
Istana Olympus
Dewi Aphrodite tengah duduk di kamarnya sambil menikmati teh di pagi hari, tak lupa dia menyaksikan kisah hidup seseorang di layar hologram bak menonton suatu film yang amat menarik lalu berakhir kesal saat film itu berakhir tidak sesuai keinginan nya.
Dewi Aphrodite yang kita pikir sudah hidup tenang di Olympus ternyata belum merasa cukup. Dia terus mengawasi Aster, berharap gadis malang itu mendapatkan penderitaan yang tak terkira. Padahal jika kita pikirkan apa salah Aster?
Apakah salahnya karena terlahir cantik dan sempurna? Apakah salahnya jika memiliki sebuah cinta yang tulus? Jujur sebenarnya Aphrodite hanya merasa iri. Semua orang jatuh cinta pada parasnya namun siapa yang benar-benar mencintai nya?
Terkadang dia berpikir bagaimana Aster bisa melewati semua rintangan itu? Di mulai dari kehilangan orang yang dia cintai sampai berhasil mendaki gunung tertinggi di dunia nya. Lalu dia juga berhasil mendapatkan cintanya kembali? Aphrodite pernah kehilangan satu orang yang berarti untuknya, dan terkadang dia masih sedih saat memikirkan nya.
Tapi bagaimana mungkin gadis itu tidak menyerah? Seharusnya dia hidup saja dengan baik di bumi dan mencari cinta baru. Lupakan pria yang membuang mu. Sifat tidak mau menyerah dan terkesan bodoh itu membuat Aphrodite merasa makin membenci Aster.
"Hah, kenapa selalu gadis itu bersikeras untuk mendapatkan kembali seseorang yang bahkan sudah membuangnya. Lalu liat usahanya, yang berakhir mendapatkan segalanya. Dia bahkan bisa mendaki gunung suci itu. Tapi tunggu dulu, apakah permohonan nya benar-benar akan terjadi," ucap Aphrodite.
"Mari kita buktikan apakah legenda tentang gunung suci itu benar adanya? Apakah benar kamu akan berakhir bahagia putriku sayang?Jika kali ini kamu berhasil aku berjanji tidak akan mengusik mu," ucap Aphrodite dengan senyuman licik di wajah cantiknya.
...***...
Aster dan Eros kembali ke Negara mereka lalu menjalani aktifitas seperti biasanya. Eros bekerja di kantor dan Aster tengah merintis bisnis barunya. Lali di malam hari mereka menghabiskan waktu bersama di malam hari dengan saling bercerita tentang hari yang mereka lalui atau hanya melepaskan penat dengan saling mengisi dan berpelukan sampai fajar menyingsing.
"Sayang jika kita punya anak, aku ingin anak perempuan yang secantik diri mu. Jika dia laki-laki aku ingin dia seindah diri mu juga," ucap Eros sambil mengelus-ngelus punggung telanjang Aster.
"Baiklah bagaimana jika perpaduan kita berdua," ucap Eros yang merubah posisinya dari terlentang sambil memeluk Aster menjadi mensejajarkan tubuhnya menindih Aster.
"Jika kita ingin bayi yang cantik dan tampan maka kita juga harus lebih semangat dalam membuat nya," ucap Eros lalu mulai menjalankan aksinya.
"Ahh Eros, kita baru beberapa lalu melakukan nya," ucap Aster yang mulai terangsang karena sentuhan Eros.
"Memang tapi kamu dan aku ingin bayi bukan? Maka kita harus semangat membuat nya sayang ku," ucap Eros.
Lagi dan lagi Aster hanya bisa pasrah dan menikmati tingkah Eros. Lalu berusaha untuk tidak pasif dan mengimbangi permainan Eros.
"Aku mencintaimu Istri ku, Ibu dari calon anak-anak ku kelak," ucap Eros saat keduanya mencapai pelepasan.
"Aku juga mencintaimu mu Eros, suamiku," ucap Aster malu.
Eros yang mendengarkannya juga merasa demikian, ini pertama kalinya dia mendengar Aster mengucapkan kalimat itu.
"Sayang jika kamu membuat ku berbunga-bunga dengan mendengarkan kalimat sayang yang terlontar dari mulut cantik mu, aku benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak menyerang mu lagi dan lagi," ucap Eros lalu kembali melakukan aksinya, tentu saja setelah meminta persetujuan Aster dan dia sama sekali tidak keberatan.
"Kamu nakal, benar-benar pria nakal," ucap Aster.