
Aku berhenti mengotak-atik rekaman cctv yang ada di depanku. Para pekerja seluruhnya mematung, seolah merasa gugup ketika aku merecoki pekerjaan mereka.
Aku memutar kursi yang ku duduki, dan langsung berhadapan dengan mereka yang berdiri berjejer. "Hari ini, siapa yang bertugas mengawasi cctv di bagian kamar pak Roxi?" tanyaku, membuat mereka terdiam dan saling menoleh satu sama lain.
Salah satu dari mereka mengangkat tangan dengan ragu, sambil berusaha melirik wajahku. "Saya, tuan." sahutnya.
"Turunkan tanganmu." pintaku, dan langsung di turuti olehnya. "Kamu yang bertugas mengawasi keamanan kamar pak Roxi?" tanyaku lagi.
"Iya, tuan. setiap hari memang saya yang bertugas di bagian tersebut, kecuali malam dan pada saat jam makan siang. Biasanya, saya berhenti mengawasi. Saat malam, ada shift pengganti yang di tugaskan untuk itu." terangnya ragu.
Aku mengernyit dan menatapnya dengan serius. "Tadi kan kalian rapat, setelah rapat, apakah kalian kembali ke posisi masing-masing, atau ada hal lain lagi yang kalian lakukan?" tanyaku lagi.
Mereka terdiam, dan tak ada yang berani menjawab apa yang ku katakan. "Jujur saja, aku tak akan marah. Lagipula kalau aku marah, tak akan mampu memecat kalian." ucapku, hanya sekedar menenangkan diri mereka.
"Tadi, selepas rapat.. sa.. Saya memang tak kembali bekerja." Ia menjeda hanya untuk menelan ludahnya. "Ma.. Maaf atas kelalaian saya."
Aku menarik napas dan menghembuskannya dengan berat, sementara Dita hanya menjelekkan wajahnya menatapku. Mungkin dia sedang sirik karena aku memasang mode sok berkuasa. "Jadi, kamu tidak kembali bekerja usai rapat? Lalu apa yang kamu lakukan?"
Ia segera menunduk dan tampak gelagapan. "Mi.. Minum kopi, tuan." sahutnya sambil menutup mata, seolah benar-benar merasa bersalah.
"Minum kopi??" gumamku sambil berpikir. "Jadi itu alasan kenapa kamu lama sekali merespon ketika aku memecahkan kamera cctv?? Itu karena kamu sedang ngopi dan haha hihi?" ujarku, membuatnya menunduk takut sambil mengangguk.
"Kamu tau kenapa aku menanyakan semua ini?" tanyaku sambil menyenderkan tubuh ke kursi.
Ia menganggukkan kepalanya. "Tau, tuan." Aku mengangkat alis, bermaksud ingin mendengarkan kelanjutannya. "Ada hal yang aneh terjadi dalam rekaman cctv sesaat setelah kematian pak Roxi. Sepertinya ada video yang terjeda, dalam artian.. Ada seseorang yang masuk ke dalam ketika kami semua sedang sibuk di luar selepas rapat."
Aku menopang dagu dengan tanganku sambil terus menatapnya. "Kenapa kamu berpikir demikian? Tidak berpikir kalau ini di rusak seseorang dari luar atau tidak?"
Ia menggeleng. "Menurut saya itu mustahil terjadi, kecuali memang ada orang yang telah mengutak-atik cctv di ruangan ini." sahutnya.
Aku mulai beranjak. "Seseorang yang mengutak-atik cctv di ruangan ini?? Kalau begitu, siapa yang tinggal dan berada di ruangan ini ketika semua orang belum kembali?"
Pertanyaan ku membuat mereka semua menoleh ke satu orang, dan seseorang itu gelagapan karena merasa tertuduh. "Bukan aku, tuan. Aku memang datang pertama, tapi sumpah demi kesetiaan Gasth'anhm, aku tidak berani melakukan hal sehina itu." tukasnya yakin.
"Kamu tenang saja kok, aku tak mau menuduhmu atau yang lainnya. Kalau bukan kalian yang melakukannya, mungkin ada orang yang bisa meretasnya dari jauh. Tidak menutup kemungkinan, kan?" ungkap ku.
Seketika wajah mereka semua terlihat tenang. Aku melirik sekeliling, memastikan siapa yang patut untuk di curigai.
Tiba-tiba salah satu dari mereka tampak grasak-grusuk sambil memegang earphone di telinganya.
"Kamu kenapa?" tanyaku sambil memperhatikannya.
Ia tak merespon ku, seolah sibuk mendengar suara di balik earphone tersebut. Aku mendekat, dan melepaskan earphone ditelinganya. Ia gelagapan ketika melihatku sudah berada di hadapannya.
"Aku sedang bicara denganmu. Apa yang kamu lakukan?" tanyaku dalam, membuatnya menunduk dan memejamkan matanya, seolah merasa takut atau merasa ketahuan.
