
"Silakan di minum, tuan." ucap salah seorang tim medis sambil menyodorkan air dan beberapa butir obat padaku.
Aku menengadahkan tangan, meletakkan pil tersebut di genggamanku lalu menelannya dengan sekali minum. "Ah!!" desahku sambil menaruh gelas ke atas meja di dekatku.
Aku meringis ketika mereka melepaskan jarum infus dari tanganku. "Sudah, tuan. Efek cairan itu sudah kami netralisir." ucap mereka sambil sibuk membereskan peralatan medis.
Aku menatap bekas lubang jarum di tanganku. "Sudah tak apa, kan?" tanyaku.
"Iya, tuan. Setelah meminum obat dan mendapatkan cairan khusus di dalam infus, tuan akan pulih.. Jangan lupa banyak makan dan beristirahat, jangan banyak beraktivitas dulu." mereka membuat sebuah catatan medis di hadapanku. "Nanti kami akan memberikan catatan medis ini untuk Dita, dan memberitahukan apa saja yang boleh tuan makan dan lakukan." lanjut mereka.
Aku meringis mendengarnya. Cairan macam apa sih yang di suntikkan penyusup itu di tubuhku?? Kelihatannya genting sekali. Dan ngomong-ngomong soal Dita... Kemana perginya dia? Kenapa lama sekali dan belum kembali?? Apa saja yang ia bicarakan pada Danniel??
Di tengah kesibukan pikiranku, para tim medis masih berada di dalam ruangan sambil menatapku dalam diam. Aku meringis dan membalas tatapan mereka, merasa risih kala di perhatikan begitu.
"Kalian.. Kenapa masih di dalam sini??" tanyaku bingung.
"Kami mengawasi tuan." sahut mereka.
Aku langsung menjelekkan wajah. "Tidak perlu, aku sudah tak apa. Apa aku boleh kembali ke kamar?" tanyaku.
Mereka saling berpandangan satu sama lain. "Maaf tuan, untuk melancarkan kerja obat, tuan sebaiknya diam disini dulu sampai obatnya bekerja secara maksimal." tukas mereka, membuatku mendengkus.
"Tapi aku tak suka di tatap kalian, rasanya menyeramkan." tuturku, membuat mereka menahan tawa sambil mengulum bibir.
"Itu adalah tugas kami, tuan." ucap mereka lagi.
"Ya, tapi kan kalian bisa melakukan hal lain, jangan melihatku begitu." protesku sambil menutup wajah dengan tangan.
Tak lama berselang, seseorang datang dan mengetuk pintu, membuat salah seorang tim medis membukakan pintu. Aku melirik ke luar, menatap Dita yang masuk ke dalam ruangan sambil melipat tangan ke dadanya bak kedinginan.
"Oh, boleh aku masuk?" tanyanya sambil menggigil. "Dingin sekali." gerutunya lagi.
"Silakan, Dit." sahut mereka.
Dita masuk dan matanya langsung terarah padaku. Ia duduk di dekatku dan di hampiri oleh salah seorang tim medis.
"Kebetulan kamu kesini, kami mau kasih catatan medis milik tuan Suro. Baca yang benar, ya. Karena itu penting." ucap mereka sambil memberikan sebuah buku.
Dita menerima sambil mengernyit. Ia mulai membaca isi buku dengan seksama sampai tak menghiraukan ku. Tiba-tiba saja raut wajahnya berubah, matanya mengerjap cepat dan ia membaca satu kalimat berulang-ulang.
"Kenapa?" tanyaku penasaran.
Dita mengangkat kepala dan menatapku. "Oh, enggak." sahutnya sambil menutup buku.
Aku mengernyit. "Enggak? Itu bukan jawaban. Kamu pergi lama sekali, apa yang kamu bicarakan dengan Danniel?"
Perkataan ku membuat para tim medis terkesiap, mereka langsung menatap Dita dan Dita langsung mendesis, seolah tak mau kalau ada yang tau barusan Dita bertemu dengan Danniel.
"Kalian salah dengar kok, tapi.. Bisa gak kalian keluar sebentar, ada yang ingin gue omongin sama anak ini." ucapnya sambil menunjuk ku, membuatku menepis telunjuknya dari wajahku.
"Kami gak bisa ninggalin tuan Suro, Dit. Lagian kenapa kami harus keluar dari sini?" protes mereka.
Dasar, untung aku peka. Coba kalau aku di posisinya, pasti dia akan mengira kalau mataku kelilipan. "Iya, ada sesuatu yang ingin ku bicarakan pada Dita, dan aku tak mau kalian tau." timpalku.
Mendengar hal itu, mereka segera beranjak dan berdiri kaku. "Maafkan kan atas kelancangan kami tuan, kami akan segera keluar sesuai perintah mu." tukas mereka sambil buru-buru keluar.
