SURO

SURO
Penyelamat



*Dita POV


Dengan gemetaran aku menatap keadaan tubuh Suro. Ia tergeletak dalam posisi tengkurap. Aku tak bisa melihat dimana si cecunguk itu menancapkan jarum ke tubuh Suro, tapi.. Aku bisa merasakan setiap cairan yang menetes, baik itu dari tubuhku atau dari tubuh orang lain.


Aku meletakkan tanganku ke tangan Suro, memejamkan mata lalu merasakan aliran air yang berasal dari luar tubuhnya. Dari kekentalan, warna dan juga aromanya, aku bisa melihat cairan asing yang masuk ke tubuhnya mulai menyebar ke beberapa bagian inti yang fatal.


Sepertinya Suro langsung terkapar dan tak bergerak usai mendapat tusukan, jadi ada sedikit penghambat waktu kecepatan cairan itu bekerja.


Aku berkonsentrasi, melihat pergerakan arah cairan. Untuk kali ini, ku mohon.. Unconsius, biarkan aku menarik cairan asing dari dalam tubuh Suro, lalu menelannya di tubuhku sendiri.


Zrrrrttt...


Aku meringis, ketika merasa ada getaran yang melesat masuk ke dalam tubuhku melalui kulit tangan Suro ke tanganku. Aku bisa merasakan cairan tersebut tersedot dan tertarik dengan perlahan.


Cairannya sedikit, tapi cukup sulit untuk bergerak. Aku terus menghisapnya, membiarkannya tertanam di dalam tubuhku.


Semakin lama, cairan di tubuh Suro semakin sedikit, berganti posisi dengan tubuhku. Aku merasa lemas dan mengantuk, tapi aku harus menyelesaikan ini agar tak membuat Suro kesulitan saat belajar Kundalini nanti.


Kesadaranku mulai menurun, dan aku merasa suhu badanku mulai naik. Dengan perlahan namun pasti, aku bisa melihat Suro mulai menggerakkan jemarinya.


Ketika hisapan terakhir tertelan seluruhnya....


Bruuuuk!!!


Suro terbangun dari ketidaksadarannya, tersentak dan langsung mengangkat tubuhnya seperti sedang push up. Ia langsung menatapku yang kini memuntahkan semua cairan asing yang masuk ke tubuhku melalui mulut.


Ia terperangah menatapku, lalu segera beranjak dan memelukku. Aku tak tahu kenapa, tapi ia seperti gemetaran dan ketakutan.


"Dita!! Kamu datang?! Kamu datang menyelamatkan ku? Kamu datang?!" serunya dengan napas terengah. Aku terdiam, membiarkannya memelukku semakin kencang. "Terimakasih.. Terimakasih karena telah datang dan menolongku, kalau kamu tak ada, mungkin saja..." Suro langsung menoleh ke arah meja belajarnya. "Buku keluarga kami bisa jatuh ke tangan orang lain, dan aku bisa saja mati." ujarnya sesegukan.


Aku merasa sedikit membaik usai memuntahkan cairan itu. Ku usap punggung Suro agar ia tenang. "Gak apa-apa, yang penting elu udah gak apa-apa." tukasku.


Suro melepaskan pelukannya lalu menatapku. "Apa kamu kehilangan penyusup itu??" terkanya.


Aku menggelengkan kepala menatapnya. "Enggak, dia.. Udah berhasil di amankan."


Suro menghela napas panjang. "Yang benar? Syukurlah kalau begitu. Lalu, dimana dia sekarang?" tanyanya sambil melirik sekitar


Aku masih diam dan bingung menceritakannya dari mana. "Ceritanya panjang, intinya.. Dia udah di amankan, sekarang itu gak penting lagi, karena kondisi elu lebih penting." tukasku.


Di tengah obrolan kami, tiba-tiba saja beberapa tim medis datang ke kamar Suro. Mereka langsung masuk karena pintu kamarnya sudah jebol.


"Ampuni atas kelancangan kami tuan, tapi.. bagaimana keadaan anda sekarang?" tanya mereka sambil sibuk mengelilingi Suro dengan koper di tangan masing-masing.


Suro menggelengkan kepala. "Tak apa. Aku baik-baik saja berkat Dita. Kalian boleh pergi dan meninggalkan kami." sahut Suro.


