
•
•
•
•
Di lembaga pelatihan militer, Abdi Negara, Jawa Tengah.
Para prajurit muda yang sedang dalam pelatihan diturunkan untuk menjinakkan alien yang muncul di Sumatera.
Monster-monster itu menyeberang dari Systemverse ke dunia Yudistira dengan tujuan menemukan kelemahan dari sang pemimpin kelompok dan Sistem Kebaikan yang selama ini meresahkannya.
Arqan Kencana dan Nein, yang mendengar kemunculan monster, bergegas kembali ke rumah. Harta nomor 2, tidak ada yang lebih penting dibanding keluarga.
Dengan panik, Arqan mengetuk pintu lalu mengamankan istri dan putranya.
"Syukurlah kalian baik-baik saja. Kalian harus pergi ke tempat yang aman, pergilah ke rumah Yudistira."
Arqan membawa keluarganya yang berjumlah 12 orang ke rumah Yudistira.
Yuda berdiri di depan pintu, seakan menyambut mereka.
"Aku tidak bermaksud menyambut kalian. Bercanda! Silakan masuk, keluarga Kencana, anggap saja rumah ini seperti milikmu sendiri."
Orang tua Arqan kagum dengan kemegahan rumah Yuda. Segera Arqan membawa ibunya dengan lembut lalu pergi ke luar menghampiri Yuda yang sedang mempersiapkan Delivery Tower.
"Kita akan menghadapi monster itu dengan cepat, ayo!"
Yuda dan Chosen One teleportasi ke lokasi pembantaian.
Mayat para pejuang tanah air bergelimpangan tanpa ada celah darah di baju mereka. Pemandangan ini membuat hati Yuda hancur. Padahal baru satu jam sejak monster itu muncul.
Nostradamus tidak langsung memberitahunya soal keadaan Otto, lagipula ini gilirannya menjelajahi Systemverse (mode autopilot).
"Berhati-hatilah, jangan terlalu dekat dengan monster itu. Aku dan Sistem akan menjagamu dari jauh," ucap Nostradamus sebelum mengambil alih avatarnya.
Yuda menatap makhluk busuk berbentuk gumpalan daging yang menghabisi para tentara. Lehernya yang panjang membuatnya terlihat mirip dengan Brontosaurus versi terkutuk.
Berdasarkan analisa ingatan sistem, makhluk itu belum pernah mereka jumpai selama mendaki menara.
Monster itu menyerang dengan menghempaskan lehernya yang panjang ke tanah.
Yuda dan Arqan berhasil menghindar. Ilmu gaib baru berbasis ledakan siap diluncurkan dari tangan sang Chosen One.
"Tunggu!"
Yuda menghentikan Nein dari menghancurkan monster itu.
"Tubuh monster itu terbentuk dari zat kimia dan racun dari alam semesta lain... entah apa yang akan terjadi jika kedua hal itu tumpah ke dunia kita."
•
•
Di tempat lain, Otto sedang dilanda ketakutan yang datang secara perlahan.
Pelindung itu mulai hancur, sedangkan si monster semakin gencar menyerang.
Otto mempersiapkan diri untuk bertarung lawan, pun selimut tubuhnya bergetar ketakutan.
"Ketakutan terbesarmu terekspos dengan sangat jelas."
Untuk sesaat, Otto tidak mengenali suara itu, lalu dia menyadari adanya aliran sihir yang mirip dengan energi sistemnya.
Itu adalah aliran sihir super kuat yang berasal dari tongkat sihir berbentuk kepala rusa.
Nostradamus, sang penyihir legendaris, tampil untuk pertama kalinya dalam wujud yang begitu elegan.
Hawa eksistensinya sangat kuat sehingga si monster tidak bisa membalikkan matanya.
Nostradamus melewatinya dan menatap matanya, disaat itulah monster mengerikan itu lenyap.
Keberadaannya terhapus sepenuhnya.
Nostradamus membawa Otto kembali ke dunia nyata.
Otto syok dengan tragedi yang menimpanya. Dia yang terkenal memiliki kekuatan bagai dewa terintimidasi oleh seekor makhluk aneh. Ditambah ketidakmampuannya melayangkan satu pun pukulan membuat harga dirinya makin terinjak injak.
