SURO

SURO
Dua Pilihan



Aku terdiam, saling berpandangan dengan Danniel yang membalas tatapanku. Dari raut wajahnya, ia terlihat serius dan terus menahan pandangannya padaku. Sepertinya.. Ia berkata jujur?


"Orang itu?? Siapa yang kau maksud dengan orang itu?" tanyaku sambil terperangah.


Danniel menghela napas panjang. "Kau punya peraturan keluarga yang harus di ikuti, kan?" Aku mengangguk. "Aku juga punya hal serupa."


Kini giliran ku yang mengernyit. "Tentu saja, karena kita satu keluarga, jadi peraturan yang harus kita patuhi pun isinya sama." tukasku.


Danniel menggelengkan kepala sambil mendengkus senyum. "Kelihatannya memang sama, tapi sebenarnya.. Isi tiap buku peraturan di antara kita berdua.. Sangatlah berbeda."


Aku terperangah. "Maksudnya?"


"Aku memang di larang untuk berada di dekatmu, berbicara denganmu, dan berada di sekitarmu, tapi itu hanya berlaku untukmu saja. Aku tak melakukan itu pada papa dan mama. Jadi, sudah jelas kalau isi peraturan kita berbeda, kan?"


Aku menegakkan tubuhku dengan napas yang terasa berat. "Jadi itu benar? Peraturan itu, cuma berlaku untuk ku saja?" tanyaku serak.


"Ya, itu hanya berlaku untukmu saja. Dan untuk kami, kami di larang keras berada di dekatmu.."


"Apakah.. Kalian tau alasannya?" tanyaku lagi, dengan tatapan sendu.


Danniel menghela napas sambil tersenyum menatapku. "Ya, tentu saja kami di beritahu alasannya. Hanya saja, itu kurang etis dan tak masuk akal bagiku."


Aku mengerutkan dahi, melihat Danniel yang mulai menusuk daging dengan garpu di tangannya. "Kurang etis?"


"Ya, alasannya tidak masuk akal dan harus di rahasiakan."


Aku membungkukan tubuh. "Ku pikir aku bisa mengetahui alasannya."


"Tentu!" sambar Danniel. "Aku tak akan merahasiakannya darimu."


"Benarkah?" tanyaku tak percaya.


"Alasanku tak boleh berada di dekatmu adalah.. Karena kau adalah sesuatu yang berbahaya."


Aku terperangah. "Berbahaya? Aku berbahaya?? Apanya yang berbahaya?" tanyaku lagi.


"Untuk itu, aku pun tak mengetahuinya. makanya ku bilang itu tidak etis. Aku sudah lama ingin berada di dekatmu, hanya saja aku bingung untuk memulainya dari mana. Saat kau masih bayi pun, papa, mama dan aku tak diperbolehkan ada di dekatmu. Kau sudah di asuh bi Narti saat dalam buaian. Dan kau tau apa yang ku rasakan??" ia menggantung kalimatnya, membuatku meringis tak paham.


"Aku, merasa sedih karena tak bisa melihat adikku sendiri."


Deg!!


Jantungku terjeda sesaat. Entah kenapa, mendengar kata-kata itu keluar dari mulutnya, benar-benar terasa menusuk dalam di hatiku. Seolah-olah, aku bisa ikut merasakan kesedihannya. Di satu sisi aku merasa senang, artinya... kehadiran ku di harapkan??


"Aku pernah di hukum karena berusaha masuk ke kamarmu, hanya untuk melihat wajah adik bayi ku yang kecil. Waktu itu, kakiku di cambuk sampai terluka sayatan, dan aku di ancam agar tak mendekatimu lagi."


"Aku bingung, aku tak mengerti.. kenapa aku tak boleh melihat adik laki-laki ku sendiri. Padahal sebelumnya, kala di dalam kandungan, kami bisa bersamamu.. Bercanda dan berbicara padamu. Kau selalu merespon dengan memberikan tendangan kecil. Dan aku berjanji, akan selalu menjaga dan bersamamu ketika kau keluar nanti."


"Tapi.. Saat-saat yang di tunggu tiba, aku harus terima karena kau tak boleh di dekati oleh sembarangan orang."


"Kecuali bi Narti?" potongku, membuat Danniel melirikku tanpa ekspresi.


"Apa bi Narti mengatakan sesuatu padamu?"


Aku menggeleng. "Banyak hal yang ia ceritakan, tapi tak ada sedikitpun yang menyangkut pekerjaannya."


"Lalu, bagaimana kau bisa tau kalau bi Narti adalah pengecualian?" tanyanya dengan alis yang tertaut.


"Karena..."


Aku menarik baju daster yang sangat sering di pakai bibi kala jam istirahat kerja. Ketika menarik baju tersebut, tiba-tiba sesuatu jatuh dari saku bajunya. Aku mengernyit, melihat sebuah amplop coklat. Ini di dapat bibi setelah keluar dari rumah. Apakah ini uang pesangon bibi??


