SURO

SURO
Benar-benar di bunuh!



Aku mengepalkan tangan dengan erat. Ku hampiri jasad pak Roxi dan memeriksanya. Pria berbadan besar itu memang sudah tak bernapas, di tambah lagi ia mendapat luka di beberapa bagian Fital tubuhnya.


Aku mencolek darah yang tergenang di lantai, masih kental, darahnya belum membeku. Dan lagi, darah ini masih terasa hangat, artinya pembunuhan ini baru saja terjadi??


Aku menoleh sekeliling, kalau seandainya pak Roxi di bunuh, pasti pelakunya masih ada di sekitar sini. Pasti belum terlalu jauh dari sini.


Aku beranjak, membiarkan Dita mengurus jasad pak Roxi. Ku cari sesuatu yang bersifat kokoh di kamarnya. Ada sebuah tongkat golf dan langsung saja ku lemparkan benda itu ke cctv.


Dita terkesiap kala melihatnya, ia menatapku dengan wajah kebingungan dan panik. "Apa yang lu lakuin? Jangan main-main di situasi genting, monyet!!" bentaknya dengan nada suara yang bergetar.


Aku melirik sinis ke arahnya. Memangnya siapa yang sedang bermain-main?? Ku lakukan ini semua untuk memberikan sinyal gawat kepada petugas keamanan di bagian cctv. Mereka pasti cepat menyadari kalau cctv sedang rusak atau tak berfungsi.


Situasi ini terlalu genting. Para petugas keamanan pasti sedang galau pasal janji mereka untuk keluarga kami tadi. Mereka juga baru selesai meninggalkan ruang rapat, dan tentu saja mereka masih belum bersiap di posisi masing-masing.


Aku menilik kernyit, menatap sekitar dan menyadari kalau para petugas keamanan belum menyadari hal ini.


"Sialan, berarti harus lebih brutal lagi!!" gerutuku sambil melirik sekeliling. Aku mulai mencari benda yang bisa membuat keributan lebih dari ini. Dan kebetulan sekali, di atas meja kerja pak Roxi, aku menemukan sebuah korek gas dan juga rokok.


Ku ambil korek tersebut, lalu menyulutkan apinya ke tirai. Tentu saja tirai adalah benda yang sangat mudah terbakar.


Dita yang sedang sibuk memompa jantung pak Roxi menjadi terkejut. Ia terbelalak dan menengadah menatapku ketika kobaran api mulai membesar dan memakan sebagian besar tirai.


"Elu gila ya?!" bentaknya dengan wajah memerah saking paniknya.


Aku hanya mematung, membiarkan suara alarm berbunyi nyaring di seluruh ruangan, dan menyemprotkan air dari atas plafon.


Dita terkesiap dan mengerutkan tubuhnya, ketika air turun dan membasahi dirinya. Lama kelamaan, api di tirai menjadi padam karena siraman air. Dengan keributan yang terjadi, tentu saja pelaku yang masih berada di sekitaran rumah akan kalang kabut dan tak dapat bersikap tenang.


Dengan begitu, dia akan melakukan kesalahan fatal dan keluar dari tempat persembunyiannya.


Braaaak!!!


Benar saja, seseorang dengan jubah hitam panjang melompat dari dalam lemari yang berisi baju dengan warna serupa dengannya. Dita hendak beranjak, mungkin berniat mengejarnya, tapi tiba-tiba saja handuk yang di kenalannya melorot, membuatnya panik dan segera menutup tubuhnya lagi.


"Sialan!! Gue gak bisa ngejar!!" geram Dita sambil menoleh ke arah orang asing yang menabrakkan dirinya sendiri ke jendela kaca yang sebagiannya sudah pecah.


Aku yang melihat pergerakan si jubah, langsung melemparkan apa saja yang ada di genggaman ku.


Batts!!


Ia tersungkur ketika korek api di tanganku berhasil mengenai mata kakinya. Aku melompat, menabrakkan lenganku ke kaca. Aku terguling di rumput, bersamaan dengan serpihan kaca yang ikut pecah karena ulahku.


Si jubah tadi terkesiap, ia berusaha bangkit dari posisinya, berlari dalam keadaan kaku dan kakinya yang pincang.


Aku pun hendak beranjak, tapi tiba-tiba saja ia mengarahkan tangannya ke arahku dan..


Booom!!


Aku melompat ke sisi kiri, seperti orang yang sedang melompat ke dalam air, terguling di rumput dan menatap sebuah pohon yang patah akibat ledakan cahaya yang di lakukan oleh si jubah.


Ia kembali berlari, ketika melihat aku sedang lengah. Aku segera beranjak lagi dan mengejarnya.


"Kalau dapat, mati kau!!" bentakku sambil terus mengejarnya.


Ia melompati bonsai-bonsai yang tertanam rapi di kebun samping rumahku. Aku terus mengikutinya, bagaimana pun orang ini harus tertangkap, karena mungkin saja dia yang telah membunuh pak Roxi.


Ia tersudut, ketika pagar tinggi menjulang dan menghalau lajunya. Ia menoleh ke arahku, bersiap melakukan sesuatu untuk melawanku.


Ia bersiap menyerang, tapi tak memasang kuda-kuda. Apakah ia tak mau aku bisa mendeteksi asal keluarga dari gaya bertarung atau kuda-kudanya.


Beberapa batu kerikil di angkatnya ke udara, tentu saja itu adalah Kundalini yang ia miliki. Aku tersentak, baru sadar kalau aku tak punya senjata apa-apa untuk melawannya.


Batu-batu yang awalnya mengambang, mulai melesat ke arahku bagaikan hujan batu. Saking cepatnya, aku tak mungkin menghindar dalam posisi sedekat ini. Ku lindungi kepala ku dengan kedua tangan yang menyilang di wajah dan....


