SURO

SURO
Suro Terancam



Aku melemparkan bola jelly bercahaya yang bisa menempel ke atas langit-langit kamarku, membiarkannya jatuh dan menangkapnya dengan cepat.


Aku yang sedang berbaring di atas tempat tidur tak bisa terlelap meskipun lampu penerangan kamar sudah di matikan. Aku masih penasaran mengenai alat penyadap yang di temukan pak Saipul dan pekerja yang lain.


Mungkin saja mereka tak tau itu milik siapa dan berasal darimana. Tapi, sebagai ras Dicth'anhm, aku paham betul kalau kami lah pemiliknya. Itu, mirip seperti kepunyaan ku. Dan... Yang memiliki darah Dicth'anhm di rumah ini hanyalah aku, Danniel, mama dan papa. Lalu, siapa yang paling masuk akal untuk meletakkan semua benda di sana adalah Danniel. Pertanyaan, kenapa dia melakukannya??


Apa dia ingin mengetahui rahasia yang lebih dari rumah ini, atau.. Ada maksud lainnya?? Kira-kira apa ya yang di sampaikan Dita dan pak Saipul pada Mama mengenai alat penyadap itu?? Dan lagi, pasti rekaman suaranya di perdengarkan di alat scan.


Lalu, kenapa baru sekarang alat penyadap itu di temukan?? Apakah memang baru di pasang?


"Ku telpon Dita saja, ah." gumamku sambil memeriksa nomornya di ponselku. Tanpa ku simpan, biasanya para pengabdi akan mengirimkan pesan berupa Curriculum Vitae pada kami.


Aku mencarinya, dan menemukan pesannya di tumpukkan pesan paling bawah, dan belum ku buka sama sekali.


Aku langsung menekan nomor Dita dan menempelkan ponsel di telingaku.


"Halo? Siapa ini?" tanya sebuah suara serak, seperti orang yang sedang ngelindur.


"Ck! Kamu tak simpan nomorku ya?! Kurang ajar sekali!!" keluhku, membuat Dita terdiam sesaat lalu berteriak kaget.


"Oi!! Anak monyet!! Aduh, nyawa gue belum kekumpul. Ngapain nelpon tengah malam ah!! Gangguin orang tidur tolol!!" bentaknya hingga membuatku meringis dan menjauhkan ponsel dari telingaku.


"Dasar orang gila!! Kupingku berdengung bodoh!! Aku menelepon karena ada yang penting, kalau tidak penting kenapa aku harus menelepon mu tengah malam begini!!" balasku, ikut marah-marah padanya.


"Yaudah kasih tau, ah! Gue ngantuk!!" gerutunya.


"Tadi masalah alat penyadap, kabarnya gimana?" tanyaku penasaran.


"Hah? Apa itu? Penyedap?? Gue gak pengen makan."


"PENYADAP!!!" pekikku kesal.


"Aish, telingaku!!" keluhnya. "Oh, gak tau deh gue. Tadi udah di kasih tau sama ibu peri, dia minta Danniel buat ngelacak benda itu, terus si Danniel deh yang meriksa. Buat hasilnya, tunggu part dua."


"Tolol aaah!! Lagian ibu peri itu siapa?"


"Emakmu!! Udah deh ah, gue mau tidur dulu. Papaaay!!"


"Mamaku namanya Pearly, bukan peri.. Lagian itu jauh sekali, kenapa tak sekalian kamu bilang ikan pari saja." protesku.


"Ckckck, kalau ketahuan emak lu, gue manggilnya ikan pari gimana? Bisa kena sleding gue!! Lagian kan, bla bla bla..."


Aku meringis sambil melempar kembali ponselku ke samping ketika mendengarnya mengoceh tiada henti.


Danniel yang memeriksanya?? Sepertinya dugaanku benar, kalau memang Danniel yang meletakkan alat penyadap di sekitar rumah. Dia tau kalau papa sangat sibuk, dan mama mungkin sudah terbiasa menyuruh pak Roxi memeriksanya. Karena pak Roxi selaku orang kepercayaannya tidak ada, makanya ia lebih memilih Danniel untuk melakukannya.


Danniel berpikir kalau mama pasti akan mempercayakan pemeriksaan itu padanya, jadi besar kemungkinannya.. Danniel lah orang yang benar-benar meletakkan benda itu di rumah. Jadi dia aman, tinggal berbohong saja mengenai isinya, kan??


