
Aku mendekatkan diri pada Seriiy, berusaha membahas hal ini tanpa diketahui oleh orang lain.
"Serius kau bisa membaca tulisan aksara kawi?? Bagaimana caranya?" tanyaku penasaran.
Seriiy sedikit mengernyit. "Ya... Dengan banyak membaca segala sesuatu, maka apa yang tidak kau ketahui, akan kau ketahui. Apa yang selama ini menjadi pertanyaan, akan menemukan jawabannya. Menurutku, kita harus membaca apapun itu, buku memiliki wawasan yang luas, dan gaya kepenulisan setiap penulis itu berbeda-beda, mencerminkan bagaimana tingkat kecerdasan mereka. Aku suka membaca untuk memahami maksud dari si penulis, pokoknya.. Kalau orang itu bisa menulis, sudah jelas mereka cerdas." terangnya panjang lebar, dan baru kali ini aku tak merasa bosan kala mendengarkan perkataan sepanjang itu.
"Keren!!" tukasku berbinar.
Seriiy terbelalak kala mendengarnya. "K.. Keren?" tanyanya seolah tak percaya.
"Ya, kalau setiap penulis itu cerdas, maka pembacanya jauh lebih cerdas lagi." ucapku.
Seriiy meringis. "Kenapa bisa begitu?? Pembaca belum tentu bisa menulis buku." sahutnya.
"Pembaca memang tak bisa menulis buku, tapi mereka mampu memahami setiap maksud dari buku yang di tulis oleh banyak penulis. Memahami banyak hal, tidak hanya dari satu sudut pandang tapi berbagai sudut pandang lain. Dan bagiku, itu keren sekali!!" tukasku lagi.
Seriiy terbelalak, dan entah kenapa aku melihat ruam merah muncul di antara pipinya. Dia gelagapan sambil menyelipkan rambut ke telinganya. "Ng.. Ngomong-ngomong soal tulisan aksara kawi, memangnya kau tau itu dari mana?" tanyanya lagi.
"Dari buku." sahutku cepat.
"Ku pikir, aksara kawi itu hanya tulisan kuno yang mungkin hanya tertulis di buku-buku zaman dulu. Tapi sepertinya aku salah, soalnya kau bisa menemukan buku seperti itu dengan mudah."
Aku menyenggol lengannya. "Siapa bilang menemukan bukunya dengan mudah. Karena buku itu, aku hampir mati tau!!" balasku kesal.
Ia mengerjap dan mendekatkan dirinya padaku. "Kalau begitu, dari mana kau mendapatkannya?" tanyanya lagi.
"Rahasia." sahutku, membuatnya terdiam dan saling tatap denganku.
"Seriiy, fokus dengan acara pelantikan. Apa yang sebenarnya kau lakukan?" tegur ibunya, membuat Seriiy terkesiap.
"Oh, maaf Bu. Aku sedang pendekatan dengan anak ini." ujarnya sambil menunjukku dengan telunjuknya. Di pikir aku budak apa?? Bisa-bisanya menunjukku dengan tidak sopan begitu.
"Awas tanganmu!!" geramku sambil menangkap dan menurunkan jarinya.
"Ssst.. diamlah, nanti hukumanmu ibu tambah kalau kau tak bisa diam!" ancam ibunya lagi.
Seriiy langsung mode serius sambil menatap ke depan. Aku mengernyit dan penasaran, dia di hukum kata ibunya?? Di hukum apa ya??
Aku menoel tangan Seriiy, membuatnya melirikku tanpa menggerakkan anggota tubuhnya. "Hei?? Kau sedang di hukum ibumu ya?? Hukuman apa sih?" tanyaku kepo.
