
Dita memainkan botol parfum di tangannya sambil menatapku dengan serius. "Dia kan udah janji, masa' iya bohong sih."
Aku menepuk kepalaku sendiri, lalu meringis karena merasa pening. "Aduh, kamu memang benar-benar bodoh. Tapi, aku tak yakin pada Danniel. Karena sudah pernah diperdaya oleh Viktor, untuk percaya orang yang baru di kenal rasanya sulit sekali. Lalu, karena kamu kelihatan bodoh, dan aku kelihatan seperti seorang bocah, ku rasa orang akan menganggap kita mudah di perdaya."
Dita menelengkan kepala sambil melirikkan matanya ke atas sesaat. "Terus gimana dong? Anggap aja kalau Danniel bohong ke kita dan bilang semuanya ke kepala keluarga kesdicth'anhm, emangnya kita bisa apa kecuali elu dapat hukuman, dan gue di tendang dari rumah ini. Kita juga gak tau kan kapan Danniel bilangnya, jadi ya percaya-percaya aja, gak ada pilihan soalnya."
Aku mendengkus sambil meringis bak kepedasan. "Pasrah sekali jadi orang!! Bukan begitu caranya. Kita memang tak tahu kapan Danniel memberitahukan itu, kecuali ketika hukuman datang, artinya dia memang telah memberitahukan rahasia kita." Dita mengangguk dan mendengarkan dengan seksama. "Tapi, kalau hukuman tak kunjung datang, bisa jadi kalau ia memang tak memberitahukan apa-apa. Tapi masalahnya, kita tak mungkin tidur dalam kegelisahan kan, memikirkan apakah dia menjaga rahasia atau tidak. Menunggu hukuman datang atau tidak. Kita harus berbuat sesuatu, soalnya aku benci menunggu dan di gantung. Aku tak suka kalau tidurku tak nyenyak karena memikirkan sesuatu."
Dita menjelekkan wajahnya sambil mengangguk. "Ya, gue tau yang satu itu. Pasti elu juga susah tidur setiap malam karena mikirin etika sosialisasi keluarga kalian, kan? Makanya sampai sekarang masih rusuh sama hal itu." tukasnya.
Aku melirik sinis padanya. Kalau yang satu itu, dia benar sih.
"Jadi, lu mau gimana lagi buat ngeyakinin diri, kalau si Danniel bisa di percaya?" tanyanya, sambil menekan dagu dengan kedua tangannya.
Aku berpikir sejenak sambil menggigit bibir bawahku. "Rahasia kita adalah penyadapan dan pembunuhan pak Roxi. Kalau masalah penyadapan, kita emang gak bisa ambil solusi untuk mengetahui kalau Danniel tepat janji atau tidak, tapi masalah pak Roxi.. Kayaknya kita bisa meriksa deh, apakah Danniel serius atau tidak dengan janjinya."
Dita memasamkan wajahnya. "Caranya?"
Aku tersenyum kala melihatnya. "Ikut aku!!" ajakku sambil beranjak. Tiba-tiba saja tubuhku kembali tersentak dan hampir jatuh. Aku pasrah dan membiarkan tubuhku jatuh, tapi tiba-tiba saja...
"Masih sakit?" tanya Dita sambil menahan punggungku dengan tangannya. Ia terlihat panik, terus menatapku dengan khawatir.
Aku langsung tersipu malu, dia tanggap sekali sampai menangkap tubuhku yang hampir jatuh. "Ya, sedikit."
Ia membantuku berdiri. "Pelan-pelan dong anak monyet. Tadi itu serangan unconsius dari Danniel kena telak. Jadi bakalan ada beberapa bagian otot yang nyeri dan kebas. kalau bangun mendadak begitu, bakalan ada bagian tubuh yang terkejut dan merasakan sakit sebagai efeknya."