Nostradamus kembali ke bentuk astral, kemudian memotivasi Otto yang terluka secara mental.
"Sudahlah, Otto Night. Kekalahanmu adalah bukti bahwa kau terlalu berlebihan. Orang sekuat dirimu bisa kalah karena kau terlalu berlebihan dalam melemahkan musuh."
"Lain kali, saat berhadapan dengan musuh yang kuat, cobalah tetap tenang dan tunjukkan rasa hormat. Itu lebih layak dilakukan daripada memprovokasi musuh sehingga dia mengeluarkan seluruh kekuatannya saat melawanmu."
Otto mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh Nostradamus dengan saksama. Otto sempat melihat pupil berwarna pelangi milik Nostradamus saat dalam mode penyihir legendaris.
Pupil adalah struktur mata, dan Nostradamus menghancurkan lawan dengan tatapannya. Itu berarti matanya yang mematikan adalah senjata Otto untuk mengalahkan makhluk-makhluk yang tidak bisa dia lawan.
"(matanya sangat berbahaya! Aku harus menghindari pandangannya!!)"
Nostradamus melanjutkan pembicaraannya dengan sistem Otto.
"Pendongeng... berhenti memperkuat emosi negatif di dalam dirinya. Kau terlalu sering memperkuat dia dengan cara mempertegas emosinya. Metode ini mungkin praktis, tetapi lama kelamaan akan merusak mentalnya."
Sistem pendongeng mengungkapkan rahasia mereka karena keinginan Otto. Intinya, masalahnya ada pada Otto yang selalu ingin tampil kuat tanpa memperhatikan tingkat bahaya yang dihadapinya.
Nostradamus bertanya, "Kenapa kau berpikir tidak ada yang lebih kuat darimu, padahal kau tahu ini bukan dunia yang kau kenali?"
Otto menjawab, "Maafkan kekanak-kanakan saya. Saya lupa bahwa tempat ini berbeda dengan dunia yang sudah saya kenal selama 20 tahun. Saya tidak akan melakukan kesalahan seperti ini lagi."
Nostradamus melanjutkan, "Jangan berkeliaran di wilayah musuh sendirian, dan jangan ragu untuk meminta bantuan kami. Kau memiliki kendali penuh atas sistemmu, yang merupakan keajaiban yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang."
Setelah mengatakan itu, Nostradamus meninggalkan pesan untuk Kallen.
Malam itu, Otto menyampaikan pesan tersebut padanya.
Ketika Otto memasuki rumah kayu dua lantai, dia menemukan teman-temannya sedang bermain-main di ruang tamu. Mereka tidak pernah khawatir tentang Otto karena dia selalu tampil percaya diri dan penuh semangat.
"Hari ini, kau pulang lebih cepat dari biasanya. Apa kau lelah setelah petualanganmu?" Rafaela bertanya dengan candaan.
Kekhawatiran itu muncul dalam candaan Rafaela.
"Ada beberapa hal yang terjadi, tetapi sekarang sudah tidak masalah."
Tiba-tiba, Dkavia melompat ke depannya dan menatap satu titik di bawah mata Otto.
Titik itu adalah kerutan di bawah matanya.
"Apa yang terjadi, Tuan Malam? Kau... terlihat kurang sehat..." ucap Dkavia sembari menunjuk ke arah matanya.
Otto mencoba menghindari mereka, berusaha untuk langsung pergi ke kamarnya, tetapi Sabela memasang perangkapnya.
Otto pun menceritakan kejadian yang dialaminya sambil menyeruput teh yang dibuat oleh Rafaela.
Tentang dimensi lain, monster asap, ilusi, dan kedatangan Nostradamus.
Ego tinggi Otto membuatnya sulit untuk menceritakan kejadian sebenarnya kepada teman-temannya, sehingga dia memilih untuk berbohong.
"Setelah mengalahkan monster itu, saya masih terjebak. Saat itulah Nostradamus datang dan membawa saya keluar."
Otto tidak ingin terlihat lemah di mata para wanita. Dia berbohong sedikit, berpikir bahwa itu tidak akan berpengaruh.
