
Tengah asik bercengkrama dengan Dita, tiba-tiba saja suara ketukan pintu kamar berbunyi. Aku dan Dita terkesiap, menoleh serentak ke arah yang sama. Bukannya bertanya itu siapa, kami berdua malah sama-sama diam dan menantikan si pengetuk pintu untuk bersuara lebih dahulu.
"Maaf mengganggu tuan Suro, tapi izinkan kami untuk memanggil Dita keluar." suara itu milik pak Saipul.
Dita langsung melongos tanpa mengatakan apapun. Ia menarik gagang pintu dan membukanya, menampakkan pak Saipul yang tersentak karena tak menyangka Dita langsung membuka pintu.
"Oi, kenapa nih?" tanya Dita, benar-benar perempuan tengil.
"Oi, Dit!! Kamu di panggil pak Roxi sekarang, kita ada rapat penting mengenai kejadian ini!!" bisik pak Saipul, tapi telingaku yang selalu bersih dan selalu di korek ini mampu mendengarkan suaranya dengan jelas meskipun mereka hanya berbisik.
"Iya kah? Waduh, apa ganti baju dulu. Kotor dan penuh darah." Dita malah sibuk memperhatikan penampilannya.
"Ngapain ganti baju?! Pak Roxi juga tau kalau kamu abis dari misi penyelamatan. Lagipula kenapa sampai mau ganti baju, apa kamu mau ambil hati pak Roxi karena dia duda anak satu?!"
Dita meringis sambil menggerakkan tubuhnya bak merinding. "Idih, amit-amit deh. Lagian gue gak cocok jadi Mak tiri, jahat gue!" akunya. Dan sepertinya itu benar.
"Yaudah, sekarang kita segera melapor! Di tunggu di ruang rapat." tukas pak Saipul sambil berjalan mendahului Dita.
Dita mengangguk dan bergegas menutup pintu, tapi sebelum ia melakukannya. "Oi, Dita!!" pekikku, membuatnya yang hampir menutup pintu, membukanya sedikit dan mengintip.
"Apa?" sahutnya dengan kernyit. Tampak sekali dia tak ikhlas kala menjawabnya.
"Kesini sebentar." perintahku. "Mukamu itu kayak orang yang mau ajak berantem, bodoh!" gerutuku. Tanpa basa-basi, perempuan ini menuruti perkataan ku. Ia menghampiriku dengan wajah bingung.
"Apaan sih? Nanti belajarnya, bukan sekarang!" gerutunya.
"Emangnya siapa yang mau membahas itu!" balasku menggerutu. "Aku tak mau mengatakan itu kok." lanjutku.
"Terus?"
"Ya, terimakasih untuk hari ini. Karena kamu, aku bisa hidup sekarang." ucapku sambil tersenyum, dan menyentuh punggungnya yang tertutup rambut panjang kusut.
Ia membalas senyumanku dengan wajah cengengesan. "Gue pikir mau ngomong apa tadi. Gak masalah, santai aja. Nanti lu bayar gue makan di restoran pake menu ras Dicth'anhm ya." lanjutnya seraya melambaikan tangannya dan berlalu.
Aku hanya tersenyum simpul menatap kepergiannya. "Lebih dari itu juga boleh, hehe. Hati-hati di jalan, kalau jatuh ke bawah ya.. Kalau ke atas namanya terbang." lanjutku, membuatnya menoleh kesal sambil menjulurkan lidah.
.......
.............
.......
*Dita POV
Aku berjalan cepat setelah menutup pintu kamar Suro dengan rapat. Aku setengah berlari, karena pembicaraan dengan Suro tadi lumayan lama, takutnya para petinggi tau kalau ada hal penting yang sedang kami bahas.
Pintu ruangannya ada di sebelah kiri, saking cepatnya aku berlari, tubuhku tanpa sadar malah melewati ruangan yang di maksud. Aku berusaha menghentikannya, tapi malah terlihat seperti sedang terpeleset di lantai yang licin.
Ketika aku sedang akrobat di tempat, tiba-tiba saja muncul seseorang dari balik lorong di sebelah ruangan. Aku tersentak, kala ia tak menyadari kegrasak-grusukan ku. Hahai, bahasa apa itu??
Ketika ia menoleh, ia tersentak saat aku tergelincir ke arahnya. Lelaki itu tinggi, rambutnya hitam dan mata yang sedikit bersudut atau sipit, dengan tahi lalat di bawah matanya. Sepertinya lalat sakit perut dan sengaja berak disana. Alisnya seperti parang untuk menggorok sapi.
Ia reflek membuka kedua tangannya, seolah bersiap menangkapku ke pelukannya. Yang benar saja, aku langsung berputar seperti sedang menari balet, melewatinya yang sedang mematung, dan menabrak dinding yang ada di depanku.
Braaak!!
Aku menoleh sinis ke arahnya. Rambut hitam, mata abu-abu? Ciri khas fisik keluarga kesdicth'anhm. Berarti dia...
"Kakaknya Suro nih pasti, rada mirip meskipun gak mirip." tuturku, sambil menyeka hidungku yang terpantuk.
Ia masih diam, dan raut wajahnya datar. "Aku Danniel kesdicth'anhm." ia malah memperkenalkan diri.
