
Dita mendecakkan lidah dan menarik ku ke belakang. Ia mendekatkan mulut ke telingaku seraya berbisik. "Jangan ngadi-ngadi, deh. Seriusan!! Gue kan udah bilang kalau kemampuan elu tuh di bawah rata-rata, kalau lu berantem ama dia, bisa innalilahi!" geramnya sambil sesekali menatap Danniel.
"Terus aku harus apa? Cuma ini satu-satunya jalan. Menang atau kalah urusan belakangan, yang penting jangan pernah berhenti mencoba dan berjuang. Kalau belum apa-apa udah berpikir yang buruk, secara gak sadar itu bisa membawa kita ke arah yang buruk juga. Lebih baik kalah tapi sempat berjuang, ketimbang kalah tanpa berbuat apa-apa." tukasku.
Dita langsung menepuk jidatnya sendiri dengan raut jengah. "Aduh anak monyet!! Jangan maksa begitu. Dia punya Kundalini dan bisa mengendalikan unconsius, elu??"
Aku mengendikan bahu mendengarnya.
"Jadi, dimana kita mulai bertarung?" tanya Danniel hingga membuat Dita menoleh jengkel.
"Oi, kami belum selesai berdiskusi, tenang lah sedikit di sana." ujar Dita. "Dasar mata segaris!" lanjutnya berbisik.
Aku menoleh sinis menatap Dita. Bisa-bisanya dia menghina secara rasis. Mata Danniel lumayan sipit, makanya ya di bilang segaris?
Danniel melipat tangan ke dadanya dan menunggu kami. Ia menghela napas beberapa kali seolah bosan, padahal selang waktunya hanya beberapa detik.
"Oi, monyet!! Kalau elu di pukulin abis-abisan gimana? Gue gak masalah deh dapat hukuman dari kepala keluarga kesdicth'anhm, asal elu gak kenapa-kenapa."
Aku mendecakkan lidah. "Berisik deh!! Suka suka aku lah mau berantem atau tidak. Kamu pikir ini semata-mata untuk membelamu? Tidak juga!" Dita langsung memanyunkan bibir mendengarnya. "Iya deh, untuk membelamu sedikit." lanjutku, membuatnya cengengesan. "Tapi selain itu, aku juga mau memukul orang ini. Kapan lagi kan bisa di tawari memukul kakak sendiri?" tambahku.
Dita mendengkus menahan tawa. "Bisa-bisanya." gumamnya. "Kalau elu mati gimana?"
Aku mendecakkan lidah lagi. "Dia gak bakalan membunuhku. Kalau pun mau, sudah dari dulu kan aku mati." Dita hanya terdiam, seolah pasrah dengan apa yang ku inginkan.
Aku menoleh Danniel yang masih menatap kami. "Bertarung di tempat latihan ku." tukasku sambil berjalan terlebih dahulu dari mereka berdua.
.........
Kami memasuki ruangan indoor, tempat dimana aku berlatih dan berolahraga. Isinya tak terlalu banyak, hanya ada peralatan olahraga kesukaan ku saja, seperti spinning bike, treadmill, barbel dan lainnya. Tempat ini tak ubahnya seperti gor yang mirip tempat gym.
Dita menutup pintu, membiarkan aku berjalan di tengah lapangan. Danniel tampak santai dan terus tersenyum sinis, ia berjalan ke hadapanku sambil menatapku dengan serius.
Aku membunyikan jari-jemariku, lalu memasang kuda-kuda bertarung. Ia mendengkus menatapnya, masih berdiri sesantai mungkin.
Aku melirik kedua kakinya, tumpuannya lemah dan seperti tak ada niatan untuk bertarung darinya. "Kenapa kamu seperti itu?? Apakah karena aku lebih lemah darimu, jadi kamu tak berniat bertarung selepas mengajakku bertarung?" tanyaku.
Ia membunyikan tulang-tulang lehernya dengan mematahkannya ke sisi kanan dan kiri. "Kamu mau aku melakukannya dengan serius? Tak salah kah keinginan mu itu?" tanyanya memastikan.
Aku yang masih memasang kuda-kuda bertarung menatapnya dengan sengit. "Selemah apapun lawanmu, tapi tak seharusnya kamu menunjukkan itu? Bukankah adab menghargai lawan ada di buku peraturan keluarga kita?"