Buuum!!


Deg!!


"Ohok!!" Aku memuntahkan darah dari mulutku, ketika punggungku menghantam sebuah pohon kayu yang di gunakan untuk dasar desain saung di rumahku.


Aku menyekanya, lalu menatap lurus ke arah si jubah. Asap yang mengepul lama-kelamaan semakin menghilang, dan ternyata.. Aku pun kehilangan si pria misterius itu.


.........


Aku kembali ke kamar pak Roxi, mendapati para pekerja ku sudah berkumpul di sana. Suara mereka riuh, seperti membahas sesuatu mengenai kronologi yang mereka alami sebelum tragedi ini terjadi.


"Untuk sekelas pak Roxi, kayaknya gak mungkin deh." gerutu seseorang.


"Lu mana tau apa yang dia alami! Mungkin aja pak Roxi gak kuat sama beban baru yang akan ia emban, makanya dia bunuh diri."


Aku terkesiap mendengarnya. Pak Roxi, bunuh diri??? Lelucon macam apa itu??


"Gak mungkin, ini pak Roxi loh, bukan anak ABG yang lagi galau karena jatuh cinta dan merasa hidupnya berantakan."


"Terus gimana?? Lu mau bilang kalau semua ini murni kecelakaan?" terka salah seorang mereka. "Ya gak mungkin lah!!"


"Emang bukan karena kecelakaan." Aku menyambung, membuat beberapa orang pekerja yang berada di dalam kamar pak Roxi terkejut melihatku yang muncul tiba-tiba dari jendela yang sudah pecah. "Itu semua karena pak Roxi dibunuh." perkataan ku membuat semua anggota keamanan terkesiap, mereka mengernyit sambil saling berpandangan satu sama lain tanpa berani mengatakan apapun atas pernyataan ku barusan.


"P.. Pak Roxi di bunuh? A.. Apakah benar, tuan?" tanya mereka takut.


Aku mengangguk yakin. "Ya, barusan aku berusaha menyusul si pembunuh. Aku juga yang membuat keributan agar kalian semua datang kesini dan agar si pembunuh itu keluar dari tempat persembunyiannya." lanjut ku menjelaskan.


"Jangan konyol."


Aku mengernyit, kala seseorang yang suaranya baru pertama kali ku dengar muncul dan menyanggah ucapanku. Seorang lelaki dengan perawakan hampir mirip aku, berdiri santai di depan pintu, membuat semua mata teralihkan padanya.


Dita mengerutkan dahi, menatapku lalu kembali menatap orang yang ada di pintu. Seolah ingin memastikan sesuatu yang konyol di pikirannya.


"Apa katanya? Kont-"


"Aaaargh!!!" Aku langsung berteriak, pura-pura di gigit semut saking tak mau Dita melanjutkan ucapannya, yang sudah pasti konyol tadi.


"Tak ada yang di bunuh disini, ini semua murni bunuh diri." ucap lelaki itu meyakinkan. Dan raut wajahnya yang tenang seolah lebih bisa di percaya meskipun ia menyatakan kebohongan.


"Tu.. Tuan Danniel kesdicth'anhm?" sapa para pekerja sambil menundukkan tubuhnya dan meletakkan tangan ke dada. Ternyata lelaki itu.. Adalah kakak ku.


"Apa-apaan sih itu?" balasku, membuat lelaki ini menatapku. "Jelas-jelas aku melihatnya keluar dari lemari dan menerobos kaca jendela. Pak Roxi di bunuh, ada seseorang yang berada di sini ketika ia mati." lanjutku.


Ia menatapku tajam, tapi seolah mengabaikan. "Kalian dengar, tidak ada yang mati di bunuh disini. Jangan percaya ucapan bocah sepuluh tahun." lanjutnya meremeh.


Aku mendengkus senyum menatapnya. "Aku punya bukti. Lihat cctv!" lawanku.


"Sudah ku bilang untuk jangan mempercayai lawakan anak kecil. Mereka suka berkhayal dan mencari masalah. Yang mereka pikirkan hanya bermain-main saja, daripada itu.. Sebaiknya kalian bantu mengangkat jasad pak Roxi dan kabarkan hal ini pada anak semata wayangnya."


"Aku benar, kenapa kamu menutup kebenaran?" balasku datar, membuat para pekerja terlihat kebingungan.


Lelaki ini berbalik, dan pergi melongos begitu saja seolah aku tak pernah ada di ruangan ini. Ia mengabaikan ku begitu saja. Dasar keluarga idiot!!


Para pekerja mulai mengangkat tubuh pak Roxi, dan sesekali mereka melirik ke arahku. Dan terus terang saja, aku merasa tersinggung diperlukan seperti itu.


"Apa? Kalian menganggap aku bohong? Memangnya ini semua masuk akal?? kalau pak Roxi bunuh diri, kenapa kaca kamarnya harus pecah? Dia tak perlu melakukan itu kan, kecuali kalau pembunuhan berasal dari luar." Aku melanjutkan, dan mereka masih memasang wajah ragu. "Kalau tak percaya, tanyakan saja pada Dita, dia juga melihat kejadiannya!" lanjutku sambil melirik Dita.


Kini mata mereka tertuju pada Dita yang masih berada di dekat pak Roxi. Aku diam, menunggu kebenaran yang akan di ungkap olehnya.


Dita terdiam cukup lama, lalu menghela napas panjang. "Tuan Danniel kesdicth'anhm benar, tuan Suro lah yang sedang melakukan kebohongan." ucap Dita, membuatku terkesiap dan tak percaya atas ucapannya barusan.


"Apa? Kenapa kamu membelanya?"


Bersambung...