Systemverse

Systemverse
Bab 27. Teror di dunia parallel



Karena lelah, Yuda mengutus Homunculus untuk menggantikannya merekrut anggota.


Berbeda dengan dewa pembohong yang punya stamina tak terbatas, Yuda hanya manusia biasa; dia tak berdaya tanpa keajaiban dari sistem.


[ Melelahkan, bukan? Selelah itulah aku ketika menjadi agenmu. ]


"Apa kau sedang curhat, Nostradamus? Aku akan mendengarkan."


[ Suara hatiku sudah terlampiaskan sepenuhnya, jangan khawatir. ]


Obrolan mereka semakin membosankan saat Nostradamus membahas rentetan masalah sepele yang menimpa dirinya hari ini.


Sabela, Rafaela, Kikil, dan Kallen berada di atap yang sama. Mereka sedang membahas rencana susunan organisasi untuk kelompok baru mereka.


"Otto cukup bisa diandalkan, kalau Dkavia, dia ingin terlihat berguna. Menurutku, mereka cocok untuk tugas lapangan tersebut," ucap Sabela yang mulai akrab dengan Kallen dan yang lainnya.


"Sebelum ujian, kita dilarang berkelahi. Dkavia berkata pasti aman di luar sana." Kallen menepuk pundak Rafaela yang tampak khawatir.


Mereka menghabiskan waktu kurang lebih 3 jam hanya untuk membuat susunan organisasi yang sesuai dengan keinginan mereka.


Hasil akhirnya terbentuk susunan organisasi yang terinspirasi dari susunan organisasi yang dibentuk Kallen di masa lalu.


Setelah itu, mereka mendatangi kamar Yuda untuk menunjukkan gambar struktur organisasi.


Stamina Yuda kembali pulih setelah diobati oleh Emily. Berikutnya, dia memanggil 3 agen lapangan. Dari mereka bertiga, hanya Homunculus dan Dkavia yang kembali.


Homunculus berhasil merangkul 500 orang tanpa menjanjikan sesuatu seperti Nostradamus, sedangkan Dkavia lebih sedikit, 99 orang berhasil dia rangkul tanpa menjanjikan apapun.


"Kalian berdua sudah bekerja keras, terutama kau, Dkavia."


Dkavia merasa kecil karena jumlah yang dia temukan jauh lebih sedikit dari Noir Homunculus. Lalu Yuda memberitahunya tentang Noir Homunculus, seketika Dkavia tercengang.


Noir Homunculus membuat para wanita penasaran. Fisiknya yang sempurna, wajahnya yang tampan, serta aura positif dan intimidasi membuat mereka tak bisa melepaskan pandangan dari Homunculus itu. Rasa kagum dan takut bercampur aduk ketika menatap mata sang Homunculus.


Noir Homunculus menepis tangan Kikil. Kikil tertawa geli, menyadari Homunculus mengetahui niat usilnya.


"Ayo kirim boneka ini ke kelompok lain, sebagai mata-mata, atau sebagai bom hidup!"


Kepala Kikil selalu dipenuhi ide-ide gila yang wajar dimiliki anak seumurannya.


"Kembalilah ke tempatmu, Noir, terima kasih." N Homun dikembalikan ke dalam saku, Yuda selalu takut menggunakan monster itu untuk waktu yang lama.


"Mari kita bahas ujian lantai 5," ucap Yuda sembari melirik ke arah Sabela.


"Kami sudah membahasnya selama satu jam," Sela Kikil dengan nada malas.


"Lalu, apa hasil diskusi kalian?"


"Kami sepakat untuk menunggu giliran tengah sampai terakhir."


Maksud Kikil dapat dipahami dengan mengetahui bocoran teknis ujian lantai 5. Setiap kelompok akan mendapat giliran bermain yang berbeda tergantung jumlah anggota mereka.


Kelompok dengan jumlah anggota genap 1000 akan dipanggil terakhir, sedangkan yang jumlahnya di atas 1000 akan dipanggil pertama. Tentu saja ada keuntungan menjadi yang pertama; ketua kelompok bisa memilih permainan apa yang ingin dimainkan.


Alasan Sabela, Kallen, Rafaela, dan Kikil, tidak ingin menjadi yang pertama karena mereka takut Sistem Pemandu bersikap tidak adil, alias dijadikan tumbal testimoni.


