SURO

SURO
Ada apa dengan Danniel?



Suasana menjadi hening. Mama sama sekali tak mengatakan apapun padaku. Aku ikut terdiam karena masih tak menyangka, kalau Danniel melakukan semua itu.


"Untuk itu, sekarang posisi ras Dicth'anhm dalam bahaya, begitu juga dengan keluarga kita." Papa menghela napas sambil menatap Mama di sampingnya. "Dengan ini, penjagaan akan di perketat. Suro," kini tatapan papa teralihkan padaku. "Kamu diwajibkan untuk tidak meninggalkan rumah apapun alasannya. Dan aku akan mengganti bodyguard untuk menjagamu."


Aku terkesiap kala mendengarnya. "Menggantikan bodyguard? Apa itu termasuk pengabdiku?" tanyaku, dan papa menganggukkan kepalanya. Aku langsung beranjak dari tempat dudukku, membuat Danniel menoleh ke arahku. "Kenapa? Apa yang salah dari Dita?? Aku tak mau dia di gantikan!!" protesku.


Papa langsung melirik ke arah Danniel. "Aku banyak mendengar cerita dari Danniel, dan bisa di pastikan.. Dita itu tak pantas untuk menjadi pengabdimu. Dari segi gaya dan bahasanya, dia gadis yang buruk dan tak bisa mengajarimu sopan santun."


Aku langsung melongos menatap Danniel dengan sengit. "Kenapa? Aku menyayangi Dita. Dia juga menyayangiku, dia selalu menjagaku. Kenapa papa meminta pendapat Danniel? Tapi tak meminta pendapatku?? Dita itu milikku, jadi aku yang berhak atas dirinya."


Perkataanku membuat raut wajah papa berubah. "Sepertinya.. aku juga setuju dengan Danniel, kalau Dita.. Memberikan pengaruh buruk untukmu." aku terperangah mendengarnya. "Posisi tubuhmu.. Kau berdiri di saat semua anggota keluarga mu duduk." Aku langsung menatap diriku sendiri. "Etika bertingkah laku di forum umum, kamu sudah melanggarnya. Lalu, memanggil kakakmu dengan menyebut namanya, apakah kamu pikir itu adalah hal yang sopan dan masuk akal?? Setelah itu, kamu mendebati keputusanku..." Papa menatapku dengan sengit. "Kau benar-benar terpengaruh hal yang buruk, bahkan lebih buruk ketika di awasi oleh Narti." lanjutnya.


Aku terdiam, lalu perlahan duduk seperti semula. "Maafkan aku, tapi.. tingkah laku ku ini tak ada hubungannya dengan bi Narti ataupun Dita." Papa dan mama mengernyit mendengarnya. "Itu semua, karena aku kecewa kepada kalian semua."


Baik papa, mama dan juga Danniel terbelalak. Mereka menatapku bersamaan lalu saling mengalihkan pandangan, seolah mencari kesibukan sendiri.


"Kalau papa menggantikan posisi Dita dengan orang lain, mungkin aku akan berbuat onar lebih dari sebelumnya. Dita banyak mengajarkan ku tentang kasih sayang, dan dia benar-benar menyayangiku. Lalu, apakah kalian ingin merampas kebahagiaan ku, setelah merampas kebebasan ku?" aku menggelengkan kepalaku. "Kalau begitu, bunuh saja a-"


"HENTIKAN!!" Mama langsung memekik, dan wajahnya tampak panik. Tentu saja aku terkejut karena ia berteriak tiba-tiba. "Izinkan saja Dita bersamanya. Asalkan kau menurut untuk tak keluar dan kabur dari rumah, maka Dita akan aman bersamamu. Tapi kalau kamu nekad, maka mama akan pastikan.. Kamu tak akan bisa melihat Dita, seperti kamu tak bisa lagi melihat bi Narti."


Deg!!


Jantungku terasa terjeda kala ia mengatakannya. Napasku seketika berat, dan sesuatu terasa menusuk kerongkongan ku. Aku menggeram dan merapatkan mulutku dengan tatapan tajam. "Oke, aku akan menurut, tapi jangan sentuh Dita." ucapku.


Rapat keluarga kami pun selesai, setelah membahas hal-hal penting bagi mereka, tapi tak berarti bagiku. Pikiranku melanglang buana, dan aku tak bisa berkonsentrasi penuh.


Papa dan mama meninggalkan ruang rapat terlebih dahulu, menyisakan aku dan juga Danniel di ruangan ini.


"Aku mau bicara denganmu." pintaku, membuat Danniel melirik malas ke arahku.


"Aku tak punya waktu untuk berdebat denganmu."


"Siapa yang mau berdebat?" dalihku.


"Kalau tak mau berdebat, bicara disini saja." pintanya.


"Baiklah, aku hanya ingin menanyakan beberapa hal padamu." ucapku sambil mengatur napas dan menatapnya dengan jengah. "Apa alasanmu menyebarkan stiker penyadap di seluruh rumah, dan mengatakan kalau isinya berkaitan dengan terbongkarnya informasi rapat dari pak Roxi dan juga informasi dariku yang mengatakan letak buku rahasia keluarga kita. Apakah kamu..." aku mengernyit, seolah tak menyangka kalau ia melakukan ini. "Ingin membantu kami? Kamu benar-benar menjaga rahasia kami?" tanyaku lagi.


