
*Dita POV
"Monyet?! Nyet?! Suro?? Suro?? Lu masih di sana?" Pekik ku sambil mendekatkan ponsel di mulutku, seolah benda itu adalah toa pengeras suara. Aku menatap ke layar ponsel lalu mendecakkan lidah kala tak mendapat jawaban dari Suro. Seketika ngantukku menjadi hilang, ketika anak monyet ini tak menyahut panggilan ku.
Tadi aku mengoceh tiada henti usai berbicara dengannya. Sampai-sampai tak sadar kalau ia sudah tak menggenggam ponselnya lagi. Lalu, suara aneh apa yang ku dengar? Semacam ada keributan di dalam keheningan.
Sekarang anak itu tak lagi menjawab panggilanku, kalau ia masih di sana, pasti setidaknya bisa mendengar, kan??
Perasaan ku jadi tidak enak, apakah terjadi sesuatu pada anak itu??
Aku segera beranjak dan memakai blazer berwarna Lilac untuk menutup baju tidurku yang tipis. Aku keluar kamar tanpa menguncinya, sambil membawa ponsel di tanganku.
Langkahku cepat, melewati selasar kamar yang beberapa lampu utamanya dimatikan. Lampu redup dan AC di ganti kipas pada saat semua tertidur membuat rambut panjangku melayang-layang ke belakang seiring dengan langkahku.
Entah kenapa, langkahku terasa berat dan melambat. Aku berlari kecil karena mengkhawatirkan tuan kecilku itu. Teleponnya masih menyala, belum di matikan sama sekali, tapi aku tak mendengar suara apapun kecuali keheningan dan deru AC.
Kamar Suro ada di lantai dua, terlalu lambat untuk naik menggunakan lift, jadi aku berlari secepat mungkin melewati anak tangga. Satu langkah membuatku mampu melewati tiga anak tangga.
Aku harus cepat, karena perasaan ku kurang enak. Soalnya, saat tubuhku di tempel stiker penyadap, aku sempat berada di kamar Suro dan berbicara berdua dengannya. Kami juga sempat membahas mengenai buku rahasia keluarga kesdicth'anhm, yang sekarang berada di kamar Suro. Jadi, entah kenapa aku merasa mereka ingin mencari buku itu, dan bisa saja mencelakai Suro yang sedang beristirahat di dalam kamarnya.
Napasku terengah dan keringat membuat rambut panjang ku menjadi lembab. Aku mengatur napas sebelum mengetuk pintu kamar. Ku letakkan tanganku di depan pintu, tapi.. kalau ku ketuk sekarang, dan memang benar ada orang lain di sana, berarti sama saja aku memberikan orang itu kesempatan untuk lari atau bersembunyi.
Tapi kalau aku langsung mendobraknya, maka dia akan terkejut. Kalau tak terjadi apa-apa di sana, palingan Suro yang akan marah karena aku menghancurkan pintunya.
Banyak berpikir membuat aksiku menjadi lambat, aku harus bergerak cepat, menyimpan ponselku di saku celana terlebih dahulu, dan...
Braaaaak!!!
Aku menendang pintu kamar Suro setelah melakukan kuda-kuda, membuatku merasa Dejavu kala pertama kali datang dan masuk ke dalam kamarnya.
Pintu kamar terhempas dan jatuh ke lantai, membuat penerangan lampu dari luar masuk ke dalam kamar yang gelap.
Aku terbelalak, kala melihat tubuh Suro terkapar di depan jendela sementara seseorang sedang berdiri kaku di depan meja belajar dengan buku yang berantakan.
Ia terkejut kala melihat kedatanganku. Seseorang ini langsung melompat ketika aku berlari masuk ke dalam kamar. Ia menunduk dan hendak membuka jendela kamar, tapi sepertinya Suro mengunci jendela kamarnya.
Bagus!! Aku jadi punya waktu untuk menghajarnya sebelum si cecunguk ini kabur. Dia terlihat panik dan menarik kunci dengan sekuat tenaga.
Apa kunci jendela kamarnya macet? Kelihatannya susah sekali untuk di buka??
Ketika aku hampir sampai ke si cecunguk, tiba-tiba saja ia beranjak, menempelkan telapak tangannya ke kaca jendela, lalu mengeluarkan unconsius dari tangannya, membuat kaca itu meledak dan serpihannya berhamburan.
Aku terkesiap kala angin kencang menerobos masuk ke dalam kamar. Si cecunguk melambaikan tangan dan hendak pergi meninggalkan kamar dengan melompat ke dahan pohon di seberang teras kamar.
"Sialan!! Jangan kabur, lu!!" pekikku sambil bersiap mengeluarkan unconsius elemen air dari tanganku.
Tiba-tiba saja, ada serpihan pasir yang berterbangan dari arah bawah ke atas. Aku mengernyit dan mematung, merasa heran ketika ada pasir halus yang tak bergerak sesuai dengan arah angin.
