SURO

SURO
Ketahuan



Seisi ruangan tiba-tiba diam, para pekerja di rumahku terlihat canggung dan kebingungan, pasalnya ada dua pernyataan berbeda antara aku dan juga kakak ku. Terlebih lagi setelah Dita mengutarakan hal tadi, rasanya aku seperti di khianati.


Aku mengangguk, ketika para pekerja menatap ragu kepadaku. Baiklah, kalau mereka tak mau mempercayai ku.


Aku langsung melongos keluar dari kamar pak Roxi, membiarkan mereka semua mematung di tempat dan saling berpandangan secara bergantian.


Aku berjalan cepat, menahan rasa kesal di dadaku yang sebentar lagi akan meledak dan terbakar.


"Kayak ada gila gilanya perempuan itu!! Bisa-bisanya dia membela orang lain ketimbang aku!! Memangnya dia pikir dia sedang mengabdi kepada siapa? Pake acara berbohong lagi, menjengkelkan!!" gerutuku sambil berjalan cepat melewati kamar demi kamar para pekerja.


Di belakang, aku mendengar langkah kaki, tak perlu menoleh pun aku sudah tau siapa yang sedang mengejarku.


"Oi!! Anak monyet!! Tungguin!! Kok melongos aja sih!" ucap Dita sambil berjalan cepat dan sesekali berlari kecil mengejarku.


Aku cuek saja, dan menatap lurus ke depan ketika kami sudah berjalan sejajar. Ia menyeimbangkan langkah kakiku, membuat rambutnya yang lepek melompat-lompat.


"Oi, anak monyet!! Lu diem aja?" tanyanya lagi sambil memeriksa wajahku. "Lu kok marah? Marah gara-gara tadi ya?? Bocil ngambek kah?!" terkanya, aku langsung berhenti, membuatnya menapak beberapa langkah dan memutar tubuhnya menghadapku, lalu berhenti.


"Ngapain kamu kesini? Sana, abdikan dirimu sama orang yang kamu bela tadi." balasku, membuatnya mematung sekejap ketika aku kembali melangkah pergi.


"Aduh bocil, jangan ngambek begitu lah! Gue gak punya maksud buat belain dia, atau gak belain elu. Bukan itu loh, gue mana peduli yang begituan!" ia kembali mengejarku.


Aku semakin mempercepat langkahku, diam seribu bahasa dan tak menjawab ucapannya sama sekali.


"Oke, kalau elu kecewa karena pengabdi lu malah belain orang lain. Gue tuh punya alasan untuk itu!" tukasnya, membuat langkah ku terhenti.


Aku melipat kedua tangan ke dada dan menatap malas padanya. Aku memasang wajah sedatar mungkin, dan tetap tak bersuara sama sekali.


"Oke!! Biar gue jelasin perihal tadi." ucapnya ngos-ngosan. "Lu sebagai tuan, gak bakalan pernah tau apa yang udah kami hadapi sejauh ini sebagai. Sebagai seorang anggota keamanan, kami menjunjung tinggi dan begitu menghormati pemimpin atau ketua kami."


"Kenapa?" tanyanya, dan aku tak tertarik untuk menjawab. "Karena dari semua orang-orang hebat yang memiliki kemampuan unconsius yang tinggi, cuma dia satu-satunya yang terpilih di antara kami."


"Bagi kami, ketua itu adalah sosok yang luar biasa, kuat, cerdas dan bijaksana. Kami menuruti semua perkataannya, padahal kami berada pada strata ras yang sama. Karena apa?? Karena kami yakin akan kemampuannya."


Aku mengerjap mendengar ucapannya, dan sudah bisa menarik poin penting dari ucapannya barusan.


"Jadi, kebanyakan dari kami.. Akan merahasiakan sebab kematian para ketua meskipun kejadian itu terjadi di depan mata kepala kami sendiri."


"Mereka lebih terhormat, mati karena bunuh diri, ketimbang mati karena di bunuh oleh seseorang. Jika ketahuan mereka di bunuh oleh seseorang, maka... Keyakinan kami selama ini padanya hanyalah kesia-siaan belaka. Akan timbul perpecahan dan percekcokan antar sesama anggota, karena mungkin di antara kami merasa mereka bisa melakukannya lebih baik lagi, tanpa memikirkan sejauh apa pak Roxi berjuang memimpin kami selama ini."


"Jadi, gue mohon.." Dita menyatukan kedua telapak tangannya dan meletakkan sejajar dengan wajah. "Tolong... Bohong lah untuk perihal yang satu ini. Jangan biarkan pembunuhan ini sampai ke seluruh anggota, apalagi keluarga elu."


"Gue disini gak ngebelain kakak lu sama sekali. Gue hanya mikir, kalau dia punya pemikiran yang sama kayak gue, jadi gue bisa memahami kebohongannya. Kakak lu, sekarang sedang ngebelain harga diri pak Roxi. Hanya itu." terang Dita panjang lebar, dengan mata yang mulai berkaca.


"Oke, kalau aku bisa di kompromi untuk berbohong, lalu bagaimana dengan penjaga cctv? Kamu pikir mereka tak akan memeriksa itu? Atau tak melihat saat itu terjadi?" ucapku.


