Systemverse

Systemverse
Bab 26. Jurang keputusasaan?



"Aku.. aku.. "


Wajah wanita itu sangat merah, semerah baru bayi lahir.


Kekuatan hoax dewa Otto melampaui batas yang bisa dinetralisir Sistem si wanita.


"Kenapa wajahmu merah? Kau tampak manis, sayang."


"Benarkah... "


Sistem si wanita menyerah melawan pengaruh sistem Otto.


Wanita itu mencium leher Otto kemudian memberitahu namanya.


"Namaku Alicia Applemoon, hobiku memancing dan berburu, bagaimana denganmu?"


"Aku suka menipu dan berkuasa di atas orang lain."


"Aku suka itu~"


Alicia yang telah jatuh sepenuhnya dalam perangkap cinta Otto memberikan perhatian lebih dengan membenarkan kerah baju Otto.


Alicia bahkan bersedia menjadi spy di kelompok lawan, semata mata untuk menunjukkan cintanya kepada Otto.


"Kakakaa, bagus sekali, Sistem. Kemampuanmu sangat hebat."


Otto melanjutkan pencarian haremnya dengan mengelilingi kota para adventurer.


Setelah menanamkan benih cinta berupa hipnotis tingkat tinggi ke beberapa wanita, Otto pulang dengan perasaan puas.


***


Yuda sedang membahas ujian lantai berikutnya dengan Sabela dan Kallen. Ujian itu dinamakan jurang keputusasaan.


Setiap pendaki atau adventurer akan turun ke sebuah jurang yang penuh dengan marabahaya. Bisa dibilang ini adalah ujian hidup dan mati yang sesungguhnya karena setiap pendaki harus menghadapi pertarungan dan kengerian seorang diri selama berjalan di jurang kegelapan sejauh 20 kilometer.


Yuda percaya dengan kekuatan mental para pengguna Sistem, masalahnya tidak semua memiliki kemampuan untuk bertarung. Sungguh ironis mengetahui salah satu temannya seperti itu.


Rafaela bergabung dengan mereka.


Sabela berpura pura baik dengan menawarkan bantuan padanya. Tentu saja Rafaela menerima bantuan tersebut, tanpa tahu Sabela sedang mengincar sesuatu darinya.


Semakin hari gelagat Sabela semakin aneh, seperti orang yang memiliki maksud tertentu.


Kondisi semakin diperburuk oleh rumor adanya pengkhianat di kelompok mereka.


Saat mendengar kabar itu Yuda langsung menghampiri Sabela di kamarnya walaupun saat itu tergantung papan peringatan di pintu Sabela. Dia sedang tidak ingin diganggu.


"Kenapa kau tidak menghargaiku? Aku sedang dalam bulan kewanitaan jadi jangan ganggu." Ucap Sabela dengan kesal.


"Maaf Sabela, apa itu alasanmu bersikap aneh belakangan ini?"


Sabela tidak menjawab, Yuda menghela nafas panjang.


"Baiklah jika itu alasanmu. Sesegera mungkin aku beritahu yang lain untuk tidak mengganggumu. Satu hal lagi, kita mengikuti ujian lantai ke 4, 2 hari lagi, jika kau merasa tidak mampu beritahu aku sehari sebelumnya."


Sabela mengangguk kemudian merebahkan diri di kasurnya.


Yuda bertemu dengan Otto. Otto baru kembali dari menggoda gadis gadis, dia percaya diri bisa membuat Sabela percaya diri lagi. Untungnya Yuda tidak percaya padanya.


"Menurutmu setinggi apa kemungkinan Sabel mengkhianati kita? Bisa saja dia dipengaruhi anggota kelompok lain seperti yang aku lakukan." Terang Otto sambil memainkan stroberi masam pemberian seorang gadis.


"Mustahil itu terjadi. Dia tahu kita berbeda dari yang lain."


"Hahahahahaa, benar juga."


Yuda kembali ke kamarnya.


