SURO

SURO
Tertimpa Gadis Aneh



Aku mendengkus, berbaring di atas tempat tidurku. Aku lagi-lagi berada di kamar isolasi, tak diizinkan kembali lagi ke kamarku karena suasana masih genting. Aku mengacak-acak rambutku, sayangnya ide bagusku itu tidak di gubris oleh Danniel, padahal menurutku hanya cara itu yang bisa di gunakan untuk mengundur acara perjodohannya.


Tapi aku masih tak habis pikir, bagaimana bisa ia jatuh cinta pada Dita?? Kalau di pikir-pikir, aku bisa makin gila karena tak mengerti.


Lalu, perihal Dita adalah seorang mata-mata para pemburu... Kenapa itu masih begitu mengganjal di hatiku?


Tok.. Tok.. Tok...


Aku terkesiap ketika kamarku di ketuk. Aku beranjak duduk, dan menatap pintu dari tempat tidurku.


"Tuan Suro... Saya bi Susi." ucapnya dari balik pintu.


"Kenapa lagi? Apa masih ada acara yang penting?? Atau hari ini langsung pelantikan Danniel menjadi pemimpin penjaga keamanan?" terka ku.


"Iya tuan, hari pelantikan di percepat menjadi sore ini. Jadi, tuan harus segera mempersiapkan diri."


Aku tersentak mendengarnya. Ternyata dugaan asalku benar. Memang pelantikannya di percepat oleh papa.


Aku meringis sambil melirik jam dinding. "Ini masih pagi dan acaranya sore. Apa tidak terlalu cepat menurutmu?" tanyaku.


Bi Susi diam sesaat, lalu menyahut. "Ma.. Maaf tuan. Tapi tuan di minta untuk berlatih menyikapi diri terlebih dahulu. Karena hari ini, sekalian kita kedatangan tamu dari beberapa ras Dicth'anhm lain."


Aku terbelalak mendengarnya. "Hah?! Kok bisa?!"


"I.. Iya tuan. Soalnya, baru kali ini ada seorang pemimpin penjaga keamanan yang berasal dari ras Dicth'anhm. Mungkin, tuan besar sengaja mengundang para kepala keluarga untuk menghadiri acara penting ini." lanjut bi Susi.


Aku meringis sambil mengusap rambutku. "Ya sudah kalau begitu, masuk dan latih aku!" ucapku, membuat bi Susi akhirnya berani membuka pintu.


Ia menunduk sambil membawa buku tebal di pelukannya, buku menyebalkan yang sudah ku hafal seluruh isinya. Aku menatap datar dengan mata yang sengaja ku sipitkan, memperhatikan bi Susi yang mulai membuka isinya.


"Halaman seratus enam dua." ucapku, ketika melihatnya kesulitan mencari etika bersikap dalam forum umum.


Mendengar suaraku, bi Susi terkesiap dan semakin gelagapan membuka halamannya. Sebenarnya siapa yang sedang mengajar siapa kalau begini?


"Ba.. Baik tuan, sekarang kita akan belajar cara bagaimana menjamu tamu terhormat yang datang ke rumah."


"Aku sudah tau itu. Aku sudah tau apa yang akan ku lakukan, aku sudah tau bagaimana caranya bersikap yang benar. Aku sudah tau semuanya, yang tidak aku tau, kenapa papa sampai mengundang tamu terhormat segala?? Mau pamer kah?" tanyaku sambil mengayun-ayunkan kaki di sisi tempat tidur.


"U.. untuk itu saya kurang tau tuan." sahutnya gugup.


"Yah, kalau menurutmu bagaimana?? Setuju tidak kalau papa sedang mau pamer anaknya?" tanyaku lagi. Bi Susi tampak takut dan tak mau asal menjawab. "Tak apa, aku orangnya tidak pengadu kok. Katakan saja apa yang kau rasakan, karena aku mau dengar pendapat mu." ucapku.


Ia menelan ludah sambil melirik sesekali ke arahku. "I.. Iya tuan. Mungkin mau pamer." sahut bi Susi.


"Hahaha!! Aku suka jawabanmu!! Kira-kira kalau buat ulah, papa malu tidak ya?"


Bi Susi langsung terkesiap. "Saya mohon agar tuan jangan membuat ulah di acara pelantikan tuan Danniel, kalau tidak.. saya yang akan mendapat hukuman karena bertanggungjawab untuk mendidik tuan." ucapnya gelagapan.


"Kenapa harus bibi? Dita mana?" tanyaku lagi. Bibi hanya menggelengkan kepalanya. "Kalau begitu, bibi tau tidak sih siapa saja yang akan datang ke acara itu??"


"Mm, kalau tidak salah.. Tamu utama yang di undang, adalah kepala keluarga dari keluarga pertama kesdicth'anhm." jawabnya.


Aku langsung mencondongkan tubuhku ketika mendengarnya. "Wah? Apa ada gadis yang bernama sirih?"


Bi Susi mengernyit dalam. "Nona Seriiyhara?"