"Eh, si anjing malah kenalan!" gumamku pelan. "Gue Dita Vilhgasth'anhm, penjaga Suro Kesdicth'Anhm. Lu gak bakalan peduli juga. Gue ada urusan mendadak. Gak masalah kan kurang ajar sama elu, soalnya tuan gue Suro, jadi gue gak diwajibkan buat hormat ke elu kan?" ujarku, membuat alisnya sedikit bergerak.
Aku langsung berlari dan membuka pintu, menampakkan seluruh anggota keamanan yang telah berkumpul dan berbaris di dalam ruangan.
Aku melongos saja, meskipun perempuan satu-satunya.. tapi aku tetap seorang bodyguard kan?? Aku tak cocok di panggil pengasuh soalnya. Lagipula kalau Suro sudah masuk usia empat belas tahun, dia tak akan butuh pengasuh lagi, tapi bodyguard. Jadi untuk sementara, aku lebih cocok menjadi penjaganya.
Pak Roxi menatapku tak berkedip, bahkan ia menahan pandangannya hingga kepalanya bergerak mengikutiku. "Oke, semua sudah berkumpul?" ujarnya, ketika aku baru saja duduk.
"Sudah pak!!" sahut kami serentak dan lantang.
"Bagus! Kalau tim penjaga keamanan sudah berada di dalam, aku akan menyampaikan maksud di kumpulkannya kalian semua disini." lanjutnya.
Aku merasa deg-degan, seperti sakit perut tapi tidak mau berak. Apakah ini yang dinamakan... Asam lambung??
"Seperti yang kita ketahui semuanya, kalau hari ini kita mendapat kabar tidak mengenakkan dari tuan muda kita." ucap pak Roxi sambil memperhatikan kami satu persatu.
"Tuan tiba-tiba saja menghilang, dan berada dalam kondisi terburuk, yakni tidak sadarkan diri sementara."
Kini tatapan pak Roxi teralih padaku. "Dita, kamu adalah pengabdinya, aku berterima kasih karena kamu sudah bekerja dengan baik dan mampu menemukannya, tapi sekali lagi.. Kecerobohan mu tetap saja tak di ampuni karena membiarkan tuan muda keluar dari rumah ini tanpa adanya penjagaan."
Aku mengangguk paham. "Aku siap menerima konsekuensi yang ada." sahutku, kalau di depan pak Roxi aku tak berani memakai bahasa tidak resmi, bisa di celurit aku.
"Kita lupakan itu sejenak, dan kembali kepada pembahasan awal." lanjutnya, mengabaikan ku lalu kembali menatap kami semua secara bergantian. "Inti dari di kumpulkannya kita disini, adalah permintaan dari kepala keluarga kesdicth'anhm."
"Dari informasi yang di selidiki, sepertinya telah terjadi kebocoran informasi mengenai keluarga yang kita abdikan. Entah itu terjadi dari siapa dan karena apa, tapi sepertinya ada beberapa oknum yang sengaja mencari informasi mengenai rahasia keluarga kesdicth'anhm."
"Viktor si pengkhianat Vilhgasth'anhm adalah salah satu contoh kecilnya, dan tidak menutup kemungkinan kalau ada Viktor Viktor lain di luar sana yang mengincar nyawa keluarga kesdicth'anhm."
"Untuk alasan apa yang mereka mau, sepertinya mereka sedang mencari sesuatu yang berkaitan dengan keluarga kesdicth'anhm. Maka dari itu, ruangan kepala keluarga kesdicth'anhm harus semakin di perketat untuk mencegah kemungkinan tercurinya buku rahasia keluarga."
"Karena, kalau sampai buku itu jatuh ke tangan orang lain, maka akan terjadi hal yang buruk untuk ras Dicth'anhm. Seperti contoh kecilnya adalah.. Terjadinya pembantaian."
Aku terkesiap mendengarnya. "A.. apa?" tanyaku dengan suara sumbang.
"Aku hanya menyampaikan isi rapat tertinggi dari semua kepala keluarga ras Dicth'anhm. Ini hanya kemungkinan terburuk mengenai ras Gasth'anhm. Kalau sepertinya, mereka ingin memberontak, dan membebaskan diri dari perbudakan yang terjadi selama kurun waktu beratus-ratus tahun."
"Untuk itu, posisi kita sebagai salah satu dari ras Gasth'anhm sangat membingungkan. Di satu sisi, tentu kita tak menginginkan adanya ketimpangan sosial, tapi di sisi lain.. Kita hanya menjaga Marwah dari para leluhur kita secara turun menurun, kalau mengabdikan diri kepada ras Dicth'anhm, adalah suatu perbuatan suci."
"Maka dari itu, aku sebagai kepala keamanan di sini ingin meminta pemutusan janji seumur hidup. Dan ini juga permintaan dari ras Dicth'anhm."
Kini wajah pak Roxi semakin seram ketimbang biasanya. "Kalian ingin mengabdikan diri secara tulus, atau..." Ia menatap kami dengan serius. "Mengundurkan diri, karena berpotensi untuk mengkhianati ras Dicth'anhm."
Aku tersentak kala mendengarnya. Mana mungkin, ras kami... berniat melakukan pemberontakan??
*Dita POV End
Bersambung....