
Dita menganggukkan kepalanya, menyetujui apa yang ku katakan. "Bukannya mau berprasangka buruk ke Danniel, tapi kalau seseorang berada di tempat kejadian pembunuhan lebih dari tiga kali, biasanya..." Dita melirikku dan tak berani melanjutkan perkataannya.
"Berarti orang itu lah pelakunya?" terka ku, menyambung perkataannya yang terputus.
"Gue gak bermaksud nuduh Danniel kok, tapi.. Ngerasa aneh aja, dia bisa muncul di beberapa kali kejadian yang merepotkan. Pertama," Dita mulai mengangkat jari telunjuknya. "Waktu elu di gebuk abis-abisan sama Viktor, gue ngikutin seseorang yang ngarah ke elu, kayak sengaja nunjukin jalan gitu ke gue, dan ternyata benar, orang itu mengarah ke elu."
Dita menambah satu jarinya lagi menjadi dua. "Kedua, dia bisa ada di tempat kejadian, sewaktu pak Roxi di bunuh. Dia langsung berpikir untuk berbohong perihal kematian pak Roxi, padahal kan kematian pak Roxi mendadak.. Kok bisa berpikir cepat gitu loh dia, kayak udah tau kalau pak Roxi mati, maka dia harus ngomong kayak gini. Gitu, ngerti gak sih?" terang Dita dengan belepotan, tapi aku paham betul maksudnya itu.
"Terus ketiga.." wajah Dita semakin serius. "Dia datang pas banget waktu gue lagi bertarung ngelawan penyusup yang udah nusuk elu pakai jarum suntik. Kayak, kok bisa sih sekebetulan itu?" terangnya lagi.
Aku terdiam. Memang itu terlihat mencurigakan dan kebetulannya terlalu tidak masuk akal. Seolah-olah itu bukan kebetulan, tapi memang sudah di rencanakan sebelumnya.
"Tapi... Kalau memang Danniel seperti itu, dalam artian dia berbuat sesuatu yang jahat, tapi ketika di rapat tadi, dia melakukan sesuatu yang mengejutkan. Yang, seperti bertolak belakang dengan sikapnya selama ini."
Dita mengerutkan dahi. "Dia melakukan apa?"
"Di rapat tadi.. Dia melindungi kita, dari papa ku."
"Hah?" timpal Dita, terperangah.
"Dia menutupi rahasia kita tentang penyadap yang di pasang Viktor di tubuhmu, dengan memasang penyadap di seluruh ruangan rumah yang ditemukan pak Saipul waktu itu."
Dita terbelalak tak percaya. "Serius itu Danniel yang melakukannya? Bukan orang yang menyerang pak Roxi atau sekomplotan dengan mereka?" tanya Dita.
Aku menggeleng. "Sejak awal aku sudah menduga kalau itu Danniel, soalnya.. penyadap itu milik ras kami, dan kemungkinan yang melakukan penyebaran di rumah ini adalah Danniel. Alasan ia melakukan itu, untuk menyembunyikan fakta kalau di tubuhmu telah di pasang penyadap sebelumnya."
"Hah?" Dita langsung terperangah lagi.
"Karena penyadap yang ia sebar itu, dia bilang kalau pemburu masuk rumah karena mendengar rapat yang di lakukan pak Roxi, padahal jelas kalau penyadap yang membuat pemburu masuk rumah, adalah penyadap yang di tempelkan Viktor padamu."
Dita menggelengkan kepalanya. "Oke sih kalau dia membantu tentang hal itu, mungkin dia punya alasan sendiri, dan kemungkinan alasan itu menguntungkannya." terka Dita.
Aku mengendikan bahu. "Bukan cuma itu saja sih, dia juga melindungi ku ketika penyusup berhasil masuk."
Dita mengernyitkan wajahnya dengan jelek, seolah dia sedang kesulitan mendengar. "Hah? Gimana gimana?? Bukannya yang nolong elu pertama kali, gue ya?" protesnya.
"Aku tau itu. Maksudnya, si penyusup di tangkap dan di sandra papa. Mungkin sewaktu aku mendapatkan pertolongan pertama dari tim medis, mereka melakukan investigasi. Di dapat lah informasi kalau si penyusup datang ke kamarku, karena ada buku rahasia yang ku curi." terangku.
Dita langsung tersedak ludahnya sendiri. "Ohok.. Ohok!!" ia terbatuk. "Jadi, udah ketauan kalau elu nyuri buku rahasia keluarga kesdicth'anhm dan menyimpannya di kamar? Gawat!! Hukuman apa yang bakalan elu dapat?" tanyanya panik.
