SURO

SURO
Hal yang Menarik



Di lihat dari sudut manapun, dia lebih cantik ketimbang Dita. Dan lagi, apa Danniel sudah saling mengenal sebelumnya?? Sepertinya dia seaneh Dita. Kalau Danniel tau, pasti ini akan menjadi pilihan sulit baginya.


Aku menyengir dengan wajah jahat, ketika perempuan ini terus menutup wajah dan menghadangnya dengan telapak tangan.


"Wah wah wah! Ternyata ini anak gadis dari keluarga pertama kesdicth'anhm??" bisikku, membuatnya menyelis karena merasa terganggu.


"Apa?!" sahutnya jutek.


"Ternyata grasak-grusuk!!" ledek ku lagi.


Ia mencibir dari balik tangannya, meski berusaha di tutupi, tapi aku masih bisa melihatnya.


"Kenapa kau duduk di sini? Bukannya kau tuan rumah?! Pergi sana!!" Ia malah mengusirku.


Aku mendoerkan bibir sambil bersender di senderan kursi, dan meletakkan lenganku di senderan kursi milik Seriiy. Menyadari hal itu, ia langsung melirik sinis ke arahku.


"Ngatur-ngatur, ini kan rumahku." balasku santai.


Ia mendesis mendengarnya. "Turunkan tanganmu!!" geramnya sambil berbisik.


"Tidak mau." balasku.


"Kau mau mati?" ancamnya.


"Boleh, tapi jangan sakit ya." balasku, membuatnya semakin terlihat kesal.


"Bocah ini!!" bentaknya, membuat kedua orang tuanya terkesiap.


"Seriiy?! Apa yang kamu lakukan? Tolong diam dan jadi anak manis sebentar. Jangan tunjukkan kalau kau tidak hafal isi di dalam buku etika keluarga!!" geram ibunya, dan aku bisa mendengarkan hal itu.


"Iya, aku akan jaga perilaku." bisiknya, sambil kembali menoleh kepadaku.


Aku menyengir untuk meledeknya. "Serius kau tidak hafal buku etika keluarga??" tanyaku tak percaya. "Jangan-jangan kau bukan berasal dari keluarga kesdicth'anhm, soalnya kesdicth'anhm itu jenius semua."


Seriiy langsung menoyor kepalaku, membuat kedua orang tuanya panik dan segera memeluk anaknya agar berhenti.


"Seriiy, apa yang kau lakukan kepada keluarga kedua?" gerutu ibunya.


"Dia menyebalkan sih!!" balasnya.


"Sudah!! Kamu diam disini atau hukumanmu akan di tambah!!" ancam ibunya, dan Seriiy hanya bisa melirikku dengan sadis.


Acara pelantikan berlangsung, tapi aku tak terlalu fokus ke acara itu, hanya sibuk sembunyi melihat mama dan papa yang celingak-celinguk mencari keberadaan ku.


Seriiy diam, menatap fokus ke sesi acara. Ia sesekali melirikku, karena aku terlihat mencurigakan.


"Kau pasti sedang sembunyi dari orang tuamu? Biar ku teriaki supaya mereka tau kalau kau ada disini." ancamnya, membuatku mendengkus tawa mendengarnya.


"Ayolah, ini bukan hutan. Kalau kau berteriak kencang, ketahuan sekali kalau kau tak hafal buku etika keluarga dalam bersikap." ujarku, membuatnya terdiam dan menciut.


"Hei, kakak mu mana? Ini acara pelantikan dia kan?? Apa dia yang sedang duduk di samping orang tuamu?" tanyanya sambil mengernyit menatap Danniel.


"Tidak, dia supir." sahutku.


Ia langsung terbelalak. "Hah?! Serius itu supir? Tapi seperti ciri khas dari ras kesdicth'anhm??" lanjutnya bertanya dengan wajah polos.


Aku mendecakkan lidah. "Ya tidak bodoh! Dia kakak ku, Danniel." gerutuku.


"Jodohmu kan itu? Hahaha." ledekku, membuatnya meringis sambil menyikutku.


"Berisik banget!! Ngeselin tau bahas tentang itu!!" ujarnya dengan wajah cemberut.


"Kenapa ngeselin? Bukankah apa yang ku katakan tadi itu benar??"


Ia melirik sinis. "Iya, tapi aku malas kalau ada yang membahas mengenai hal itu."


"Kenapa memangnya?? Dia itu orang yang baik dan bertanggung jawab. Lihat saja, dia rela menjadi ketua penjaga keamanan untuk melindungi ras Gasth'anhm dari serangan musuh. Seharusnya, kau senang kan di jodohkan dengannya." ucapku, berusaha membela Danniel.


