
Bibi...
Mati??
Bi Narti... Mati??
Benarkah ini??
Aku langsung mencubit pipiku sendiri, meringis karena merasakan sakit. Ini bukanlah mimpi. Bibi, sudah tidak ada lagi?? Empat hari yang lalu???
Ketika ia pergi dari rumahku, bibi meninggal? Kenapa secepat itu?? Apa penyebab kematiannya?? Kecelakaan di jalan pulang kah? Atau kenapa?
"Maaf, apakah bibi mengalami kecelakaan?" tanyaku cepat, sambil menatap si ibu yang hanya menunduk lesu.
"Tidak tuan, bi Narti.. Meninggal karena sakit. Cuma itu yang saya tau, selebihnya saya tak tahu, karena saya bukan dari keluarganya sendiri."
Aku menggeleng tak terima. "Mana mungkin!! Bibi itu sehat meskipun dia obesitas!! Jangankan meninggal karena sakit, sakit perut atau pusing ringan pun ia tak pernah! Jangan mengada-ada!!"
Ibu ini menunduk sambil memundurkan langkahnya. "Maaf tuan, aku cuma mendengar kabar seperti itu. Yang tau lebih jelas adalah keluarganya."
Aku langsung menoleh ke dalam rumah. Setahuku, bibi masih punya anak, kalau keluarga yang lain aku tak tahu. "Mana anaknya? Didalam?" ucapku sambil menatap si ibu.
"Sewaktu acara pemakaman anaknya pulang, tapi sekarang sudah pergi lagi." jawabnya.
Aku menghela napas panjang. "Kamu tau pekerjaan anaknya apa? Kamu bisa memberikanku nomornya?"
Pak Saipul langsung mengangkat tubuhku ke pundaknya. "Maaf tuan, sepertinya ini udah di luar kesepakatan kita, dan tuan tak seharusnya tau mendetil mengenai mantan pekerja."
"Ck! Turunkan aku!!"
"Tidak! Kita kembali ke mobil sekarang dan kembali ke tujuan awal. Kalau tuan terlalu lama disini dan dilihat seseorang, kita bisa dapat masalah." ujarnya sambil berjalan menjauh dari rumah bibi.
.........
Ia keluar dengan wajah yang berbinar, dengan sebuah buku rapor yang ia peluk. Ia menatapku dengan bangga, seolah aku adalah sesuatu yang begitu berharga baginya.
"Tuan, kamu dapat peringat satu!! Ya Allah, bibi seneng banget!! Baru kali ini bibi ambil rapot, tapi di kasih tepuk tangan sama orang tua yang lain, karena kamu ini anak pinter. Biasanya mah, bibi kalau ambil rapot anak bibi, gak pernah dapat ranking. Dia juga anaknya bandel banget. Jadi ini pertama kalinya bibi bisa ngerasain ambil rapot anak pintar! Jadi rasanya begini ya!" serunya senang, dengan senyum yang tiada habisnya.
Aku hampir menghabiskan makananku, tapi tiba-tiba saja bibi menambahkan beberapa potongan tahu ke piringku. Aku menoleh heran. "Suro sudah kenyang, bi. Kenapa di tambahin?" tanyaku sambil mengernyit dalam.
"Biar tuan bisa ngerasain, tahu buatan bibi lagi."
Aku tertawa mendengarnya. "Ya kalau mau, nanti kan tinggal dibikinin lagi sama bibi." Bibi hanya mengangguk dan kembali mengusap kepalaku.
Perkataan ku akhirnya membuat bibi berbalik. Ia menengadah, menatapku dengan wajah memerah dan penuh air mata. "Bibi gak sedih kok, tuan. Ini bukan air mata." dalihnya. Padahal siapapun tau kalau itu memang air mata. "Bibi yang minta maaf. Karena bibi, gak bisa sama-sama tuan sampai tuan masuk SMP, sampai SMA dan sampai tuan besar lalu menikah. Ternyata bibi cuma bisa sampai di sini aja." bibi menyeka air matanya, lalu kembali menatapku sambil tersenyum tipis. "Bibi minta maaf, bibi gak ngerasa kehilangan kerjaan kok. Bibi cuma sedih, karena sekarang..."
"Bibi kehilangan waktu untuk bersama dengan anak baik yang kesepian." lanjutnya.
.........