Ia mendengkus mendengarnya. "Aku tak menghafal itu, tuh." balasnya.
"Pantas saja, kamu memang kelihatan kuat, tapi sepertinya lebih bodoh dariku."
Perkataanku membuat raut wajahnya berubah. Ia yang awalnya hanya tersenyum remeh, kini mulai mengubah sorot matanya. "Nilai ku memang lebih rendah ketimbang kamu sewaktu berada di umurmu yang sekarang. Tapi meski bagaimana pun, aku lah calon penerus keluarga ini. Aku lah yang akan menjadi kepala keluarga, dan kamu hanya menjadi anggota keluarga biasa. Jadi, kepintaran mu tak akan mampu merebut posisiku menjadi yang termulia di keluarga ini."
Aku mengernyitkan dahi mendengarnya. "Memangnya... Siapa yang peduli dengan hal macam itu?" Ia terkesiap mendengar perkataan ku. "Ketimbang menjadi penerus keluarga, aku lebih tertarik main badminton memakai Enggrang."
Dita menjelekkan wajah mendengarnya. "Gue pikir mau ngomong sesuatu yang keren. Taik asu!" gerutu Dita, mengomel sendirian.
"Dan soal menjadi penerus keluarga, di beri pun aku tak mau, apalagi kalau harus rebutan denganmu. Kekanak-kanakan sekal-"
Aku tersentak, ketika Danniel tiba-tiba saja menyergah, ia yang awalnya berada beberapa meter di depanku, tiba-tiba saja telah muncul di hadapanku.
Aku terkesiap, mundur secara reflek satu langkah sambil mengedip mata. Kedipan berikutnya, aku merasa sesuatu yang berat dan keras menghantam perutku dan....
Buaghh!!!
Aku meringis, ketika kepalan tangan Danniel menusuk perutku. Aku terpelanting dan jatuh tersungkur ke lantai. Aku terbatuk dan mengeluarkan cairan bening dari mulutku. Rasanya sakit sekali, sesak sampai dadaku terasa terhimpit.
"Suro!!" Dita berteriak dan hendak menghampiri ku, tapi aku langsung mengangkat tangan agar ia berhenti. Dengan susah payah, aku beranjak, membuat Danniel tersenyum miring melihatnya.
"Yang ku mau kita bertarung, bukan sedang menghajar anak tengil!" kecamnya sambil tersenyum.
Aku sempoyongan dan berdiri dengan kaki yang gemetaran sambil memegang perutku. "Halah! Menghajar bocah tengil saja sudah membuatmu senang? Apa sebelumnya kamu adalah orang yang lemah dan tak pernah menang melawan seseorang?"
Dita langsung memegang kepalanya dengan frustasi. "Apasih pikiran anak itu? Malah bikin lawannya marah begitu?!" keluhnya.
Danniel merapatkan mulutnya, menatapku dengan tatapan bengis. Ia menapakkan kaki ke lantai, dan seketika kembali muncul di hadapanku.
Ia mengangkat satu tangannya, dan menarik masuk ke area rusukku. Gerakannya terbaca!! Tapi lagi-lagi,
Duagh!!!
Serangan itu kembali mengenai ku secara telak. Aku meringis, tapi kali ini tubuhku tak jatuh tersungkur seperti tadi. Aku masih berdiri meski posisiku bergeser beberapa meter ke belakang.
"Katakan hal buruk?" tanyaku sambil terengah. "Terakhir aku melakukannya di depan lawanku, dan dia mati. Jadi, kamu juga mau menyusul?" tawarku kembali, sambil terus menahan rasa sakit di bagian perut dan tulang rusukku.
Danniel tersenyum dengan wajah memerah dan urat kepala yang keluar. Ia kembali menyergah, dan menerjang ke arahku dengan kaki yang hendak ia layangkan.
Tubuhnya terangkat selayaknya terbang, lalu di angkatnya kaki secara lurus seperti sudut, hingga...
Buggh!!
Aku jatuh terpental beberapa kali dan berguling. Daguku di hantamnya, membuat gigi atas dan bawahku saling terpantuk. Aku bisa merasakan karat di mulutku, sepertinya ada darah yang keluar di mulut akibat serangannya tadi.
