
Aku mengeratkan gigi, berani sekali ia bertanya dengan kalimat sesantai itu. Apalagi tentang bibi, dan tentang nyawa seseorang. Aku mengangkat tubuhku dari lantai, sambil terus memandanginya dengan tatapan tajam.
"Bagaimana caranya supaya kamu bisa keluar dari rumah ini?" tanyaku, membuatnya memiringkan kepalanya. "Aku hilang respect padamu, dan gak sudi kalau kamu harus terus bersamaku."
Ia menghela napas, membuang wajahnya sesaat lalu kembali menatapku dengan senyuman. "Lu pikir gue sengaja bersama elu?? Lu cukup cerdas karena berasal dari keluarga kesdicth'anhm, tapi gue harus ingetin sekali lagi..."
"Ini adalah profesionalitas bekerja, jadi apapun yang terjadi, gue gak bakalan ninggalin elu."
"Jadi kamu harus mati dulu, supaya bisa berhenti berada di dekatku?" tanyaku lagi sambil berdiri dengan kondisi tubuh yang sempoyongan. "Kalau begitu, sini ku bunuh."
Ia hanya menatap datar. "Sayangnya gue gak mudah mati."
Aku meringis, menahan beberapa bagian tubuhku yang terasa sakit. Ia menyadari kesakitanku tetap tak bergeming.
"Untuk membunuh, lu harus punya tingkat kekuatan yang lebih tinggi dari pada lawan. Ngeliat cara bertarung elu, cukup mengagumkan.. Lu nguasain beberapa ciri khas petarung ras Gasth'anhm, tapi balik lagi.. Semua serangan dan kuda-kudanya, cuma basic."
Aku meringis. Dia meremehkan aku sejauh itu?? Cuma basic katanya??
"Beberapa serangan cukup lemah, dan yang paling menakjubkan cuma gaya bertarung dari keluarga lu sendiri, karena ya tentu aja kalian menguasai gaya bertarung kalian sendiri."
"Tapi masih sama kayak perkataan gue tadi, semua itu.. Cuma sebatas basic. Lu harus belajar lebih giat lagi, apalagi buat ngebunuh orang..."
"Yang udah pernah ngebunuh orang lain. Kata-kata elu, terdengar kayak bualan anak kecil." ocehnya dengan percaya diri.
"Kamu tau siapa aku, tapi perkataan dan sikapmu seperti itu. Ingatlah, darah kalian yang tumpah, gak lebih penting daripada hewan peliharaan kami." perkataan ku tak membuat alis perempuan gila ini bergerak sedikit pun. Seolah ia tak menggunakan perasaannya sedikit pun kala berdebat denganku.
"Gue tau pasti cara bersikap. Karena sebagai bawahan, gue hanya menghargai atasan yang ngehargai gue juga. Jadi, kalau darah hewan lu lebih penting daripada gue, berarti elu.. Bisa gue anggep sebagai aksesoris mahal aja. Yang gue pakai cuma buat pamer, dan gue jual kalau udah gak perlu."
Aku tersenyum menahan marah. "Aku jadi tertarik padamu." balasku.
Tiba-tiba saja, suara ribut datang menghampiri ruangan kamar ini. Aku tak menoleh ke belakang, ketika para bodyguard dan art mendatangi kami dengan khawatir.
"Dita?! Apa yang... Eh.." mereka terdiam, ketika menyadari aku berada di dalam ruangan.
Mereka langsung menunduk dan memberi hormat. "T.. Tuan, apa yang terjadi? Kami datang karena mendengar keributan di kamar ini." ucap mereka kepadaku.
"Udah selesai kok, kalian boleh kembali." balasku sambil berjalan melewati mereka dan keluar dari kamar si perempuan gila.
Selepas kepergian ku, aku melihat mereka mengerumuni perempuan gila seolah sedang menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Dan aku tak peduli mau dia mengatakan hal yang sebenarnya atau tidak, karena bagaimana pun..
Kalau ia berkata jujur, tentu mereka pasti menanyakan alasan kenapa aku melakukan itu, dan tentu saja itu akan merepotkannya. Kalau ia berbohong pun, mungkin itu untuk menyelamatkan dirinya sendiri, dan juga aku tentunya.
.........
Aku berbaring dengan posisi kepala yang terkulai melewati ujung kasur. Aku memainkan pena, memutarnya di antara jemariku.
Ketimbang memperkerjakan perempuan gila itu menjadi pelindung ku, lebih baik lagi kalau aku memperkerjakan anak bibi. Kenapa mama tak memikirkan hal itu?? Ibunya saja menyayangiku, anaknya juga pasti akan menyayangiku.
Kalau aku bisa membawa anak bibi, aku bisa meminta pak Saipul mempertemukannya dengan mama, dan menyingkirkan perempuan tak berhati itu.