Aku menyeka air mata kala mengingat saat terakhir bersama bibi. Maaf kan aku bi, karena aku.. Bibi keluar dari rumah, bibi kehilangan pekerjaan, dan sekarang.. Bibi meninggalkan orang-orang yang menyayangimu.
"Aduh Suro, ingus lu keluar tuh! Jijik tahu!!" keluh perempuan berisik di sebelahku.
"Ssst, Dita!! Tuan lagi sedih, coba diem napa?!" gerutu pak Saipul sambil mengendarai mobil.
"Sedih kenapa? Karena bendera kuning tadi?"
"Bukan karena itu, tapi bibi yang kamu gantiin tugasnya itu udah meninggal. Tuan deket banget sama bibi, jadi dia pasti sedih."
Perempuan ini memutar bola matanya. "Halah, ngapain sedih?? Bukannya yang bikin ini semua terjadi, elu ya?" Aku langsung mengeratkan gigi sambil menatap tajam ke arahnya. "Kenapa muka lu itu? Bener kan?? Kalau elu gak minta bibi melanggar aturan etika, mungkin sekarang lu masih ketawa-ketawi sama dia."
Aku mengepalkan tanganku dengan kuat. Menyadari bahasa tubuhku, pak Saipul langsung panik. "Oi, Dit!! Jangan ngomong begitu! Lagian kamu sendiri juga tadi gak ikut turun. Gak berempati itu namanya!!"
Dita mengerutkan dahi. "Kok gue? Ya terserah lah gue mau turun atau enggak! Lagian kan udah gak ada juga, yaudah. Kok jadi kena ke gue?" protesnya.
"Udah! Kita kan niatnya mau jalan-jalan, jadi harusnya kita buat tuan Suro senang." ucap pak Saipul.
"Emang niat awal gue kan gitu. Nih anak Dicth'anhm aja yang ngeyel, masalah kok dicari." ucapnya lagi.
Aku menoleh ke arah perempuan ini. "Kalau aku tau ini bakalan terjadi, aku gak bakalan minta bibi ngelakuin itu."
"Jadi sebelum bertindak, pikirin dulu konsekuensinya buat elu dan juga orang lain. Yang gue tangkep dari semua ras Dicth'anhm, kalian itu..."
"Manusia-manusia egois!" perkataan perempuan ini benar-benar menusuk ulu hatiku.
"Udah lah, kenapa kalian jadi bertengkar begitu! Dita juga, elu kan bertanggungjawab untuk selalu bersama tuan, kalau kamu malah ngajak tuan berantem, bisa-bisa kalian gak bakalan dekat." perempuan ini langsung melipat tangan ke dadanya ketika mendengar perkataan pak Saipul.
.........
Sesampainya di restoran, aku sudah kehilangan nafsu makan. Pak Saipul dan perempuan gila sibuk memilih menu makanan yang mereka sukai. Tempat duduk kami terpisah, tentu saja aku hanya duduk seorang diri meskipun jarak kami tak terlalu jauh. Pengasuh dan bodyguard tak boleh duduk terlalu jauh dari tuannya.
"Kayaknya ini enak deh,"
"Eh, itu kan buku menu ras Dicth'anhm, kok kamu bisa pegang itu?"
"Gak apa-apa lah, sesekali makan makanan ras Dicth'anhm. Aku kan pengen coba, lagian ini tempat umum. Bebas memilih menu makanan, kalau tempat duduk sih emang gak bisa di bebaskan."
Aku hanya menghela napas mendengar obrolan mereka berdua.
Aku beranjak dari tempat dudukku, membuat mereka berdua langsung melepaskan buku menu dan fokus melihatku.
"Mau kemana lu?" tanya perempuan gila.
"Ke toilet." Ia langsung beranjak mendengarnya. "Mau apa?" balasku heran.
"Nemenin lah."
"Udah gila! Kamu kan perempuan, mana boleh masuk toilet laki-laki?" keluhku.
"Oh, kalau gitu pak Saipul aja." ucapnya sambil menoleh pak Saipul yang langsung beranjak.
"Udah lah gak apa-apa. Sendirian juga bisa." sahutku.
Perempuan ini menggeleng. "Gak boleh lah! Kalau terjadi apa-apa gimana? Yang salah kan kami juga!"
