
Kejadian sebelumnya...
Ia terdiam. "Saya melihat ada seorang ras Vilhgasth'anhm bersama anda."
Aku mengernyit. "Lalu?"
"Aku hanya ingin mengatakan, kalau gadis itu.. Berbahaya."
Kernyitanku semakin dalam. "Apa perkataan mu sebelumnya ada hubungannya dengan yang barusan?"
Ia tak menjawab, masih menunduk seperti sebelumnya. "Maaf lancang karena telah berbicara kepada ras suci di tempat kotor seperti ini." ujarnya tanpa menjawab perkataanku. "Tapi, ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan kepada anda..."
Aku menatapnya lekat, tanpa mengalihkan pandanganku sama sekali. "Perempuan dari ras Vilhgasth'anhm itu, pernah membunuh seseorang."
Aku terperangah mendengarnya, tubuhku seketika mematung di tempat dan tak dapat mengeluarkan perkataan apapun. Lelaki ini menundukkan kepalanya lagi lalu beranjak. "Kalau begitu, saya permisi." ucapnya.
.........
Selepas pulang dari makan siang bersama Perempuan gila dan pak Saipul, aku meminta untuk pindah ke kamarku sebelumnya. Pasalnya aku tak mau di ganggu oleh perempuan gila itu di kamar baru, karena masih belum ada pintu.
Tok Tok Tok...
Ia mengetuk kamarku sejak tadi, padahal sudah ku katakan berulang kali kalau aku mau sendiri.
"Tuan bocil, mau pintunya gue robohin lagi?" tanyanya dari balik pintu.
"Aku mau tidur, enyah lah dari depan kamarku!!" pekikku.
"Gak bisa!! Gue harus mantau elu terus, seenggaknya kita harus bersama. Gue gak mau makan gaji buta."
Aku mendengkus, berjalan mendekat ke pintu. "Tolong lah.. Biarin aku sendirian satu jam aja. Abis itu terserah deh!!" balasku lemas, soalnya perempuan ini gigih sekali.
"Satu jam?? Oke!"
Aku terdiam, ketika suara hening seketika. Dia sudah pergi kah? Aku menempelkan telingaku ke daun pintu, memastikan kalau dia memang sudah tak ada di situ.
Braaak!!
Suara geprakan pintu membuatku melompat. Gila saja!! Kotoran telingaku rasanya langsung tercongkel keluar, aku menutup telinga sambil menatap pintu dengan sadis.
"Gue tau lu nguping disitu!!" ledeknya.
"Enyah lah kau dari muka bumi!!" pekikku, diiringi suara tertawaannya yang semakin menjauh.
Aku menghela napas panjang. Ada ya manusia model dia? Aneh, egois, dan antipati.
Aku menggelengkan kepalaku, duduk memeluk lutut sambil menatap jendela yang sudah selesai di perbaiki. Tempat itu, adalah terakhir kalinya aku melihat bibi.
Aku mengepalkan tanganku dengan kuat. Aku tak terima kalau bibi mati dengan cara seperti itu. Tapi, aku harus percaya atau tidak dengan kata-kata si pria dari ras Gasth'anhm itu?
Kalau benar keluargaku membunuh bibi, kenapa bisa sampai seperti itu? Sebesar itu kah kesalahannya sampai-sampai harus di bunuh? Atau.. Memang ada hal besar yang di sembunyikan oleh keluargaku??
Menanyakan kebenarannya dengan keluargaku, tak akan mungkin bisa dilakukan. Apalagi mengajukan protes, kalau aku lakukan itu, sama saja dengan bunuh diri. Aku bisa ketahuan keluarga dan juga ras Dicth'anhm kalau mengunjungi kediaman ras Gasth'anhm. Aku bisa di hukum berat, dan lagi.. Aku pasti menyeret dua pekerjaku, perempuan gila dan pak Saipul. Aku tak ingin menambah masalah lebih dari ini.
Tapi kalau tak diselidiki, aku tak akan tau kebenarannya. Dan aku tak boleh sebodoh itu percaya dengan ucapan si pria dari keluarga Vilhgasth'anhm.
