
Tubuhku masih mematung di tempat, benar-benar tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumahku. Rasanya penyerangan ini terjadi bertubi-tubi dan tiada henti, dan aku sendiri tak tahu perihal apa yang menyebabkan mereka melakukan semua itu?
Kalau mau memberontak, kenapa mereka harus menyerang keluarga ku? Kalau mereka menyerang kami hanya karena buku rahasia yang kami simpan, memangnya rahasia apa yang sebenarnya tersimpan di dalam sana??
Danniel masih mendekap tubuh Dita, namun cahaya menyilaukan keluar dari beberapa bagian tubuhnya. Aku meringis dan menutup mata, ketika merasakan desiran pasir yang membuat mata kelilipan.
Danniel menengadahkan kepalanya, membuatku ikut melakukan hal serupa. Lagi-lagi seseorang dengan jubah hitam berada di depan jendela kamar Dita. Aku terkesiap kala Danniel menatap si pemburu dengan tatapan tajam.
"Kau menyerang seorang wanita?" ucap Danniel dengan suara rendah.
"Memangnya aku perduli dengan hal itu?" balas si pria berjubah, membuat Danniel mengeraskan rahangnya.
Ia menggendong Dita dan membaringkan ke tempat tidurnya. Setelah itu, tiba-tiba saja desiran pasir seperti banjir bandang datang menuju ke si pria berjubah.
Aku meringis, menutup wajahku sendiri dengan tangan ketika desiran anginnya terasa begitu kencang. Ketika aku menarik tangan dari wajah, beberapa anak panah melesat ke arahku, dan pasir-pasir Danniel muncul membentuk benteng pertahanan setebal batu.
"Suro!! Keluar dari kamar ini!!" pekik Danniel, membuatku panik dan bingung.
"T.. Tapi Dita?"
"Ku bilang keluar dari kamar ini?!" lanjutnya dengan nada bicara yang serupa.
Aku menatap Dita yang terbaring tak berdaya di tempat tidur. Mana mungkin aku meninggalkan Dita? Kalau terjadi apa-apa padanya bagaimana?
"Ku bilang keluar dari kamar ini!!" bentak Danniel seiring dengan kepalan pasir yang melilit pergelangan kakiku. Pasir itu menarikku, menyeret tubuhku hingga keluar dan terlempar jauh dari kamar Dita.
Buggh!!
Tubuhku menghantam dinding pembatas antar kamar. Aku jatuh tersungkur dan memuntahkan cairan asam dari dalam mulutku.
Aku meringis, berusaha mengangkat tubuhku yang terasa sakit. Ketika aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, aku terkesiap saat melihat beberapa orang pekerja di rumahku, tewas bergelimpangan sepanjang jalan, dengan darah yang menjadi alas tidurnya.
Aku mengerjap, tubuhku bergetar hebat dan aku mematung di tempat.
"Tuan!! Ada tuan Suro!!" pekik pak Saipul ketika menyadari kehadiranku. Dengan cepat ia mengangkat tubuhku dan menggendongnya, membawaku pergi entah kemana, mungkin tempat yang aman baginya.
Jantungku berdebar tak menentu. Seluruh tubuhku terasa dingin dan kelu. Aku terdiam di sebuah ruangan bersama pak Saipul. Kami bersembunyi dan pak Saipul mengisyaratkan agar aku diam. Bahkan tanpa ia minta pun, aku sudah tak mampu lagi bersuara.
"Kita disini sampai semuanya selesai. Tenang, tidak akan terjadi apa-apa di luar sana, tuan." bisiknya, berusaha menenangkan ku. Padahal, dari yang ku liat, ia sendiri tak begitu yakin dengan perkataannya itu.
Cukup lama aku menunggu, memeluk lutut bersama pak Saipul yang deru napasnya sampai terdengar di telingaku. Ia terus menerus mengecek earphone yang ia kenakan. Di samping itu, aku terus mendengar suara gaduh di luar sana. Suara teriakan dan dentuman keras. Ini menakutkan, aku terus menatap ke arah pintu, takut jika ada seseorang yang masuk dan menemukan kami.
Apa yang terjadi?? Kenapa dengan rumahku ini?? Sebelumnya tidak pernah terjadi hal semacam ini. Kalau seandainya bibi masih hidup, aku tak tau sekhawatir apa dia melihat keadaan ini.
"Ya? Bagaimana keadaan di luar sana?! Aku tak bisa membantu, tuan Suro ada bersamaku!" bisik Pak Saipul sambil menekan earphone-nya.
"Apa? Bayu, Bahri dan bi Dian mendapat serangan??" Aku terkesiap kala mendengarnya. "Si*l!! Sejauh ini, sudah berapa orang yang mati?"
Aku menatap risau ke arah pak Saipul, menantikan perkataan yang akan ia ucapkan pada si lawan bicara di earphone.
"Delapan belas?!"
Deg!!!