Tapi.. Bagaimana caranya supaya aku bisa bertemu dengan anak bibi??
Aku memutar otak sesaat. Waktu itu, dia melihatku di kediaman Vilhgasth'anhm lalu mengikuti ku sampai ke restoran. Jadi mungkin saja aku bisa bertemu dengannya di sana.
.........
Aku keluar dari rumah sambil mengendap-endap, bukan karena takut ketahuan anggota keluarga ku, tapi takut ketahuan para pekerja ku.
Bagusnya lagi, setelah kejadian tadi.. tentu saja perempuan gila akan lengah dan tak akan menyangka kalau aku keluar dari rumah, begitu pun dengan para bodyguard mama dan satpam yang lain.
Aku bersembunyi di balik dinding samping, dekat bonsai yang tertanam di dalam pot besar. Ku perhatikan para satpam sedang berjaga di gerbang dan pos sambil minum kopi.
Bagaimana caranya aku keluar?? Mereka berjaga dengan sangat ketat di sana. Tidak ada cara lain untuk mengalihkan perhatian, kecuali membuat keributan.
Aku melirik sekitar, memastikan benda apa yang bisa ku gunakan. Ku ambil beberapa batu lalu melirik apa yang bisa memecahkan perhatian mereka.
"Cctv dan pot bunga." gumamku sambil membidik. Aku menutup sebelah mataku lalu melempar cctv dengan batu, lalu melempar pot bunga.
Praaang!!
Suara pecahan terdengar nyaring, membuat mereka bersiaga dan menoleh ke arah sejurus. Menembak dengan tepat sasaran adalah keahlian ku. Sepertinya aku cocok menjadi tipe petarung jarak jauh, hehe.
"Apa yang terjadi?"
"Suara pecahan di blok A sudut ketiga!!"
"Bagi kelompok!! Kalian bersiap ke sana, dan aku akan memeriksa cctv!!" pekik mereka dengan kompak.
Beberapa orang lari, tapi tidak dengan yang sedang berjaga di pos dekat gerbang.
"Ah!! Cctv-nya di rusak! Berbahaya sekali!! Aku harus kesana dan menyusul mereka!!" serunya panik, sambil berlari ke sumber keributan.
Melihat kesempatan ini, aku langsung berlari keluar pagar. Tentu saja hal sepele untuk lari dari mereka. Dan selanjutnya, cari tempat yang aman dan sejauh mungkin. Kemudian naik taksi untuk menghilangkan jejak.
.........
Aku menyeka keringat sambil masuk ke pekarangan rumah bibi. Rumah sederhana dengan dinding bata kuning, dan atap genteng yang sudah pecah di beberapa bagiannya lagi berlumut.
Pekarangan rumah bibi masih ada tenda tapi tak ada lagi kursi plastiknya. Mungkin sudah di angkut sebagian.
Aku melirik sekitar, dimana rumah-rumah sekelilingnya berbentuk serupa, tak ada yang lebih bagus atau lebih jelek. Waktu datang kemari aku panik karena melihat bendera kuning, jadi.. Seperti ini kediaman ras Gasth'anhm. Sangat miskin!
Mungkin karena seumur hidup mereka hanya mengabdi di kediaman tuan, jadi rumah mereka hanya untuk tempat singgah sesekali dan berkumpul bersama keluarga. Tempat ini kumuh dan bau kayu lapuk.
Aku menghindari beberapa bagian dengan jijik, lalu mengetuk pintu rumah bibi. Beberapa kali mengetuk, tak ada jawaban sama sekali. Apa anak bibi tidak ada di dalam?? Kalau tak salah, waktu itu tetangganya bilang kalau dia sudah tidak ada di sini.
Aku menghela napas lelah, ternyata sia-sia saja jalan sendirian malam-malam begini, mana udaranya juga ding-
"Uph!!" Aku tersentak ketika mulutku di bekap. Aku hendak melawan, tapi tiba-tiba saja bekapan itu terlepas begitu saja sebelum aku bertindak lebih.
"Hehe, tuan kesdicth'anhm yang kemarin? Ada perlu apa kesini?"
Mataku melebar ketika melihat pria misterius yang kemarin bertemu denganku di toilet. Ternyata dia yang membekap mulutku barusan.
"Ternyata kamu memang ada disini." ucapku senang.
"Tentu saja, ini adalah kediaman kami." balasnya sambil menunduk dan meletakkan tangan ke dadanya. "Maaf lancang, tapi apa yang membawa anda datang kemari?" tanyanya berhati-hati.
"Ada waktu untuk bicara?" tanyaku, dan ia langsung menganggukkan kepalanya.
Ia membawaku ke sebuah cafe ras Gasth'anhm, dan memintaku untuk memakai jubah yang ku kenakan agar tak ada yang menyadari rasku. Untung saja aku belum ganti baju sehabis berkelahi dengan perempuan gila.