Aku menapak perlahan, berusaha berdiri dengan kedua kakiku yang gemetaran. "Gila! Efeknya sampai seperti itu. Apa Danniel mau membunuhku?"
Dita mencibir sambil menggerak-gerakkan mulutnya. "Gayaan, kan elu sendiri yang kepengen banget mati. Mungkin dia adalah jawaban atas permintaan yang selalu kau haturkan kepada yang maha kuasa." Aku langsung menjambak rambut Dita yang panjang, membuatnya meringis kesakitan. "Aduh!! Anak monyet, dibilangin juga!!" gerutunya sambil menyentuh bagian akar rambutnya yang ku tarik.
"Sok puitis sih, aku geli mendengarnya!!" omelku sambil berjalan tertatih meninggalkannya.
"Oi, tunggu dulu bocil!! Main kabur kabur aja!!" omelnya sambil menyusulku. "Emangnya mau kemana sih? Menyusup ke kamar Danniel pakai jubah, terus bawa pisau dan menyerang?"
Aku terhenti mendengar ucapannya. "Lah, malah Dejavu. Itu kan kemarin, waktu aku mau membunuhmu." Ia malah menyengir mendengar perkataanku. "Ternyata memang mengejek ku ya. Dasar induk monyet!" balasku.
"Terus mau kemana emangnya? Kasih tau lah sedikit, jadi kan gue gak penasaran selama di perjalanan." rayunya sambil terus mengekoriku.
"Halah, perjalan matamu! Kayak jauh aja perjalannya!! Kan di rumah ini juga!!" balasku ketus.
Langkah Dita terhenti ketika kami telah sampai di depan pintu sebuah ruangan, setelah keluar dari lift. Aku jarang sekali naik lift sebenarnya, tapi karena kondisi tubuhku begini, jadi mau tak mau aku menaikinya.
"Kok, kesini sih?" keluhnya.
Aku hanya meliriknya dan menarik gagang pintu. Pintu ruangan terbuka seluruhnya, menampakkan ruangan dengan ratusan tv lcd yang berjejer rapi. kedatangan kami membuat seluruh pekerja yang berada di dalam ruangan menoleh serentak dan diam.
Dita mematung dan melirik sekitar tanpa menggerakkan kepalanya. "Ngapain lu kesini, woi?!" bisiknya dengan mulut yang bergerak kaku.
"Buat ngecek cctv sewaktu kejadian pembunuhan pak Roxi." sahutku santai.
"Lah, tadi kan kita udah berdebat di kamar pak Roxi, dan udah ngejelasin kalau dia bunuh diri. Kalau sekarang lu minta rekaman cctv dan ketahuan kalau pak Roxi gak bunuh diri, gimana?" geramnya, masih sambil berbisik.
Aku memutar bola mataku dengan malas. "Justru emang itu yang sedang ku cari."
Dita mengernyit. "Maksud ente??"
"ENTEEE!!" bentaknya, membuat semua pekerja terkejut begitu juga denganku.
"Ngonggong dong!!" sahutku. "Aku punya maksud tersendiri datang ke sini. Bukan untuk memperlihatkan kebenarannya, melainkan ingin melihat aksi dari Danniel."
Dita menggeleng cepat, seperti orang sakit ayan. "Maksudnya maksudnya? Hah? Heh? Hoh?" tanyanya seirama dengan gerakan kepalanya.
"Jadi begini, kalau seandainya Danniel ingin membela pak Roxi, dan menutup kejadian pembunuhan yang terjadi, pasti setelah bertarung dengan ku, dia akan datang kesini dan meminta bukti rekaman cctv yang ada. Atau kalau ingin lebih rapi, dia akan datang diam-diam ketika keributan sedang terjadi, memeriksa cctv dan menghapus beberapa bagiannya."
"Kalau memang dia melakukannya, berarti dia benar akan janjinya. Dia memang menutup kasus pembunuhan itu dan membersihkan bukti yang ada. Tapi kalau dia tak melakukan apa-apa, sudah jelas artinya dia berbohong dan kita tinggal menunggu waktu untuk datangnya hukuman dari papa." terangku, membuat Dita terperangah mendengarnya.