Dia terbangun di dunia nyata. Teringat akan janjinya dengan salah satu teman karibnya. Mythia Hana yang baru pulang dari luar negeri.


Dia juga memiliki keperluan dengan para ilmuwan di tempat kerjanya, hampir tidak ada waktu untuk keluarga.


Tetapi bukan Yuda namanya kalau tidak bisa membagi waktu dengan keluarga. Sekitar setengah jam kerjanya setiap hari dia serahkan pada Jaune Homunculus.


Mereka bertukar shift kerja setiap harinya. Ketika tiba giliran Yuda bekerja, Yuda akan menyelesaikan pekerjaannya sampai tuntas secepat yang dia bisa. Karena itulah dia mendapat julukan 'The Flash'.


"Selamat sore sayang. Mana Fahmi?"


"Lagi sama ibu, katanya adik Fahmi akan melewati sederetan acara adat untuk melindungi dirinya."


Mendengar itu, Yuda yang trauma dengan ilmu spiritual pun langsung menyusul anaknya. Bergegas dia berlari ke tetangga sebelah rumah yang tidak lain adalah rumah ibunya.


"Ibu! Mana anakku?" teriak Yuda setelah menendang pintu.


"Yuda?"


Ibu Nia sedikit terkejut melihat kelakuan anaknya.


"Fahmi ada di dalam, tetua adat setempat sedang memandikannya. Kamu jangan khawatir, aman kok."


Yuda menggenggam dadanya.


"Nostradamus, apa... ritual adat yang dipercaya manusia berhubungan dengan bangsa jin? Dan sebagai orang islam, haruskah aku mengikutinya?"


[ Pertama, kebanyakan upacara adat dilakukan untuk menghindarkan si bayi dari pengaruh negatif. Langsung saja yang kedua. Orang Islam tidak perlu mengimani upacara adat yang bertentangan dengan nilai nilai Islam. ]


Setelah mendengar penjelasan Nostra, Yuda merasa lebih lega, lalu dia sadar sejak masuk Systemverse dirinya mulai jarang mengaji.


Malam itu Yuda mendedikasikan diri untuk mendekatkan diri dengan tuhan. Sementara Nostradamus menikmati malam dalam tubuh avatar Yuda.


Tibalah hari ujian lantai ke 4. Yuda merasa lega karena kemarin Sabela tidak mendatanginya.


Seperti yang dikatakan sistem pendongeng beberapa hari yang lalu. Ujian lantai ke 4 sudah diputuskan: Jurang Keputusasaan.


Rafaela menyemangati anggota timnya sekaligus memberikan kue keberuntungan kepada 106 temannya.


"Semoga beruntung!"


Senyum Rafaela menjadi hal indah terakhir yang mereka lihat sebelum mati. Setidaknya begitulah dalam pikiran mereka.


Otto memasuki jurang keputusasaan dengan semangat. Seorang yang menjuluki dirinya Dewa Pembohong tidak mungkin takut pada sebuah jurang.


"Parit kecil ini menakutkan? Jangan membuatku tertawa."


Malaikat hitam menyalakan jurang dengan pedang apinya.


Monster yang menunggu di jurang itu tidak berani mendekati Otto. Mereka berjalan pelan di balik bayangan batu yang menjulang di tepi dasar jurang.


Otto memutuskan untuk berjalan santai menuju ujung jurang tersebut.


Di jurang lain, Kallen berjalan dengan penuh kehati hatian. Setiap merasakan pergerakan barang hanya seekor lalat Kallen akan langsung menebaskan pedangnya.


"Tidak aku sangka jurangnya semengerikan ini. Aktifkan penghematan energi! Perbesar daya serangku menjadi 10x lipat."


Jurang itu bergetar setiap kali Kallen menebas.


Rafaela menghemat tiket emasnya. Sistem koki merasa sedih karena Rafaela tidak membutuhkannya lagi.


