SURO

SURO
Sangat Berbahaya



*Dita POV


Aku langsung beranjak kala mendengarnya, aku benar-benar tak terima kalau ras Gasth'anhm di tuduh sebagai pengkhianat begitu. Posisi tubuhku yang lebih tinggi kini menarik perhatian semua orang yang berada di ruangan ini. Mereka menoleh serentak ke arahku, menatapku dengan raut bingung.


Pak Roxi melakukan hal serupa, ia mengernyit dan menaikkan alisnya. "Apa ada masalah Vilhgasth'anhm?" tanyanya dengan suara rendah.


Sambil mengepalkan tangan aku menatap kernyit ke arahnya. "Maksud kata-kata pak Roxi tadi apa ya? Ras Gasth'anhm berpotensi melakukan pengkhianatan?? Bapak tau sendiri kan, ras Gasth'anhm apalagi berada dari keluarga Vilhgasth'anhm adalah ras yang paling setia di banding ras Gasth'anhm lain. Sebagian besar anggota keamanan dan para art berasal dari marga Vilhgasth'anhm, jadi mana mungkin kita melakukan hal seperti itu?!" protesku panjang lebar.


Pak Roxi menghela napas panjang seolah lelah. "Tentu aku tau semua itu, bahkan aku paling tau karena umurku lebih banyak dari kamu. Tapi satu hal yang ingin ku peringatkan. Lebih baik waspada daripada mencoreng nama baik marga kita." Ia terdiam sesaat, menundukkan kepala lalu kembali menatapku. "Jadi ku katakan sekali lagi, lebih baik kalian setia selamanya, atau mengundurkan diri dari sekarang, jika terbesit sedikit saja dukungan mengenai ras Gasth'anhm yang mencoba menghapus ketimpangan sosial yang ada."


Semua orang yang berada di ruangan ini hanya terdiam, dan aku masih berdiri dengan tegang, menantikan siapa yang hendak mengangkat tangan.


Ketika semuanya hening, aku kembali melongos menatap pak Roxi. "Nah, bapak liat kan? Gak ada yang mau mengkhianati keluarga kesdicth'anhm ini." tukasku penuh keyakinan.


Pak Roxi menganggukkan kepalanya, lalu memberikan isyarat padaku untuk kembali duduk. Aku pun menurutinya.


"Semua hal ini berlaku untuk seluruh pekerja. Ketua art di rumah ini pun sedang mengadakan rapat serupa dan memberikan pertanyaan serupa pula. Maka dari itu, kalau kalian semua memang berniat mengabdikan diri dengan tulus di rumah ini, maka pelanggaran perjanjian akan mendapatkan sanksi keras." ia diam, menggantung kalimatnya.


"Sanksi apa itu, pak?" tanya pak Saipul, dan aku mengangguk setuju. Sama penasarannya dengan pertanyaan yang di lontarkan pak Saipul.


"Kalau adanya pengkhianatan yang terjadi selepas perjanjian suci ini, maka sanksi-nya adalah.." ia menatap kami dengan serius. "Di serap kundalininya, lalu dikuliti hidup-hidup."


Deg!!


Aku langsung merinding kala mendengar hukumannya. Ras kami paham betul mengenai hukuman berkhianat kepada keluarga sendiri, atau pada keluarga ras Dicth'anhm. Dan salah satu hukuman dengan kesalahan tertinggi, adalah di serap kundalininya, dan di kuliti hidup-hidup.


Pernah ada yang dihukum seperti itu, setelahnya tidak pernah lagi adanya pengkhianatan yang di lakukan ras kami pada ras Dicth'anhm. Dan yang ku dengar, hukuman itu benar-benar menyakitkan, bahkan lelaki yang tak pernah menangis pun, akan berteriak memohon ampun sambil menangis histeris. Suaranya terdengar menggema dan menyakitkan, katanya juga suara itu terdengar sampai beberapa km jauhnya, saking mengerikan dan menyakitkannya hal itu.


Aku masih terdiam dan meneguk ludah. Tidak, aku tak akan berkhianat pada ras ini. Aku sudah berjanji pada ibu, dan pada leluhur kami. Aku tak akan mencoreng nama baik keluarga ku, dan akan selalu ku jaga nama baik ini, meskipun aku satu-satunya peninggalan keluarga Vilhgasth'anhm yang di kepala-keluargai oleh ayahku.