"Woaaaah!! Otak keluarga kesdicth'anhm emang di luar jangkauan!! Ckckck, bisa-bisanya mikirin hal kayak gitu, masuk akal masuk akal.." Dita tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Udah, masuk aja. Malah debat di ambang pintu terus di liatin seluruh pekerja untung ngomongnya bisik-bisik." keluhku sambil masuk ke dalam ruangan.
Mereka yang telah menantikan kehadiran kami lantas segera beranjak dan memberikan salam padaku. Mereka meletakkan tangan di dada lalu memulai percakapan. "Maaf atas ketidaksopanan kami, tapi.. Apa yang membawa tuan Suro datang kemari?" tanya mereka.
"Aku mau lihat cctv, tadi kan kalian tak percaya kalau pak Roxi memang di bunuh, jadi aku mau melihatnya sebagai bukti."
Dita langsung panik dan menyikutku. "Ngapain lu ngomong gitu? Kalau misalnya beneran belum di hapus gimana?" geramnya sambil berbisik.
"Sssst!! Diem aja deh anjing." gerutuku, membuat Dita terkejut mendengar ku mengumpat.
"Belajar dari mana ngomong gitu?" gayaannya.
"Saya mohon ampun tuan, tapi.. kami sudah memeriksa rekaman yang ada, tidak ada tanda-tanda kedatangan musuh yang menyusup. Memang sedikit aneh, tapi rekaman cctv ini tidak menangkapnya sama sekali. Beberapa saat setelahnya, pak Roxi tiba-tiba saja terkapar bersimbah darah dan tuan Suro datang bersama Dita ke dalam kamar. Tuan Suro merusak cctv, setelah itu tak ada lagi rekaman yang tertangkap dari sudut kamar ini." terang mereka.
Aku mengernyit. "Ha? Mustahil?! Apa kalian menutupi sesuatu dariku? Itu tidak mungkin kan?" lanjutku.
Mereka menggeleng sambil menunduk takut. "Kami tak akan berani melakukan hal semacam itu pada tuan Suro." sahut mereka.
"Tunjukan aku rekamannya." pintaku.
Mereka langsung mengarahkan ku pada sebuah layar besar dan Dita mengikuti ku dari belakang. Mereka menunjuk jam sebelum kejadian, sepi dan hening. Benar-benar tak terlihat hal yang mencurigakan. Beberapa saat setelahnya, video tersebut langsung menampakkan pak Roxi yang bersimbah darah, kemudian kami datang. Aku merusak cctv dan rekaman selesai sampai disitu.
Aku menarik napas, ini aneh. Benar-benar aneh. "Apa tadi Danniel kesini?"
Mereka menggelengkan kepala. "Tidak tuan."
Aku kembali melirik dengan seksama, mengulang-ulang video tersebut dan berusaha menemukan celah. Biasanya, hal seperti ini adalah bagian pak Roxi, dia sangat teliti sekali dan bisa menemukan titik kesalahan yang ada dengan cepat.
Kalau orang luar melakukan semua ini, tentu saja mereka tak bisa mengotak-atik cctv, mereka pasti memilih merusaknya sebelum beraksi meskipun itu beresiko memanggil para pekerja untuk datang ke kamar pak Roxi.
Di video ini, ada jeda antara kekosongan kamar dengan keadaan pak Roxi yang terkapar. Orang luar, tentu saja tak bisa melakukan semua ini, kecuali di lakukan oleh...
Orang yang ada di dalam rumah ini!!
Aku melirik sekeliling, memastikan dan menilik wajah para pekerja ku.
Siapa?? Siapa yang melakukan ini???
Apakah ada mata-mata dan pengkhianat, di dalam rumah ini??
bersambung...