SURO

SURO
Ternyata Dia



Perempuan berambut hitam panjang ini berteriak, membuatku terkesiap dan segera menutup mulutnya. Aku panik dan melirik sekitar, bagaimana kalau sampai para pekerja ku datang dan melihat tangan gadis ini ada di resleting celanaku? Pasti mereka akan salah paham dan berpikiran yang bukan-bukan.


"Hei!! Diam!! Kenapa kau berteriak begitu?!" keluhku menggeram.


Perempuan ini langsung menampik tanganku dengan keras. "Aku kaget lah!! Gelangku nyangkut di situ! Lepaskan itu sekarang atau-" ia tiba-tiba saja terdiam dengan wajah pucat.


Aku mengerjap heran sambil menatapnya. "Atau apa?" tanyaku.


"Aku sudah tak tahan!!" Ia langsung berteriak dan beranjak, membuatku ikut beranjak karena gelangnya tak hanya tersangkut di resleting, tapi juga di celana dalamku. Kalau ku biarkan dia berlari, bukan hanya celanaku saja yang robek, tapi juga celana dalamku.


"Sudah gila apa? Tunggu dulu sebentar!!!" pekikku panik, ketika melihatnya hendak masuk ke dalam toilet.


"Tidak sempat bodoh!!" balasnya sambil masuk ke balik pintu, dan membiarkan aku berada di ambang pintu. "Ku tusuk matamu kalau sampai mengintip!!" ancamnya.


Aku langsung membalikkan wajahku dan menutupnya dengan tangan. "Gila!! Tidak wajar!! Kau ini berani sekali!!" keluhku. Malah rasanya jadi aku yang ketakutan.


"Berisik!!" balasnya.


Tak lama kemudian aku mendengar suara desisan air, diiringi dengan bau Pesing.


"O maaa gaaaa! Mimpi apa aku semalam, malah ikut menemani orang gila pipis!!" gerutuku.


Ia memutar keran air, lalu berisik dengan beberapa suara dan mendorong ku keluar. Aku yang masih menutup mata melirik, ketika ia menunduk dan memandang gelang yang tersangkut dengan lekat.


"Ini bagaimana cara melepaskan kaitannya??" gerutunya.


"Oi!! Kau salah pegang!! Biar aku saja yang melepaskannya!!" bentakku, membuatnya menengadah dan segera beranjak.


"Dari tadi kek!! Jangan sampai ku ajak masuk ke dalam! Untung masih anak kecil." sahutnya.


Aku mendecakkan lidah dengan kesal. "Lagian kau datang dari mana sih?? Bisa-bisanya menabrak orang dan berbuat onar begini?!" keluhku sebal, sambil berusaha menarik gelangnya agar terputus.


"Hei!!" pekik perempuan ini sambil menampar tanganku. "Jangan sembarang memutuskan gelang orang lain!! Ini pemberian kakek ku!! Kalau putus, ku hajar kau!!" ucapnya mengancamku.


Aku hanya mendesis sebal sambil mencoba melepaskannya. Ketika kaitannya berhasil terlepas, perempuan ini langsung menoyor kepalaku hingga tubuhku oleng ke belakang.


"Sampai jumpa bocah tolol!!" ujarnya, membuatku meringis kesal.


"Ternyata ras Dicth'anhm yang bicaranya asal bukan cuma aku saja ya. Tapi dia juga." timpalku sambil menggelengkan kepala.


Aku keluar dari toilet, di sambut oleh beberapa pekerja ku. Mereka menatap khawatir, ke arah para pekerja asing yang ikut bersama gadis aneh tadi.


"Tuan Suro, apa yang terjadi? kenapa tuan lama sekali?" tanya mereka panik.


Aku menggelengkan kepala. "Ada sedikit masalah tadi. Tapi tak apa. Sekarang, dimana ruang pelantikannya?" tanyaku sambil menatap mereka.


"Mari ikut saya lagi tuan." sahut salah satu dari mereka.


Aku mengikutinya melewati beberapa ruang yang tertutup rapat. Kami terhenti di sebuah ruangan yang pintunya langsung terbuka kala aku berada di depannya. Bi Susi menunduk dan menyuruhku segera masuk.


"Nanti tolong tuan jangan buat ulah ya. Saya benar-benar memohon pada tuan." pesannya padaku.


"Tenang aja bi. Jangan takut begitu." ujarku santai, sambil segera masuk ke dalam ruangan.


Kira-kira, dimana tempat dudukku?? Boleh asal duduk kah??