Aku menarik napas panjang dan menutup mata sesaat, menghembusnya sambil membuka mata. "Intinya, kakak ku sedang menyelamatkan pak Roxi?" tanyaku, mengambil poin yang paling menarik. Dita menganggukkan kepalanya.


Kalau kakak melakukan itu, berarti dia sedang membela ras rendahan?? Bukankah itu artinya, dia adalah seseorang yang baik? Meski kami tak saling mengenal satu sama lain, entah kenapa aku merasa bangga ketika mendengarnya.


"Gak tau sih apa yang orang itu lagi pikirin, entah sama kayak yang kita pikirin atau enggak, tapi secara gak langsung, dia emang lagi ngelindungin harga diri pak Roxi." balas Dita. Ia terkesiap sesaat kala menatapku. "Oh ya!! Tadi lu kan ngejer orang yang baru keluar dari kamar pak Roxi, gimana?? Apa elu bisa ngeliat mukanya? Atau minimal ciri khas bertarungnya? Atau ciri fisiknya?" lanjutnya.


Aku mengendikan bahu. "Logika aja sih, dia udah bisa ngebunuh pak Roxi, berarti level dia jauh di atas ku. Ngejar dia sebenarnya kayak mau ngantar nyawa, dia kuat. Tentu aja dia kuat." terangku.


Dita menghela napas panjang. "Jadi, gimana sekarang? Kami mengalami kekosongan kepemimpinan, tapi di satu sisi.. Gue punya kabar buruk mengenai penyadapan. Sama siapa lagi gue bisa ngasih tau perihal ini?" tanya Dita, tampak putus asa.


Aku menarik napas panjang. "Gak mungkin kamu bilang hal itu ke keluarga kesdicth'anhm, bisa-bisa kamu yang bakal kena masalah, karena semua ini berawal dari kamu, kan? Tapi, nyembunyiin ini sama aja kayak menyimpan pembunuh di dalam rumah. Jadi, kita harus ngelakuin sesuatu untuk memperbaikinya."


Dita menatap cemas. "Kira-kira apa ya, cil?" tanyanya dengan gestur tubuh yang tidak tenang.


"Ya mau gak mau, kita harus ngelacak dimana keberadaan pelaku."


Dita terbelalak kala mendengarnya. "Yang bener aja lu!! Terus kalau kita udah dapetin dia, lu mau apa? Nyerang ke markasnya? Atau ngebunuh dia?? Posisinya kita gak tau siapa yang bakal kita hadapin. Anak buahnya aja bisa bunuh pak Roxi, gimana sama bosnya? Ngadi-ngadi lu ah!" gerutunya, dengan garis wajah yang terus menekuk.


"Makanya denger dulu!!" geramku. "Sekarang kan kalian sedang mengalami kekosongan kepemimpinan. Kita masuk ke posisi itu, terus buat pergerakan secara rahasia untuk mencari siapa si pelaku. Setelah pelakunya berhasil ditemukan, baru kita bentuk tim penyerangan. Kalau bergerak dengan banyak tim, kemungkinan menang bisa lebih besar, kan? Dan lagi, kita gak perlu turun tangan ke lapangan. Cukup biarkan para anggota saja yang melakukannya."


Perkataan ku membuat Dita terbelalak. "Gokil banget otak ni bocil!! Liciknya gak ketulungan!! Oi monyet, itu sama aja lu mengobarkan bawahan lu sendiri. Dimana-mana pemimpin itu bergerak paling depan untuk ngebela anak buahnya, lah elu.. Masa' mau bunuh mereka secara gak langsung." protes Dita.


Aku hanya mengendikan bahu. "Ya terserah kamu lah mau menuruti hal itu atau tidak. Yang pasti, cuma itu yang terlintas di pikiranku sekarang." lanjutku.


Dita terdiam, cukup lama seolah sedang mencerna ucapanku. "Untuk sekarang, kita urus jasad pak Roxi dulu." tukas Dita.


Aku mengangguk dan kami hendak kembali ke kamar pak Roxi. Tapi tiba-tiba saja seseorang berdiri di depan kami berdua, membuatku terkejut dan gelagapan.


Lelaki itu tersenyum sinis sambil menatapku. Apakah dia sudah berdiri sejak tadi di sana?? Kalau iya, berarti dia sudah mendengar apa yang kami katakan barusan.


"Kamu?" geramku, membuatnya menaikkan sebelah alis.


"Kamu??" Ia mengulang. "Bisa-bisanya kamu memanggil seorang kakak dengan sebutan kamu??" Ia menggeleng sambil tersenyum. "Oi, ras rendahan.. Apa kamu tak mengajari adikku ini sopan santun?" tanyanya sambil menatap Dita, kemudian mendengkus. "Oh benar juga, kamu sendiri pun.. Tidak sopan, kan?" balasnya, membuatku mengerekatkan gigi mendengarnya.


"Apa maumu?" tanyaku blak-blakan.


"Mau apa??" ia kembali mengulang. "Tidak ada, cuma mau sedikit interview, karena biang kerok semua ini.. Adalah kalian berdua, kan?" tanyanya, dan aku mengerutkan alis.


"Brengsek kamu!" kecamku.


Bersambung...