SURO

SURO
Terpaksa?



Aku membuka mata, menampakkan kamar serupa dengan angin kencang yang terus meniup-niup seisi ruanganku. Tadi malam aku tidur dengan selimut tebal, tak menyalakan AC ataupun kipas angin, karena aku sudah memiliki AC alami, yaitu jendela kamar yang pecah dan juga pintu kamar yang jebol.


Dedaunan kering masuk ke dalam kamar dan menambah kesan horor di dalam kamarku. Aku menguap lebar, karena tidurku tak terganggu meskipun keadaan kamarku kacau balau.


Aku beranjak dari tempat tidur sambil mengucek mataku, menoleh bingung ke arah pintu kamar. Aku melihat banyak orang berdiri di depan sana, tapi aku memilih mengabaikan dan melongo. Beberapa saat kemudian, aku tersadar akan kehadiran mereka.


Aku terkesiap sambil menatap heran ke arah para pekerja di rumahku. "O? Kalian? Ngapain ada di kamarku?" tanyaku heran.


Mereka saling menunduk dan memberikan hormat padaku. "Maaf atas kelancangan kami tuan Suro, tapi kami memang sudah biasa menunggu di depan pintu, bedanya.. pintu kamar selalu tertutup." tukas mereka, yang setelah ku perhatikan dengan betul adalah art di rumahku.


"Oh, kalian menunggu ku bangun untuk memberikan sarapan untukku?" tanyaku sambil mengangguk paham.


"Benar sekali, tuan. Sarapan tuan sudah selesai dan siap di hidangkan." ucap mereka.


Aku mengucek mata sambil beringsut dari tempat tidur. Di belakang para ART, aku melihat ada pekerja lain di rumahku. Mereka diam menatapku sambil memegang beberapa peralatan bangunan di tangan masing-masing.


"Lalu, kalian mau apa?" tanyaku memastikan.


"Kami di minta untuk memperbaiki pintu dan juga jendela kamar yang rusak. Dita sudah mengatakan pada kami untuk di benarkan hari ini juga dan selesai hari ini juga. Dita bilang, kalau tuan tak mau tidur di kamar ganti." jawab salah seorang dari mereka.


Aku mengangguk kepala lagi. Dita tau saja kalau aku benci berganti-ganti kamar. Aku mulai beranjak dan melewati mereka begitu saja. "Yah, kerja yang benar ya.. Aku akan keluar kamar dan segera sarapan." ucapku sambil melambaikan tangan dengan lesu.


Para bibi yang sudah menyiapkan sarapan berjalan mengikuti ku dari belakang. Merasa diikuti, aku menoleh sambil menyipitkan mata ke arah mereka. "Lah, kalian ini kenapa lagi?" tanyaku sambil berbalik badan.


Mereka menunduk dengan cepat. "Maafkan kami, tuan. Kami ingin mengantar tuan sampai ke meja makan." sahut mereka.


Aku meringis sambil membayangkan menu makanan yang di sajikan oleh mereka. "Hn.. Aku tak mau sarapan, aku mau ke kamar Dita. Jangan ikuti aku!" balasku sambil berjalan meninggalkan mereka, dan tentu saja mereka diam di tempat dan tak berani membantahku.


Tanpa basa-basi, aku ke kamar Dita dan mengetuk pintu kamarnya. Ia datang dan membuka pintu dengan mulut yang di penuhi makanan.


Matanya melotot besar ketika melihat kedatangan ku. "Mh!! Maw ngawawin wu? (Mau ngapain lu?)" tanyanya dengan mulut yang penuh.


"Wah!! Sudah ku duga sedang makan. Aku mau ikut makan!! Berikan aku piringnya!!" perintahku sambil melongos masuk ke kamarnya.


Ia yang mematung di tempat hanya bisa memutar tubuhnya mengikuti kemana aku berjalan. "Elu!! Jangan makan sembarangan!! Lu gak di bolehin makan pedas terlalu banyak!!" serunya sambil berlari ketika melihatku sudah duduk di depan hidangan sederhananya.


"Wah! Tahu masak sambal!! Ikan sarden kalengan dengan potongan cabe dan tomat yang banyak!! Lalu minumannya?? Mana minumannya?" tanyaku semangat sambil mengangkat piring tahu ke dekapan ku.


Dita terbelalak ketika aku langsung mengambil makanannya. "Woi!! Lu gak boleh makan itu!! Lagian ngapain sih lu gangguin waktu makan gue?? Itu lauk ras Gasth'anhm, tolong ya ras Dicth'anhm sadar diri!" ujarnya dengan wajah ketus.


"Oahaha, aku tak tau diri dan tak punya harga diri!!" ucapku sambil tertawa dan mengangkat tahu tepat di depan wajahku.


Belum sempat aku memakannya, tiba-tiba saja pintu kamar Dita terketuk dengan kencang. Aku terkesiap hingga tahunya melompat ke lantai.


"Kurang ajar!! Siapa itu?! Dia tidak tau kalau aku sedang makan?" gerutuku sambil berjalan ke arah pintu. Dita ikut beranjak setelah sebelumnya duduk di dekatku.