Setelah menyelamatkan harga dirinya, Otto menyampaikan pesan Nostradamus kepada Kallen.
"Mulai saat ini, hingga pertemuan kita nanti, jangan berhenti mengayunkan pedang, kecuali kau lapar atau pingsan."
Setelah menyampaikan pesan itu, Otto pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
Di Jambi, kekacauan hebat melanda. Dalam waktu 2 jam, ratusan monster muncul dari dalam tanah.
Bentuk dan ukuran mereka bervariasi, yang paling kuat adalah makhluk manusia setengah tengkorak yang memiliki 200 tangan.
Di setiap tangannya, terdapat pedang dan perisai, memungkinkan mereka untuk menyerang dan bertahan secara bersamaan.
Sebagian besar monster yang muncul setelah monster leher panjang (monster yang pertama kali ditemui Yuda dan Arqan) tidak membunuh manusia dengan menghancurkan tubuh fisiknya, tetapi membuat mereka tertidur pulas, bahkan jika terluka parah.
Ribuan personel militer diturunkan untuk mengatasi populasi monster yang semakin bertambah dan tidak diketahui asal-usulnya.
Yuda memantau situasi dari atas bangunan toko, mendengarkan keributan yang mengganggunya dan merasa muak setiap kali dia melihat masalah ini. Semua ini mengingatkannya pada Main Quest ke-4, mengendalikan tornado, sembilan tahun yang lalu.
"Sekarang, kekuatanku bukan lagi bagian dari rencana kebaikan sistem yang selalu melindungiku dari bahaya. Sekarang aku adalah pengguna sistem yang mandiri, tidak bergantung pada agen atau operator sistem, atau apapun itu."
Yuda membuka buku imajinasinya dan menciptakan karakter fiksi baru bernama Emily.
Empat karakter baru yang diciptakan oleh Yuda sangat kuat, masing-masing dengan kelas yang berbeda dan tanpa kelemahan yang signifikan. Kelompok ini diberi nama TOV (The Original Vein).
"Jika Otto yang terkena kutukan, apa yang terjadi pada Sabela?"
[ "Mulut The Destroyer tidak bisa dipercaya. Dia mengatakan Sabela yang terkena, tapi kenyataannya justru Otto. Sepertinya Otto akan baik-baik saja ke depannya, tetapi kita tidak tahu apa yang terjadi pada Sabela." ]
Anggota pertama TOV adalah seekor beruang Grizzly kecil bernama Bamboo. Emily menyelamatkannya ketika ia sedang diburu oleh pemburu. Setelah diselamatkan, ukurannya berubah menjadi lebih kecil setelah Emily memasukkan pohon penyembuh ke kulitnya.
Kemampuan Bamboo tidak jauh berbeda dengan beruang asli, tetapi ia memiliki kecepatan regenerasi yang luar biasa. Bamboo juga dikenal sebagai seorang omnivora.
Anggota kedua adalah rival dalam cerita Emily, seorang ksatria perempuan yang mahir dalam menggunakan tombak dan halberd. Dia juga memiliki pengetahuan luas tentang alkemi dan ilmu pengetahuan.
Anggota ketiga, Ryujiro, memiliki sihir darah yang sangat kuat.
Di bawah kepemimpinan Emily, mereka menjadi sebuah party fantasi dalam dunia nyata yang tidak dapat dikalahkan.
"Bukankah ini sangat menghibur? Melihat karakter fantasi beraksi di dunia nyata, bukan sebaliknya..."
"...aku benci anime dengan genre isekai."
Party TOV bekerja sama dengan militer dan duo Arqan dan Nein.
"Lagi-lagi, Yudistira menciptakan sesuatu yang aneh. Saya tidak punya pilihan selain untuk mempercayainya, tetapi apakah kepercayaan ini bisa diturunkan kepada mereka?"
.................................................................................
Jangan jenuh dulu, saya akan menunjukkan imajinasi liar yang pastinya bukan Mimpi Basah Author di seri ini.
Seperti biasa, like, komentar, dan favoritkan novel ini jika kalian menyukai cerita yang unik dan Bukan Mimpi Basah Author!😁
.................................................................................