Aku meringis, menggigit ujung jempolku sendiri. Tapi, tunggu dulu...
"Maaf, apakah bibi mengalami kecelakaan?" tanyaku cepat, sambil menatap si ibu yang hanya menunduk lesu.
"Tidak tuan, bi Narti.. Meninggal karena sakit. Cuma itu yang saya tau, selebihnya saya tak tahu, karena saya bukan dari keluarganya sendiri."
Waktu itu, si ibu-ibu bilang dia tak tahu yang sebenarnya terjadi, karena bukan dari anggota keluarga bibi, dalam artian.. Ibu itu tidak berasal dari kepala keluarga Vilhgasth'anhm yang sama seperti bibi.
Aku tak tahu ruang lingkup keluarga Gasth'anhm apakah sekecil ras Dicth'anhm. Karena keluarga kesdicth'anhm, hanya ada beberapa orang kepala keluarga.
Tapi, yang ku tahu.. perempuan gila itu berasal dari keluarga Vilhgasth'anhm sama seperti pria yang memberitahukan ku mengenai hal ini.
Apakah jangan-jangan, si pria yang bertemu denganku tadi..
Adalah anak yang di bicarakan bibi??
Soalnya kalau perempuan gila itu tidak mungkin. Dan lagi, pria itu tau mengenai hal yang seprivasi itu. Dia tau, kalau bibi di bunuh oleh keluargaku, dimana itu masuk akal.. Karena bibi, tidak punya riwayat penyakit berbahaya. Jadi bisa disimpulkan, bisa jadi pria itu mengatakan hal yang sebenarnya.
Lalu, dia tau mengenai perempuan gila yang berbahaya karena pernah membunuh seseorang. Masuk akal dia tau, karena ras dan keluarga mereka sama. Dalam artian, itu bukan rahasia umum dalam keluarga, meskipun tidak dalam kepala keluarga yang sama.
Yang jadi pertanyaannya, siapa sih yang di bunuh oleh perempuan gila itu?? Kenapa pria itu seolah bertanggungjawab untuk mengingatkan ku??
Perempuan ini memutar bola matanya. "Halah, ngapain sedih?? Bukannya yang bikin ini semua terjadi, elu ya?" Aku langsung mengeratkan gigi sambil menatap tajam ke arahnya. "Kenapa muka lu itu? Bener kan?? Kalau elu gak minta bibi melanggar aturan etika, mungkin sekarang lu masih ketawa-ketawi sama dia."
Aku mengepalkan tanganku dengan kuat. Menyadari bahasa tubuhku, pak Saipul langsung panik. "Oi, Dit!! Jangan ngomong begitu! Lagian lu sendiri juga tadi gak ikut turun. Gak berempati itu namanya!!"
Iya ya, saking paniknya waktu itu.. Aku langsung turun dari mobil tanpa melihat keadaan sekitar. Aku jadi tidak menyadari kalau saat itu...
Perempuan gila tidak turun dari mobil dan menemaniku. Padahal sebelumnya, ke toilet di restoran pun ia mau ikut. Karena seharusnya, pekerja harus selalu bersama tuannya apapun yang terjadi.
Ia masih tersenyum, dan kali ini senyumnya sedikit menyeringai dan menyeramkan. "Hm, ngapain ya?? Kayaknya, mama elu lagi nyariin tukang gebuk buat gantiin bibi gendut gak tau diri yang sering sama-sama elu."
Waktu pertama kali datang ke rumah pun, dia berniat untuk mengganti posisi bibi, dan mengatai bibi tidak tau diri. Dia seolah punya dendam pribadi tertentu dengan bi Narti.
Atau jangan-jangan, pembunuh bibi adalah...
.........
Aku membuka lemari, melirik isinya dengan teliti. Ku perhatikan satu persatu bajuku yang tergantung, lalu menggeser baju yang tak perlu.
Mataku membulat, ketika berhasil menemukan pakaian yang ku cari. Aku langsung mengambilnya dan menutup lemari, mengenakan baju tersebut sambil melihat diriku di depan cermin.
