SURO

SURO
Ada Apa Ini?



Aku terdiam kala suara yang terdengar di telingaku senyap. Tak ada lagi suara berarti, hanya ada bunyi tetesan air yang jatuh. Aku melepaskan earphone yang ada di telingaku, lalu melemparkannya sembarang ke tempat tidur.


Aku beranjak, menghela napas panjang sambil melihat lampu gantung yang ada di atas plafon. Aku mulai melengkungkan senyum dan mendengkus. "Jadi... Ras Gasth'anhm ingin melakukan kudeta?? Di luar dugaan sekali." gumamku.


Aku ini orangnya penasaran, jadi saat Dita di panggil pak Saipul keluar...


Dita mengangguk dan bergegas menutup pintu, tapi sebelum ia melakukannya. "Oi, Dita!!" pekikku, membuatnya yang hampir menutup pintu, membukanya sedikit dan mengintip.


"Apa?" sahutnya.


"Kesini sebentar." perintahku. Tanpa basa-basi, perempuan ini menuruti perkataan ku. Ia menghampiriku dengan wajah bingung.


"Apaan sih? Nanti belajarnya, bukan sekarang!" gerutunya.


"Emangnya siapa yang mau membahas itu!" balasku menggerutu. "Aku tak mau mengatakan itu kok." lanjutku.


"Terus?"


"Ya, terimakasih untuk hari ini. Karena kamu, aku bisa hidup sekarang." ucapku sambil tersenyum, dan menyentuh punggungnya yang tertutup rambut panjang kusut.


Saat itu aku menempelkan Shotgun Mikrofon untuk ikut mendengarkan apa isi dari rapat mereka. Soalnya kalau bertanya pada Dita, mungkin saja dia tak akan mau memberitahuku atau malah membohongi ku. Soalnya, informasi itu bersifat genting sekali.


Ngomong-ngomong tentang itu... Aku mau menyusul Dita untuk memintanya mengatur jadwal melatihku melakukan meditasi Kundalini. Nanti kalau tak di tanyakan lebih lanjut, dia tak mau membahasnya lagi, dan pada akhirnya semua hilang di telan bumi.


Aku beranjak dan melompat dari tempat tidur. Beralih dari kamar menuju ke tempat tinggal Dita. Aku yang sudah berdiri di depan kamarnya mencari gaya yang bagus untuk membuat keributan agar ia keluar.


"Ketuk pintu pakai gaya apa ya?" gumamku sambil meletakkan kepalan tangan ke daun pintu.


Ketika hendak mengetuknya, tiba-tiba saja pintu itu terbuka, menampakkan Dita yang berlari ke arah luar dengan hanya mengenakan sehelai handuk saja.


"Aaaaaa!!" ia berteriak ketika hampir menabrak ku, mulutnya menganga begitu lebar, bagaikan sumur.


Aku yang terkejut langsung berjongkok dan melindungi kepalaku, sementara Dita langsung melompat dan braaak!!


Aku menoleh ketika perempuan itu menabrak tembok dengan posisi seperti cicak yang sedang merayap.


"Kamu ngapain sih bodoh?!" gerutuku kesal, masih dalam posisi berjongkok dan melindungi kepala dengan tangan.


"Wue wawet awak wowet!! (Gue kaget anak monyet!!)" balasnya terdengar aneh, karena pipinya menempel di tembok.


"Lagian kenapa lari-lari di dalam rumah? Itu berbahaya bodoh, kalau sampai kena aku gimana?" protesku sambil beranjak. Ia melepaskan diri dari dinding dan mengelus pipinya sendiri. Aku memperhatikan penampilannya dari atas kebawah. "Cuma pakai handuk lagi, kayak orang gak beres aja."


Tatapannya langsung menajam ke arahku. "Ini genting anak monyet!! Gue baru nyadar kalau di badan gue di pasang alat penyadap oleh Viktor." tukasnya dengan wajah panik dan napas yang berderu.


Aku terdiam beberapa saat kala mendengarnya, dan mendengkus tawa, membuatnya mengernyit heran. "Ku pikir mau bilang apa. Haha, jangan panik begitu bodoh, aku yang memasang itu ke kamu."


Dita semakin menjelekkan wajahnya, dengan rambutnya yang basah dan mukanya yang lengket, membuatku jijik karena ia belum selesai membersihkan sabun di tubuhnya.


Ia akhirnya tertawa ketika mendengarnya. "Ya ampun!! Bikin gue kaget aja nih anak monyet. Ngonggong dong dari tadi!"


"Auk auk!!" sahutku.


"Ternyata elu udah masang benda ini dari pas kita bertarung sama Viktor ya? Kapan lu masangnya tolol?!" balasnya sambil cengengesan, dan menunjukkan bekas tempelan stiker shotgun mikrofon di tubuhnya.


Kini giliran ku yang menjadi panik. Aku.. Tak memasang shotgun mikrofon itu di tubuhnya, melainkan di bajunya. Sekarang dia sudah membuka baju, pantas saja suara yang terdengar adalah tetesan air, mungkin bajunya ada di kamar mandi. Lalu, aku memasangnya saat ia berada di kamarku, jadi...


Aku langsung berlari, membuat Dita terkejut dan ikut mengejarku dari belakang. "Oi monyet, ngapain elu lari?!" tanyanya sambil berusaha menyejajarkan posisi kami.


"Itu bukan shotgun mikrofon punyaku, karena aku menempelnya di baju dan di mulai dari kamarku. Itu tempelan stikernya di tubuhmu dan di mulai ketika kamu bertarung dengan Viktor, dalam artian..."


