
Aku mengendus, menahan sesuatu yang berbau menyengat dan menusuk hidungku. Pandanganku yang awalnya gelap, mulai melihat cahaya terang yang menyilaukan. Aku meringis, menutup mataku kembali, lalu aroma menyengat itu kembali muncul hingga terasa menusuk masuk ke dalam kerongkonganku.
Aku menepis sesuatu, sambil menekan mata dan membukanya perlahan-lahan. Cahaya yang awalnya begitu terang perlahan meredup, seolah sudah bisa di kompromi oleh bola mataku.
Pemandangan awal yang ku lihat adalah seorang perempuan berambut kuning yang mematung dengan botol parfum aneh yang berada di genggamannya.
Aku mengernyit lalu beranjak, tapi tiba-tiba rasa sakit seolah menghantam seluruh tubuhku hingga membuatku kembali jatuh ke tempat tidur. "Aduuh!!" keluhku, membuat Dita membantu membenarkan posisi tidurku.
"Jangan gerak-gerak dulu bocil! Badan lu pasti masih sakit." ujarnya sambil kembali duduk di sebelah tempat tidurku, lalu menutup botol parfum di tangannya.
Aku meringis, membenarkan. "Iya, kenapa sekujur tubuhku kesakitan semua?" gerutuku sambil mendesis bak orang yang merasa pedas.
"Tadi kan lu berantem sama Danniel, masa' iya lupa sih!!" gerutunya dengan wajah merungut.
Aku melirik kan mataku ke atas sesaat, mengingat kejadian sebelumnya. "Ya! Kamu benar, aku bertarung dengannya? Tapi, kok tiba-tiba aku ada di sini?" tanyaku sambil melirik sekeliling. Ini adalah kamarku, benar kan ini adalah kamarku??
"Ya, elu terkapar!!" aku mengernyit sambil memiringkan kepalaku mendengarnya. Dita mendecakkan lidah. "Tadi elu pingsan!!" ia memperjelas.
Aku menghela napas panjang, melemaskan tubuhku yang sempat kaku. "Ya, tak apa lah. Yang penting kan kita sudah mencobanya. Maaf ya, aku gak bisa membantumu lebih jauh. Sekarang, kita harus memikirkan cara agar kamu tidak di hukum." tukasku sambil menatap Dita.
Perempuan berambut kuning ini hanya diam dengan wajah yang sulit ku artikan. Ia tak merespon apapun dan tak mengeluarkan sepatah kata pun, ia hanya menatapku sambil mengedip perlahan beberapa kali.
"Kenapa mukamu seperti burung hantu?" tanyaku risih, merasa sedikit takut.
Dita masih menahan ekspresinya. "Elu kan, menang."
Aku terkesiap mendengarnya. Kami terdiam beberapa saat, membiarkan suara jangkrik lebih dominan. Beberapa saat setelahnya, aku memecah tawa.
"Hahaha, ya ampun!! Kamu jangan berkata hal bodoh begitu. Kamu pikir aku anak kecil yang bisa di hibur dengan cara begitu? Tidak bodoh, tak perlu begitu! Hahaha, jadi sakit perutku." kataku sambil menahan perut.
Dita masih memasang wajah yang sama, dan tak ikut tertawa bersamaku. "Memangnya, siapa yang ngehibur elu?" tanyanya bingung.
Kini giliran ku yang menjadi bingung. "Jadi, kamu berkata jujur? Aku menang?? Bukannya serangan terakhir ku tak bisa menyentuhnya?? Menang dari mana? Aku juga terkapar setelah mendapat serangan dari Danniel."
"Tadi itu..."
*Flashback (Dita POV)
Danniel berputar, melebarkan kaki dan membuat serangan tak terduga. Dan...
Duashhh!!
Suro merunduk, membuat serangannya kembali meleset.
"Yeaaah!! Lu keren anak monyet!!" pekik ku, benar-benar merasa puas melihatnya.
Setelah menerima serangan bertubi-tubi, aku bisa melihat kalau Suro menghindarinya bukan karena kebetulan, dia memang benar-benar melihat serangannya dan membacanya. Ku akui, untuk anak seusianya, Suro sungguh mengagumkan.
