
"Huuuuu!! TOS dulu!!" pekik Dita ketika mendengarku mengumpat. Aku melirik sinis, tapi malah menurut untuk membalas tepukan tangannya.
Danniel terdiam, ia menatap kami dengan serius dan wajah tak bersahabat, seolah tak suka dengan apa yang baru saja kami lakukan. "Orang bodoh, dan orang yang lebih bodoh sedang bersenang-senang, geli sekali melihatnya." cemoohnya.
"Meskipun bodoh, tapi ada lagi orang yang lebih bodoh yang menguping pembicaraan kami." sahutku, membuat Dita merespon dengan wajah berlebihan.
"Wuuuuh!! TOS lagi!!" pekiknya sambil kembali mengangkat telapak tangan ke arahku. Aku sedikit tersenyum dan kembali membalas tepukan tangannya.
"Lebih bodoh?? Berani sekali kamu bicara begitu, memangnya kamu lupa kalau aku tau rahasia kalian berdua?" tantangnya, membuatku dan Dita langsung membungkukkan tubuh serentak sambil saling berpandangan. Benar juga, dia kan memegang kartu kami berdua.
"Gak tau, ini elu ya yang nantang duluan!!" seru Dita sambil menyikutku.
"Lagian kamu juga tadi yang ngajak TOS!" balasku tak terima, sambil balas menyikutnya.
"TOS kan karena omongan elu racyuuun, kalau biasa aja sih gak mungkin mau gue ajak TOS. Omongan elu tuh kayak, cuaaks!! Gitu." protesnya sambil bertekan pinggang.
"Halah!! Apa itu racyuun dan cuaks?" tanyaku sambil mengernyit, dan ikut bertekan pinggang.
Danniel melipat tangan ke dada, memejamkan mata sambil mendengarkan ocehan kami berdua. "Malah berdebat, kalian sedang melawak di depanku?" sambung Danniel, membuatku dan Dita kembali terkesiap dan menatapnya.
Lupa sekali kalau ada orang di sana. Sekarang dia sedang menatap sinis kamu berdua.
Aku memicing menatapnya, sambil ikut melipat tangan ke dada. "Tidak, serius sekali sih kamu! Gak pernah piknik ya?!"
Pertanyaan ku membuat Dita kembali merespon dengan heboh. "Huuuuh!! TOS lagi!!" ucapnya sambil mengangkat tangan ke arahku.
"Bodo!! Nanti kamu tuduh-tuduh aku lagi!!" tolakku sambil membuang muka.
"Yaelah anak monyet!!" gerutunya sambil menurunkan tangan dengan ekspresi kecewa.
"Kamu yang induk monyet!!" balasku lagi.
"Ehem!!" deheman suara itu membuat kami terhenti lagi. "Cih, merepotkan sekali bicara dengan dua hewan langka begini." sambungnya sambil menatap datar kepada kami.
"Sombong sekali." timpalku berbisik.
"Oi, emang ras Dicth'anhm itu sombong-sombong semua sih." bisik Dita sambil melirik Danniel.
"Aku tak tanya pendapatmu!!" geramku sambil berbisik pula.
"Sepertinya kita tak perlu banyak bicara, tapi ada beberapa hal yang ingin ku tanyakan mengenai beberapa pernyataan kalian barusan. Tentang penyadapan dan siapa yang menyerang pak Roxi." tukasnya.
Aku terdiam. Aku baru kali ini bertemu dengan Danniel dan berpapasan begitu dekat dengannya. Selama ini kami selalu berjarak dan tak boleh dekat, jadi aku tak tau dia orang yang seperti apa. "Bukannya kita tak boleh berbicara, kenapa kamu dekat-dekat denganku?? Kalau ketahuan papa mama, kamu dalam masalah besar." aku mengingatkan.
Ia mendengkus dengan wajah angkuh. "Memangnya siapa yang perduli dengan peraturan bodoh begitu? Apa kamu berusaha menghindari pertanyaan ku?" terkanya. Aku terdiam, lupa kalau saat ini sedang berhadapan dengan siapa. Tentu saja ras Dicth'anhm yang berada di bawah keluarga kesdicth'anhm sangat pintar dalam menelaah.