Ia melirik ibunya sekelabat, lalu kembali menatapku. "Ini yang ku maksud tadi, kalau aku mengatakannya padamu, apakah kau akan tersinggung?" tanyanya. Aku menggeleng dengan yakin. "Yakin?" kini aku mengangguk dengan yakin. "Aku di hukum ibu dan ayah, untuk menerima perjodohan dengan Danniel." tukasnya sambil memperhatikan ku dengan lekat.
"Jadi kau dihukum untuk itu?" tanyaku lagi. "Memangnya kesalahan besar apa yang kau lakukan sampai-sampai bisa di hukum seperti itu?" tanyaku penasaran.
"Kau tau kan apa yang ku bahas sebelumnya mengenai asal usul Bangsa anhm'ius dan di belahan bumi mana kita tinggal?" tanyanya. Aku mengangguk, karena masih ingat dengan perkataannya barusan. "Sebenarnya kita tinggal di bumi juga. Hanya saja, kita sedikit berbeda dari manusia. Bangsa kita ini, berada dekat dengan peradaban manusia, hanya saja.. Bedanya, kita tidak terlihat oleh mata mereka."
"Hah?" Aku terperangah mendengar perkataan Seriiy. "Ke.. Kenapa kita tidak terlihat di mana manusia?? Kita memang berbeda, tapi kita berbaur di antara mereka. Bahkan aku juga sering membeli komik, membaca anime, dan bermain video game, semua itu di buat dan di ciptakan oleh manusia. Bahkan alat buatan mereka itu di jual bebas di pasaran kita, kan? Maksudku bagaimana bisa kita membelinya dari manusia, kalau mereka tak bisa melihat kita?" tanyaku panik, dan seolah tak mempercayai apa yang ia katakan.
"Sebenarnya, beberapa orang ada yang mampu melihat kita kok. Hanya saja manusia-manusia tertentu saja yang bisa melakukannya. Apakah kau tak merasa heran, kenapa jarang ada manusia yang masuk ke kediaman kita, padahal kita berdekatan dengan mereka?" tanyanya.
"B.. benar juga ya." timpalku.
"Ya, ternyata ada alasan lain kenapa itu bisa terjadi."
Aku mengernyitkan dahi. "Apa itu?"
"Karena tempat kediaman kita, tak terlihat oleh mata mereka."
Lagi-lagi aku terperangah mendengarnya.
"Kita ini adalah sesuatu yang kasat mata, yang biasa mereka sebut sebagai kediaman para jin." lanjutnya.
Aku mengerjap, perempuan ini tau dari mana semua itu?? Semakin lama berbicara mengenai hal ini padanya, aku semakin merinding di buatnya. Dia seperti orang aneh yang menyukai cerita mistis.
"Jin?? Kita di sebut jin oleh manusia?" tanyaku takjub, dan Seriiy hanya mengangguk.
"Bagi mereka, kita adalah jin yang tak terlihat yang memiliki kemampuan supranatural yang tidak mereka miliki, jin bagi mereka pun sama seperti manusia, bisa hidup, lahir dan mati. Hanya saja perbedaannya seperti yang ku sebutkan tadi. Dan para manusia, menyebut tempat kita sebagai sesuatu yang di sebut dengan Saranjana." lanjutnya.
"Apa itu Saranjana?"
"Saranjana adalah kota gaib bagi mereka. Dan mereka menyebut bangsa anhm'ius ini sebagai bangsa jin."
Aku menelan ludah kala mendengarnya. "Darimana kau mengetahui semua hal aneh itu?" tanyaku tak percaya.
"Kau tadi menanyakan perihal kenapa aku di hukum, kan?" tanyanya, dan aku mengangguk membenarkan. "Yah, hukumannya yang tadi itu." terangnya, membuatku mengernyit bingung.
"Jangan bilang kau di hukum, karena keluar dari bangsa kita, dan menemui para manusia?" terka ku pada kemungkinan terburuk.
Seriiy menyengir mendengarnya. "Ya, perkataan mu benar. Aku di hukum, karena telah masuk ke kediaman manusia."
Bersambung....