Setelah menggaruk kepalanya dengan kuat, akhirnya dia mengikuti keinginan para wanita.


Saat sore menjelang malam, Yuda kembali menemui Sabela yang kala itu bersiap untuk tidur setelah mandi.


"Tunggu sebentar, Sabela!"


"Kenapa lagi?"


"Ini masih berhubungan dengan pertanyaanku waktu itu. Saat di ujung jurang keputusasaan, aku bertemu dengan The Destroyer, dialah guardian dari tempat ini. Dia menuduhmu terkena kutukan yang akan membuatmu gila, jadi aku ingin mematikannya secara langsung." Terang Yuda dengan tegas.


"Caranya?" Tanya Sabela dengan wajah datar.


Mereka pergi ke dunia dalam lembar buku imajinasi. Sekali lagi Sabela takjub dengan kemampuan Yuda.


"Kau punya banyak kemampuan menakjubkan, sangat berbeda dengan pengguna sistem lemah di luar sana." Kata Sabela sambil sedikit menunjukkan ekspresi kagum.


"Terima kasih, semua ini berasal dari sistem kebaikan. Nah sekarang, izinkan aku memeriksa tubuhmu,"


Sabela merentangkan tangan lalu merebahkan diri di atas bantalan empuk yang sudah disediakan.


"Tidak perlu buka baju," Tegas Yuda.


Pemeriksaan itu diinstruksikan oleh Nostradamus. Sementara Yuda menghabiskan waktu memeriksa Sabela, terjadi sesuatu pada Otto.


Tanpa sengaja dia menemukan struktur aneh berbentuk kepala wanita terkubur di dalam batang pohon besar.


Otto yang penasaran akhirnya menyentuh patung itu, reaksi tidak terjadi membuatnya menyesal telah menyentuh patung yang ternyata menyimpan energi penghancur di dalamnya.


Tubuh Otto berubah menjadi partikel cahaya. Setelah tubuhnya hilang sepenuhnya, jiwanya diteleportasi ke alam yang berbeda tetapi masih sejalan dengan dunia Systemverse.


"Sial, apa yang barusan menimpaku?"


Otto menepuk debu di bajunya, lalu menyelidiki tempat baru yang didominasi pasir berwarna abu-abu. Tempat itu sangat suram dan hampir tidak ada suara selain dengungan yang semakin lama semakin sukar didengar telinga.


Sesosok monster melayang dengan tubuh berbentuk garis menghampiri Otto yang kebingungan.


Kesamaan warna dominan si monster membuatnya terlihat seperti penguasa tempat itu.


"Beri aku semua informasi mengenai tempat ini, atau kau akan mati."


Satu kata pun tak keluar dari mulutnya yang entah berada di mana.


Otto melempar pedang api monster tersebut.


Namun dia seperti material non-organik yang mampu mengubah dirinya menjadi kabut atau gas, atau sesuatu yang lebih ekstrem seperti hantu. Kemampuan itulah yang membuat Otto makin kesulitan menghadapi sang monster.


"Sistem, jangan bilang kau perlu waktu beradaptasi?" Tanya Otto dengan raut muka cemas.


Otto menghela nafas panjang saat monster itu menggerakkan tangan tangannya yang panjang dan berbulu.


"Kalau seperti ini keadaannya, terpaksa aku mengeluarkan dia."


"Mohon bantuannya, LYRA!!!!"


Lyra merupakan malaikat hitam ketiga setelah Rohan Blazeheart si prajurit api, dan sebelum Edward si perempat botol ramuan.


Astrid si pengguna elemen petir juga dikeluarkan. Kini lengkap sudah keempat malaikat hitam milik Otto.


(1) Astrid, sang penguasa petir.


(2) Rohan Blazeheart, sang ksatria api.


(3) Lyra, sang penyihir putih tunggal.


(4) Edward, sang alkemis gila.


Otto menyadari ada satu cara untuk memusnahkan monster seperti itu, yaitu menyerangnya dengan kekuatan yang lebih besar!


Lyra mengayunkan tongkat sihirnya, melepaskan output kekuatan sesungguhnya dari dewa Otto. Dalam sekejap dunia itu runtuh.


Otto berhasil keluar dari dunia itu. Sungguh, tadi itu sangat nyaris, nyaris merenggut nyawanya.


Monster itu berhenti mengejarinya, tampaknya dia tidak bisa meninggalkan dunia kegelapan itu. Dia hanya berkuasa di dalam sana.


