
Aster menjalani hari-harinya seperti biasa. Dia kuliah, belajar dan bersenang-senang. Yang membedakan adalah dia tidak lagi menjodohkan orang, karena Eros dan Ivory adalah pasangan terakhir. Dia harus menunggu 1 bulan lebih untuk cuti, dan mendapatkan tugas baru.
Disela aktifitas nya yang sebenernya padat, dia merasa sedih karena tugasnya sudah habis. Di tambah efek serbuk cinta sialan itu terus mengganggu nya.
Dia tidak bisa memikirkan hal lain, dia jadi tidak fokus dan selalu memikirkan Eros setiap saat.
"Cinta memang tidak masuk akal," Aster merasa sedih, cinta terlalu memuakan tapi dia tidak bisa menahan perasaan nya.
Di waktu yang sangat tidak tepat Eros datang ke kampusnya, mereka berpapasan dan entah kenapa Aster sangat senang. Tanpa ragu Eros menghampiri Aster yang seperti nya sudah selesai dengan kelasnya. Pria itu tersenyum sangat lebar.
"Hai Aster," ucap Eros.
Aster yang saat itu sedang berjalan bersama teman-temannya menjadi bahan godaan.
"Oh jadi karena dia kamu menolak semua pria di Universitas ini," ucap seorang teman.
"Baiklah kawan-kawan kita tidak boleh mengganggu Aster yang ingin berkencan," ucap gadis lain lalu mereka memutuskan untuk meninggalkan Eros dan Aster.
"Apa kamu mau ikut dengan ku? Kita bisa minum secangkir kopi atau teh," ucap Eros setelah teman Aster pergi.
"Tidak usah aku akan pulang," ucap Aster, dirinya sedih mengatakan itu tapi dia tidak mau efek serbuk cinta terus mengontrol nya.
Eros meraih tangan Aster mencegah nya pergi, "Tunggu apa kamu masih marah? Aku benar-benar minta maaf gara-gara kejadian kemarin," ucap Eros benar-benar menyesal.
Tak ingin membahas itu Aster menanyakan hal lain, "Kenapa kau ada disini? Apa kau mengikuti ku sampai ke kampus ini?" ucap Aster.
"Aku tidak? Aku kemari karena teman ku butuh tumpangan, lalu aku bertemu dengan mu. Dan aku jadi lupa tujuan ku ke mari, maaf aku tidak bermaksud membuat mu risih atas kehadiran ku," ucap Eros
"Eros!" teriak seorang pria.
"Dia teman yang aku maksud, ban mobilnya bocor jadi dia meminta tolong pada ku untuk menjemput nya. Aku tidak bermaksud untuk menguntit mu," ucap Eros.
Aster yang merasa malu karena sudah menuduh Eros langsung berlari pergi, tapi Eros mengejarnya dan menahan nya kembali.
"Aku sungguh minta maaf, kamu boleh menghukum ku tapi tolong jangan menghindari ku. Tolong maafkan aku jika kamu membenci kejadian kemarin, tapi tolong jangan begini," ucap nya, entah kenapa melihat Aster yang berusaha menjauhi nya membuat hatinya sangat sesak.
Aster juga merasa demikian, dia tidak bisa menahan perasaan nya, "Aku tidak marah karena kejadian kemarin. Tapi sepertinya kita harus melupakan kejadian kemarin dan menganggap nya seperti tidak pernah terjadi," ucap Aster.
Eros merasa sakit mendengar ucapan itu, "Kenapa? Apakah kamu membenci ku?" ucap Eros.
Tiba-tiba teman Eros menghampiri mereka berdua "Eros! Ternyata dia gadis yang membuat mu kekeh tidak ingin menikah. Dan astaga Aster? Pantas saja kamu menolak semua pria di Universitas ini, bahkan menolak diri ku pria tertampan di Universitas," ucap teman Eros dengan percaya diri, dia bernama Leon.
Eros merasa tidak suka, dia tau Aster sangat cantik tapi melihat banyak pria mendekati nya membuat Eros merasa tidak bisa melepaskan Aster begitu saja.
"Wow wow santai bro, aku hanya berusaha meminta nomernya tidak lebih, kau tidak perlu marah begitu. Salah mu sendiri tidak mengatakan bahwa dia kekasih mu," ucap Leon saat melihat Eros memberikan tatapan yang menakutkan.
"Aster ayo pergi dari tempat ini," ucap Eros lalu menyerahkan kunci mobilnya.