"Aku jadi ragu kalau Danniel adalah orang yang buruk. Ku rasa, dia tak seburuk tingkahnya. Buktinya, di depan papa, dia menyelamatkan ku, yaah.. Meskipun dia terlihat mengesalkan kalau di depan ku." ujarku, membuat Dita menghela napas panjang.
"Membingungkan sih, mungkin dia itu gak jahat ke elu, tapi dia jahat ke gue." perkataan Dita membuatku mengangkat alis. "Yah, gue punya alasan sendiri sih kenapa bisa bilang kayak gitu."
"Alasannya??" tanyaku. Dita mengerucutkan bibir sambil mengusap tengkuknya, seolah enggan mengatakan lebih padaku. "Apa ini ada hubungannya dengan pembicaraan kalian berdua tadi?" terka ku.
Dita menghela napas panjang sambil menyenderkan tubuhnya ke kursi. "Sebelum denger perkataan elu tentang bagaimana baiknya dia ngebela elu, gue sempet berpikiran buruk tentang dia."
Aku menatap Dita dengan lekat.
"Dia, tadi maksa gue buat ngejauh dari elu. Alasannya gak di kasih tau, intinya dia bilang.. kalau gue itu pengaruh buruk dan cuma bisa ngebahayain elu. Bahkan dia mau ngebayar gue dengan gede, kalau seandainya gue mau keluar dari rumah dan kerja di tempat lain."
Kini Dita menaikkan pundaknya sesaat. "Tapi gimana ya.. Meskipun suka uang, tapi.. Gue gak bisa ninggalin peninggalan ibu satu-satunya. Mau gimana pun, gue gak bakalan mau ninggalin elu, setelah tau problem dari keluarga kesdicth'anhm, apalagi sekarang, keluarga kalian sedang di buru oleh pemburu ras rendahan. Dan yang lebih buruknya lagi..."
Dita menatapku dengan sendu. "Bakalan ada pemberontakan dari ras Gasth'anhm ke ras Dicth'anhm." Aku terdiam karena sudah mengetahui hal itu. "Pemberontakan terakhir yang di lakukan segelintir ras Gasth'anhm pada ras Dicth'anhm, berakhir pertumpahan darah. Ras Gasth'anhm dari keluarga MeyhiGasth'anhm yang mempelopori pemberontakan di bantai habis, menyisakan satu orang yang sekarang keberadaannya menjadi rahasia dan terus di buru."
"Intinya, ras rendahan macam kami yang berniat memerdekakan diri, berujung pembantaian marga sampai habis, karena keberadaan mereka di anggap pengkhianat yang tak boleh hidup dan tak boleh berkembangbiak lagi. Semuanya di bantai habis. Mungkin elu belum lahir, atau baru lahir deh pas kejadian pembantaian itu. Serem banget!" Dita bergidik ketika menceritakannya.
"Lah, yang di bantai itu kan ras kalian, bukan kami. Sepertinya aku akan aman sih."
Dita langsung menjitak kepala ku. "Denger yang bener monyet!! Inti yang gue bilang adalah pertumbuhan darah. Jadi kemungkinan pembantaian ras kalian juga besar. Waktu itu ras kami emang kalah dan di bantai habis, tapi kalau pembantaian kali ini ras kami menang, lu pikir kalian juga gak bakalan di bantai habis?! Pasti di bantai habis lah!! Bahaya banget tau!!"
"Pokoknya, saat itu terjadi nanti. Gue mau, gue tetap setia di sisi elu, sampai mati." ucap Dita dengan penuh keyakinan.
Aku terkesiap kala mendengarnya. Dia sampai mau segitunya melindungi ku dari ras mereka, benar-benar kesetiaan dan pengabdian tulusnya mirip seperti bibi.
"Gue mau ngejaga dan ngelindungin elu apa pun yang terjadi. Terus-" Dita langsung terdiam ketika aku tiba-tiba saja mengecup dagunya.
Ia mematung sesaat, menyentuh dagunya sambil menatapku lalu berteriak histeris. "Gyaaaaaah!! Ngapain kamu?!!" pekiknya sambil mengangkat kedua tangannya bersamaan.
"Ucapan terimakasih, dari adik.. Untuk kakaknya yang berisik." tuturku sambil tersenyum, membuat wajah Dita memerah dan tampak salah tingkah.
Ia menaikkan pundaknya sambil mengulum senyum. "Sialan!! Kok, gue jadi malu." keluhnya.
Bersambung....