Pak Roxi melirik seisi ruangan, lalu tersenyum dengan wajah serius. "Sesuai dugaan, kalian semua hebat dan aku harap di antara semua yang ada disini, tak ada satu pun yang akan di hukum seperti itu." lanjutnya.


.........


Aku menunggu di dalam ruangan sampai semua orang pergi. Aku juga keluar paling terakhir dari mereka semua. Aku bingung dan tidak mau berbicara pada siapapun setelah mengikuti rapat tadi.


Kenapa sampai seperti itu?? Kenapa ras kami berpikir untuk melakukan kudeta dan memberontak, setelah bertahun-tahun mengabdikan diri dengan baik.


Lagipula, ras Dicth'anhm tidak ada yang berperilaku buruk. Mereka semua orang baik karena memang berasal dari darah suci yang termulia. Mereka tidak pernah berlaku buruk pada kami. Tapi, kenapa harus ada pemberontakan??


Aku menggeleng. Itu mustahil, karena ras Gasth'anhm tak di wajibkan mengabdi kalau kami tak mau melakukannya. Kami bisa mencari uang sebagai petani di kebun sendiri, atau menjadi nelayan yang menangkap ikan untuk di makan sendiri. Tak ada pengekangan apapun. Yang memilih mengabdikan diri karena itu hal naluriah, dan juga gajinya sangat amat besar.


Lalu, kenapa harus memberontak?? Ataukah ada yang terbesit di hati sebagian ras kami, untuk menjadi yang termulia seperti ras Dicth'anhm. Itu benar-benar melanggar rantai kehidupan yang ada.


Aku terhenti di depan pintu kamarku, masuk ke dalam dan menguncinya. Aku berdiri di depan cermin dan memandang wajahku yang kotor dan bajuku yang kumal.


Aku seharusnya mandi, karena penampakan wajahku begitu menjijikkan di mataku sendiri. Aku mulai membuka baju dan menutupi tubuhku dengan handuk.


Mandi sewajarnya dengan shower sambil membersihkan tubuhku dengan sabun mandi. Kotoran meluruh dari tubuhku, bahkan air yang mengalir dari tubuh ke lantai ini berwarna coklat pekat, mungkin karena aku pun muntah darah waktu itu.


Beberapa bagian tubuhku pun terasa perih karena luka-luka. Aku memandangi tubuhku sendiri di depan cermin, membiarkan shower terus mengalir. Beberapa bagian tubuhku lebam, besok pagi pasti membiru kalau tak segera di kompres.


Ini juga ada beberapa bagian tubuh yang lengket. Aku berusaha membersihkannya, tapi.. kenapa lengket sekali, seperti di lem??


Aku meraba bagian pundakku, lalu merasakan benda aneh yang tertempel. Aku mencoba menariknya. Sesuatu berupa stiker terlepas dari tubuhku. Aku mengernyit dan melihat benda apa itu.


"Ini kayak...." Kedua mataku terbelalak ketika menyadarinya. Aku terasa sesak napas dan segera mengambil handuk meskipun busa sabun belum bersih sempurna.


Aku keluar dari kamar mandi, mencari laptop milikku, lalu menempelkan benda tersebut ke scan.


Scan sedang dalam proses membacanya, menjelaskan fungsi dari benda tersebut, dan apa saja file yang berhasil tersimpan.


Sambil menunggu, aku merasa begitu berdebar. Aku takut kalau sampai ini adalah alat penyadap yang di tempelkan oleh seseorang. Dan ketika hasil akhir dari scan keluar.


Aku menelan ludah dengan wajah pucat.


Gawat, ini lebih buruk dari alat penyadap. Ini adalah Shotgun Mikrofon. Alat yang mampu menangkap suara lebih jelas daripada alat penyadap biasa.


Dan lagi, semua data dan informasi yang tersimpan di memori Shotgun MikrofonĀ ini, dimulai setelah aku bertarung dengan Viktor.


Bedebah, itu.. sampai akhir hayatnya masih merepotkan!! Dia, sengaja memasang benda ini si tubuhku, dengan maksud mencari informasi lebih dalam lagi.


Anggota mereka pasti sudah mendengar isi dari rapat kami tadi. Kalau begini, tamat riwayat ku!!


*Dita POV End


Bersambung...