"Shotgun itu milik anggota Viktor, dan berarti.. Sekarang tidak hanya aku saja yang menguping pembicaraan kalian di rapat tadi, tapi teman-teman si cecunguk itu juga!!" tukasku, membuat Dita kalang kabut dan mengusal rambutnya sendiri.


Aku mendecakkan lidah. "Sama seperti niat awalmu, kamu ingin menemui seseorang kala mengetahui hal ini, kan?" balasku, membuatnya melongo sesaat lalu mengangguk.


"Benar!! Gue mau ngelaporin ini semua ke pak Roxi, kalau sekarang kita dalam bahaya, apalagi.. Mungkin aja mereka juga udah ngedenger pembicaraan kita mengenai buku rahasia keluarga kalian, terus elu yang dilarang ngegunain Kundalini, dan yang paling buruk, isi penting dari rapat tadi, semuanya udah mereka denger!!" ucapnya dengan suara yang terengah.


"Cih, sialan! Apa kamu sudah melenyapkan benda itu?" tanyaku kesal.


Ia menggeleng. "Belum, karena gue baru aja ngecek data yang tersimpan di sana. Tapi, sekarang benda itu gue tinggal di kamar."


"Gawat!! Benar-benar gawat!!" gerutuku.


"Aaarrgghhh!! Viktor sialan!! Semoga kamu masuk neraka dan di gebuk malaikat di dalam kubur!!" tutur Dita, berdoa dengan sungguh-sungguh sampai menengadahkan tangannya segala.


"Malah berdoa!! Emang rada-rada bodoh!!" keluhku sambil menghela napas dan menepuk jidat.


Di saat ras Gasth'anhm berniat melakukan kudeta dan mencuri buku rahasia keluarga ku, di saat itu juga mereka meletakkan alat penyadap di tubuh Dita. Apakah jangan-jangan, niat awal mereka memang itu. Viktor mereka gunakan sebagai alat saja untuk melancarkan rencana mereka itu.


Karena dari yang ku lihat, Viktor itu cukup bodoh dalam memainkan emosi dan memanipulasi lawannya. Jadi, orang macam dia hanya bisa di jadikan umpan saja, selanjutnya.. Mereka tak akan merasa rugi kalau sampai si Viktor mati dalam misi.


Untuk sekarang, pak Roxi harus tau ini. Dia sangat lihai, pintar, dan berkompeten dalam mengambil keputusan dan bersikap. Dia pasti bisa menemukan jalan keluar untuk permasalahan yang ada, tanpa membuat masalah ini sampai ke telinga papa.


Aku dan Dita berlari cepat menuju ke ruangannya. Ketika sampai di sana, kami segera mengetuknya. Merasa tak ada jawaban, aku dan Dita saling tatap tanpa berkata-kata.


Aku tau, karena aku adalah tuan rumah, maka aku di perbolehkan masuk meskipun tanpa izin dari Pak Roxi. Sementara Dita tak bisa melakukan itu.


Aku mengangguk paham, dan menarik gagang pintu lalu membukanya, menampakkan ruangan kosong yang hanya terisi properti seperti lemari, sebuah meja dan beberapa kursi, serta lembaran dan cap pengesahan bertugas.


"Pak Roxi gak ada di ruangannya." ucap Dita sambil menatapku.


"Aku juga liat bodoh, sekarang dia ada dimana? Apa perlu mencari keliling rumah?" tanyaku sambil menatap Dita, berharap mendengarkan pendapatnya.


Perempuan gila ini malah mengendikan bahunya. "Mana gue tau, cari di cctv aja." usulnya.


"Aku setuju, tapi lebih baiknya periksa dulu ke dalam kamarnya. Siapa tau dia ada di sana selepas mengadakan rapat tadi." sahutku, dan kini giliran Dita yang mengangguk setuju.


Kami menutup pintu dan segera berlari memutar, mencari keberadaan kamar pak Roxi. Aku mulai lelah dan terengah, bisa-bisanya papa membangun rumah yang merepotkan seperti ini. Kamar pak Roxi jauh sekali dari ruangannya!!


"Pokoknya kita laporin ini dulu, biasanya akan di adakan rapat lagi buat ngebahas tentang ini!" ucap Dita sambil berlari di sampingku.


Aku mengangguk dan menemukan kamar pak Roxi di ujung ruangan. Kami berhenti di depan pintu lagi dan mengetuknya beberapa kali.


"Pak Roxi, ada di dalam, kan? Kenapa tak jawab? Kami masuk ya?" pintaku sebelum membuka pintu, karena sepertinya ia berada di dalam situ.


Aku menarik dan mendorong pintu kamar, menampakkan seisi ruangan yang terlihat dari sudut kami berdiri. Mataku menilik sekeliling, mengernyit ketika melihat pecahan kaca yang berserakan di lantai kamar.


Ketika mataku menelusuri lebih jauh, aku mengerjap kala melihat sebuah tangan yang terjulur di ujung tempat tidur.


Aku dan Dita masuk bersamaan, melihat sosok tangan di balik tempat tidur. Ketika mata kami menangkap seluruhnya.


Aku terbelalak dan langsung menutup mulut serta hidungku, ketika bau anyir mengganggu penciuman ku. Sama! Bau darah ras Gasth'anhm benar-benar busuk, dan Dita maju ke depan, mendekat ke tubuh seseorang itu.


Ia membalikan tubuh yang telungkup, dan menampakkan wajah bekas tambalan di pipinya.


Aku terkesiap ketika mendengar suara teriakan Dita, tubuhku langsung mematung di tempat kala menyadari seseorang yang terkapar itu adalah...


"PAK ROXI MATIIII!!" pekik Dita sekuat tenaga, membuat suaranya menggelegar di seluruh ruangan.


Bersambung...