Aku menghela napas panjang, sambil mengambil sebuah pisau yang biasa ku gunakan untuk memotong daging steak.
Aku berjalan perlahan, mengambil kunci kamar dimana perempuan itu tinggal. Tentu saja aku memiliki kuncinya, karena kamar yang ia tempati sekarang adalah kamar milik bibi.
Aku masuk terlebih dulu ke kamarnya, sebelum ia datang. Tentunya setelah mengamati situasi yang ada. Aku bersembunyi di bawah tempat tidur, menunggu waktu yang tepat untuk keluar.
Pintu kamar terbuka, diiringi langkah kaki seorang wanita. Aku hanya diam dan mengamati, beberapa saat setelahnya lampu dimatikan.
Pandanganku jadi terbatas, tapi aku bisa mendengar suara dipan yang berderit. Ia naik ke atas tempat tidurnya. Tak lama berselang, aku mendengar suara tulang-tulang sendi yang di renggangkan.
Aku meringis sambil melirik ke atas, tak lama kemudian ada sesuatu yang ia lemparkan dari atas sana. Aku menilik dengan teliti, ketika melihat baju-baju yang tergeletak sembarangan di lantai. Gawat!! Jangan-jangan dia tak pakai baju?? Aku kan jadi malu kalau tiba-tiba menyelinap dan melihatnya seperti itu.
Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara tubuh yang terhempas ke atas kasur. Sepertinya dia sudah mulai tidur.
"Gue ada disini atas kesalahan gue sendiri. Sekarang gue berharap bisa menebusnya." gumamnya.
Aku terkesiap, apa maksud ucapannya itu?? Dia ada di sini atas kesalahannya?? Ia bergumam sendiri kan?? Berarti apa yang ku duga benar, kalau dia...
"Memang pembunuh bibi!!" gumamku sambil mengangkat kepala, dan tanpa sadar aku merenggangkan tubuh, membuat kakiku menyentuh sesuatu.
Krieeet....
Aku menutup mataku. Mati aku!! Aku menimbulkan bunyi yang mungkin membuat perempuan gila ini curiga.
Aku sudah bisa melihat di kegelapan karena terbiasa. Aku melihat sepasang kaki turun dan berjalan perlahan menuju jendela kamar.
Beberapa saat ia datang dan kembali ke kasurnya. Aku menyengir, sambil melirik kilauan pisau yang ku genggam. "Sudah saatnya... Aku membunuh orang ini." gumamku.
.........
"Kenapa tuan mau ngebunuh gue?" tanya perempuan yang sedang menduduki tubuhku.
Aku meringis, kesulitan bernapas menahan tubuhnya yang berat di punggungku. "Aku gak terima, karena apa yang telah kamu lakukan itu!!"
Ia terdiam dan menatapku. "Emangnya gue ngapain?" tanyanya lagi.
Aku langsung beranjak kala ia melemah, ku dorong tubuhnya dengan kuat hingga terpental menghantam dinding. "Karena kamu..." nafasku tersengal, menatapnya dengan penuh amarah.
"Telah membunuh bibi!!"
Perempuan ini tersentak, kedua alisnya terangkat tinggi dan matanya terbelalak. Ia seolah tak menyangka kalau aku akan mengatakan hal ini. Atau justru ia tak menyangka, kalau aku mengetahui hal ini.
"Kenapa tuan bisa ngomong kayak gitu?" tanyanya pelan.
Aku mengepalkan tanganku dengan kuat. "Karena anak bibi sendiri yang mengatakannya padaku."
Ia semakin terkejut. "Anak bibi?? Seorang lelaki?" tanyanya, memastikan. Berarti dugaan ku benar, kalau pria itu memang anak bibi.
"Kenapa kamu menanyakan hal itu? Karena tak percaya kalau saksi kunci bisa memberitahukan itu padaku?" balasku.
Ia terdiam dan menatap sendu. "Iya, emang gue yang udah ngebunuh bibi." kini ia memiringkan kepalanya, menatapku dengan tatapan kosong dan menyeringai. "Emangnya kenapa?" lanjutnya, membuat suhu tubuhku terasa panas saking emosinya.
Bersambung...