"Yasudah, kalau gitu tak perlu basa basi lagi. Aku di tangkap oleh pengkhianat ras Vilhgasth'anhm yang bernama Viktor, diperdayanya dan di pukuli. Lalu sebagai pengabdi, Dita datang menolongku. Saat itu, kami tak tau kalau Viktor meletakkan sesuatu pada tubuh Dita."
Danniel mengernyitkan dahi sambil menelengkan kepalanya sedikit. "Stiker penyadap?" terkanya.
Aku mengangguk. "Karena ketidaktahuan itu, Dita ikut melaksanakan rapat dengan bahasan yang sangat penting dan tak boleh di ketahui oleh orang lain, termasuk rasnya sendiri. Tapi, karena adanya stiker penyadap," Aku menunduk sesaat, "Informasi itu bisa di dengar oleh orang lain." lanjutku sambil mengangkat kepala.
"Jadi begitu? Berarti, kemungkinan besar pembunuhan pak Roxi berhubungan dengan semua ini. Ia mati karena berusaha mengintervensi rasnya sendiri untuk melindungi ras Dicth'anhm. Kalian tau??" Ia menatap kami dengan tatapan menghina. "Semua ini terjadi karena ulahmu!" Ia menatapku dengan mata yang melotot.
"Kamu tak sadar, setiap kali berada di dekatmu, bukankah banyak orang yang mendapat kesialan??"
Aku tersentak mendengarnya. Dita terkesiap, ia langsung menarik tubuhku dan berdiri di depanku. "Aku mohon agar anda menjauh dari tuanku!" geram Dita. Aku melirik ke arah tangannya, tampak terkepal dengan kuat seolah sedang menahan amarah.
"Lalu nanti, ras Dicth'anhm dan keluarga kesdicth'anhm dalam bahaya karena tersebarnya informasi penting yang tak seharusnya di dengar oleh orang lain, apalagi ras rendahan. Sekarang, dengan cara apa kamu ingin memperbaiki semuanya?" tanyanya, dan aku tak bisa menjawab dan melakukan apapun, kecuali menundukkan pandanganku.
Dia benar. Karena aku, bibi Narti mati. Karena aku, pak Roxi mati. Karena aku, Dita sekarang dalam masalah karena membawa alat penyadap ke dalam ruang rapat. Dan karena aku pula, keluarga ini berada di dalam bahaya sekarang.
Kalau begitu, sebaiknya biarkan aku mati saja di tangan Viktor, atau biarkan aku gugur di dalam janin. Kalau semua yang ku lakukan adalah kesalahan fatal, hidup pun hanya membuat orang lain menderita. Kenapa tak di hentikan saja napasku ini?? Supaya aku tak membuat ulah lebih dari ini.
Aku... Tak tau harus melakukan apa sekarang. Aku begitu naif dan bodoh. Aku selalu bertindak dan memaksakan kehendak ku pada orang lain. Aku tak pernah berpikir sebelum bertindak. Semua ini terjadi karena aku hidup. Kalau seandainya aku tak ada di dunia ini... mungkin saja semuanya akan baik-baik saja.
Tapi sekarang, menyesal pun tak ada artinya. Aku harus melakukan sesuatu untuk memperbaiki semuanya. Aku juga sudah berjanji pada Dita dan bi Narti, kalau aku harus bertahan hidup di dunia ini.
Aku mulai menunduk, duduk bersimpuh dan bertopang pada lutut. Aku tak berani mengangkat kepalaku, karena bagiku itu terlalu hina untuk di lakukan.
Ku letakkan dua tanganku yang saling tergenggam tepat ke depan wajahku. "Maaf kan aku.." ucapku, membuat tubuh Dita tampak terkesiap. "Aku benar-benar memohon, maafkan aku. Aku tak tau tindakan apa yang ku lakukan. Aku tak tau dampaknya begitu besar. Aku tak mengerti itu semua."
"Semua ini berawal dari hal bodoh. Aku.. Aku yang ingin di anggap ada oleh mama, aku yang tak terima di perlakukan berbeda oleh keluargaku. Aku tak bisa memaklumi peraturan yang menyiksaku seumur hidup. Aku tak terima semua itu, aku ingin mencari alasan dan jawabannya. Kenapa hanya aku?? Kenapa hanya aku yang tak boleh berada di dekat kalian? Kenapa hanya aku yang tak boleh ada bersama kalian? Kenapa hanya aku, hanya aku??" tanganku mulai bergetar, dan aku mengeluarkan rasa sakit yang selama ini ku tahan.
