SURO

SURO
Hukuman Keberuntungan



Aku terdiam ketika Danniel mengatakan hal tersebut. Ia mulai beranjak dan aku langsung menahan tangannya agar kembali duduk.


"Bukan begitu, aku ini bingung. kalian berdua sama-sama saling benci, kalian berdua juga saling tuduh. Jadi sebenarnya, siapa yang harus ku percayai?"


"Aku." ia langsung menyambar ucapanku. "Kau tak perlu berpikir keras, cukup percayakan semuanya padaku." lanjutnya.


"Tapi, bukankah waktu itu dia juga di serang?!" tanyaku lagi.


Danniel mendengkus mendengarnya. "Itu akal-akalannya bersama komplotannya itu. Kau tentu tau, kalau Dita adalah pengendali air?? Darah termasuk cairan, dan bisa jadi ia mengendalikan darahnya seolah-olah benar terkena panah beracun, padahal tidak."


"Kenapa tidak?" sergahku.


"Karena saat aku sedang sibuk menghadapi musuh, dan kau di amankan pak Saipul.. Dita yang ku letakkan di tempat tidur menghilang. Bagaimana bisa ia menghilang sementara dirinya sendiri terkena racun? Sudah pasti itu hanya tipuannya. Dan ketika suasana rumah sudah aman, aku melihat ia baik-baik saja bersama para penjaga keamanan yang lain." terang Danniel.


"Dia kan bisa mengeluarkan racun di tubuhnya. Kala itu juga dia mengeluarkan racun di tubuhku dengan kekuatannya."


"Iya kalau dalam posisi sadar, masalahnya.. Ia pingsan kan waktu itu? Untuk sadar pun butuh proses yang tidak sebentar, belum lagi racun yang masuk ke tubuhnya tentu sudah bekerja dengan cepat. Jadi, mustahil kalau ia melakukan penyembuhan." terangnya lagi.


Aku menghela napas panjang. Jadi sekarang, siapa yang harus ku percaya di antara mereka berdua? Danniel atau Dita??


Mereka berdua sama-sama memiliki alasan atas tuduhannya, tapi entah kenapa.. Hati kecilku berkata kalau Danniel mengatakan hal yang benar, dan lagi.. ucapannya paling masuk akal karena di sertai dengan beberapa bukti kecil.


"Untuk sekarang, aku akan di lantik menjadi pemimpin keamanan di rumah ini. Aku akan lebih leluasa lagi mengawas beberapa orang yang mencurigakan di rumah ini. Selain itu, aku juga di tugaskan untuk mengatur strategi dan mencegah terjadinya serangan mendadak seperti tadi." tuturnya sambil menghela napas panjang.


Ku rasa, sepertinya itu berat baginya. Tapi untuk suatu alasan, ia sampai mau menjadi pemimpin penjaga keamanan. Dan lagi, tadi papa mengatakan tentang sebuah hukuman.


"Oi, Danniel.." sapaku, membuat Danniel menoleh. "Tadi itu, papa mengatakan sesuatu tentang hukuman untukmu. Memangnya, hukuman apa yang di berikan papa untukmu?" tanyaku.


Danniel menekuk alis, dan wajahnya terlihat frustasi. "Ini sebenarnya masalah orang dewasa." sahutnya.


"Anggap saja aku sudah dewasa, lagipula ku pikir kamu tak punya teman untuk berbagi keluh kesah, setidaknya kalau kau memang menganggap ku adik, ayo kita saling berterus-terang dan berbagi kisah. Bukan kah memang itu yang di lakukan kakak beradik?" ucapku.


Wajah Danniel terlihat senang. Apa karena aku mengatakan perihal kakak beradik?? atau apa??


"Benar kah aku boleh berbagi keluh kesah dengan orang lain?" tanyanya.


Aku mengangguk tanpa menjawab.


"Selama ini, aku selalu di kekang dan tak di perbolehkan mengeluh dan mengungkap perasaanku, entah itu senang, sedih atau gembira. Aku selalu menyimpannya sendiri, karena aku tak diizinkan untuk melakukan itu."


Aku mengerjap mendengarnya. "Kenapa?? Apakah ini adalah aturan yang tertulis di buku peraturan mu?" tanyaku dengan wajah terperangah.


Ia diam terlebih dahulu, baru menganggukkan kepalanya. "Ya.. Itu, adalah aturan yang mutlak untukku."


Aku meringis. "Kenapa kita di berikan aturan konyol macam itu?"


Aku mengernyit. "Bukankah kamu suka dengan posisi itu? Bukannya waktu itu kau tak mau aku merebutnya darimu?" tanyaku.


Ia mengerutkan dahi. "Ya. Aku tak mau kau mengambil posisi itu, karena berpikir kalau kau saja sudah menderita dengan keadaanmu yang sekarang, apalagi kalau harus mengambil alih posisi kepala keluarga, yang dengan kata lain.. beban yang dilimpahkan padaku, akan di limpahkan padamu juga. Dan menurutku.. Itu tidak adil untuk anak seusiamu."


"Kita ini sama-sama laki-laki, jadi kita memiliki potensi yang sama untuk meneruskan keluarga, tergantung siapa yang paling tepat untuk di pilih nanti. Tapi, aku tak ingin membebani adikku. Makanya, ketika kau lahir.. Aku langsung meminta posisi itu, jatuh ke tanganku." terangnya, membuatku terperangah. "Seorang kepala keluarga dan pemimpin, tak boleh menunjukkan perasaan pribadinya di muka umum. Maka dari itu, aku sejak kecil di latih untuk selalu menyembunyikan apa yang ku rasakan."