"Hei! Apakah kamu begitu marah? Astaga bahkan kau tidak mau membiarkan Aster satu mobil dengan ku," ucap Leon saat Eros membawa pergi Aster sambil menggenggam tangan nya.
Leon berjalan sambil mengandeng tangannya menuju arah apartemen nya, ya pasti dia sadar bawah kampus itu hanya beberapa meter dari Apartemen nya.
Pria itu tidak bersuara dia terlihat kesal entah kenapa, padahal beberapa menit lalu Eros sangat cerewet.
"Eros entah kenapa aku merasa kau marah pada ku," ucap Aster.
Eros berhenti lalu menatap wajah Aster, "Aku? Tidak aku tidak marah, aku hanya kesal mengetahui banyak orang yang mendekati mu. Entah kenapa meski ini gila tapi aku rasa aku menyukai mu," ucap Eros.
Aster terkejut, "Kerena aku cantik makanya kau menyukai ku?" tanyanya.
Eros terdiam, memang itu faktanya dia terpanah dengan kecantikan itu. Kecantikan yang memabukkan membuat Eros tidak rela jika wanita ini pada akhirnya tidak menjadi miliknya. Kenapa perasaan ini membuat Eros terdengar seperti pria brengsek?
"Jujurlah apa kamu tidak menyukai ku? Tidak kah kejadian kemarin terbayang dalam benak mu meski hanya sekali? Bahkan aku tidak bisa berhenti memikirkan mu, selain karena kamu yang cantik aku rasa aku lebih tidak bisa melupakan momen kita yang singkat itu. Itu terasa begitu berbekas," ucap Eros.
"Tidak aku tidak pernah membayangkan kan nya," ucap Aster sambil menunduk.
"Tolong jawablah sambil menatap lawan bicara mu Aster," ucap Eros lalu mengarahkan wajah Aster agar berhenti merunduk dan menatapnya.
Aster tidak bisa, sorot mata yang begitu menenangkan menatap nya dengan penuh kasih. Tatapan matanya menggambarkan banyak hal, seperti kerinduan, cinta dan penantian.
"Jawablah apa kamu tidak pernah sekali pun memikirkan ku setelah kejadian kemarin?" ucap Eros tangannya masih menggenggam tangan Aster dan satunya membelai wajah Aster.
"Aku... terkadang memikirkan nya," ucap Aster lalu memalingkan wajahnya.
Eros tersenyum lalu tanpa aba-aba memeluk Aster. Aster terkejut tapi entah kenapa pelukan itu terasa sangat nyaman dan hangat. Eros memeluknya dengan lembut seolah dirinya akan hancur jika memeluk terlalu erat.
Aster tersenyum dalam pelukan itu, dia merasakan detak jantung Eros yang tidak karuan sama seperti dia pun begitu. Untuk sejenak Aster tidak memikirkan dampak dari kejadian ini.
Dia sudah sangat berusaha tapi dia tidak bisa melawan efek serbuk cinta itu, kenapa cinta bisa begitu memabukkan seperti ini?
Aster merasa dirinya akan hancur jika dia bersama pria ini. Tapi di satu sisi hatinya merasa tidak keberatan meski harus hancur asal dengan Eros.
Lagi dan lagi cinta memang selalu menelan korban, tapi entah kenapa hal itu terus di dambakan. Seolah hidup dalam kesepian lebih menakutkan dari pada harus kehilangan cinta yang menyakitkan
Mereka berpelukan lumayan lama, bahkan meski banyak pasang mata yang memperhatikan. Mereka seolah tidak peduli.
"Aster apa kamu mau mengizinkan aku untuk menyukai ku?" tanya Eros.
Aster menanggapi dengan senyuman, senyuman yang memberikan jawaban yang Eros mau. Eros tersenyum lalu mereka menghabiskan waktu bersama sambil bergandengan tangan.
Mereka bercerita banyak hal, saling menceritakan kesukaan masing-masing dan masa-masa indah di hidup masing-masing. Meski mereka baru bertemu, entah kenapa perasaan tidak asing menyelimuti. Seolah ini adalah obat dari sakit kepala yang bertahun-tahun Eros rasakan. Dan obat kesepian yang menyelimuti hati Aster selama bertahun-tahun.
Seperti dua pasang merpati yang terpisah akhirnya bertemu lagi meski terasa sangat mustahil. Perasaan seperti itu, yang mereka berdua rasakan. Rasa rindu yang memupuk seperti sudah terbalaskan.
Aster berharap tidak ada masalah. Dia harap bisa bahagia seperti ini untuk waktu yang lama.