Aku langsung menengadahkan tangan kepadanya. "Stiker GPS?" pintaku, membuat perempuan ini mengernyit. "Kamu bawa itu kan?? Tempel ke tubuhku dan lihat posisiku. Kalau aku melepaskan stiker ini dari kulitku, artinya aku dalam masalah. Kalau stiker ini lepas dan menempel ke benda mati, posisiku akan hilang di lencanamu. Lagian stiker ini di desain khusus untukku, jadi kalau di tempelkan ke orang lain, gak akan bisa terdeteksi."
Ia menyipitkan matanya menatapku. "Gak usah lu jelasin juga gue tau bego!" omelnya.
"Ya siapa tau kamu berpikir kalau aku akan kabur."
Ia langsung menyengir mendengarnya. "Haha, tau aja lu. Ya udah sini, biar gue tempelin." Ia langsung membuka kertas stiker dan menempelkannya ke hidungku.
Aku meringis, berusaha menepisnya. "Kenapa kamu tempel disitu?!" keluhku.
"Hei!! Semua penjahat dan musuh Dicth'anhm tau mengenai stiker ini. Kalau gue tempelin di tangan, pasti elu nanti gak sadar kalau itu terlepas, kalau di muka kan bakalan tau kalau ada yang ambil."
"Lagian mana mau sih penjahat mencabut stiker ini, artinya sama aja mereka memanggil para bodyguard dicth'anhm tahu!!" balasku.
Ia langsung terkesiap dan menggaruk kepalanya. "Iya ih bego banget! Haha, udahlah. Lagian lucu kok taruh di idung."
Aku hanya mendengkus sebal sambil meninggalkannya. Aku mengikuti arah panah menuju ke toilet. Ketika sampai disana, aku melihat tanda di depan pintu. Sepertinya restoran ini menggabungkan ruang antara ras atas dan bawah. Bahaya sekali!!
Aku masuk ke dalam toilet pria, berdiri di depan kloset khusus pria untuk buang air kecil. Ketika aku hampir selesai, seseorang masuk ke dalam. Dari bau dan perawakannya, dia adalah ras Gasth'anhm. Rambut kuning itu, perawakan dari keluarga Vilhgasth'anhm.
Ia menunggu di belakang sampai aku selesai, menunduk ketika aku berbalik. Adab ras rendahan kala bertemu di ruang terbuka, maka mereka harus membiarkan dan mengutamakan kami terlebih dahulu untuk memakai sarana umum.
Aku berjalan santai sambil menaikkan resleting celanaku. Ketika berdiri sejajar dengannya..
"Rambut hitam, kulit putih, wajah cantik, rambut sedikit ikal dan.. Warna mata abu-abu, warna mata paling langka nomor satu di dunia. Anda, sudah pasti berasal dari ras Dicth'anhm , keluarga kesdicth'anhm."
Aku terhenti kala mendengar perkataannya.
"Maaf kalau tidak sopan karena mengajak anda berbicara di tempat umum, tapi.. Kalau tidak salah tadi saya melihat anda di sekitaran kediaman keluarga Vilhgasth'anhm? Benar itu anda kan?"
Aku kini menoleh ke arahnya. "Ya, benar."
Ia langsung menunduk dan meletakkan tangan di dadanya, tanda hormat yang menjunjung tinggi keberadaan ras Dicth'anhm. "Mohon maaf sebelumnya, saya tertarik karena jarang melihat ras Dicth'anhm langsung turun ke kediaman ras kami. Apa yang membuat anda sampai melakukan itu?" tanyanya dengan begitu sopan.
"Dia mantan pekerja ku. Dia di usir karena kesalahanku, dan aku datang untuk mengunjunginya. Tapi, ketika sampai di sana.. Ternyata dia sudah meninggal, dan aku merasa sedih dan bersalah karena hal itu."
"Bi Narti?" tanyanya memastikan. Aku mengangguk. "Ya, sangat di sayangkan. Kesetiaan dan ketulusan ras Vilhgasth'anhm harus berakhir sampai di situ, tapi aku harusnya merasa bangga, kalau seandainya bibi mati... Bukan karena dibunuh."
Aku tersentak dan menatap tajam ke arahnya. "Maksudmu?"
Ia kembali menunduk. "Bi Narti, di bunuh... atas perintah keluarga kesdicth'anhm."
"Hah? Mana mungkin keluarga ku begitu."
Bersambung....