Aku mengerjapkan mata, aku tak percaya kalau ia menyayangiku sampai sejauh itu, meskipun aku tak tau maksud dari semua yang ia lakukan itu, hanya saja.. Ia selalu memikirkan aku setiap melakukan sesuatu.


"Jadi ku pikir," Danniel melanjutkan, membuatku kembali menyimaknya. "Aku, tak pernah bisa berbagi perasaan pada orang lain. Karena sebagai kepala keluarga, aku harus mampu menanggung semuanya sendirian. Seperti yang saat ini papa lakukan. Aku hanya di didik agar seperti dia."


Aku menarik napas dan menghelanya. Ku tepuk pundaknya sambil menatapnya dengan lekat. "Tak apa. Sekarang, kau bisa mengatakan apapun padaku. Jadi, ayo membangun hubungan lebih dekat lagi." tukasku.


Ia tersenyum hingga matanya menghilang saking sipitnya. "Aku rasanya seperti mimpi. Tak menyangka, dengan adanya penyerangan semacam ini, membuatku menjadi lebih dekat dengan adikku sendiri. Mungkin ini yang di maksud orang-orang, menemukan hal baik dalam masalah yang buruk." ucapnya.


Aku menganggukkan kepala. "Jadi, apa kau mau berbagi padaku, mengenai hukuman apa yang di berikan papa untukmu?" Danniel terdiam, seolah memikirkan banyak hal. "Kau terkena hukuman karena aku, jadi aku harus tau itu. Kalau tidak, aku akan merasa sangat bersalah padamu." ujarku, mengemukakan alasannya.


Danniel menatap lurus kedepan, dan yang ku lihat tatapannya menjadi kosong. "Aku di jodohkan dengan putri keluarga pertama kesdicth'anhm, Seriiyhara kesdicth'anhm."


Aku mengernyit lalu menganggukkan kepala. "Oh, bukannya itu bagus?? Setahuku, seluruh marga kesdicth'anhm tidak ada yang wajahnya jelek. Jadi, si Sirih pasti cantik."


Danniel menyelis menatapku. "Namanya Seriiyhara." ucapnya menggeram.


Aku mendoerkan bibir sambil menoleh ke arah lain. Ternyata dia memang orangnya tidak sabaran dan suka marah.


"Oh, ya.. Maksudku Seriiyhara. Dia pasti gadis yang cantik kan?? Lalu apa itu harus di sebut hukuman?? Bukan keberuntungan?" tanyaku. Jujur, hal yang seperti ini sebenarnya belum ku mengerti.


Danniel menatap tajam padaku. "Dia memang cantik. Bahkan bisa di bilang sebagai gadis tercantik dalam keluarga kesdicth'anhm dari satu sampai seterusnya. Atau bisa lebih cantik lagi ketimbang ras Dicth'anhm lainnya."


Aku langsung menampar lengan Danniel kala mendengarnya. "Ahahaa!! Kalau begitu namanya beruntung!! Kau harus dijodohkan dengan gadis secantik itu. Apa hukuman dari papa itu seperti bercanda saja ya?" lakarku, membuat Danniel menatap sadis ke arahku. "Oh, maafkan aku." sahutku ciut.


"Mungkin bagi setiap orang, memiliki Seriiy adalah sebuah keberuntungan. Dan aku pun harusnya mensyukuri itu. Tapi masalahnya, Papa mengatakan hal perjodohan ini beberapa waktu lalu, kalau seandainya ia mengatakannya lebih lama, aku tak akan menolak. Sewaktu aku menolak pun, papa dan mama terkejut. Mereka menerima keputusan ku dengan hati gundah. Setelah aku mengakui kesalahan mu belum lama ini, mereka jadi punya alasan untuk kembali menjodohkan kami. Dan tentu saja, kali ini aku tidak bisa menolaknya. Karena ini adalah hukuman bagiku."


Aku menyipitkan mata mendengar kisahnya. Berusaha mencari celah, dimana bentuk hukuman yang papa maksud. "Oh, Danniel.. Aku belum mengerti dimana bentuk hukumannya, dan kenapa kamu menolak perjodohan itu. Apakah kamu tidak menyukai Seriiy??" terka ku.


"Aku bukannya tidak menyukai Seriiy. Semua pria yang melihatnya, pasti akan jatuh hati dan tak bisa menolaknya. Tapi masalahnya, aku.. Sedang jatuh cinta pada gadis lain."


Aku menjelekkan wajahku sejelek-jeleknya. "Haaah? Kau?? Jatuh cinta?? Pada gadis lain?? Gadis yang mana ya? Bukannya kau tak pernah bertemu dengan gadis lain di rumah ini kecuali pekerja kita. Atau jangan-jangan..." Aku melirik sengit ke wajah Danniel. Lalu menggeleng tak terima.."Kau sedang jatuh cinta...."


Aku mengerutkan seluruh wajahku saking merasa tak mungkin dengan apa yang ku pikirkan sendiri. "...pada Dita?" terka ku dengan berat hati.


Danniel langsung terkejut kala mendengarnya. "D.. Dari mana kau mengetahuinya??"


Bersambung....