"Bukannya aku tidak membutuhkanmu, hanya saja situasi ini berbeda dengan sebelumnya. Kalau aku mati kita tidak akan bertemu lagi untuk selamanya." Ucap Rafaela sembari merobek tiket emas yang tersisa 7 lembar.


[ Helm Hades ] muncul di tangan Rafaela, memberinya kemampuan menghilang. Dengan cara itu Rafaela berhasil mencapai ujung jurang tanpa terluka.


Rafaela dan Sabela juga menjadi yang pertama menyelesaikan ujian.


Sabela terkejut melihat Rafaela, dalam ekspektasinya dia mengira akan bertemu Yuda atau Kallen pertama kali.


"Bagaimana kau bisa sampai sini?" Tanya Sabela dengan masih terkejut.


"Aku mengendap endap sampai finish. Sebenarnya tadi ada makhluk yang sangat menyeramkan di ujung jurang, tetapi aku berhasil melewatinya."


Sedangkan Sabela mengalahkan monster yang menjaga di ujung jurang. Dia tidak menyangka monster itu bisa dilewati tanpa dibunuh.


Rafaela menunjukkan helm Hades yang baru dia dapatkan.


Sekarang mereka harus menunggu 105 temannya keluar dari jurang tersebut.


Di akhir perjalanannya, Otto berhadapan dengan monster bertubuh tikus, berbadan gergaji.


Monster yang diklarifikasikan sebagai monster tingkat tinggi itu tidak ada apa apanya di hadapan dewa pembohong.


Seperti biasa Otto mengalahkan musuhnya dengan gampang.


Kekuatan Otto menjadi tidak sangat dahsyat sejak Sistem nya beradaptasi dengan lingkungan Systemverse yang penuh dengan kekuatan.


Otto berbalik lalu menghadiahkan selimut api ke para penunggu jurang tersebut, sementara Rafaela dan Sabela sudah menunggunya di luar.


Diantara 6 orang utusan Sistem Kebaikan, secara mengejutkan Yuda jadi yang paling lambat keluar.


Yuda dihadang oleh utusan The Destroyer yang memberitahunya kalau salah satu temannya terkena kutukan kegilaan dan kemungkinan besar orang itu adalah Sabela.


The Destroyer berbicara seolah dia ingin membantu padahal dialah yang menanamkan kutukan itu secara acak ke salah satu teman Yuda.


Yuda yang polos pun memercayai ucapan The Destroyer, tetapi menolak bantuan yang ditawarkan The Destroyer.


Pada akhirnya Yuda mengalahkan penjaga garis finis dan bertemu kembali dengan teman temannya. Pandangan terus terfokus pada Sabela, ucapan The Destroyer membuat matanya terus terpaku pada wanita itu.


Ujian lantai ke 4 berakhir dengan kembalinya 12000 pengguna sistem. 60 diantaranya adalah mantan anggota kelompok Yuda di ujian lantai ke 3.


Perjalanan berlanjut ke lantai 5 yang lagi lagi mengharuskan mereka membentuk kelompok beranggotakan minimal 1000 orang dan maksimal 5000.


Ujian lantai ke 5 pun lebih mengerikan dari lantai sebelumnya. Mereka akan melewati 3 fase yang dimulai dari neraka bumi, lalu ke neraka laut, dan terakhir neraka langit, untuk mencapai garis finish.


Perluasan kelompok harus dilakukan sesegera mungkin, jika berkaca dari kejadian di lantai 3, kelompok yang tidak memenuhi batas minimum anggota akan gagal secara otomatis.


Yuda juga harus terus mengawasi serta menyelidiki Sabela yang belakangan terus menyendiri di kamarnya.


.................................................................................


Jangan jenuh dulu, saya akan menunjukkan imajinasi liar yang pastinya bukan Mimpi Basah Author di seri ini.


Seperti biasa, like, komentar, dan favoritkan novel ini jika kalian menyukai cerita yang unik dan Bukan Mimpi Basah Author!😁


.................................................................................