Aku bisa melihat Suro tersenyum, Kala Danniel melayangkan serangannya lagi. Ia menatapnya dengan mantap, pada kaki kiri, kanan, kepala dan sepertinya Suro sedang mencari sudut kelemahan Danniel.
Ketika Danniel mendekat, Suro mengangkat tubuhnya dan melompat di udara. Bagus!! Sepertinya Suro akan memberikan serangan balasan, setelah sebelumnya terus menerus di serang. Setelah mampu menghindar dan membaca gerakan lawan, tampaknya Suro menjadi percaya diri untuk membalasnya.
Danniel terkesiap kala Suro melayangkan kaki kiri ke sisi kanan. Bagus, sisi kanan Danniel kosong dan lemah, aku bisa melihat Danniel dengan gelagapan berusaha menangkisnya, membuat kuda-kudanya berantakan dan beberapa sisi menjadi lemah dan kosong.
Hebat!! Mengidentifikasi serangan lawan, lalu membalasnya dengan tepat dan akurat. Anak ini, kalau besar bisa di rekrut menjadi anggota keamanan ranking S kalau seperti ini caranya.
Suro melayangkan tendangan sekali lagi ke sisi kiri yang kosong, bergantian ke sisi kanan, dan Danniel tampak berusaha keras menangkisnya.
Dua sisi kosong di serang dua kali, membuat lawan akan berpikir kalau Suro akan melakukan serangan tiga kali. Tentu saja Danniel terlalu fokus dengan melakukan pertahanan serupa, dan bersiap menerima serangan serupa pula. Tapi di satu sisi, Danniel memberikan sudut dan titik fatal yang lemah pada pertahanan tubuhnya, dan itu terletak di...
Dagunya!!!
Suro yang masih mengambang di udara meletakkan sikutnya ke arah kepala lelaki mata segaris itu. Danniel terkesiap kala gravitasi menarik tubuh kecil anak itu ke bawah dan tentu saja itu membantu memberikan serangan telak. Dan tentu saja yang diincar si bocah pintar memang bagian terlemah, dan....
"Kena kamu!!" pekik Suro sambil menghantam kepala Danniel.
Aku ternganga, ketika prediksi ku salah. Ternyata yang di serang anak itu bukan dagunya, tapi titik terlemah kedua, yaitu bagian kepala. Bisa-bisanya ia memikirkan serangan telak secepat itu, dan mengincar bagian lemah yang paling mudah di serang.
Danniel mengeluarkan cahaya terang dari tangannya ke arah Suro. Sialan!! Si brengsek itu mau menyerang Suro dengan unconsius-nya??
Aku segera berlari, ketika elemen aneh keluar dari pergelangan tangan Danniel, tapi kecepatan serangannya begitu tinggi, tubuhku.. Tubuhku ini tak sempat untuk datang dan memberikan bantuan pada Suro.
Duuum!!!
Hantaman keras mengenai tubuh Suro. Aku terkesiap kala anak itu terpelanting usai mendapat serangan telak. Aku langsung melesat, melemparkan tubuhku ke arah Suro, menangkapnya sebelum menghantam dinding ataupun lantai.
Greep!!
Aku berhasil menangkap anak ini dalam pelukanku, tapi di saat yang bersamaan, handukku tiba-tiba saja melorot dan terlepas.
"Gyaaaaah!!" aku menjerit sambil melempar tubuh Suro ke bawah. Dengan cepat ku ambil handukku lalu kembali memakainya. Aku membenarkan handukku, dan teringat dengan benda apa yang baru saja ku lempar.
"Tidaaaaak!!! Suro!! Maafin gueeee!!" pekikku sambil memeluk tubuh Suro yang lunglai dan tak sadarkan diri.
"Cih!!"
Aku melirik, ketika mendengar suara dengkusan si pria brengsek. Ia melirik sinis menatapku dan juga Suro.
"Manusia-manusia yang merepotkan!!" kecamnya.