"Kenapa hidupku tak normal? Aku punya Mama, punya papa, punya kakak.. tapi rasanya seperti sendirian. Aku dikelilingi banyak pekerja yang memperlakukan ku dengan baik, yang menyayangi ku dengan baik. Tapi, aku juga ingin.. mendapatkan hal itu dari keluargaku sendiri. Aku juga ingin di ambil rapot, aku juga ingin di puji mamaku, bermain bersama papa, dan jalan-jalan bersama saudaraku. Kenapa hanya aku yang celingak-celinguk di depan pintu kelas, berharap akan ada anggota keluarga ku yang datang, tapi tidak ada yang datang."
"Ternyata, keinginanku menjadi bumerang yang membunuh orang lain. Yang mencelakai orang lain. Untuk itu, aku..."
Tes.. Tes...
Air mataku berjatuhan, tak bisa lagi ku bendung. Dadaku terasa berat, dan aku kesulitan untuk bernapas. "Hiks, ku mohon.. Untuk kali ini, biarkan aku memperbaikinya. Biarkan aku merubah apa yang telah ku perbuat. Biarkan aku mengubur perasaan tak penting ku di dalam hati, dan tak memperdulikan meski di musuhi keluarga sendiri. Aku mohon.." pintaku dengan isak yang memenuhi hidungku. "Aku mohon maafkan aku."
Sesaat semuanya menjadi hening, yang terdengar hanya suara ingusku yang ku tarik ke hidung.
Danniel menghela napas, dan aku bisa melihat kakinya melangkah mendekatiku, dan ia pun berkata, "Angkat kepalamu, kesdicth'anhm." suara Danniel terdengar, dan aku mengerutkan dahi sebelum mengangkat kepala. "Tak sepantasnya darah suci, berlutut di depan orang lain, meskipun dari marga atau keluarga yang sama." ucapnya, membuatku memberanikan diri mengangkat kepala dan menatapnya.
Entah perasaan ku saja atau tidak, tapi tatapannya menjadi berbeda, ketika saat kami berdebat. Ia menjadi lebih lembut dan bersahabat. "Karena aku sedang berbaik hati, aku akan menyimpan rahasia kalian berdua." tuturnya.
Baik aku dan Dita terkejut kala mendengarnya.
"Tapi, tentu saja dengan satu syarat." lanjutnya.
"Apa itu?" tanyaku.
Ia tersenyum sinis. "Kita bertarung." jawabnya, membuatku dan Dita terperangah. Dia.. Ingin bertarung denganku? Apa tak salah dengar??
Dita langsung menyanggahnya. "Itu lawan yang timpang, apa kamu tak mau melakukannya dengan lebih adil? Itu tak masuk akal kan?!" protesnya.
"Sssst sssst.." desisnya sambil menggelengkan kepala. "Diamlah ras rendahan, aku sedang bicara dengan adikku."
Dita mengeraskan rahang, lalu diam mengikuti perkataannya. Aku terdiam, dengan air mata yang masih belum kering. "Bertarung?" tanyaku lagi.
"Ya, tentu untuk menang.. Akan sangat mustahil bagimu. Tapi aku memberikan keringanan." Ia tersenyum dengan tatapan tajam. "Kalau kamu bisa memukul ku sekali, maka..." Ia menatapku dengan begitu lekat.
"...kamu pemenangnya." lanjutnya, hingga membuatku mengernyit. Setuju?" tanyanya sambil tersenyum angkuh.
Aku mulai beranjak, berdiri tegap menghadapnya. Sementara Dita menggelengkan kepala, seolah tak setuju dengan persyaratan yang ada.
Sepertinya, cuma ini satu-satunya jalan untuk mengubah semuanya. Aku harus menutup mulut Danniel dan merahasiakan ini semua dari keluarga dan juga para pekerja, lalu mencari cara untuk menanggulangi semuanya.
Aku menelan ludah sambil menghembuskan napas panjang dan membalas tatapannya. "Oke, aku setuju." sahutku, terdengar begitu berat.
Bersambung...