
...- Lantai 6 - Tenggara -...
12 jam setelah mereka naik ke lantai 6...
Kelompok Yuda yang sedang menunggu sambil berkemah di datangi oleh penghuni asli lantai 6.
Selusin ksatria berzirah hitam mengarahkan senjata kepada mereka tanpa maksud yang jelas.
Otto yang sistemnya punya kemampuan mengumpulkan informasi mengetahui siapa mereka dan apa tujuan mereka kesini.
"Mereka penduduk asli lantai 6,"
"Masa lalu mereka cukup mengejutkan,"
"Apa?" Tanya Kallen penasaran.
"Mereka adalah orang-orang yang ikut terbawa oleh fenomena Lost Brainware padahal mereka bukan pengguna sistem."
Orang-orang yang sama seperti Vanessa. Itulah mereka.
Para quirkless yang terjebak di Systemverse tanpa bisa meminta bantuan maupun kembali ke dunia mereka.
Mereka dibuang ke lantai 6 dan dipaksa hidup berdampingan dengan Valvarad dan para pribumi lainnya yang sama sekali tidak ramah pada mereka.
Karena hal itulah mereka menjelma menjadi suku bar bar yang suka main kasar.
"Mereka menyebut diri mereka 'Outlander'. "
Dkavia merasa memiliki kemiripan dengan orang-orang itu.
Otto mengingatkannya untuk berhati-hati, para Outlander tidak segan melukai jika merasa terancam.
Dkavia menatap tajam ke arah suku Outlander.
Kepala suku mengenakan zirah yang sedikit berbeda. Di lehernya terdapat kalung kristal yang dihadiahkan oleh kekasihnya sebelum mereka terpisah.
Dkavia memilih metode damai.
Dia bertanya apakah yang dicari para Outlander tersebut.
Tentu saja Outlander tidak menjawabnya.
Justru tebasan pedanglah yang dia terima sebagai balasannya.
Tebasan itu meninggalkan robekan sepanjang 8 sentimeter di dada kirinya.
"Dia melukai Dkavia!!"
"Serang!!!"
Otto dan Kallen menjadi yang terdepan sekaligus yang terbanyak menjatuhkan musuh.
Yuda dihadapkan dengan situasi pelik.
Dalam beberapa detik gunung melayang di atasnya. Menghancurkan daratan tetapi tidak mampu membunuhnya.
Yuda berteleportasi dengan Mata Nebula. Kompas itu harus ditekan untuk mengaktifkan kekuatan teleportasinya.
Yuda menyerang dengan skill Drake Breath, cincin bumi yang terletak di tangan kirinya.
Burning wave kurang efektif, aku harus mengandalkan Drake Breath!
"VALVARAD!!!!"
"HINDARI SERANGANKU KALAU BISA!!!!"
...... ......
[ Anda telah membunuh Valvarad ]
[ Tetapi dia tidak akan mati semudah itu ]
Deru kehancuran menyelimuti tempat itu, setelah gunung berguling, sekarang gelombang angin yang menghancurkan segalanya.
Perlawanan dari suku Outlander cukup sengit sehingga memaksa mereka menggunakan kekuatan sistem.
Otto membuat kaki mereka lumpuh dan tubuh bagian atas kaku karena pembekuan darah.
Sontak saja kelompok Yuda mampu mengalahkan mereka dengan mudah dan tanpa terluka sedikit pun.
Kepribadian ganda Kallen yang terpanggil oleh kebosanannya bersikap brutal kepada lawan lawannya.
"Kenapa kalian menyerang kami?"
Kallen menancapkan pedang di depan batang hidung salah satu ksatria Outlander.
"JAWAB!"
"~&%~%&%~~%&"
Bahasa mereka tidak bisa dipahami.
Cukup aneh, mengingat para pengguna sistem bisa berkomunikasi satu sama lain walaupun berasal dari alam semesta yang berbeda.
"Otto, apa kamu mengerti bahasa mereka?"
Otto menggelengkan kepala.
"Kalau begitu kita beri mereka pilihan."
Kallen meletakkan ranting dan pedang di depan kepala suku yang tumbang karena lengan kirinya putus saat melawan Kallen.
Jika memilih pedang mereka akan dibunuh, jika memilih ranting mereka akan dibebaskan.
Rafaela menegur Otto.
"Jangan diam saja, hanya kamu yang bisa menghentikan Kallen."
"Hah, kenapa harus dihentikan?"
"Kamu bilang istrimu sama seperti mereka. Apa kamu tidak kasihan seandainya istrimu berada di posisi yang sama?"
"... ... ."
"Iya, juga ya..."