Aku menatap sengit ke arahnya. "Merepotkan lu bilang??" geramku kesal, sambil mengepalkan tanganku. "Oh, tapi seenggaknya, kita gak main curang meskipun tau bakalan kalah. Tapi, orang berdarah mulia, ternyata punya sifat picik juga ya. Gak mau menerima kekalahan, jadinya menyerang seseorang yang gak bisa memakai unconsius-nya sama sekali. Memalukan tau gak?!" balasku, membuat wajahnya merah padam mendengar perkataan ku.
"Makhluk hina dari ras rendahan, kamu tau sedang berbicara dengan siapa?" tanyanya dengan nada angkuh.
Aku mendengkus mendengarnya. "Tentu aja gue tau, elu.. Seorang pengecut, kan?" balasku. "Sejak awal gue gak setuju kalau Suro berantem sama elu, gue ngerti kalau level kalian beda jauh. Tapi, untuk menghargai perjuangannya, gue nurutin kemauannya, meskipun bakalan kalah, tapi gue yakin kalau elu mainnya jujur, tapi ternyata gue salah ya.." aku mulai beranjak sambil menggendong tubuh Suro di dekapanku.
"Saking takutnya mendapat pukulan, elu ngelepasin unconsius dalam jarak sedekat itu. Gak sesuai perjanjian!! Lu bilang bisa menang cuma berhasil mukulin lu sekali, nyatanya ketika hampir kena pukul, pikiran picik elu muncul. dasar, sejak dulu gue emang benci laki-laki munafik!!" kecamku lagi sambil berjalan meninggalkannya.
Danniel terdiam dan menatapku, "Kenapa kamu berpikir aku seburuk itu?" tanyanya datar.
"Butuh penjelasan? Jawabannya kan jelas banget!! Karena elu bangsat!" balasku kesal.
Ia menghela napas panjang. "Maaf kalau aku kelepasan menyerangnya. Aku sama sekali tak berniat melakukan itu pada adikku sendiri."
"Berisik!! Siapa juga yang percaya kata-kata lu itu?! Kalau sejak awal gak berniat melakukan itu ke adik lu, kenapa elu benar-benar menyerangnya?"
Danniel terdiam beberapa saat. "Kalau begitu, aku mengaku kalah." perkataannya membuat langkah ku terhenti. Aku menoleh ke arahnya yang memasang wajah datar pada kami. "Aku mengaku kalah, karena tak bertarung dengan adil. Dan sebagai gantinya, aku akan tutup mulut mengenai rahasia kalian berdua."
End of flashback (Dita POV End)
Aku mengernyit menatap Dita. Entah kenapa, kedengarannya itu sulit di percaya. Dita membalas tatapanku dengan kernyit.
"Ngapain lu liat gue begitu?!" bentaknya.
Aku menggelengkan kepala. "Apa tadi itu cerita rekayasa? Jangan-jangan, kamu mau di sentuh-sentuh ya olehnya? Kalian kan sudah sama-sama dewasa. Berada di satu ruangan yang sama dan aku pingsan, kamu pakai handuk pula. Kamu bilang tadi handuknya melorot, apa karena itu ya? Itu ya awal mulanya?"
Duagh!!!
"Mati kau!! Sekarang biar gue yang nyerang elu pakai unconsius, hiyaaaaaaah!!" Dita mencekik leherku, membuat tubuhku terhuyung-huyung.
"Aaa.. Ampunilah aku Dita, aku bercanda kok. Tapi memangnya benar ya kalau kita menang, dan Danniel akan tutup mulut?" tanyaku, membuat Dita melemaskan cekikannya.
"Tentu aja kan?" ujarnya ragu, sambil mematung menatapku.
Aku melirik sinis ke arah Dita. "Mudah banget sih percaya padanya. Sebaiknya kita jaga-jaga dulu, karena posisi kita, belum benar-benar aman."
"Caranya gimana??" tanyanya sambil terus mencekik ku.
Aku mendorong pelan tubuhnya agar menjauhiku. "Caranya, seperti ini...."
Bersambung...