Systemverse

Systemverse
Bab 15. Serigala penyendiri vs penjaga lantai pertama



"Vanessa? apa yang kau lakukan di avatar Yudistira?" tanya Otto sambil menggaruk kepalanya dan menepuk bajunya. Dia merasa mual mengingat kejadian barusan.


"Pak Yudistira sedang menghadiri rapat, aku menggantikannya karena ingin melihat kota Magnumlia."


Vanessa kecewa ketika melihat kota Magnumlia secara langsung, kota itu sama sekali tidak mirip dengan Magnumlia asli.


Hal itu bertentangan dengan Otto yang mengklaim bahwa kota itu sangat mirip dengan aslinya.


Vanessa pun menunjukkan bukti ketidakmiripan tempat itu dengan tempat asal mereka. Yang paling mencolok adalah 3 pilar yang berdiri di tepi kota.


Entah apa maksud dari pilar itu, Otto berusaha menghancurkan pilar itu namun usahanya terus menerus menemui kegagalan.


2 jam kemudian Yuda kembali dari meeting. Pekerjaannya sangat mudah, hanya sekedar menyerahkan blueprint dari alat baru yang ia ciptakan lalu mempresentasikannya.


Kendali avatar kembali ke tangan Yuda. Terlihat Otto dan yang lainnya masih sibuk di kota penuh apartemen itu.


"Katakan apa yang harus kami lakukan?" ucap Yuda ke Sistem.


Karena kasihan sistem pun memberitahu mereka letak ruangan rahasia di kota tersebut.


Ruangan itu ada di dekat gerbang masuk kota. Kota Magnumlia dikelilingi oleh tembok tinggi dan hanya ada satu jalan keluar dan masuk, namun sejak Otto mengambil alih pemerintahan 3 jalan keluar lain dibuat untuk mempermudah akses jalan.


Berdasarkan geografis-nya, kota Magnumlia yang muncul di Systemverse adalah versi sebelum Otto menghabisi walikota.


Ruangan tersembunyi itu berada di dalam kantor penjaga gerbang yang sebelumnya hanya ada satu.


Yuda dan Otto memasuki ruangan itu, tidak lama kemudian hujan deras turun, para wanita pun bergegas meneduhkan diri.


Mereka berdesak desakan mencari petunjuk. Kallen yang bosan bertukar kepribadian dengan alter egonya.


"Minggir kalian! Beri aku ruang untuk melakukan tebasan jiwa!" Ucap Kallen.


Yuda dan yang lain pergi ke luar, sedangkan Kallen menebas ke arah yang berbeda.


Yuda menyadari kemunculan segitiga Sistem Lone Wolf setiap dia melakukan tebasan. Kali ini tebasannya bernama Soul Cleave. Teknik tebasan dengan energi spiritual terkuat yang tak hanya menghancurkan tubuh tetapi juga jiwa setia benda yang terkena tebasan.


Dalam hal ini Kallen menebas benda benda di ruangan itu dengan satu ayunan lambat. Semakin lambat tebasannya semakin besar luas serangan dalam jarak pendeknya, tapi kekuatannya menjadi kecil.


Yuda dan Sabela melompat ke depan teman temannya, melindungi mereka dari hantaman tembok yang hancur.


Kallen berhasil menemukan petunjuk itu yang berupa sebuah tape video berisi rekaman saat Otto menyerang Magnumlia.


"Apa maksud rekaman ini?" Tanya Otto keheranan.


Asap mengepul di dekat lampu ruangan, sesosok anak kambing mirip manusia terbang melayang seperti hantu, suaranya lembut membuatnya kurang menakutkan terlepas dari kemunculannya yang misterius.


Kambing itu memperkenalkan dirinya. "Saya adalah Sistem Pemandu dari alam semesta Black String. Anda sudah menemukan pecahan ingatan dari User System Otto Night, sekarang anda pun bisa menggunakan sebagian kekuatannya."


Kambing itu menunjuk Kallen.


"Nona Kallen Krylshine, sekarang anda memiliki 30 persen kekuatan Sistem Pendongeng."


Otto ternganga mendengarnya. Kallen berkata. "Lalu apa aku harus bangga? Itu sama saja dengan perbuatan pencurian karena Otto pasti tidak senang kalau aku menggunakannya."


Dengan sinis pemandu itu berkata. "Itu bukan urusan saya. Kalau mau mendaki menara ini anda harus mengikuti peraturan. Sekarang terimalah kekuatan tersebut dan lawan lah monster yang menunggu di belakang anda."


Sabela yang paling belakang bergegas menoleh.


Ada monster berbentuk kastil di belakang mereka. Monster itu sangat besar, ukuran Kallen tak sampai sebesar kuku kakinya.


Sistem pemandu menjelaskan. "Untuk melewati setiap lantai kalian harus menyelesaikan misi yang tersedia, lalu menghabisi monster abadi penjaga lantai untuk naik ke lantai berikutnya."


"Untuk mewujudkannya kalian boleh menurunkan siapa saja, mau itu sendiri, atau berkelompok, menara tidak mempermasalahkan bagaimana cara apapun yang anda pilih. Tidak ada hadiah setelah menyelesaikan misi maupun membunuh penjaga lantai, tapi akan ada hadiah bagi mereka yang berhasil naik ke lantai berikutnya."