Dita menatap khawatir dari jauh. Berkali-kali ia hendak ikut campur, tapi di urungkan niatnya ketika melihatku kembali bangkit. Wajahnya memucat, seperti tak sanggup melihatnya.
Tapi lagi dan lagi aku bangkit, meski mendapat serangan berulang di sekujur tubuhku.
Kini kesadaran ku hampir hilang. Aku masih berdiri dalam kondisi sempoyongan. Beberapa kali aku oleng, seolah berdiri di tempat datar yang bergoyang-goyang.
"Bagaimana? Menyerah?" tanya Danniel sambil memiringkan senyumannya.
"Cih, senyum miring terus! Kayak orang struk aja!!" balasku, membuat Dita menahan tawa.
"Mulut anak ini bangsat juga." gumam Dita sambil terkikik.
Danniel memejamkan matanya, seolah menahan bara api yang sedang berkobar. Ia membuka matanya, lalu berlari ke arahku dengan cepat.
Kaki kiri kaki kanan kaki kiri kaki kanan, langkahnya terbaca jelas di mataku. Tumpuan di satu titik, melompat ke udara dan...
Dash!!
Aku menunduk, membuat serangan Danniel meleset dan tubuh kami saling menjauh berlawanan arah setelah sebelumnya saling berhadapan.
Dita mengangkat kepalan tangan ke atas, seolah memberikanku semangat dan merasa senang atas apa yang ku lakukan tadi. "Yeaaaay!! Semangat tuan bos!!" pekik Dita bersemangat.
Danniel melotot sambil menolehku yang berada dibelakangnya. Ia seolah tak percaya kalau aku bisa menghindari serangannya.
Ia berputar, melebarkan kaki dan membuat serangan tak terduga. Lagi-lagi, serangan itu terbaca dan...
Duashhh!!
Aku merunduk, membuat serangannya kembali meleset.
"Yeaaah!! Lu keren anak monyet!!" pekik Dita dengan heboh.
Benar! Setelah mendapatkan serangan dari Danniel berkali-kali, aku akhirnya bisa membaca tiap serangan dari gerakannya sebelum menyerang.
Mudah!! Gerakannya sudah terbaca dan otakku bisa merekam hingga tubuhku terbiasa menghindarinya.
Aku tersenyum, Kala Danniel melayangkan serangannya lagi. Aku menatapnya dengan mantap, tumpuan di tangan kiri dan kaki kanan. Sudut kanan kosong dan kaki kiri lemah. Kepala sedikit terangkat, bagian dagu kosong.
Ia mendekat dan serangannya semakin jelas. Kalau begini, aku bisa menggunakan jurus itu..
"Hup!!" Aku mengangkat tubuhku dan melompat di udara. Danniel terkesiap kala aku melayangkan kaki kiriku ke sisi kanan yang kosong, dengan gelagapan ia berusaha menangkis, membuat kuda-kudanya berantakan dan beberapa sisi menjadi lemah dan kosong.
Aku melayangkan tendangan sekali lagi ke sisi kiri yang kosong, bergantian ke sisi kanan, dan ia berusaha keras menangkisnya.
Sudut dagu masih kosong, tangan kanan dan kiri menahan kedua kakiku. Ini saatnya!!!
Aku yang masih mengambang di udara meletakkan sikutku ke arah kepalanya. Ia terkesiap kala gravitasi menarik tubuhku ke bawah dan membantuku memberikan serangan telak. Dan....
"Kena kamu!!" pekikku sambil menghantam kepalanya, tapi secara tak terduga, dari jarak yang begitu dekat...
Danniel mengeluarkan cahaya terang dari tangannya ke arahku. Dan...
Buuuumm!!
Aku mengerang ketika merasakan sakit di seluruh bagian syaraf ku. Rasanya mengejutkan, bak tersengat listrik sambil di tabrakkan oleh sebuah mobil berkecepatan tinggi.
Aku mematung, melirik Danniel yang berada sangat dekat di hadapan ku. Lama-kelamaan, wajahnya semakin buram. Aku bisa mendengar suara teriakan Dita yang semakin lama semakin samar.
"Ohok!!" hanya itu yang mampu ku ucapkan sebelum semuanya...
Menghilang dan gelap...
Bersambung...