"Syukurlah kalau tuan Suro baik-baik saja. Tapi, tuan Suro harus tetap di periksa dan menerima perawatan intensif. Untuk sekarang, kami akan membawa tuan pergi ke ruang rapat keluarga atas undangan dari tuan Bagesha Kesdicth'anhm, setelah rapat selesai, kami akan membawa tuan lagi ke ruang medis untuk ditindaklanjuti."


Suro terkesiap mendengarnya, begitu pula denganku. "Aku?? Kenapa aku di panggil ke ruang rapat? Tidak salah, kah?" tanyanya tak percaya, pasalnya aku tahu betul.. Suro tak diizinkan berada satu ruangan dengan keluarganya, lalu sekarang kenapa ia bisa mendapat undangan rapat??


"Tidak tuan, sekarang juga ikut kami. Kami akan membawamu menghadap tuan besar."


Aku terperangah, jangan-jangan.. Ini ada hubungannya dengan penyusup dan juga Danniel tadi. Apakah Danniel sudah menceritakan segalanya kepada keluarga kesdicth'anhm? Kalau tidak, tak mungkin kan Suro dipanggil, kalau masalahnya tidak terlalu penting.


Bisa jadi, ini adalah kondisi yang gawat dan ada hubungannya dengan Suro...


"Tunggu dulu!!" pekikku, membuat mereka semua berhenti. "Suro mendapatkan suntikan cairan berbahaya ini, setidaknya berikan ia penetralisir agar efeknya tidak berkelanjutan. Harusnya kalian tau itu kan, karena kalian adalah tim medis." protesku sambil memberikan berkas suntikan para mereka.


Mereka mengambilnya, mengendus baunya lalu saling tatap satu sama lain. "Tapi, ini genting. Ini undangan langsung dari tuan besar."


Aku mendengkus. "Suro lebih penting, obati dia dulu atau jangan bawa dia sama sekali!" perkataan ku membuat mereka terbelalak. "Kalau hal ini dipermasalahkan tuan besar, aku yang akan bertanggung jawab atas segala konsekuensinya." tukasku, membuat mereka menganggukkan kepala.


*Dita POV End


.......


.......


.......


Pintu ruang dibuka untukku, menampakkan ruangan besar dengan meja yang berkeliling saling berhadapan satu sama lain. Ruangannya benar-benar tertutup, bahkan tak ada jendela atau fentilasi udara sama sekali.


Tubuhku diperiksa dengan detil sebelum masuk, mungkin tak ingin ada alat penyadap yang terbawa seperti kasus yang telah lalu.


Aku berdiri kaku di depan pintu, menatap Mama, Papa dan Danniel yang duduk tegang menatapku.


"Silakan masuk ke dalam, anakku.. Suro kesdicth'anhm." ucap Papa, membuat jantung ku berdebar kala mendengar suaranya untuk pertama kali.


Aku masih mematung, tak percaya dengan apa yang telah terjadi di hadapan ku. Aku mencubit pipi dan menggigit lidahku sendiri, memastikan kalau aku tak sedang bermimpi usai pingsan tadi.


"Suro, apa kau tak dengar?? Papa menyuruhmu masuk." ucap Danniel, membuatku tersentak karena tak percaya.


Dengan perlahan aku masuk ke dalam, memperhatikan mereka semua dengan seksama. Aku duduk di sebuah kursi kosong, yang sepertinya memang di sediakan khusus untukku.


"Baiklah, sekarang anggota keluarga kita telah berkumpul semua di tempat ini." papa mulai bersuara dengan lantang dan tegas, membuatku merasa kaku dan gugup karena tak terbiasa. Aku jadi merasa sedang rapat bersama orang asing yang menyeramkan.


"Disini, kita selaku keluarga besar kesdicth'anhm di bawah naungan ku sebagai kepala keluarga garis kedua kesdicth'anhm, aku mendengar kabar bahwa telah terjadi beberapa kekacauan di rumah ini, dan aku mengetahui semuanya dari Danniel."


Deg!!!


Jantungku terjeda kala mendengarnya. Aku langsung melirik ke arah Danniel yang tak membalas lirikanku. Apa Danniel, memberitahu semuanya pada papa, termasuk rahasiaku bersama Dita??


"Pertama.. Tentang kekacauan yang datang dari tim penjaga keamanan, dimana kapten mereka harus mati. Danniel memberitahukan bahwa penyebab kematian Roxi adalah karena di bunuh, tapi untuk menjaga martabat dan harga diri mendiang, kita menutupi semuanya dari bawahan Roxi, dan menyatakan kalau dia mati bunuh diri. Untuk sekarang, pembunuh Roxi masih di usut." terang Papa sambil menatapku dengan seksama.


