yang kemudian Antonio juga merobek amplop suratnya dan membaca isi suratnya.


Yang diaman Antonio juga tertulis dinyatakan lulus dalam isi surat itu.


“Aku juga lulus.” Ucap Antonio.


“Aku harus memberikan kabar ini kepada orang tuaku.” Ucap Adam yang langsung berlari menuju rumahnya.


*Brak*


Adam mendobrak pintu depan rumahnya.


“AYAH! IBU!” Teriak Adam.


“Ada apa Adam. Kenapa kamu mendobrak pintu rumahnya?” Ucap Irene dari dapur.


“IBU, KAMU TIDAK AKAN PERCAYA INI.” Ucap Adam dengan semangat yang berapi-api.


“AKU LULUS BU. AKU LULUS MASUK AKADEMI KHUSUS.”


“HAAH!?” Teriak Irene yang sangat terkejut dan tidak percaya.


“Ada apa pagi-pagi gini sudah ribut.” Ucap Jason yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Adam kemudian memperlihatkan surat yang baru saja dia dapat kepada orang tuanya.


“INI YAH, AKU LULUS MASUK KE AKADEMI KHUSUS.” Ucap Adam.