Aku membukanya, penasaran dengan uang yang tentu saja belum tersentuh olehnya, karena ia sudah di bunuh sebelum menikmatinya.


Ketika aku membuka amplopnya, aku terkesiap mendapati sebuah kertas di dalam sana. Ku baca sekilas isinya, dan...


Apa maksud dari isi surat ini?


Braak!!


Pintu kamar bibi terbanting, membuatku yang terkejut langsung reflek memasukkan kertas dan amplop tersebut ke dalam saku bajuku.


Seorang pria yang pernah ku lihat menatap khawatir ke arahku. "Tuan!!! Saya pikir siapa!! Saya kaget sekali melihat pintu rumah terbuka." keluhnya sambil menyeka keringat.


(End of Flashback)


"Waktu aku ke rumah bibi, aku menemukan amplop di saku bajunya. Dan amplop itu ternyata berisi surat perjanjian bekerjanya di rumah ini. Di perjanjian tersebut tertulis, kalau syarat utamanya untuk bekerja adalah..." Aku menatap Danniel dengan seksama. "Siap untuk mati." lanjutku, membuat Danniel mengerjapkan kedua matanya dengan cepat.


"Yang ku tahu, sejak kecil sampai sekarang.. Hanya bibi yang di berikan akses untuk berada di dekatku. Ketika aku mulai menginjak usia sepuluh tahun, barulah beberapa pekerja dan ART di rumah ini boleh berinteraksi denganku. Setelah membaca surat perjanjian bibi, aku jadi berpikir..." Danniel menatapku tanpa berpikir untuk melanjutkan perkataanku. "Apakah bibi adalah kelinci percobaan kalian?" sambungku.


Danniel menghela napas panjang sambil meletakkan garpu yang masih tertusuk daging di ujungnya. "Kelinci percobaan?"


Aku mencondongkan tubuhku ke arah Danniel. "Setelah mendengar kalau aku ini berbahaya, aku jadi semakin yakin.. Kalau bibi memang di perkerjakan sebagai kelinci percobaan. Karena yang ia rawat, adalah seorang.."


Aku menatap Daniel dengan tajam. "MONSTER?"


Dari raut wajahnya, Danniel tampak terkejut dengan pernyataan ku barusan. Napasnya seolah tertahan, tapi ia berusaha menutupinya.


"Bibi adalah alat percobaan untuk mengetahui, apakah aman jika seseorang berada di dekatku. Setelah usiaku sepuluh tahun, baru lah beberapa orang pekerja lain boleh berinteraksi denganku, karena pemberitahuan dari bibi, bahwa aku tak menyebabkan sesuatu yang buruk padanya."


"Dan jika anggota lain yang berinteraksi denganku pun tak terjadi apa-apa, mungkin.. Ini lah alasan papa, berani membawaku ke rapat inti keluarga bersama kalian." ujarku.


Danniel menghela napas. "Aku sebenarnya mengetahui banyak hal yang mungkin saja menjadi pertanyaan di benakmu selama ini. Hanya saja, aku punya satu syarat, kalau kau benar-benar mau mengetahui semuanya."


Aku menyelis, meliriknya dengan sinis. Lagi-lagi orang ini selalu mengajukan syarat untukku jika menginginkan sesuatu darinya.


"Syarat lagi?? Apa yang kau inginkan dariku?" tanyaku ketus.


Danniel hanya tersenyum untuk menimpali. "Tapi.. Kalau kau tak mau, aku tak memaksa. Aku kan hanya memberikanmu pilihan. Anak lelaki itu harus belajar, untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka harus berjuang sekuat tenaganya." tuturnya.


"Memangnya syarat apa yang ingin kau berikan padaku?" tanyaku.


"Pecat Dita, dan biarkan aku yang menggantikan posisinya."


Aku langsung terperangah mendengar perkataannya. Aku mengerjap berulang dan mengernyitkan dahi. "Bukankah ini sudah di bahas kemarin. Aku tak akan mau menggantikan Dita dengan siapa pun!"


"Tapi aku kakakmu. Harusnya kau lebih memilih aku ketimbang dia!" balasnya lagi.


Aku meringis, tak mengerti dengan jalan pikirannya. "Kenapa kau begitu membenci Dita? Dia adalah orang yang baik! Dia menyayangiku. Sebelum kami menilai seseorang, harusnya kamu kenali dia lebih dulu!!" balasku, membuatnya mengerutkan dahi.


"Aku tak sudi berdekatan dengan ras hina macam dia."


Aku terdiam mendengarnya. Sebenarnya, permintaan Danniel tidak buruk. Sepertinya, ia ingin menjadi lebih dekat denganku. Hanya saja, aku tak mau kalau dia menggeser posisi Dita dariku.


Jadi, sepertinya aku harus melakukan sesuatu.. Agar rasa bencinya, berubah seratus persen pada Dita.


Bersambung...