Pasir halus tadi mendadak berubah menjadi gumpalan pasir yang membentuk batu keras. Di hantamkan batu tersebut ke arah si penyusup, hingga tubuhnya terpelanting masuk kembali ke dalam kamar.
Braaaak!!
Aku terpaku kala melihatnya membentur tembok, lalu melihat keluar karena penasaran dengan siapa yang tiba-tiba datang membantu. Aku belum pernah melihat elemen pasir dari seluruh petugas keamanan yang ada di rumah ini. Lalu siapa orang ini??
Si penyusup kembali bangun, menahan perutnya yang tampak kesakitan lalu melesat keluar lagi. Aku langsung menahannya dengan membungkus tubuhnya dengan air tebal, lalu menariknya ke arahku.
Duaaggh!!
Ia terpelanting dan menabrakkan tubuhnya di antara buku-buku yang berhamburan di lantai kamar. Belum sempat menghilangkan rasa sakit, tubuh si penyusup kembali di tarik oleh lapisan pasir, terseret di lantai hingga kearah jendela dekat Suro.
Aku meringis, saat seseorang melompat dari bawah ke atas, disertai desiran pasir yang berkumpul di sekitarnya seperti serangga.
Seorang lelaki dengan mata sipit dan tahi lalat di bawah matanya, rambut yang terjuntai di antara wajahnya, mendarat dengan sempurna di lantai teras kamar.
Aku terkesiap kala melihat Danniel, datang secara tiba-tiba ke kamar Suro tepat ketika terjadi penyerangan.
Danniel membekap seluruh tubuh si penyusup dengan pasirnya, lalu menutupi hidung dan mulut si penyusup dengan pasir tebal.
Lelaki ini berguling seolah tak kuasa ketika napasnya di tahan. Danniel mendekatkan wajahnya ke si penyusup, dan menjambak rambut dengan tangan yang tergenggam kuat.
"Apa yang kamu lakukan disini? Membuat ulah?!" tanya Danniel sambil mengeraskan rahang.
Aku terdiam, bingung dengan situasi yang terjadi, tepatnya aku bingung.. Darimana Danniel bisa tau kalau kamar adiknya sedang di serang? Sementara aku tau ini karena kebetulan Suro sedang menelepon ku.
"Mfff mffff..." si penyusup mengerang sambil menahan air mata yang menggenang di pelupuknya.
"Oh, kau tak bisa berbicara dengan benar? Apa pasirku begitu kuat dan menutup mulutmu dengan sempurna?" tanya Danniel hingga membuat si penyusup terbelalak.
Aku mengernyitkan dahi menatap tingkahnya. "Oi, gimana dia mau ngomong kalau mulutnya elu sumpal pakai pasir?? Tolol!" kecamku sambil melipat tangan di dadaku.
Dannie menekuk alis, menatapku sengit tanpa bersuara, lalu melepaskan bekapan pasir di mulut si penyusup. "Siapa kamu, dan kenapa kamu datang dengan membuat keributan di rumah ini?" tanya Danniel lagi.
"A.. Ampun!! ampuni dan lepaskan aku. Aku cuma di suruh, aku tidak tau apapun." sahutnya gemetaran.
"Disuruh? Apa maksud mu?" tanya Danniel lagi.
"Aku cuma di suruh, sungguh.. Aku cuma di suruh." ia masih menjawab hal yang sama.
"Jawab yang benar, atau kau mau ku bunuh?" tukas Danniel sambil melotot kan matanya.
"T.. Tolong ampuni aku. Tolong lepaskan aku." sahutnya lagi.
Merasa tak ada jawaban pasti, Danniel langsung membekap mulut si penyusup ini lagi dan beranjak menatapku. "Ku urusi si brengsek ini, dan tolong urus adikku." pinta Danniel sambil beranjak dan pergi meninggalkan kami.
Aku masih mematung hingga ia berlalu. Kenapa rasanya canggung dan aneh. Kenapa juga lawannya mudah di hadapi dan tak melakukan perlawanan kala di tangkap?? Aneh sekali, beda dengan seseorang yang datang ke kamar pak Roxi waktu itu.
"Mh.."
Aku terkesiap, kala suara Suro membuyarkan lamunanku. Aku segera mendekat dan memeriksa denyut nadinya.
Sangat lemah. Apa yang di lakukan si brengsek itu pada Suro??
Tak jauh dari tempat Suro pingsan, aku menemukan sebuah jarum suntik berisi cairan di dalamnya. Aku mengendus dan mencium aromanya, dan seketika terkejut kala mengenal bau cairan tersebut.
Gawat!! Ini cairan yang merambat masuk ke titik Kundalini!! Kalau sampai masuk terlalu jauh, maka Suro..
Selamanya tak akan bisa mengendalikan Kundalini. Apa yang harus ku lakukan?? Apa yang harus ku lakukan sekarang??
Bersambung....