Pak Saipul terdiam, ia terlihat cukup tenang meski tak mengubah raut kekhawatirannya. Ia melepaskan earphone dari tangannya lalu menatapku yang masih terdiam.
"Sudah aman tuan, ayo kita keluar." lanjutnya dengan suara pelan.
"Pak Saipul.." sapaku pelan, dengan suara yang gemetaran. "Siapa delapan belas orang yang meninggal itu?" tanyaku.
Pak Saipul menghela napas panjangnya dan tersenyum menatapku. "Teman dan saudara bapak." ucapnya dengan wajah sendu.
.........
Setelah kejadian itu, aku diisolasi di ruangan khusus. Aku tak bertemu dengan siapapun, kecuali pengantar makananku. Aku tak tau apa yang terjadi. Benar-benar tak di libatkan sama sekali.
"Tuan, hari ini pakailah baju khusus. kita menghadiri acara pemakaman para pekerja yang setia sampai mati dengan keluarga kesdicth'anhm yang termulia." ucap bi Susi yang selalu menjengukku.
Aku mengangguk dan segera berganti baju. Di luar ruangan, tampak para pekerja sibuk memperbaiki bagian rumah yang rusak akibat serangan waktu itu. Setelah itu, aku di arahkan keluar oleh bi Susi, ke taman luas dekat kebun melati. Di sana sudah berbaris rapi para pekerja ku.
Aku di arahkan menuju Danniel, papa dan mama. Aku mengernyit kala melihat wajah Danniel lebam dan tubuhnya luka-luka. Begitu juga dengan papa dan mama.
Kami memanjatkan doa untuk para pekerja yang telah tiada.
"Terimakasih untuk kalian yang masih tersisa disini. Terimakasih telah berkorban dan berjuang bersama kami. Kalian akan kami anggap sebagai pekerja yang setia sampai mati." tukas papa, berpidato di depan kami semua.
"Tragedi yang menewaskan banyak pihak dan orang yang kita kasihi adalah kesalahan dan keteledoran dari kami. Harusnya, kami segera mengganti kekosongan kepemimpinan penjaga keamanan, sebelum jatuhnya korban seperti yang saat ini terjadi." lanjut papa.
"Untuk itu, saya.. Bagesha Kesdicth'anhm, selaku kepala keluarga kesdicth'anhm akan menunjuk salah seorang anggota tim terkuat untuk menggantikan posisi Roxi." tukas papa, membuatku melirik ke arah semua pekerja yang kini berwajah pucat.
Dan salah satunya, ada Dita. Syukurlah dia aman dan tak kenapa-kenapa.
"Pak Saipul.. Apakah anda bersedia mengemban tugas ini untuk membuktikan pengabdian pada ras kami?" tanya papa, membuat pak Saipul terkesiap.
Ia menundukkan tubuhnya, bahkan sampai kedua lututnya menyentuh lantai. "Maafkan saya tuan, hanya saja.. Saya belum bisa mengemban tugas berat itu. Saya akan setia sampai mati pada keluarga ini, hanya saja... Saya tidak bisa menerima posisi itu." sahut pak Saipul.
Perkataan yang sama terlontar dari mulut beberapa orang yang di pilih papa. Tak ada satu pun dari mereka yang bersedia menjadi pemimpin keamanan di rumah ini.
"Aku tidak bisa memaksakan kehendak ku jika kalian menolak. Tapi, kita tak bisa berlindung dengan kekosongan kepemimpinan. Kalau begini terus, akan ada korban lagi yang berjatuhan. Dan tentu saja, aku tak menginginkan hal itu." ucap papa.
"Apakah ketua kepemimpinan harus berasal dari ras Gasth'anhm?" tanya Danniel yang berada di dekatku, membuat papa menoleh dan menatapnya.
"Apa maksud pertanyaan mu?" tanya papa.
"Kalau tak ada yang bersedia menjadi pemimpin yang tentu saja mempertaruhkan nyawa, maka aku..."
"Yang akan mengambil posisi itu." tukas Danniel, membuat semua orang di tempat ini terkejut.
"Danniel, apa kau serius dengan perkataan mu itu?" tanya mama dengan suara rendah.
Danniel menganggukkan kepalanya. "Para petugas keamanan bekerja untuk menjaga dan melindungi kita seumur hidupnya. Jadi, aku ingin sekali berada di depan mereka, ketika mereka mati-matian membela kita. Aku tak ingin mereka terluka di depan mata kita karena kita terus bersembunyi di balik punggung mereka. Kali ini aku ingin menunjukkan, kalau ras Dicth'anhm.."
"Bisa menjaga dan melindungi pengabdinya, sebagaimana para pengabdi melindungi kita. Jadi ku mohon.." Danniel menundukkan tubuhnya dan bersimpuh. "Izinkan aku, menjadi bagian dari mereka, dan menjadi pemimpin mereka."
Bersambung....