Seriiy melihat Danniel dengan lekat. "Dia tampan sekali." gumamnya dengan mata berbinar, sampai-sampai dia tak mendengar perkataan yang ku ucapkan barusan.


Sepertinya awalnya Seriiy tidak mau di jodohkan dengan Danniel, mungkin karena belum melihat Danniel itu seperti apa. Tapi melihat raut kekagumannya, mungkin saja sekarang Seriiy menyukai Danniel.


Tapi masalahnya, apakah ini akan menjadi cinta bertepuk sebelah tangan?? Di saat Seriiy mulai menyukai Danniel, tapi Danniel hanya menyukai Dita. Soalnya dari yang ku tahu, Danniel itu sudah melihat wajah Seriiy sebelumnya, beda kasus dengan Seriiy yang baru melihat Danniel. Jadi bisa di pastikan kalau Danniel tetap akan menyukai Dita, dan tak bisa membalas perasaan Seriiy.


Aku langsung sedih dan menepuk pundak Seriiy, membuat gadis ini mengernyit menatap ke pundaknya, lalu menatap kesal kepadaku.


"Ngapain kamu?" tanyanya sinis.


"Aku kasihan padamu." lanjutku.


Seriiy langsung memperhatikan dirinya sendiri dari atas ke bawah, lalu merapikan rambutnya. "Memangnya kenapa aku?" tanyanya polos.


"Tidak kenapa-kenapa sih. Nanti kau sendiri juga akan tau." sahutku.


"Apa Danniel itu punya pacar dan tak menyukaiku?" terkanya, dan tentu saja ini membuatku terbelalak tak percaya.


"Loh, darimana kau tau itu?" tanyaku takjub.


Seriiy langsung tersenyum sinis. "Ternyata benar ya?? Aku hanya menerka saja, soalnya kalian kan kakak beradik, tentu saja kalian bisa mengetahui rahasia masing-masing. Dan lagi, kau bilang kasihan padaku setelah aku berkata kalau Danniel tampan, ya.. secara tidak langsung seolah ingin mengatakan apa yang telah ku duga tadi." terangnya.


Aku tersenyum sambil menganggukkan kepala. Sekarang aku jadi yakin kalau dia memang berasal dari keluarga kesdicth'anhm. Dia bisa cepat menyimpulkan sesuatu dan itu benar adanya.


"Tapi.. kau tak perlu kasihan padaku kok. Lagi pula untuk apa juga kasihan?" lanjutnya. "Apa kau berpikir, karena aku bilang dia tampan, maka aku jatuh cinta padanya??" ia menggelengkan kepalanya. "Tidak kok. Aku hanya kagum saja melihat wajahnya, dan semua wanita melakukan itu pada lelaki tampan yang baru pertama mereka lihat, hanya saja.. itu tidak menandakan kalau mereka menyukai orang itu, tidak sama sekali."


"Oh, benarkah?? Aku kira kau suka padanya tadi." ucapku.


Seriiy meringis sambil menjelekkan wajahnya. "Bagaimana mengatakannya padamu ya supaya kamu tidak tersinggung."


Aku mengernyit mendengarnya. "Memangnya kau ingin mengatakan apa?" tanyaku lagi.


"Aku ini belum mau menikah. Sama sekali tak mau menikah dalam waktu dekat. Aku juga tidak suka wajah-wajah sombong seperti kakakmu itu. Aku punya cita-cita dan keinginan, dan aku sedang tertarik dengan bahasa-bahasa asing dan juga mitologi serta legenda asal mula Bangsa anhm'ius terjadi. Dan di belahan dunia mana sebenarnya kita sedang tinggal."


Aku mengernyit dan tertarik dengan ucapannya. "Kau tertarik dengan hal yang menarik." tukasku.


Matanya membulat besar kala aku mengatakan demikian. "Hah? Serius kau menganggap hal ini menarik? Bahkan teman dekatku saja enggan mendengarku berbicara mengenai hal ini. Katanya ini terlalu membosankan." ujarnya.


Aku menggeleng kuat. "Tidak! Itu tidak membosankan. Ngomong-ngomong soal bahasa, apa kamu mengerti tentang tulisan aksara kawi?" tanyaku, karena aku masih penasaran dengan tulisan di buku rahasia keluarga kami.


Seriiy terbelalak. "Hah? Kau tau tentang tulisan aksara kawi??" tanyanya dengan wajah tak percaya. "Aku... Bisa sedikit membaca tulisan itu. Dan menurutku, awal mula terciptanya bangsa anhm'ius, berhubungan dengan tulisan aksara kawi."


Bersambung...