Danniel hanya terdiam dan menghela napas panjang. "Aku tak mau menjawab, lalu pertanyaan berikutnya?" sahutnya.


Aku mendengkus. "Kamu pikir ini kuis?! Kesal juga aku!!" gerutuku. "Lalu, perihal buku rahasia keluarga kita yang ku curi.. kenapa kamu mengaku kalau kamu lah yang menyimpannya di kamarku? Kenapa kamu mengakui kesalahan yang di lakukan oleh orang lain?"


Danniel menatapku dengan sudut matanya yang runcing. "Memangnya kalau kamu tau alasanku, kamu akan melakukan apa?"


Aku terdiam. Dia sama sekali enggan menjawab, dan pada akhirnya.. pertanyaan ku hanya terucap tanpa adanya kejelasan jawaban darinya.


"Aku tak ingin melakukan apa-apa sih. Hanya saja, kalau kamu berniat baik dan membantu kami, aku mengucapkan terimakasih." tuturku.


Ia menyelis, menatapku dengan sinis. "Jangan salah paham! Aku hanya membantumu, bukan kalian!" balasnya, membuatku mengernyit.


"Ya.. Sama juga kan artinya kamu membantu Dita."


Aku mengernyitkan dahi, menekuk alisku dalam-dalam. "Kenapa kamu begitu membencinya? Dia itu baik sekali padaku. Dia bahkan rela bertaruh nyawanya untuk melindungi dan menjagaku. Seharusnya kalau kamu benar-benar ingin membantuku, kamu bersyukur kalau Dita dijadikan pengabdi ku. Kenapa kamu malah berkata hal buruk tentangnya pada mama dan papa, sampai-sampai Dita hampir di gantikan oleh orang lain?!"


Perkataan ku membuat Danniel langsung beranjak. Ia bahkan tak mengatakan sepatah kata pun. Aku langsung beranjak dan mengekorinya.


"Hei, setidaknya berikan sedikit penjelasan padaku! Kenapa kamu bertingkah misterius begitu?! Menjengkelkan sekali!!" keluhku sambil terus mengejarnya yang berjalan cepat.


Dia sama sekali tak menggubris perkataan ku. Aku meringis, kenapa dia aneh sekali?


"Suro!!" dari kejauhan, aku mendengar suara Dita, melihatnya menungguku di ujung ruangan.


Mataku langsung membesar dan bisa menangkap sosoknya. Ia berlari ke arahku, seolah sudah dari tadi menungguku di sana.


Ketika Dita hampir mendekat kepadaku, tiba-tiba saja...


Greep!!


Aku melihat Danniel menahan tangan Dita sebelum sampai padaku. Dita meringis, ketika Danniel mendorongnya dengan tenaga, membuat perempuan itu oleng dan hampir jatuh.


"Hei!! Apa yang kamu lakukan pada-"


"Jangan dekati adikku dan jangan menyentuhnya!!" geram Danniel dengan suara yang berat. Aku terkejut ketika ia langsung memotong perkataanku.


"Apa-apaan sih elu?! Gue mau mastiin keadaan Suro, tadi dia mendapat suntikan berbahaya di tubuhnya, jadi sekarang dia harus di periksa lagi oleh tim medis di rumah ini." terang Dita.


Danniel langsung berdiri di hadapanku. "Aku bisa melakukannya, dia adalah adikku.. Dan jangan sok perduli begitu!!" balasnya.


Dita meringis sambil menggelengkan kepalanya. "Oi mata segaris!! Lu kenapa sih?! Gue perduli karena gue pengabdinya, kok elu yang rewel sih?! Kayak bayi mau n*nen aja!!"


Perkataan Dita membuat Danniel menyelis. "Mata segaris katamu?! Kau!!" Danniel seperti kehabisan kata-kata mendengarnya. "Rambutmu kuning, seperti kotoran!" balasnya, membuatku mendengkus menahan tawa mendengar perdebatan mereka berdua.


"Apa?! Ini rambut yang indah!! Rambut lu kayak taik kambing!! Hitam!!" balas Dita.


Aku langsung terbahak mendengarnya. Apa yang terjadi dengan mereka berdua? "Hei!! Kalian berdua kenapa? Biarkan aku berjalan sendiri, aku tak apa-apa kok. Kalau mau berdebat lagi, silakan. Aku mau ke ruang medis, beberapa bagian tubuhku terasa kebas." ujarku sambil meninggalkan mereka berdua.


"Suro, gue ikut!!" pekik Dita sambil menyusulku. Tapi tiba-tiba saja Dita terhenti kala Danniel menahan tangannya. Aku ikut berhenti, karena sepertinya Danniel benar-benar ingin melanjutkan perdebatan mereka.


"Ikut aku dulu, ada yang ingin ku katakan padamu." ucap Danniel sambil menyeret tangan Dita dengan kuat.


"Danniel, apa yang kamu lakukan padanya?!" sergahku.


"Diam dan kembali ke ruang medis!! Dia tak akan ku bunuh!" balasnya sambil kembali menyeret Dita dengan kuat.


"Hei!! Ada apa denganmu?! Lepaskan aku!!" pekik Dita sambil menahan tubuhnya, tapi tetap saja mampu di seret oleh Danniel.


Aku terkesiap, hendak menolong Dita tapi kepala ku mulai terasa berat. Sebaiknya, aku urungkan niat untuk membantu Dita. Aku, harus segera ke ruang medis sekarang.


Bersambung...