Otto memberanikan diri menahan pukulan yang dilancarkan Kallen ke ketua Outlander.
Dia selalu berani bertindak saat salah satu temannya yang paling menyeramkan lepas kendali.
"Kenapa kau menghalangiku?"
Kallen menepis tangan Otto.
Keduanya pun berdebat sengit.
Otto berkata. "Mari kita berpikir dengan kepala dingin, pendekar pedang cantik... "
"Tiada dari kita yang terbunuh oleh mereka. Tidak masuk akal rasanya kalau kamu menghabisi membunuh mereka duluan."
"... ... ."
"Jadi kamu membiarkan mereka pergi begitu saja, setelah menyerbu kita?"
Otto tersenyum.
Kallen hampir saja membuat kepala Otto melayang jika Sabela tidak turun tangan.
"Turunkan kakimu, Kallen Krylshine! Dia benar. Seandainya ketua Yudistira ada disini dia pun pasti akan melakukan hal yang sama."
"... ... ."
"Jadi kamu mendukung Night? Sabela?"
Sabela melepaskan kaki Kallen.
Kallen berusaha mengendalikan kepribadian gandanya yang berbahaya.
"MENJAUH DARIKU! BIARKAN AKU MENGURUS SISI GELAP INI!"
Kallen menarik rambut peraknya dengan kuat. Rasa malu bercampur kesal menyalakan api dalam diri sisi baiknya yang selalu tersingkir saat sisi jahat menguasai raganya.
Sementara Otto dan Sabela mengurus suku Outlander.
[ Sistem Pendongeng ]
[ Pengumpulan informasi bahasa pribumi selesai ]
[ Sekarang anda bisa berkomunikasi dengan suku 'Outlander' ]
"... bagus."
"Apa yang akan kamu lakukan pada mereka?" Sabela bertanya.
"Sudah jelas kan, berdamai... "
"Kita akan meninggalkan kenangan baik sebelum meninggalkan Systemverse ini,"
Setelah bertarung hingga banyak yang terluka Sabela menggunakan kekuatan pohon yggdrasil untuk mengobati yang terluka.
Setelah keadaan kembali seperti semula, seperti saat belum terjadi apa-apa, Otto duduk di antara mereka dan berbincang santai.
Para Outlander itu menuturkan waktu yang telah mereka habiskan di menara terkutuk itu.
Tidak bisa diucapkan dengan angka, setidaknya ada 209 angka nol di belakang jumlah tahunnya.
Otto menolak menghitungnya dan langsung bicara ke intinya.
"Apa kalian mau ikut kami mendaki ke puncak?"
"... kami tidak memiliki kekuatan untuk mendaki sendiri. Kecuali anda bersedia melanggar peraturan ujian dan melawan dewa keseimbangan." Jawab salah satu Outlander.
"Dewa pelindung? Makhluk seperti apa mereka?"
"Menarik!"
"Apa dewa itu akan muncul kalau kami melanggar peraturan?"
Otto teringat kecurangan yang mereka lakukan saat ujian lantai 2.
Jika dewa itu ada. Kapan mereka akan bertemu?
Memikirkannya membuat Otto bergairah.
"Kalau begitu aku akan mencari dewa itu, kemudian membunuhnya, dengan begitu semua peraturan bisa kita langgar."
Kemauan kuat Otto menemui dewa itu sampai membuat sistem nya keheranan.
Hanya ada satu pertanyaan. [ Mampukah Otto Night mengalahkan dewa itu? ]
"Kita harus mampu! Tidak mungkin aku akan meninggalkan orang-orang bernasib sama dengan Vanessa di dunia yang kejam ini."
[ Tapi mereka sudah lama tinggal disini. Belum tentu dunia mereka yang dulu lebih baik dari lantai 6 Systemverse. ]
"Mari kita bicarakan ini lain waktu. Pertama tama, cari dewa itu."
Otto menanyakan keberadaan dewa itu pada ketua suku.
Mereka pasti pernah melihatnya walaupun hanya sekali.
Dan pertemuan itu terjadi dalam mimpi ketua suku.
Ketua suku bermimpi menemukan rawa di atas gunung tertinggi di lantai 6 bernama gunung Saliva, dan rawa itu dahaga.
Dewa keseimbangan sangat marah padanya karena telah melanggar salah satu peraturan di lantai 6.
Akibatnya dewa keseimbangan murka dan memotong lengan kanan ketua suku.
Anehnya meskipun kejadian itu terjadi di mimpi, lengan ketua suku benar-benar terpotong di dunia nyata.