"Silakan diminum, tuan." pintanya.
Aku sedikit memiringkan kepala dan tersenyum sungging, tanda tak menyukai hidangan yang ia berikan. "Aku tidak minum kopi susu." tolakku.
Wajahnya langsung berubah panik. "Maafkan saya, haruskah saya memesan minuman lainnya?"
"Tak perlu." singkatku. "Aku kesini bukan untuk itu."
Ia mengerutkan alis. "Lalu, untuk apa tuan?"
"Mengenai perkataanmu yang waktu itu, aku mempercayainya. Perempuan gila itu sendiri telah mengaku kalau dia membunuh bibi. Kedatangan ku kesini sederhana, aku hanya memintamu untuk bekerja bersamaku, dan menggantikan posisi perempuan itu." utaraku.
Ia menghela napas panjang sambil tersenyum. "Saya merasa sangat terhormat atas undangan itu, tapi.. saya tidak bisa menerimanya tanpa ada pengesahan dari kepala keluarga kesdicth'anhm. Dan lagi, kami tak bisa bekerja dengan ajakan begitu saja."
"Aku bawa kamu ke rumah, lalu perkenalkan dengan mama. Setidaknya dia pasti menerima anak bibi, ketimbang perempuan yang membunuh bibi."
Ia kembali tersenyum. "Sepertinya anda sangat membenci Dita." terkanya. Tentu saja aku membencinya, tadi hampir saja aku membunuhnya kalau seandainya ia tak bangun. "Sebenarnya, Dita itu tidak jahat. Ia begitu atas perintah keluarga mu. Jadi, ia membunuh karena tugasnya."
Aku mendengkus. "Dia itu menyebalkan." singkatku.
Pria ini lagi-lagi tersenyum. "Ketimbang membencinya, kenapa anda tidak membenci keluargamu sendiri?"
Aku langsung menatap sengit kepadanya. Kenapa dia berkata seperti itu?? "Kenapa aku harus melakukannya?"
Ia terkesiap lalu segera menggeleng. "Maaf atas kelancanganku. Saya tidak bermaksud begitu. Hanya saja, saya penasaran.. Keluarga kesdicth'anhm.. Khususnya yang dikepala-keluargai oleh ayahmu, terlalu banyak rahasia aneh di dalamnya."
Aku langsung melirik sinis. Rahasia aneh?? Apakah dia mengetahui rahasia aneh tentang etika sosialisasi? Pasti bibi pun bercerita mengenai hal itu. Bibi pasti dekat dengan anaknya dan selalu bertukar cerita, tidak seperti mamaku yang satu ruangan saja merasa enggan bersama ku.
"Ngomong-ngomong tentang rahasia itu... Apakah bibi menceritakan sesuatu?" tanyaku. Ia hanya diam. "Seperti maksud etika keluarga kami?" ia masih diam. "Kalau kamu tau sesuatu, katakan padaku." pintaku.
"Sebenarnya, kalau anda ingin tahu rahasia terbesar dari keluarga kesdicth'anhm, ambil saja buku rahasia keluarga yang tersimpan di gedung arsip, tepatnya di dalam ruangan pribadi ayahmu."
Aku mengernyit mendengarnya. "Buku rahasia keluarga?" Apakah ada buku yang seperti itu?? Aku belum pernah mendengarnya.
Ia mengangguk. "Untuk lebih jelasnya, anda ambil dulu buku itu.. Baru kita terjemahkan bersama. Karena isi buku itu sedikit aneh." lanjutnya.
"Kamu tau sejauh itu, apa bibi juga mencurigainya? Soalnya aku tak tahu apapun soal itu."
Ia mengangguk. "Karena sekarang anda sudah tahu, sebaiknya kita akhiri pertemuan ini. Saya takut, anda akan dikenali." Aku mengangguk setuju. "Biar saya antar, ini terlalu malam untuk berjalan sendirian."
.........
Setelah turun dari mobil, aku mengambil jalan memutar. Tak perlu mengintip di depan gerbang, karena pasti mereka memperketat penjagaan disana.
Aku mengendap, masuk ke dalam rumah dengan menaiki pagar yang tumbuh pohon rindang di dekatnya. Aku naik melalui pohon itu dan meniti dahannya yang besar hingga sampai ke depan jendela kamarku.
Aku masuk dari sana dan menutup jendela kamarku rapat-rapat. Ketika aku berbalik...
Tubuhku terperanjat, menangkap sosok berambut panjang yang tiba-tiba muncul di hadapanku.
"Ketemu sama siapa lu?" tanyanya sambil melipat tangan ke dadanya, menatapku dengan wajah ketus.
"Cih, ikut campur." balasku.
Bersambung...