
Eros menjalani kehidupan pernikahan nya dengan bahagia, dia sudah menikah dengan Ivory selama satu tahun. Hari ini mereka akan pindah ke apartemen yang lebih besar. Karena merencanakan program hamil. Eros ingin tinggal di rumah yang memiliki taman dan kolam renang pribadi. Atas kerja kerasnya dia berhasil membawa perusahaan ayahnya di puncak. Bahkan Eros juga sedang melakukan projek untuk membangun anak perusahaan atas namanya.
Hari ini Eros memantau para pekerja yang akan memindahkan barang-barang yang masih layak pakai dan sisanya akan di buang atau di sumbangkan. Saat salah satu orang membawa laci di kamarnya, dia malah menjatuhkan laci itu dan membuat seketika lacinya rusak.
"Ah maafkan aku pak, saya tidak sengaja," ucap pria itu lalu membungkuk berkali-kali. Dia takut akan di laporkan bosnya karena pasti dia akan di pecat karena keteledoran nya.
Eros memegang bahu pria itu, "Sudahlah jika lacinya rusak berarti memang sudah seharusnya di buang, jangan merasa bersalah istirahat lah sejenak kau terlihat lelah," ucap Eros lalu menyuruh semua pegawai itu untuk istirahat. Karena barang di apartemen Eros lumayan banyak dan baru di pindahkan setengah.
Eros memberikan kartunya ke pada pria tadi lalu menyuruh nya untuk memesan makanan untuk teman-temannya. Pria itu tersenyum dan mengangguk terimakasih, tapi sebelum itu dia membersihkan kekacauan yang dia buat.
"Pak maaf tadi saya menemukan buku ini di dalam laci," ucap pria itu saat Eros tengah berada di balkon apartemen nya.
Eros keheranan karena tidak mengenali buku itu, "Kau menemukan nya di laci?" tanya Eros memastikan.
Pria itu mengangguk, "Benar dia ada di skat lain di dalam laci. Sepertinya buku itu sangat penting jadi saya tidak berani membuka nya," ucap pria itu lalu pamit undur diri.
Eros keheranan dia tidak pernah ingat memiliki buku ini. Buku terlihat cantik dengan ukiran tiga dimensi nya. Buku itu terlihat sangat vintage. Dia tidak mungkin membeli buku semacam itu.
Eros menyentuh ukiran tiga dimensi dan hendak membuka buku itu. Tiba -tiba muncul bayangan serta suara yang asing di telinga nya.
"Aku memberikan mu buku, simpanlah,"
"INGAT KAU HARUS INGAT!"
Eros keheranan membaca halaman pertama buku itu, dia juga heran karena tulisan itu adalah miliknya. Dia lalu membaca lagi halaman perhalaman.
"Aku Eros dan kau dimasa depan harus mengingat nya dengan baik. Kau Eros Morpheus mencintai gadis bernama Asterhea Evadne. Dia datang dari tempat yang jauh, dia sangat cantik. Meski kau melupakan nya, tapi kau tidak akan bisa mengabaikan kecantikannya. Dia sangat indah dan menyilakan, kau tidak akan pernah bertemu manusia seperti itu. Jadi ingat dia! Kau sangat mencintai nya bahkan terasa sesak membayangkan hidup tanpa dirinya. Jadi tolong ingat dia!"
Eros berkaca-kaca membaca halaman kedua, dia lalu melanjutkan ke halaman ke tiga.
"Kau saat itu ingin di jodohkan dengan Ivory tapi kau tidak bisa mencintai nya. Lalu seperti anugerah kau bertemu Aster gadis yang kau cintai. Kalian berciuman untuk pertama kalinya di pantai. Kalian mengabiskan waktu indah bersama Aster menceritakan bahwa dia adalah keturunan Dewi tapi kau tetap mencintai nya. Jadi tolong ingat itu! Mungkin di masa depan ujian akan menimpa kalian tapi jangan mengabaikan Aster dan berusaha untuk mengingat nya. Jangan biarkan dia menangis dan jagalah dia dengan baik. Cinta mu adalah Aster bukan orang lain!"
Eros melihat kembali dan dia menemukan sketsa wajah Aster di halaman selanjutnya. Eros melihat ada tulisan kecil di ujung gambar.
"Aku sangat payah saat menggambar, percayalah Aster lebih indah dari pada lukisan ku. Jadi tolong ingat dia!"
Entah kenapa Eros menangis meski dia belum bisa mengingat itu. Dia teringat dengan ucapan Leon yang berkata bahwa tatapan Aster kepadanya terlihat selalu menahan kerinduan. Apa yang selama ini dia lakukan? Dia mengabaikan orang yang di cintai nya? Tapi kenapa dia tidak mengingat Aster? Kenapa dia malah jatuh cinta pada Ivory?
Eros keluar dari kamar itu dan bergegas ingin mencari keberadaan Aster. Dia butuh penjelasan. Namun sebelum Eros bisa membuka pintu. Kepalanya berdenyut lagi, sakit kepala yang luar biasa itu datang lagi.
"Sial!" ucap Eros sambil merintih kesakitan.