SURO

SURO
Ide Busuk



Aku melompat dari posisi duduk ke posisi berdiri kala mendengar pengakuan Danniel. Dia jatuh cinta pada Dita?? Tapi, bagaimana bisa itu terjadi? Bukankah dia membenci Dita dan tak ingin gadis itu ada di dekatku?? Apakah ia melakukan itu semua, semata-mata karena cemburu buta??


"J.. Jadi kau betulan suka Dita? Yang benar?Aku hampir pingsan kala kau mengakuinya!!" seruku dengan heboh, saking aku memang tak menyangkanya.


Danniel langsung menekan bibirnya sendiri dengan jari telunjuk sambil mendesis dan melirik sekitar. "Sssst!! Jangan berteriak begitu!! Bagaimana kalau ada pekerja kita yang mendengar!!" geramnya dengan suara rendah.


"O maaa gaa!! Kau benar-benar suka Dita?? O maaa gaa!!" ucapku bernada, membuat Danniel melirik kesal ke arahku. "Bagaimana bisa?? Bukankah kau membencinya?? Dan ingin ia berhenti menjadi pengabdi ku. Apakah jangan-jangan, sebetulnya kau sedang cemburu kala kami selalu bersama?" terka ku, langsung mengatakan apa yang ku pikirkan tadi.


Danniel menepuk jidatnya sendiri. "Mana mungkin aku cemburu pada bocah, itu tidak mungkin. Kalau menggunakan logika, harusnya aku juga membenci gadis itu, bahkan sangat membencinya karena niat buruknya itu. Tapi, aku sendiri bingung. Aku sendiri tak menyangka dan terus menyangkalnya. Aku juga tidak mau jatuh cinta kepadanya, tapi bagaimana. Aku sudah terlanjur melakukannya." ujarnya dengan wajah penuh sesal, seolah ia melakukan dosa besar di hidupnya.


Aku menggeleng sambil mengusap punggungnya. "Tak apa, aku pernah merasakan apa yang kau rasakan. Dulu sewaktu dia pertama kali datang kerumah dan menggantikan bibi, aku sangat membencinya, bahkan hampir membunuhnya. Tapi anehnya, aku malah suka dan tidak bisa membencinya. Kenapa harus seperti itu ya?"


Danniel meringis menatapku. "Makanya aku semakin membencinya. Bisa-bisanya dia merebut hatiku dan juga hati adikku. Sementara aku, untuk bicara padamu saja butuh waktu yang lama untuk memilih kalimatnya. Aku juga mau jadi kakak yang kau sukai, tapi nyatanya.. Kau malah suka dengannya dan selalu mendengarkan perkataannya, bahkan ikut setuju kala ia menuduhku!!" gerutu Danniel membuatku tersenyum masam kala mendengarnya.


"Ahaa.. Bagaimana yaa.." ujarku seadanya. Bahkan sekarang pun aku masih belum percaya kalau Dita punya niat yang jahat. Tapi, masa' aku tak mempercayai Danniel, dan semua bukti yang ia katakan. "Kau bisa suka Dita, padahal ia melakukan hal buruk dan kalian sering bertengkar kalau bertemu. Maksudku, kenapa kau bisa menyukainya?? Apa hal yang menarik darinya?" sambungku, bertanya.


Danniel menarik napas panjang. "Kenapa ya??" gumamnya sambil mulai menatap langit. "Wajahnya, biasa saja. Perilakunya memalukan. Bicaranya tidak sopan. Tapi, apa ya?" gumamnya lagi. "Mungkin..."


"Hatinya?" sambarku, membuat Danniel terkesiap dan menatapku. "Benar begitu, kan??" Tanyaku lagi. Danniel hanya terdiam dan tak mampu menjawabnya. "Tapi.. apa kau sadar dengan siapa kau jatuh cinta?? Menurutku, ini akan menjadi hal yang rumit, terlebih lagi kau akan meneruskan keluarga ini. Bagaimana bisa, penerus keluarga... Menyukai ras rendahan?? Bukankah itu tak pernah terjadi??" ucapku.


"Kita adalah ras termulia dan mereka adalah budak. Mereka pengabdi kita dan kita tuannya. Darah mereka hina dan kotor, lalu bagaimana... Kau bisa jatuh cinta dengan mereka? Bukankah perasaan mu itu, adalah sebuah aib yang harus di kubur rapat-rapat. Bahkan baunya saja tak boleh terendus." lanjutku.


Danniel menunduk dan wajahnya datar. "Makanya, aku juga bingung. Tapi, aku benar-benar jatuh cinta kepada keanehannya."