Tidak ada satupun yang mengaku telah memotong lengan ketua suku. Saat diselidiki pun tidak ada jejak makhluk hidup lain selain ketua suku di kamarnya yang tertutup rapat.
Pertemuan itu hanya mimpi.
Tetapi hukuman itu nyata.
Ketua suku memukul zirah di lengan kirinya hingga remuk.
Dia mengaku tidak bisa melepaskan zirah itu kecuali hancur.
Otto merasa cukup mendengarkan ceritanya.
Selanjutnya dia meminta Sabela dan yang lainnya untuk menetap di lantai itu lebih lama, karena dia akan pergi untuk melawan sang dewa keseimbangan.
Cara membuat dewa itu marah rupanya sangat mudah dan sedikit lucu.
Dewa itu tidak terima gunung yang menjadi tempat tinggalnya di kotori oleh sapi dan kambing yang diternak kepala suku.
Banjir kotoran ternak terjadi sehari sebelum malam pertemuan itu.
Otto memimpin para Outlander dalam misi yang dia sebut 'Operasi pembantaian anjing penjaga'.
Dalam hal ini sang dewa disebut anjing penjaga itu.
Setelah mengumpulkan kambing dan sapi, Otto memanggil burung hantu peliharaannya, Nocturna, untuk membawa mereka ke gunung Saliva.
Kallen yang telah lepas dari pengaruh kepribadian gandanya memutuskan mengikuti Otto menghadapi dewa itu.
"Apa yang menggerakkan hatimu untuk mengikuti ide konyolku?" tanya Otto ke Kallen yang menumpang di punggung Nocturna.
"Menurutku idemu bagus. Dengan membunuh dewa jahat yang menguasai tempat ini kita bisa menyelamatkan mereka sekaligus mengurangi jumlah musuh di masa depan."
Otto refleks meletakkan tangannya di bahu Kallen karena terharu dengan ucapannya.
Kallen pun membalasnya dengan mendorong tubuhnya hingga hampir terjatuh dari punggung Nocturna.
Rafaela menyelamatkan Otto dari kejatuhan itu.
Sesampainya di gunung Saliva.
"Tempat ini memang surga untuk para ternak itu."
Nocturna mendarat di jarak 2 kilometer dari gunung Saliva, karena hanya dua orang yang akan pergi ke gunung itu dengan membawa ternak.
Ribuan ekor sapi dan kambing yang Nocturna dan Lyra bawa dengan sihir diturunkan dengan hati-hati ke atas padang rumput hijau.
Otto mengambil tali sihir yang berfungsi untuk mengawal kawanan sapi, sedangkan orang satunya lagi adalah Kallen yang mengawal kawanan kambing.
"Hmm... kalau kita berdoa di tempat ini apakah itu berarti kita berdoa kepada dewa Systemverse?" Tanya Otto.
"Bukan begitu konsepnya. Dimana pun kamu berdoa, doamu akan tetap tersampaikan." Jawab Kallen.
"Mengawal kawanan sapi mengingatkanku pada sebuah kisah. Ngomong ngomong apa kamu siap berani melawan dewa?"
"Jika dia dewa yang jahat, pedangku akan menebasnya."
"Hahahaa! Aku pegang kata katamu. Tapi seandainya terjadi sesuatu dan kita kalah melawan dewa itu, apa kamu punya pesan terakhir yang ingin disampaikan kepada teman teman?"
"pesan terakhir... katakan saja 'aku senang bisa mengenal kalian, dan semoga perjalanan kita menemui akhir yang baik'."
Otto cukup senang mendengarnya.
Kallen selalu tampak suram karena luka yang mendalam setelah kehilangan kedua anaknya.
Bukan kebosanan yang memanggil kepribadian gandanya, melainkan rasa kesepian.
Otto sangat mengerti bagaimana rasa kesepian menggerogoti hati seseorang. Karena itulah dia selalu mengusik Kallen untuk mengusir rasa kesepiannya, namun Kallen selalu membalasnya dengan tatapan kesal.
Aku punya 2 pr hari ini. Pertama, membunuh dewa keseimbangan. Kedua, menyadarkan Kallen bahwa dia memiliki banyak teman di sisinya.
Pertemanan akan membuatnya melemah. Aku tahu itu. Aku memang orang yang egois. Tapi aku tidak tahan dengan dirinya yang terus mengabaikan keberadaanku.
.................................................................................
Jangan jenuh dulu, saya akan menunjukkan imajinasi liar yang pastinya bukan Mimpi Basah Author di seri ini.
Seperti biasa, like, komentar, dan favoritkan novel ini jika kalian menyukai cerita yang unik dan Bukan Mimpi Basah Author!😁
.................................................................................