"Untuk masalah cctv di kamar Roxi, aku sudah meminta Danniel membereskan semuanya dengan rapi."


Aku mendengkus mendengarnya. Rapi apanya?? Bahkan semua tim penjaga cctv tau kalau telah terjadi keanehan dari rekaman cctv. Benar-benar basic.


"Lalu, aku juga mendapat kabar dari Saipul dan tim, kalau mereka berhasil menemukan beberapa alat penyadap di dalam rumah. Untuk mengganti tugas Roxi, aku meminta orang yang lebih berkompeten dan terpercaya untuk melakukannya. Aku meminta Danniel melacak hasil rekaman yang ada."


Aku kembali melirik Danniel dengan sinis. Heh, menyuruh Danniel yang melacak?? Padahal dia sendiri kan yang meletakkan stiker penyadap itu?? Itu benar milik ras Dicth'anhm, sama seperti milikku.


"Dari hasil rekaman, Danniel melaporkan kalau beberapa informasi penting tertangkap oleh mereka, yang kemungkinan adalah para pemburu dari ras rendahan. Isinya berupa informasi mengenai rapat penting Roxi dan para pekerja di rumah ini."


Aku kembali melirik Danniel, dia menyimpan rahasia kami. Tapi tidak menutup kemungkinan, rahasia itu cepat atau lambat bisa terbongkar dan kami berada dalam masalah. Makanya, Danniel berpura-pura memasang penyadap lain yang seolah-olah di pasang orang luar, untuk menutup kenyataan bahwa ada alat penyadap yang di bawa Dita di tubuhnya, yang menyebabkan bocornya informasi yang ada. Dia.. Menghapus masalah kami, dengan memanipulasi masalah baru yang masuk akal. Tidak main-main, dia ini pintar juga.


Artinya, masalah kami terselesaikan dengan ini.


"Setelah mereka mendapatkan informasi yang bocor, mereka mengerahkan para pemburu untuk menghabisi nyawa Roxi, yang tak lain dan tak bukan karena perihal dendam sesama ras."


"Kemudian, hari ini kamu mendapat serangan tak terduga, karena bocornya informasi mengenai keberadaan buku rahasia keluarga kita, yang ada di kamarmu." Papa dan mama langsung menatap tajam ke arahku.


Aku menelan ludah dan menundukkan kepala ku dengan takut. Mati aku!! Aku ketahuan mencuri buku rahasia keluarga dan menyimpannya di dalam kamarku. Aku, benar-benar dalam masalah besar sekarang. Aku harus membela diri dan berdalih.


"Buku rahasia? Apa maksudnya dengan buku rahasia keluarga?" tanyaku, berpura-pura bingung.


"Semua itu kami ketahui dari penyusup yang sekarang telah kami sandra. Ia mengatakan segalanya mengenai apa dan mengapa ia bisa menyerangmu." Aku terdiam. Sepertinya, aku tak bisa menyelamatkan diriku sekarang.


"Dan yang harus mendapatkan hukuman atas segala yang terjadi pada mu.... adalah Danniel."


Aku terkejut, menatap Danniel yang sama sekali tak menatapku. "Hah? Apa maksudnya?" tanyaku lagi.


"Danniel telah mengakui, dia yang telah mencuri buku rahasia keluarga, dan memindahkan buku itu ke kamarmu, sehingga hal buruk terjadi padamu malam ini. Alasan dia melakukannya adalah, untuk mengamankan buku itu dari tangan pemburu, karena sepertinya ada informasi yang bocor, mengenai tempatku menyimpan buku rahasia itu."


"Dia sengaja memindahkannya ke tempat yang mustahil di pikirkan oleh pemburu mengenai keberadaan buku, tapi ia tak menduga kalau adanya alat penyadap yang mungkin bisa menangkap pembicaraannya saat memindahkan buku." terang Papa.


Lagi-lagi aku terbelalak mendengarnya. Kenapa?? Buku itu, sungguh aku sendiri yang mencurinya. Aku sendiri yang mengambilnya. Lalu kenapa, Danniel berbohong.. Dan menutupi kesalahan yang ku lakukan??


Kenapa, dia melakukan itu untukku??


Bersambung...