Dita mengernyitkan dahi. "Kenapa elu bisa mendapatkan teleponnya? Sementara gue yang merupakan bagian keamanan inti gak mendapatkan kabar sama sekali." keluhnya.
"Kamu kan gak pakai earphone." sahut si pengawas, membuat Dita terbahak ketika mendapat tatapan sinis dariku. "Jadi mana bisa mendapatkan pesannya. Lagipula, ini earphone milik mendiang pak Roxi. Beberapa tim inti ditugaskan untuk mengabari keluarga pak Roxi dan membawa jasadnya. Jadi, aku di perintahkan untuk memegang earphone ini sementara untuk berjaga-jaga." terangnya.
Aku menganggukkan kepala. "Masuk akal sih, tapi kamu seperti orang kebingungan ketika mendapatkan pesannya. Harusnya kamu langsung melakukan tindakan dan mengabari seluruh penjaga keamanan, kan? Meski kamu tak turun tangan, ada yang bertugas untuk melakukan perbaikan, kan? Harusnya kamu tinggal menghubungi mereka." protesku.
Pengawas cctv ini menunduk dengan tubuh yang gemetaran. "Ma.. Maafkan aku, tuan. Aku masih belum paham akan semua itu. Aku terbiasa menerima perintah dan aku bingung harus melakukan apa kalau ada hal yang seperti ini. Dan aku juga tidak tau bagaimana cara menghubungi tim yang bertugas memperbaiki kunci keamanan." jelasnya dengan suara yang gugup.
Aku menghela napas panjang. "Kamu benar. Selama ini kan pak Roxi yang mengambil andil semuanya, ketika dia tiba-tiba menghilang, semuanya jadi membingungkan. Tapi, kalian yang semangat deh, semoga dengan kepergian pak Roxi, tidak ada yang kesulitan dalam bekerja, dan.." aku menatap tajam kepada mereka semua. "Tidak ada yang berkhianat di atas janjinya." lanjutku, membuat mereka semua menelan ludah.
Aku beranjak pergi dan meninggalkan mereka. Dari upaya ku tadi, sepertinya tidak ada tanda-tanda pengkhianat di dalam ruangan itu, kecuali kalau mereka benar-benar pandai berakting.
"Oi bocil, sebenarnya elu kesitu mau ngapain sih selain meriksa cctv?? Mau cari pengkhianat ya?" tanya Dita yang berjalan di sampingku.
"Apasih? Ikut campur aja!" balasku ketus.
"Masih ada lagi atau enggak? Coba periksa." tukas sebuah suara yang berada tak jauh dari kami.
Aku mengernyit, melihat keramaian para pekerja yang sedang memeriksa beberapa bunga hias yang berada di sudut-sudut ruangan.
"Oi kalian!! Ngapain disana?" tanya Dita sambil menghampiri mereka.
Salah satu dari mereka adalah pak Saipul. Ia yang sedang berjongkok dengan kedua tangan yang kotor karena tanah tumbuhan pun menoleh ke arah kami berdua. "Oi, Dit. Ini loh, ada beberapa alat penyadap di dekat pot bunga. Beberapanya juga ada di teras samping dekat kamar pak Roxi. Ada banyak juga di dalam ruangan, kayaknya... Ada seseorang yang menyusup di rumah ini, atau ada pengkhianat di rumah ini." ucap pak Saipul, membuat Dita terkesiap dan panik.
"Gawat!! Kalau begitu, lapor pak Rox-" Dita terhenti dan tak melanjutkan perkataannya. Ia terdiam, seolah bingung harus berkata apa atau melakukan apa.
"Terjadi penyadapan di rumah ini, dan gak tau kapan benda ini terpasang. Kita harus memeriksanya lebih lanjut, tapi aku juga bingung mau membuat laporan dengan siapa. Kita kehilangan pak Roxi, rasanya seperti kehilangan nyawa di dalam tubuh dan kehilangan kepala dari anggota tubuh." ujar pak Saipul.
"Kalau keadaan kacau begini.." Dita langsung melirik ke arahku. "Apakah tuan kecil ini, bisa membantu melaporkan hal ini kepada kepala keluarga kesdicth'anhm? Soalnya kami semua, gak berwenang untuk ngelakuinnya." tutur Dita.
Aku menggeleng kuat. "Mana bisa aku begitu!! Aku kan tak boleh bertemu dengan mereka. Kamu saja, temui mama. Kamu kan bisa bicara dengan mama."
"Oh, begitu kah?" gumam Dita dengan wajah bodohnya.
"Terserah siapa yang harus melapor, intinya sekarang kita terdesak karena kehilangan pak Roxi, rasanya kacau balau dan tak ada tempat untuk berdiskusi dan mengadu." gumam mereka lagi.
Di antara keributan mereka, aku mengambil salah satu stiker penyadap yang ada di dekat bunga hias.
Stiker ini... Milik ras Dicth'anhm, kan?
Bersambung...