"Kenapa kau tidak muncul dari tadi?" Tanya Otto.


"Maaf, terjadi kesalahan dalam sistemku, entah bagaimana informasi tempat ini bocor kepada salah satu peserta."


Yuda menatap tajam ke arah sistem itu, jelas sekali dia sedang digunjing oleh makhluk aneh sok tau.


Sebelum pergi Sistem pemandu berkata ke Kallen. "Skill Sistem Pendongeng hanya bisa anda gunakan saat melawan penjaga lantai, setelah naik ke lantai berikutnya kekuatan itu akan menghilang."


Dengan langkah percaya diri Kallen mendatangi monster kastil yang dirantai pada sebuah pegunungan.


Yuda menawarkan bantuan tapi seperti yang kita duga Kallen menolak semua bantuan teman temannya, dikarenakan kepribadian keduanya ini sangat sombong.


"Kita harus mengembalikan sifatnya seperti semula," ucap Yuda ke Otto.


"Aku setuju. Dia jauh lebih manis kalau pemalu."


Yuda memperhatikan punggung Kallen saat melancarkan tebasan pertama ke monster yang terbelenggu. Sikap badannya saat mengeluarkan teknik tidak terlihat seperti seorang pengguna pedang. Dia tampak hanya mengayunkan pedang tanpa bakat yang menonjol.


Belenggu gunung terbuka, Kallen menghadapi monster dengan ayunan pedang besar, serangannya dengan cepat menghancurkan pertahanan keras si monster. Meskipun gagal merealisasikan mutilasi di kepalanya Kallen berhasil menghancurkan pertahanan lengan si monster.


Batu granit besar melayang ke wajah Kallen, memaksanya menghindar dengan sekuat tenaga.


Kallen memiliki energi khusus yang disebut cakra yang tersimpan dalam tangki kekuatan Sistem-nya.


Setiap tebasan angin itu memakan 1 persen dari total 400 persen cakra yang dia miliki.


Kallen mengalami kesulitan, monster itu memperkuat tubuhnya dengan cara yang tidak diketahui, memaksa Kallen untuk mundur lebih jauh lagi.


Selain memiliki teknik tebasan yang mematikan Kallen juga punya stamina yang tinggi. Dia bisa melompat tinggi dari satu gedung ke gedung lainnya. Ia juga punya kecepatan dan kekuatan untuk mendaki medab vertikal.


Monster kastil terus mengejar tanpa tahu nyawanya berada dalam bahaya.


Saat mencapai ujung dari kota Magnumlia yang merupakan jalan buntu Kallen melepaskan kekuatan terbesarnya yang menggunakan output 50 persen dari total 400 cakranya.


Ditambah buff kesendirian kekuatan tebasan Kallen meningkat 5 kali menjadi 250 persen.


"Tebasan kuda kayu! 40 persen!!"


Tebasannya berubah jalur membentuk badan kuda kayu yang pernah dimainkan anak-anaknya.


Monster batu hancur berkeping keping hingga ke tingkat sel saat cakra berbentuk angin membelah dirinya.


Hujan batu membuat tanah berguncang meskipun begitu tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu.


Kallen kembali bosan setelah lawannya tumbang, akibatnya kepribadian baiknya pun kembali.


"Kerja bagus, diriku. Kau mengalahkannya dengan kekuatan sendiri." ucap Kallen kepada dirinya sendiri.


Kallen iseng mengaktifkan kekuatan Otto. Saat yang lain sampai Kallen sudah berganti pakaian bak seorang pendekar tiongkok. Dia memahami cara kerja hoax Otto dan mengganti pakaiannya dengan memintanya ke Sistem Pendongeng palsu.


Kallen pun mengembalikan pakaian pemberian Yuda yang sudah usang.


"Terima kasih tuan Yudistira, aku berjanji akan mencucinya kalau menemukan air." ucap Kallen dengan suara lembut yang sangat berbeda dengan alter ego nya.


"Tidak perlu repot repot, baju itu milikmu, anggap sedikit hadiah dariku."


Kallen menerimanya dan berjanji akan menjahit pakaian itu.


Otto iri pada Yuda yang mudah berbaur dengan wanita.


Tak lama mereka kemudian langit siang berubah senja. Tangga menuju ke lantai berikutnya telah muncul di hadapan mereka.


"Tangga itu mengarah ke atas padahal jelas jelas kita sedang menuju ke bawah." Ucap Kallen.


"Kau benar, sebaiknya kita berhati-hati."


Yuda naik lebih dulu disusul oleh Kallen, Kikil, Rafaela, Sabela, dan Otto.


Setelah menaiki tangga selama kurang lebih 5 menit mereka berhasil sampai di lantai berikutnya. Lantai itu mengingatkan Rafaela akan suatu kenangan buruk yang membara.


.................................................................................


Jangan jenuh dulu, saya akan menunjukkan imajinasi liar yang pastinya bukan Mimpi Basah Author di seri ini.


Seperti biasa, like, komentar, dan favoritkan novel ini jika kalian menyukai cerita yang unik dan Bukan Mimpi Basah Author!😁


.................................................................................