Aku langsung menjentikkan jari. "Ya!! Itu namanya!! Apa dia ada?" tanyaku lagi.


"Ya, kemungkinan dia akan datang."


Bagus!! Aku mau lihat bagaimana gadis yang di tolak Danniel demi Dita. Hahaha, rasanya berdebar-debar sekali menunggu sore hari.


"M.. Maaf tuan Suro," suara bi Susi membuatku menolehnya. "Kenapa tuan tersenyum sendiri? Apakah tuan, punya niat lain?" tanyanya takut.


"Tidak! Tenang saja. Hari ini aku akan jadi anak baik agar bibi tidak di hukum. Aku janji!!" ujarku sambil mengangkat kelingking ke arah bi Susi.


Tidak terasa, pembicaraan tak penting ku membuat waktu berlalu dengan cepat. Bi Susi segera keluar kamar setelah menyiapkan peralatan mandi untukku.


Aku berendam di dalam bathtub berisi air susu dan juga bunga mawar. Sambil bermain bebek-bebek kuning yang mengapung di permukaan air.


Tok tok tok!!


"Tuan Suro, waktu mandi selesai. Kami mohon agar tuan segera keluar dan mengenakan pakaian resmi." ucap bi Susi.


Aku meringis sambil beranjak dari dalam bathtub. Mengganggu waktu ku bermain bebek saja. "Ya, aku segera keluar." sahutku.


Di luar sana, aku melihat para bibi sudah siap dalam posisi masing-masing. Mereka berdiri di depan cermin, ada yang memegang sisir, hair spray, baju jas resmi, celana, parfum dan masih banyak lagi.


Aku berdecak kagum, karena baru kali ini aku di libatkan dalam acara resmi keluarga, karena sebelumnya aku tak pernah di ajak, menyedihkan memang.


"Wah? Apakah harus seheboh ini?" tanyaku takjub.


"Memang ini yang harus kami lakukan, tuan." sahut mereka sambil menghampiriku.


Mereka mulai memasangkan pakaianku, merapikannya, menata rambutku, memoles wajahku dengan sesuatu yang terasa geli di kulitku, dan terakhir, mereka menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhku.


"Sudah siap, tuan. Waktunya tuan ikut kami ke gedung pelantikan." ucap mereka sambil mengamati aku yang sedang bercermin.


"Ganteng juga sih." gumamku sambil menjauhi cermin dan menghampiri mereka. "Kalau begitu, dimana ruangannya?" tanyaku sambil menatap mereka.


"Ayo, ikuti kami tuan." ucap mereka.


Meskipun dirumah sendiri, tapi ada banyak ruang yang tak ku ketahui kecuali jalan ke kamar bibi, dan beberapa ruangan yang penting seperti perpustakaan.


Kami naik ke lantai empat, menyusuri ujung lorong dan melewati banyak ruangan berukuran besar, sepertinya lantai ini di desain khusus untuk menyelenggarakan acara-acara penting semacam ini.


Tengah sibuk melihat-lihat, tiba-tiba saja aku merasa ingin buang air kecil. Wajahku memucat, dan aku mulai menatap para bibi dengan kaku.


"A.. Aku mau ke toilet dulu." ucapku dengan tegang, sambil berbalik dan hendak turun ke kamarku.


"Maaf tuan, tuan tidak boleh kembali ke sana lagi." ujar mereka.


"Loh, kenapa??" tanyaku tak terima.


"Soalnya di sana jauh, nanti tuan berkeringat. Sebaiknya pakai saja toilet di lantai ini."


"Tunjukkan di mana toiletnya!!" geramku sambil melompat-lompat kecil.


"Di sebelah sana, tuan." sahut mereka sambil menunjuk ke satu arah.


Aku segera berlari ke arah yang mereka tunjuk, masuk sembarang ke dalam toilet, karena ku pikir ini adalah rumahku.


Aku mengeluarkan air seni yang ku tahan, rasanya sangat lega, sekarang waktunya untuk kembali ke acara Danni...


Brukk!!


Tiba-tiba saja, dari arah depanku, ada seseorang yang menabrakkan tubuhnya ke hadapanku. Aku dan seseorang itu jatuh bersamaan, terduduk dan saling berhadapan.


Aku menatap seorang wanita cantik berambut hitam dengan mata indah dan kulit putih bersih. Wajahnya sangat pucat, dan ia segera beranjak usai menabrak ku.


"Aah!! Aku kebelet pipis!!" pekiknya sambil hendak berlari, tapi anehnya.. Aku tersentak dan ia kembali jatuh ke hadapanku.


Kami berdua saling lirik ketika berada di posisi yang sama dua kali. Perempuan ini mendengkus, dan melakukan hal yang sama, tapi lagi-lagi ia tertahan, tapi aku tak enak hati untuk mengatakan padanya.


"Aduh!! Gelangku tersangkut di-" Ia terdiam sambil menatapku, begitu juga dengan aku. Arah mata kami tertuju pada hal yang sama dan kami sama-sama membisu, karena gelangnya ternyata...


Tersangkut di resleting celanaku?!!!


Bersambung...