Setelah pintu di tutup, aku langsung menatap Dita dengan sengit. "Lamanya!! Kamu ngapain saja sih dengan Danniel?! Menyebalkan!! Kamu tidak tau kalau aku tadi di infus? Tadi habis minum pil berapa butir." omelku.
Ia langsung menutup telinganya, "Duh, jangan ngomel bocil. Dengerin dulu deh!!" Aku langsung menunjuk telingaku padanya, seolah mengisyaratkan kalau aku sudah siap mendengarkannya.
"Gue udah baca hasil catatan medis dari mereka, disini elu di larang melakukan banyak hal dan cuma boleh makan makanan tertentu." ucapnya, membuatku mengernyit.
"Nah, itu juga yang mau ku tanyakan. Efek suntikan itu separah apa? Kenapa aku sampai ditangani segitunya?" tanyaku.
Dita menghela napas panjang. "Ini buruk sih, dan berkaitan dengan janji gue tentang Kundalini."
Aku menekuk alis. "Maksudnya?"
"Cairan yang di suntikkan si penyusup ke elu itu, adalah cairan berbahaya yang efeknya merusak sistem kekebalan tubuh dan juga merusak beberapa titik pusat Kundalini. Dalam tahap pengobatan, elu harus mengurangi aktivitas berlebih, termasuk melakukan meditasi Kundalini."
Aku terperangah mendengarnya. "Jadi?? Aku tak bisa belajar Kundalini?" terka ku.
Dita mengangguk. "Untuk sementara waktu, kita hindari itu dulu. Kalau enggak, efeknya bisa jangka panjang, dan kalau maksa, kemungkinan elu gak bakalan bisa menguasai Kundalini untuk selamanya."
Aku terkesiap, diam tanpa mengatakan apa-apa. "Separah itu efeknya!! Kurang ajar sekali. Kira-kira si penyusup masih ada di rumah ini atau tidak ya?"
"Emangnya mau ngapain?" tanya Dita sambil meringis.
"Mau ku suntik mati."
Dita langsung terbahak mendengarnya. "Hahaha, anak monyet!! Mungkin dia udah mati di gebukin Danniel. Lagian gak apa-apa kok, pas elu terkapar di kamar, Danniel udah minta gue ngurusin elu. Cairan di tubuh elu udah gue hisap pakai unconsius gue, jadi efeknya gak bakalan parah kok. Palingan seminggu dua Minggu elu udah bisa belajar Kundalini lagi." terangnya, membuatku bersemangat dan senang, sekaligus terfokus dengan satu kalimat yang ia ucapkan.
"Yeaaaay!! Akhirnya bisa belajar Kundalini!!" pekik ku senang. "Tapi, apa maksud kalimatmu yang berbunyi 'Waktu aku terkapar, Danniel memintamu mengurusiku?' Jadi, selain ada kamu.. Ada Danniel juga di kamarku?" ucapku tak percaya, sambil mengulangi kalimatnya.
Dita langsung menutup mulutnya sendiri dengan ekspresi terkejut, lalu menepuk jidatnya sendiri ketika melihat raut wajah penasaran dariku. "Aduh! Keceplosan deh gue!" gerutunya.
"Apa? Ayo jelaskan dulu? Apa maksudnya? Kenapa bisa ada Danniel di kamarku? Bagaimana ia bisa datang? Bukankah aku hanya menelepon mu waktu itu? Jangan-jangan kamu datang mengajak Danniel, atau bagaimana? Kalian punya hubungan ya? Pasti punya deh!" protesku, sambil menuduh.
"Monyet monyet monyet!! Jangan ngegas gitu dong. Nanya tuh satu satu. Gue juga gak tau kenapa Danniel bisa ada di kamar elu, tepat saat gue saling serang sama si penyusup. Dia datang tiba-tiba, gue juga kaget dia taunya dari mana."
"Dan waktu dulu, gue kan pernah bilang ke elu, gue bisa nemuin elu yang diculik Viktor, karena ngikutin seseorang kan?" Aku mengangguk dengan wajah yang serius. "Orang itu.. punya elemen pasir. Dan saat bertarung tadi, gue bisa ngeliat elemen milik Danniel..." Dita menatap tajam ke arahku.
"...Adalah elemen pasir." lanjutnya.
Aku terbelalak mendengarnya. "Apa maksudmu?? Itu adalah orang yang sama??Kamu yakin? Kamu jangan asal menuduh begitu, sudah jelas belum kebenarannya?" keluhku.
Dita mendecakkan lidahnya. "Yaelah!! Ngapain juga gue bohong! Itu udah jelas banget kok." tukasnya lagi.
Aku terdiam dan menghela napas berat seraya berpikir. "Kenapa, di beberapa kali aku di serang, selalu ada Danniel di sana? Bukankah itu.." aku mulai membalas tatapan Dita. "... Mencurigakan?"
Bersambung....