Apakah maksud dan tujuan Danniel itu... Untuk menghindari terjadinya kebocoran informasi mengenai penyadap yang di pasang di tubuh Dita?? Karena cepat atau lambat, aku yakin itu akan ketahuan. Dan sepertinya besok, keluarga ku akan melakukan rapat lagi untuk membahas perihal ini.


"Nyi nyi nyi...." Aku melirik ke ponsel yang berada di samping tempat tidurku, suara Dita masih terdengar. Entah apa yang ia katakan, panjang sekali tak ada henti-hentinya.


Tengah sibuk mendengar suara Dita, aku terkesiap ketika mendengar suara aneh yang tertangkap oleh telingaku. Aku diam dan beranjak perlahan, melirik sekitar kamar dan memastikan ada suara lagi atau tidak setelah itu.


Di dalam kamar yang hening, aku hanya bisa mendengarkan suara AC, tak ada suara lain lagi seperti yang ku dengar tadi.


Tapi... rasanya khawatir, teringat akan diriku yang diam-diam mengendap di kamar Dita dan berniat membunuhnya. Jangan-jangan, ada orang yang masuk ke dalam kamar dan bersembunyi. Setelah kejadian terbunuhnya pak Roxi, harusnya aku tak menganggap ini hal yang sepele.


Aku mulai beranjak dari tempat tidur, menggeser tubuhku ke ujung kasur dan turun perlahan hingga tak ada bunyi dan suara yang ku ciptakan.


Kakiku menginjak lantai yang dingin, tanpa adanya alas kaki untuk meminimalisir adanya suara gesekan sandal yang mungkin terdengar.


Sambil berjalan perlahan, langkah demi langkah... Aku beralih ke tempat dimana suara berasal.


Mataku menatap awas, ke jendela yang tirainya terbang tertiup angin. Sejak kapan aku tak menutup kaca jendela?? Aku jarang sekali membukanya kecuali jika ingin kabur atau melarikan diri dari rumah.


Aku menghela napas, berhati-hati mendekat ke arah jendela. Ketika tirai terjamah oleh tanganku, aku menyibaknya, berjalan ke depan jendela dan memeriksa ada atau tidaknya orang di luar sana.


Tidak ada apa-apa kecuali pohon besar yang melambai-lambaikan dahannya karena tertiup angin. Aku menghela napas panjang sambil kembali menutup kaca jendela dengan rapat dan menguncinya.


Supaya lebih aman, aku harus mengunci jendela kamar ini, menghindari adanya orang asing yang masuk dari luar. Dan supaya lebih aman lagi, aku harus mematahkan kunci ini, agar orang asing yang kemungkinan telah masuk ke kamar, menjadi kesulitan untuk keluar dari dalam sini.


Kraaaak!!


Ku patahkan ujung kunci dengan tanganku, lalu beranjak dari depan jendela sambil tersenyum.


Tiba-tiba saja, sekelabat bayangan hitam melintas di belakangku. Ketika menyadari hal itu, aku hendak menoleh dan...


Jleb!!!


Sesuatu yang tajam menancap dalam di pundakku. Aku meringis, merasakan cairan masuk ke dalam tubuhku. Pandanganku tiba-tiba saja terganggu, seolah melihat ada dua jendela di depan mataku.


Penerangan yang minim membuatku semakin kesulitan melihat. Aku menggelengkan kepala, berusaha menyadarkan diriku sendiri. Tancapan di pundakku tercabut, dan reflek tubuhku jatuh terduduk di lantai.


Aku terengah, merasa begitu lelah dan mengantuk. Tubuhku semakin lama semakin jatuh tersungkur, dan tak bisa di gerakkan sama sekali.


Di tengah kesadaran ku, aku melihat sesosok tubuh dengan jubah gelap berdiri di dekatku. Ia hendak menjauh, melangkah menuju meja belajar ku. Dan dengan sisa-sisa tenaga dan kesadaran ku, aku menarik pergelangan kakinya, membuat langkahnya terhenti dan terfokus menatapku.


"Si.. siapa kamu?" tanyaku, berusaha keras mengeluarkan suara yang terdengar serak.


Kakinya yang ku tahan, tiba-tiba saja terangkat dan...


Bugh!!!


Ia menghantam wajahku yang terbaring di lantai, dan menginjak bagian tengkuk ku. Membuat kesadaranku perlahan-lahan menghilang.


"Dita.. Apa kau mendengar ku??" gumamku. "Ku mohon, bantu aku." ucapku, di saat terakhir kesadaranku.


Bersambung....