Para malaikat hitam kembali ke tulang belakang Otto.


"Dimana Yudistira!!!!"


Kallen terbentur pintu yang didorong Otto. Ingin memukul tapi dia sedang malas.


"Tidak tahu, sudah dari sejam yang lalu aku tidak melihatnya." Sahut Kallen.


Otto pun menceritakan kejadian barusan pada Kallen. Namun reaksi Kallen sangat skeptis. Menurutnya Otto hanya berkhayal atau mungkin sedang mabuk.


Sikap sinis Kallen membuat Otto kecewa. Dia pergi untuk memberitahu yang lain, tapi sikap mereka tetap sama. Otto seperti tidak dianggap oleh teman-temannya.


Tidak berapa lama kemudian, sistem pendongeng menyadari keanehan pada dunia itu.


Tidak terdapat jejak energi sistem pendongeng.


Sistem pendongeng menyelimuti Otto dengan tabir anti kebohongan.


"Anda diselimuti tabir indera dewa."


"Sifat asli dunia ini akan terlihat di panca indera anda."


Ternyata Otto belum keluar dari pengaruh monster garis yang menguasai dimensi abu-abu.


Teman-teman yang dia temui hanya ilusi yang berakal dari keinginan Otto untuk segera bertemu dengan teman-temannya.


Monster itu berbicara dari tempat yang tidak diketahui. "Segitu besarnya rundumu pada teman-temanmu sampai karakter mereka bisa kutiru dengan sangat mudah. Dasar pria cengeng."


Otto mengeluarkan Lyra lagi, kali ini Lyra menghancurkan bumi yang dipijak Otto. Lyra menggali sedalam yang bisa, tetapi hanya lapisan tanah lain yang dia temukan.


"Sudah cukup, Lyra. Mari kita tanyakan keinginannya." Tegur Otto.


"Apa yang kau inginkan, brengsek?"


Monster itu menjawab dengan marah. "Kewarasanmu. Kutukan The Destroyer telah jatuh kepadamu. Sekarang kau akan mati tanpa meninggalkan kenangan!!"


"Mati? Sekarang? Aku tidak percaya."


Geram dengan tingkat Otto yang sok berani, sang monster pun menyerang. Namun seperti yang diharapkan, Sistem Kebaikan senantiasa melindungi bawahannya.


Pelindung pemberian Sistem Kebaikan dapat diaktifkan jika muncul bahaya yang tidak bisa diatasi monster melayang itu.


"Monster ini berada di luar jangkauanku. Aku yakin itu. Karena itulah aku tidak bisa menyerangnya." Gumam Otto.


Monster itu memecut tangannya dengan brutal, sekeras apapun dia berusaha, perisai Otto tidak tergores sedikitpun.


Kembali ke dunia nyata.


Yuda selesai memeriksa tubuh Sabela. Tidak ditemukan keanehan maupun kontaminasi dalam tubuhnya. Sabela bersih.


"Apa The Destroyer menipuku? Apa aku terlihat seperti orang yang mudah ditipu?"


Pertanyaan kedua dijawab Sabela dengan anggukan. Sabela bangkit dari tempat tidur lalu menarik tangan Yuda.


"Karena aku sudah mengabulkan satu permintaanmu, kau pun harus mengabulkan satu permintaanku."


"(Aku punya firasat buruk soal ini) Itu pertukaran yang adil, sebutkan keinginanmu,"


"Aku mau menemui Nostradamus lagi."


Nostradamus pun berjanji akan menemui Sabela setelah melewati lantai 10. Sabela memegang janjinya lalu pergi ke kamarnya.


Sabela tidak terkena kutukan, yang paling masuk akal The Destroyer menipunya. Yuda mencoba berpikir kritis, bisa saja The Destroyer menaruh kutukan itu pada temannya yang lain.


Saat Yuda berpikir seperti itu, muncul monster di dunia nyata. Tepatnya di daerah Jambi dan sekitarnya.


Anomali itu membuatnya menggaruk kepala dengan kuat.


.................................................................................


Jangan jenuh dulu, saya akan menunjukkan imajinasi liar yang pastinya bukan Mimpi Basah Author di seri ini.


Seperti biasa, like, komentar, dan favoritkan novel ini jika kalian menyukai cerita yang unik dan Bukan Mimpi Basah Author!😁


.................................................................................