Aku mengernyit sambil berjalan dan melirik sekitar. Aku tak melihat keluargaku di dalam, tapi salah satu tamu ada yang tiba-tiba saja menyapaku.


"Kesdicth'Anhm dari keluarga ketiga?" tanya seorang pria padaku.


Dari perawakannya, ia sepertinya seusia papa, atau lebih muda dari papa.


"Aku? Dari keluarga kedua." sahutku.


Ia tersentak mendengarnya. "Benar kah?? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya. Kami memang tau kalau keluarga kedua kesdicth'anhm mempunyai dua orang anak laki-laki. Tapi, kau tak pernah hadir dalam acara penting." ujarnya.


Aku tersenyum. "Aku belum cukup umur dan belum mampu bersikap. Makanya aku tidak di perbolehkan ikut acara penting sebelum umurku cukup." sahutku.


"Ku rasa Danniel sudah hadir di acara penting sejak kecil. Jadi, apa ada masalah denganmu?" tanyanya lagi.


Aku terdiam kala mendengarnya. Kenapa dia seberisik itu?? Untung saja bi Susi sudah mengingatkan aku untuk tidak berbuat onar, kalau tidak.. Sepertinya orang ini sudah ku injak-injak kakinya.


"Frans.. Bukankah itu suatu perbuatan tidak sopan, jika bertanya hal privasi keluarga lain?? Lagipula ini acara keluarga mereka, tentu saja semua anaknya harus ikut serta. mungkin keluarga mereka punya alasan sendiri untuk melindungi beberapa anaknya." ucap seorang ibu-ibu yang berada tak jauh dari kami.


"Ya, maafkan aku. Aku hanya tak bisa menahan diri karena baru pertama kali melihat anggota keluarga kesdicth'anhm yang belum pernah ku lihat sebelumnya." ucap si pria ini pada wanita yang baru saja datang. Kemudian ia melirikku. "Hei adik kecil, maafkan atas ketidaksopanan ku jika kau merasa tidak nyaman akan hal itu." tukasnya.


Aku menganggukkan kepala. "Ya, aku tak mempermasalahkan itu." sahutku. "Aku permisi dulu." lanjutku sambil menunduk sekali. Ketika memunggungi, aku langsung mencibirnya dengan ekspresi ku.


Dasar tamu kesdicth'anhm yang tidak sopan. Apa jangan-jangan semua anggota keluarga kesdicth'anhm itu memang setidak sopan itu ya. Makanya aku juga begini, karena memang darah keturunannya sudah begitu semua.


Lagipula dimana papa, mama dan Danniel? Aku mulai melirik sekitar, berusaha mencari keberadaan mereka. Ketika aku melihat mama dan papa duduk di depan para tetamu, aku langsung menciut dan menunduk, tak mau duduk bersama mereka. Aku tak mau di lihat oleh semua tamu undangan dan mencolok di depan situ. Jadi sebaiknya aku duduk dan cari tempat yang lain.


Aku bergeser sambil terus menundukkan kepala, ketika Mama melirik sekitar dan seolah merasa aku ada di sekitar sini.


Aku menyamarkan diri di keramaian. Duduk beringsut di kursi kosong bersama anggota keluarga yang lain. Saking sibuknya menatap papa dan mama, tanpa sadar aku menyikut tangan seseorang yang berada di sebelahku.


Baik aku dan dia terkesiap. Aku segera menoleh dan berkata, "Ah, maaf.. Aku tidak sengaja melakukan-"


"Nya?" sambungku sambil mengernyit, menatap sosok gadis yang berada di sampingku.


Ia terkesiap dan langsung menutup wajahnya dan menoleh ke arah lain. Haha, ternyata dia perempuan yang tadi itu. Perempuan grasak-grusuk yang menarik ku ke dalam toilet bersama.


Aku menyelis menoleh ke arahnya, menatapnya dengan lekat sampai ia kembali menoleh padaku. Wajahnya panik dan pucat, dan kegrasak-grusukannya membuat orang tuanya sadar.


"Seriiy, apa yang kau lakukan? Tenanglah sedikit dan jadi gadis patuh yang manis." ucap orang tuanya.


Aku terbelalak lalu mengernyit. "Seriiy?!" seruku tak percaya, membuat anggota keluarganya menoleh ke arahku.


"Wah, Suro kesdicth'anhm?!" seru orang tuanya, dan kali ini giliran perempuan yang bernama Seriiy tadi yang terbelalak.


"Suro?!" gumamnya dalam.


Jadi... Dia, yang akan di jodohkan dengan Danniel?? Perempuan grasak-grusuk ini?? Yang benar saja...


Bersambung...