Aku membuka pintu, menampakkan beberapa orang bibi yang tadinya ke kamar dan mengajakku ke ruang makan. Aku mendengkus, menatap mereka dengan lesu. "Bibi bibi ini ngapain? Aku sedang makan disini, kan aku sudah bilang untuk tidak mengikuti ku?!" omelku, tapi mereka hanya saling tatap dengan wajah khawatir.


"M.. Maafkan kami tuan Suro. Tapi, tuan diminta untuk ke ruang makan sekarang. Makan disana dan jangan sarapan disini lagi." ucap mereka dengan takut.


Aku mengangkat dagu dan menatap mereka semua. "Memangnya siapa yang memintaku untuk makan disana? Hah?!" tanyaku dengan gaya menantang.


"Kalau seandainya tuan Suro keberatan, maka dengan terpaksa.." para bibi menoleh ke satu arah yang sama, dan aku pun melakukan hal serupa.


Mataku terbelalak ketika melihat para bodyguard berbadan besar muncul dari belakang bibi. Mereka tiba-tiba saja langsung menangkap tubuhku dan mengangkatku ke pundak mereka.


"Maafkan kami, tuan. Tapi ini juga perintah!!" sahut mereka sambil membawaku pergi dari kamar Dita.


"Oi, Dita!! Tolong aku!!" pintaku sambil menatapnya.


Dita hanya menggelengkan kepala dan melambaikan tangannya padaku. "Gue nyelesain makan dulu, baru nanti nyusul." ucapnya sambil menutup pintu.


"Ah!! T*ik!!" umpatku, membuat para bibi terkejut.


Tubuhku dengan mudah di bawa para bodyguard papa ke ruang makan. Aku langsung diseret ketika mencoba melawan, dan di lepaskan di atas lantai di ruang makan.


Aku meringis, merasa sakit karena tenaga mereka semua besar sekali. Sambil menepuk kedua tanganku yang menyentuh lantai, aku melihat sepasang kaki di hadapanku.


Ku angkat kepala, menampakkan Danniel yang sedang menatapku sambil memegang sebuah garpu di tangannya.


"Kau?!" geramku ketika saling berpandangan dengannya.


"Aku sudah menunggumu dari tadi, kenapa kau lama sekali?" ucapnya, membuatku mengernyitkan dahi.


"Menunggu ku? Jangan bercanda kamu? Katakan, apa maksud mu di ruang makanku?" tanyaku penuh curiga.


Danniel menghela napas panjang dan menepuk sebuah kursi di sampingnya. "Duduk lah disini dulu." pintanya.


Aku mendengkus, beranjak dari atas lantai dan duduk di dekatnya. Ia menatapku dengan wajah datar.


"Kau sedang sakit, dan aku bertanggung jawab atas kepulihanmu. Kau tau, kau tak boleh sembarangan makan, kan? Jadi aku disini untuk mengawasi asupan makananmu."


"Kau harus banyak mengkonsumsi protein. Kurangi makan pedas dan juga sesuatu yang berminyak. Kau harus banyak minum air putih, dan makan ini agar tubuhmu cepat pulih." Danniel terus berbicara sambil menyodorkan beberapa piring makanan ke hadapanku.


Aku hanya diam, tapi tak menggubris perkataannya. Aku heran, kenapa dia bisa ada di sini? Kenapa dia sok peduli?? Apakah ada maksud lain? Apa jangan-jangan ia meletakkan racun di makananku?? Soalnya aku tak bisa mempercayai orang ini, dia terlalu misterius.


"Hei, apa kau dengar aku?" perkataan Danniel membuatku terkesiap dan tersadar dari lamunan.


"Kenapa kamu begini?" tanyaku tiba-tiba, membuat Danniel terdiam dan mematung.


"Maksudmu?"


"Kenapa kamu jadi sok perduli padaku?? Kenapa jadi sok perhatian. Ku pikir kamu bukan orang yang seperti itu." tuturku, membuat raut wajahnya sedikit berubah.


"Apa yang salah, aku kan kakak mu?" sahutnya.


"Ku pikir, itu hanya ikatan darah saja. Tapi tak ada kepedulian di sana. Sepanjang umurku, bukan kah kalian tak pernah perduli dan memikirkan aku? Kalian selalu menjauhi aku? Lalu sekarang, ku rasa apa yang kau lakukan, punya maksud terselubung."


Danniel terdiam dengan mulut yang sedikit terbuka.


"Maaf kalau aku tidak sopan, tapi aku jadi khawatir.. apakah di makananku, kau taruh sesuatu?" terka ku, membuat wajah Danniel berubah lagi.


Ia terdiam, cukup lama dan menundukkan kepalanya. "Harusnya kau bisa membedakan, antara menjauhimu karena aku ingin, atau menjauhi mu karena aku benci."


"Suro.. Kau harus tau ini, aku... Benar-benar terpaksa harus membenci mu, karena orang itu."


Bersambung...