Aku menghela napas panjang. "Ternyata perasaan orang dewasa itu merepotkan ya?? Ketika kau jatuh cinta pada Dita, tapi di sisi lain.. Kau malah harus di jodohkan pada seseorang yang mungkin.... Tidak kau cintai?" ucapku.


Danniel menganggukkan kepalanya. "Mungkin, garis takdir pun tak menyetujui kala aku harus jatuh cinta kepadanya. Jadi, ada baiknya aku meredam perasaanku sendiri. Dan kau.. Jangan berkata apa-apa padanya. Itu memalukan sekali!!" ucapnya sambil menatapku.


"Kalau ku beritahu juga dia tak akan percaya. Aku sendiri pun Ter o maaa gaaaa mendengarnya."


Danniel diam dan menatapku dengan sinis. "Berhenti melakukan hal semacam itu!" protesnya.


"Memangnya, kapan acara perjodohan itu di selenggarakan?? Apakah dalam waktu dekat?" tanyaku sambil memetik beberapa melati dan mengumpulkannya di telapak tanganku.


"Aku tak tau, yang pasti.. Acaranya akan di lakukan setelah aku di lantik menjadi pemimpin penjaga keamanan yang baru." jawab Danniel sambil sibuk memperhatikan melati yang ku potek di tanganku. "Aku berharap, acara pelantikan nanti harus berlangsung lebih lama, untuk mengundur waktu perjodohan kami."


Danniel membalas tatapanku. "Aku tau, pasti semuanya akan di laksanakan secepat mungkin, mengingat terlalu bahaya resiko kalau pemimpin penjaga keamanan kosong dalam waktu yang lama."


"Kalau begitu, kita gagalkan saja acaranya." Kepalaku langsung di tepuk oleh Danniel, membuatku meringis karena apa yang ia lakukan itu sama dengan yang sering di lakukan Dita kepadaku.


"Kau ini memang benar-benar liar sekali. Lagipula mana bisa menggagalkan acara sepenting itu. Kau mau mati di gantung papa?" geram Danniel sambil melotot ke arahku.


"Ah, kau cemen sekali. Buat ulah dong! Ikut peraturan sekali!!" ucapku, malah merasa bangga menjadi binal begitu. "Kalau tak bisa menggagalkan acara perjodohan, mungkin kau bisa melakukan hal yang lain."


Danniel kembali melirikku dengan sinis. "Melakukan hal apa?" tanyanya ketus.


"Kau kan harus di lantik secepatnya menjadi pemimpin penjaga keamanan. Kalau sudah di lantik, maka perjodohan akan segera di lakukan. Berhubung menggagalkan perjodohan adalah hal yang mustahil, maka sebaiknya kita perlambat saja waktu pelantikannya."


Danniel menggelengkan kepalanya. "Kau mau melakukan apa?? Acara pelantikan tak akan mudah di gagalkan, sebagaimana acara perjodohan itu. Dua-duanya penting dan menjadi prioritas bagi papa."


Aku mendecakkan lidah dengan kesal. "Lagipula kenapa harus di jodohkan dengan dia sih?? Aneh-aneh saja." keluhku menggerutu.


"Karena garis penerus keluarga pertama kesdicth'anhm adalah perempuan, maka ia harus dinikahkan dengan penerus keluarga generasi dua, tiga, empat atau lima dan seterusnya. Kalau tidak, penerus keluarga pertama kesdicth'anhm adalah yang terlemah, sementara penerus keluarga pertama harusnya yang paling kuat dibanding keluarga selanjutnya. Maka dari itu, untuk memperkuat keluarga kesdicth'anhm, maka aku harus dinikahkan dengan Seriiy. Agar fondasi keluarga kesdicth'anhm semakin kokoh lagi." terangnya panjang lebar, membuatku menahan kantuk kala mendengarnya.


"Kalau tak bisa menggagalkan dua acara tadi, seperti aku punya cara yang lain."


Lagi-lagi Danniel menatap sinis ke arahku. "Apa lagi hal buruk yang ingin kau rencanakan?" terkanya.


"Kita buat ulah saja ketika kau sudah menjadi pemimpin penjaga keamanan."


Danniel langsung menepuk kepala ku lagi. "Aku menjadi pemimpin keamanan untuk sebuah tugas yang mulia, bukan untuk membuat ulah." protesnya.


"Ya kita buat ulah yang masuk akal, sekalian membalas dendam dengan tim pemburu yang menghabisi pekerja di rumah kita." Danniel terkesiap kala mendengar perkataan ku. "Kita bunuh, tim pemburu yang di sandera oleh papa."


Danniel terbelalak kala mendengarnya. "Kau sudah gila!" gerutunya sambil terperangah.


Bersambung...